MEMASUKI TAHUN BARU DENGAN PUJIAN DAN HARAPAN
Oleh: Samuel Santoso
Pendeta Jemaat GKI Taman Kedoya, Jakarta
Bacaan : Mazmur 148
Nas : Mazmur 148:5
(01 JANUARI 2006)
Tujuan : Anggota Jemaat dapat menyatakan pujian syukur kepada Tuhan
atas karya pemeliharaan-Nya yang telah mereka alami dan
memiliki pengharapan untuk memasuki tahun yang baru.
DASAR PEMIKIRAN
Ada satu formula penutup doa yang sekarang menjadi lazim diucapkan orang untuk mengakhiri satu doa yakni kalimat “… dalam nama Tuhan Yesus kami telah berdoa dan mengucap syukur !” Apa pun isi doanya penutupnya mesti berbunyi seperti itu. (ingat iklan satu jenis minuman ?). Rupanya orang memahami begitu saja kalimat-kalimat Paulus dalam Filipi 4:6 dan menerimanya sebagai formula yang manjur untuk dikabulkannya sebuah doa. Isi doanya, bahkan, seluruhnya permintaan-permintaan ini itu dan tidak ada satu kalimat pun ungkapan terimakasih untuk apa-apa yang sudah mereka terima dari Tuhan dalam rangka hidup beriman kepada-Nya. Padahal Filipi 4:6 bermakna kira-kira kalau kamu takut dan kuatir tapi sebelum minta sesuatu periksalah lebih dulu dengan cermat apa-apa yang telah dilakukan oleh Tuhan bagi kamu yang sepantasnya kamu bersyukur atasnya. “Bila hidupmu dilanda topan kras … Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya !” (Kidung Jemaat 439).
Pemazmur mengajak umat untuk ‘hanya’ memuji Tuhan saja dengan tulus tanpa pamrih apa pun juga karena Ia sudah ‘terbukti dan teruji’ menjadi Tuhan yang kepada-Nya umat bisa menyandarkan diri dan mengandalkan kehidupan mereka dengan yakin.
TAFSIRAN SINGKAT
1. Mazmur pujian ini rupanya digubah oleh penulisnya setelah Ia mengamati alam semesta secara cermat dan melihatnya dengan kaca mata imannya kepada Tuhan. Ia kemudian mengungkapkan kesaksikan imannya itu, terutama, kepada umat Allah dalam sebuah ibadah. Ia mengajak mereka semua juga menghayati serta mengalami karya Tuhan itu bersama-sama dalam sebuah ibadah syukur. Pemazmur menghayati betul sifat utama dari seluruh ibadah umat Allah – yang kemudian menjadi juga sifat utama dari ibadah gereja – yaitu ungkapan rasa syukur yang meluap atas karya Allah yang dahsyat bukan hanya dalam kehidupan mereka tetapi malah dalam kehidupan alam semesta dengan semua isinya. Seolah-olah ia mau mengatakan kepada para pendengarnya ‘inilah alam semesta Bapaku!’ Ungkapan rasa syukur ini kemudian diwujudnyatakan dalam sikap takzim, sikap taat dan menyembah-Nya tetapi dengan rasa gembira dan sukacita yang meluap.
2. Pemazmur memanfaatkan pemahaman umat berkenaan dengan tingkatan derajat pada alam semesta ini menurut cara berpikir mereka. Perhatikan urutan yang tersaji mulai dari ‘atas’ sampai ke ‘bawah’. Sorga/langit malaikat bulan bintang (ay. 1-6). Di Asia Barat Daya kuno orang suka membayangkan bahwa langit bertingkat-tingkat (ada yang menyebutnya tiga tetapi ada juga yang tujuh). Pemazmur hendak mengingatkan mereka bahwa mereka berhutang sepenuhnya kepada Tuhan dan karena itu harus menaklukkan dan mengabdikan diri juga sepenuhnya kepada-Nya. Benda-benda langit yang sering didewakan oleh bangsa-bangsa lain (ingat astrologi misalnya) bukan apa-apa dibandingkan dengan Tuhan. Mereka hanya mahluk saja
Dari ‘bawah’ ke ‘atas’ (ay. 7-12) ular naga/samudra raya hujan es/salju/ kabut/ badai gunung/bukit/pepohonan hewan raja/pembesar tua muda. Mengapa mereka disebut? Mereka menjadi representan dari mahluk-mahluk Tuhan yang telah diciptakan, ditata, dirawat, bahkan dengan setia terus dikasihi-Nya. Hal ini sekaligus untuk menunjukkan kekuasaan dan kedaulatan-Nya sepenuhnya atas mahluk-mahluk ciptaan-Nya itu. Bahkan samudra raya dan ular naga, dua gambaran kekuatan yang merusak takluk di bawah kekuasaan-Nya. Kekuasaan dan kedaulatan yang tidak dipergunakan-Nya secara sewenang-wenang tetapi dengan sangat bijaksana dan bermanfaat. Bandingkanlah bagian ini dengan kisah penciptaan langit dan bumi versi Kej 1:1-2:4a yang menggambarkan keteraturan Tuhan mencipta dan dengan tujuan kesejahteraan manusia yang sangat jelas serta kekuasaan tidak terhingga itu.
3. Kata ‘halel’ – memuji - sangat dominan pada mazmur ini entah dalam bentuk kata kerja mau pun kata benda. Memuji Tuhan menjadi satu-satunya tanggapan yang paling pantas dilakukan oleh umat Allah berhadapan dengan karya agung ciptaan-Nya. Orang hanya bisa kagum, takjub, heran, dan terpesona ketika menyaksikan karya Tuhan tadi. Orang hanya bisa memuji dengan tulus tanpa pamrih ketika menyaksikan kemuliaan Tuhan itu dinyatakan. Jadi pujian bagi Tuhan tidak boleh menjadi alat di tangan manusia untuk memanipulasi Tuhan agar Dia mendatangkan berkat lebih banyak dan lebih besar lagi. Pujian kepada Tuhan bagi si pemazmur menjadi ungkapan rendah hati, tahu diri – bahwa ternyata manusia kecil saja – serta sadar akan keterbatasan-keterbatasan pada dirinya ketika berhadapan dengan Allah yang mahaperkasa itu.
4. “meninggikan tanduk umat-Nya …” bermakna memberikan kejayaan, kemujuran dan kemakmuran atau, secara singkat, kesejahteraan bagi umat Allah untuk kehidupan mereka. Ketika menyaksikan sendiri karya Allah dalam alam dan kehidupan umat-Nya maka umat Allah bisa menyandarkan harapan hidup mereka sepenuhnya kepada Tuhan saja. Ia sudah teruji dan terbukti melakukannya secara sempurna.
SUGESTI UNTUK PENYUSUNAN KHOTBAH
1. Pakailah sebagai pendahuluan kisah pada DASAR PEMIKIRAN atau kalau ada anggota jemaat dari suku Batak mintalah dia atau mereka menyanyikan NKB 7 dan memberikan apresiasi singkat dan menyanyikan lagu NYANYIKANLAH, NYANYIAN BARU (lagu tradisional Batak Toba).
2. Bagi masyarakat tradisional agraris seperti masyarakat Israel Kuno yang kita baca kehidupannya dalam Alkitab, maka keteraturan dan ketertiban siklus alam ini sangat menakjubkan. Pergantian siang malam, hari-bulan-tahun, dan musim yang teratur ; waktu pengolahan tanah dari musim tanam sampai musim menuai yang juga sama teraturnya. Tanaman yang punya daur yang tertata menhidupi hewan dan manusia. Bagi mereka kenyataan ini bukan melulu sekadar sebuah kenyataan hidup tetapi mata iman mereka menerawang jauh melintasi apa-apa yang kelihatan. Adalah Tuhan sendiri yang berkarya di balik semua itu. Tuhan yang bijaksana dan berdaulat sepenuhnyalah yang mengatur semuanya sehingga mendatangkan kesejahteraan bagi manusia.
3. Kasih dan pemeliharaan Allah (providentia Dei) lewat alam semesta itu hanya bisa ditanggapi dengan menyatakan pujian yang tulus dan tanpa pamrih. Pujian itu (a) menyatakan rasa kagum, terpesona, dan heran terhadap pekerjaan-pekerjaan-Nya yang mahadahsyat tidak hanya secara makro tetapi juga secara mikro tetapi pujian itu juga (b) menjadi pernyataan kerendahan hati, sikap tahu menempatkan diri, dan pengakuan akan keterbatasan manusia. Apa yang mahahebat yang sudah dilakukan oleh Tuhan hanya bisa dibalas dengan pujian belaka oleh umat-Nya.
4. Kenyataan-kenyataan tersebut di atas itulah yang membuat orang beriman dapat hidup berpengharapan, tegar, kuat, tabah, bahkan berani menghadapi kenyataan hidup yang kerapkali tidak ramah, keras, dan kejam. Allah sudah terbukti dan teruji menjadi Tuhan yang setia kepada perjanjian yang telah diikat-Nya dengan umat-Nya secara total dan sempurna. Pengalaman masa lalu bersama Tuhan menjamin masa depan umat. Jadi aneh bila ada umat Allah yang merasa bahwa Allah telah memelihara dan melindungi hidup dengan baik tetapi tetap kuatir dan cemas menghadapi masa depan (baca: tahun yang baru).
5. Rasa syukur harus menjadi sikap nomer satu dalam kehidupan kita karena apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita berada di bawah kedaulatan dan kendali Tuhan yang mahabaik itu. Semua peristiwa yang masuk dalam kehidupan kita tiap hari punya makna yang membuat kehidupan beriman makin dewasa dan matang.
6. Ajaklah jemaat ‘menghitung berkat tahun lalu’ dengan cermat dan di dalam rincian maka percayalah tidak ada lagi yang perlu kita minta kepada Tuhan untuk kebutuhan hidup kita sesehari. Ajaklah jemaat untuk mem-verifikasi berkat Tuhan dengan baik dan akurat serta mensyukurinya.
BACAAN ALKITAB DAN NYANYIAN YANG BISA DIPERGUNAKAN
NKB 7:
MATIUS 6:25-30
NKB 32b:1-4
FILIPI 4:4-7
NKB 39:1-4
NKB 217:1-5
KJ 439:1-
PKJ 169:
TEOLOGI