BERTOLONG-TOLONGAN UNTUK MENDATANGKAN SYALOM
Minggu, 8 Juli 2007
Pnt. Novita Sutanto, S. Si (Teol)
GKI Muara Karang, Jakarta
Bacaan I : 2 Raja-raja 5:1-14
Bacaan II : Galatia 6:1-16
Bacaan III : Lukas 10:1-11, 16-20
Tujuan :
1. Umat menyadari bahwa syalom akan terwujud jika ada penerimaan terhadap yang lain dan bertolong-tolongan untuk menanggung beban
2. Umat bertekad bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mendatangkan syalom
Dasar Pemikiran :
Istilah “syalom” sering kita pakai dan dengarkan. Pada minggu ini, istilah ini akan dilihat dalam segi yang berbeda. Umum kita ketahui bahwa “syalom” atau diterjemahkan dengan “damai sejahtera” meliputi keadaan yang nyata, bukan hanya mengenai perasaan dalam hati saja, atau keadaan tenang, atau pun cita-cita masa depan. Tetapi “syalom” adalah realitas masa kini, ketika seluruh keadaan mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang ada, bahkan bagi seluruh alam semesta. “Syalom” ini yang menjadi panggilan setiap kita sebagai orang Kristen untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkannya, tidak cukup hanya dengan berbicara atau meneriakkannya saja, tetapi dengan cara memberi diri mengerjakan setiap apa yang baik dan juga bersama dengan orang lain. Syalom sejati adalah syalom seluruh alam semesta, dan karenanya memanggil seluruh unsur untuk bersama-sama mewujudkannya.Dalam berbagai ungkapan yang sengaja atau bercanda, seringkali kita membedakan antara “syallom” yang orang Kristen ucapkan dengan ”assalamu’alaikum” yang diucapkan kaum Muslim. Padahal kedua kata yang memiliki padanan arti tersebut, hanyalah merupakan perbedaan bahasa saja. Keduanya sama-sama memiliki arti “damai sejahtera”. Kedamaisejahteraan bukan hanya milik kekristenan pun bukan hanya orang Kristen yang dapat mewujudkannya. ‘Damai sejahtera’ memanggil semua orang dan unsur untuk mewujudkannya, nyata untuk kondisi kini dan di sini.
Tafsiran singkat :
1. Tafsir 2 Raja-raja 5:1-14
Hubungan politik Israel dan Aram tidak baik, peperangan demi peperangan masih terus berlanjut. Nabi Elia telah terangkat ke sorga, dan sebagai gantinya muncullah Elisa yang memiliki roh Elia (2:15). Pasal-pasal awal dalam 2 Raja-raja menceritakan perbuatan Elisa yang menunjukkan kenabian serta kemampuan melakukan berbagai perkara sebagai abdi Allah. Secara khusus, 2 Raja2 5:1-14 mengangkat kisah tentang Naaman, panglima tentara Aram yang badannya putih karena kusta (bdk. 5:27). ‘Kusta’ dalam berbagai cerita PL ada kalanya dipakai untuk menjelaskan penyakit yang tidak diketahui penyebabnya dan berhubungan dengan sesuatu yang gaib. Perlu diperhatikan di sini, bahwa bagi orang-orang Israel, kusta adalah penyakit yang najis dan seorang yang sakit kusta harus dilenyapkan/diasingkan dari masyarakat (Im. 13, 14), tetapi rupanya Naaman yang sakit kusta itu dapat menghadap Rajanya (2 Raja-raja 5:4). Tidak disebutkan nama Raja Aram saat itu, tetapi kemungkinan adalah Benhadad, sedangkan raja Israel yang berkuasa adalah Yoram, yang naik tahta setelah kematian Ahazia (bdk. 2 Raja-raja 1:17). Ada kemungkinan perbedaan pemahaman mengenai kusta bagi orang Israel dengan orang Aram sehingga Naaman diperbolehkan berada di istana, atau hal itu terjadi karena kedudukan Naaman sebagai panglima yang ‘terpandang … dan sangat disayangi’ (5:1).
Dalam suasana politik yang tegang, kisah sakitnya Naaman menjadi menarik, bahwa kesembuhan didapatkan di ‘negeri musuh’. Benhadad, Raja Aram, bahkan mengeluarkan surat diplomasi untuk Raja Israel agar menyembuhkan Naaman. Naaman pergi dengan membawa barang-barang pemberian bagi Israel berupa sepuluh talenta (sekitar 340 kg) perak, enam ribu syikal (sekitar 68,5 kg) emas, dan sepuluh potong pakaian. Ini merupakan pemberian yang sangat besar. Dalam peperangan, jumlah ini merupakan biaya perang yang besar. Kedatangan Naaman ke Israel rupanya menimbulkan keterkejutan Raja Israel. Berbeda dengan sang gadis pelayan yang kemungkinan mendengar cerita rakyat mengenai kehebatan Elisa dan bagaimana Tuhan menyertainya, rupanya keyakinan Raja Israel tidak sebesar itu. Raja berkabung dan berpikir permintaan tersebut merupakan akal-akalan Benhadad. Kesedihan raja diketahui oleh Elisa yang meminta Naaman dikirim ke rumahnya.
Umum di kalangan Timur Tengah waktu itu bahwa kusta dianggap sebagai penyakit yang berhubungan dengan sesuatu yang gaib, karenanya Naaman berpikir bahwa Elisa akan mengadakan semacam pengusiran setan atasnya (ay 11). Tetapi Elisa hanya menyuruhnya mandi di Sungai Yordan. Naaman yang awalnya menolak melakukannya, diyakinkan oleh para pegawainya, sehingga ia menuruti ucapa Elisa, dan terbukti, ia menjadi tahir.
Perhatikan panjangnya urusan kesembuhan yang melibatkan banyak orang ini : gadis pelayan sang nyonya Naaman Raja Aram Raja Israel Elisa pegawai Naaman kesembuhan Naaman. Urusan kesembuhan ini melibatkan : orang-orang sederhana (gadis pelayan dan pegawai) sampai para raja; mereka yang percaya kepada Allah dan yang tidak; mereka yang mengenal Elisa dan yang tidak. Tetapi mereka semua tanpa saling mengetahui, ternyata telah membuat suatu jalinan kerja sama meyembuhkan Naaman.
2. Tafsir Galatia 6:1-16
Bacaan ke-2 ini merupakan bagian akhir dari surat yang ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Galatia yang sedang meragukan kebenaran Injil berhadapan dengan tradisi Yahudi, serta kerasulan Paulus. Di akhir tulisannya, Paulus menekankan jemaat untuk saling bertolong-tolongan menanggung beban mereka (ay 2). “Menanggung beban” dalam Bahasa Yunaninya berkaitan dengan “memikul” yang mengingatkan kita akan peristiwa pemikulan salib Krsitus. Beban apa yang dimaksud? Mengacu kepada ayat 1, maka beban itu adalah beban dosa. Serta memperhatikan berbagai nasihat Paulus dalam pasal-pasal sebelumnya, maka beban itu juga berarti hambatan dan tantangan dalam jemaat, khususnya dari orang-orang yang ingin ‘menyesatkan’ (mengajarkan tentang sunat (5:2-3) sebagai tanda keselamatan, hidup dalam perhitungan hari-hari Yahudi (4:10), membedakan hubungan antara orang bersunat dan tidak, bahkan meragukan kerasulan Paulus). Beban ini merupakan tantangan dari dalam diri masing-masing dan sebagai jemaat. Karenanya, menjadi penting bahwa setiap orang juga ‘menguji’ diri mereka masing-masing, apakah mereka sudah benar dan setia kepada ajaran yang telah mereka dapatkan, sehingga mereka berhati-hati agar tidak menyesatkan jemaat. Pun jika jemaat dapat disesatkan, tetapi Allah mengetahui segala yang terjadi. Setiap apa yang dilakukan, pasti ada akibatnya bagi diri mereka sendiri. Bagi orang-orang yang hidup sesuai ajaran yang benar, maka damai sejahtera dan rahmat Allah akan turun atas mereka.
3. Tafsir Lukas 10:1-11, 16-20
Kisah ini paralel dengan Lukas 9: 1-6, mengenai pengutusan 12 murid. Kisah pengutusan 12 murid memiliki parelelnya dalam Matius 10:5-15 dan Markus 6:7-13, sedangkan kisah pengutusan 70 murid hanya dicatat dalam Injil Lukas. Sepertinya penulis Lukas memang senang menulis mengenai kisah misi yang dilakukan baik oleh Tuhan Yesus dan para muridnya. Ungkapan 70 murid (beberapa teks kuno menyebutkan jumlah 72 murid) di sini juga memberi gambaran bahwa sejak semula murid Tuhan Yesus tidak terbatas kepada 12 orang saja, tetapi ada jumlah besar yang memang setia mengikuti-Nya dalam perjalanan pelayanan yang dilakukan (bdk. pula Kis 1 :21-22). Dikatakan bahwa 70 murid itu diutus berdua-dua. Ini merupakan hal penting dalam pekerjaan iman, bahwa dengan berdua, maka mereka dapat saling menolong dan mendukung (bdk. juga mengenai ‘berdua’ dalam Pkh 4:9-12; Mat 18:16; 14:13; Luk 7:18; Yoh 8:17, 15:36-41; 2Kor 13:1; Ibr 10:28). Dua orang yang bersaksi atau melakukan suatu pekerjaan dapat menjadi lebih kuat daripada satu orang. Berbeda dengan 9:51-52 yang berbicara mengenai persiapan yang lebih kepada masalah fasilitas, maka pengutusan dalam Luk 10 ini mengenai mempersiapkan orang demi orang untuk menyambut-Nya. Ayat 2 mendahului dengan suatu kalimat mengapa pengutusan itu dilakukan, yaitu untuk menuai, melihat kesiapan orang-orang yang menerima pewartaan dari Tuhan. Perjalanan itu bukan perjalanan yang mudah dan tetapi harus segera diselesaikan, hal itu tercermin dalam perkataan “janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan’. Tuhan tidak sedang mengajarkan untuk menjadi sombong atau kasar, tetapi tentang sedikitnya waktu dan pekerja, karena itu mereka harus cepat-cepat bergerak, bahkan tak perlu ada persiapan pribadi untuk berangkat. Hal ini mencerminkan tradisi Israel mengenai penerimaan terhadap para pengembara, karena itu para murid tidak perlu membawa apa-apa.
Kedatangan para utusan haruslah menjadi kedatangan yang membawa damai sejahtera. Ucapan mereka lebih kepada menjadi doa dan berkat daripada sebuah salam yang biasa. Tetapi damai sejahtera yang diberikan juga membutuhkan tanggapan orang yang menerimanya, jika tidak ada penerimaan terhadap kehadiran para utusan Tuhan, maka damai sejahtera tidak akan didapatkan. Sebaliknya, jika orang-orang mau menerima para utusan dan menyambut doa dan berkat mereka, maka damai sejahtera akan menjadi milik mereka. Tugas para utusan adalah mewartakan keselamatan dari Tuhan (berita damai sejahtera bagi iman mereka) dan kesembuhan mereka yang sakit (damai sejahtera yang terwujud dalam hidup sehari-hari), dengan demikian damai sejahtera bukan hanya mengenai iman saja, tetapi meliputi seluruh segi kehidupan.
Kesimpulan Tafsir :
1. Kisah kesembuhan Naaman dapat terjadi karena ada keterlibatan banyak unsur, sekalipun mereka tidak saling mengenal dan mengetahui, tetapi tujuan mereka adalah agar kesembuhan itu dapat terjadi. Naaman sendiri menerima anjuran Elisa sehingga ia dapat sembuh.
2. Prinsip bertolong-tolongan menjadi suatu jalan keluar bagi jemaat dalam mengatasi berbagai permasalahan yang menimpa mereka. Khususnya ketika masalah itu timbul dari dalam. Mereka perlu untuk saling menempatkan diri dan memperhatikan satu dengan yang lain.
3. Kesadaran diri diperlukan dalam hubungan dengan yang lain sesama, agar dapat menempatkan diri dengan baik dan tidak membuat orang lain tersesat, tetapi sebaliknya kita dapat menjadi orang-orang yang memiliki damai sejahtera.
4. Para utusan Tuhan Yesus memiliki tanggung jawab membawa damai sejahtera kepada orang lain, sehingga banyak orang yang menerima damai sejahtera Tuhan. Dalam menjalankan tanggung jawab ini, utusan tidak bekerja sendiri-sendiri, tetapi ada jalinan kerja sama yang dibuat. Damai itu sendiri akan terwujud jika ada penerimaan dari orang-orang yang mendapatkannya.
5. Damai sejahtera terwujud baik di dalam iman dan dalam hidup sehari-hari.
Saran Penyusunan Khotbah :
1. (Jika dalam ibadah dapat ada tanya-jawa dengan umat, maka pertanyakan seputar : “Kepada siapa saja kita biasanya mengucapkan syallom?”, “Apa beda ‘syalom’ dan ‘assalammu’alaikum’?” atau “Untuk mendatangkan syallom, siapa yang biasanya Tuhan pakai?”)
2. Ilustrasikan problem mengucap “syalom” dan “assalammu’alaikum” antara orang Kristen dan Muslim. Bagaimana bahasa telah menjadi identik dengan identitas, sehingga sulit diucapkan dan disambut dari mereka yang berbeda. Kemudian ungkapkan bahwa inti kedua kata itu sebenarnya sama “damai sejahtera” atau “salam sejahtera bagimu”.
3. Ungkapkan bahwa damai sejahtera meliputi keadaan yang nyata, bukan hanya mengenai perasaan dalam hati saja, atau keadaan tenang, atau pun cita-cita masa depan, tetapi “syalom” adalah realitas masa kini, bahkan bagi seluruh alam, untuk diwujudkan.
4. Berikan tafsiran 2 Raja-raja 5 dan tekankan bahwa berbagai unsur dipakai Tuhan untuk membuat syalom (baca: kesembuhan) Naaman terjadi. Tetapi juga syalom itu terwujud Naaman sendiri mau mendengarkan Elisa. Jika ia menolak, maka syalom itu tidak didapatnya.
5. Kemudian, masuklah dengan bacaan Injil Lukas bahwa penerimaan seseorang terhadap pesan yang disampaikan sangat perlu. Bagi mereka yang menolak, maka damai itu tidak didapatkan. Tekankan pentingnya kerja sama untuk mendatangkan damai sejahtera dari Tuhan dan pentingnya suatu penerimaan.
6. Berikan contoh dari kehidupan sehari-hari, misalnya : untuk ibadah di gereja ada kerja sama penatua, pengkhotbah, kolektan, dan penerimaan umat; atau dalam rumah sakit ada kerja sama antara dokter, perawat dan sang pasien yang menerima pengobatan. Lebarkan contoh ini dengan aplikasi yang kontekstual dengan jemaat masing-masing.
7. Tutup khotbah dengan membaca beberapa ayat dari Galatia yang dapat menjadi penekanan akhir (mis. Gal 6:2, atau 6:9-10).
TEOLOGI