DIBEBASKAN DARI KUASA KEGELAPAN
Minggu, 24 Juni 2007
Pdt. Lindawati Mismanto
GKI Manyar, Surabaya
Bacaan I : 1 Raja-raja 19:1-18
Bacaan II : Galatia 3:23-24
Bacaan III : Lukas 8:26-39
Tujuan:
Anggota jemaat dapat mengalami kuasa pertolongan Tuhan yang mampu membebaskan diri mereka dari segala bentuk kuasa kegelapan.
DASAR PEMIKIRAN
Kuasa-kuasa kegelapan yang tampak dalam berbagai wujud sering mengintimidasi kita. Tidak jarang kita merasa tidak berdaya, baik menghadapi kuasa kegelapan yang tampak dalam kejahatan yang semakin merajalela, maupun kuasa-kuasa supranatural yang misterius dan menakutkan.
Berita-berita maupun tontonan televisi serta media massa lainnya, baik disadari atau tidak, semakin memanjakan kuasa kegelapan dengan promosi yang sedemikian menarik perhatian. Belum lagi realita yang sehari-hari bukan mustahil kita hadapi, seperti adanya praktek-praktek kejahatan dengan cara tipuan semacam hipnotis (sebagian orang Jawa menyebutnya sebagai “gendam”)
Sementara itu, yang menjadi kegelisahan kita adalah mengapa agama seolah-olah tidak punya kuasa (baca: pengaruh)? Bukankah negeri ini adalah negeri orang yang beragama? Kita semakin tidak percaya diri, ketika pertanyaan ini menjadi semakin mengerucut: mengapa kekristenan tidak membawa perubahan apa-apa? Mengapa iman Kristen seolah-olah kehilangan daya dan kuasa? Masihkah relevan bicara tentang TUHAN dan kuasanya, pada saat kuasa kegelapan seolah telah mencengkeram hidup manusia?
Tentunya Allah dengan kuasa-Nya masih tetap sama. Seringkali keraguan kita akan kehadiran-Nya yang menyebabkan kuasa kegelapan semakin berjaya. Ketiadaan iman semakin membuat kita menjadi permainan kuasa kegelapan. Seyogyanya setiap orang percaya harus semakin mengenal siapa TUHAN-nya, agar ia mampu melihat apa yang bisa dan akan terus dikerjakan oleh TUHAN dalam hidupnya.
TAFSIRAN SINGKAT
1. Tafsir 1 Raja-raja 19:1-18
Kisah ini dibuka oleh perintah Izebel untuk membunuh Elia. Alasan utamanya tentu karena Elia adalah orang yang paling bertanggungjawab atas pembunuhan nabi-nabi Baal. Dapat dibayangkan kemarahan Izebel yang telah sangat memuncak kepada Elia, oleh karena Elia telah mempermalukan Izebel di depan rakyat Israel. Dengan menantang dan mempermalukan nabi-nabinya sejumlah 450 orang di gunung Karmel, sudah cukup bagi Izebel untuk menganggap Elia sebagai musuh besarnya. Apalagi mengetahui bahwa Elia telah membantai nabi-nabi Baal itu. Padahal sebelumnya dengan kekuasaannya, Izebel justru telah berhasil melenyapkan nabi-nabi Yahweh (1 Raja-raja 18:4).
Izebel adalah istri Ahab, raja Israel pada masa itu. Pernikahan Ahab dengan Izebel agaknya lebih bersifat politis, yaitu untuk menguatkan persekutuan Tirus dengan Israel, karena Izebel adalah putri dari Etbaal, raja sekaligus imam di Tirus dan Sidon. Meskipun ia hanya istri seorang raja, tetapi kekuasaannya melampaui sang raja itu sendiri. Wataknya keras dan dominan. Dialah yang selama ini secara aktif membelokkan hati Ahab dan bangsa Israel untuk meninggalkan Allah Yahweh dan menyembah Baal Melkar, dewa yang diakui sebagai pelindung bangsa Tirus.
Ketika mendengar maklumat Izebel untuk membunuhnya, Elia menjadi takut dan pergi melarikan diri hingga Bersyeba. Bersyeba adalah kota paling selatan dari Yehuda, yang ada di bawah kekuasaan raja Yosafat. Meskipun kekuasaan Ahab tidak sampai ke Bersyeba, Elia masih terus berlari hingga ke padang gurun Negeb yang ada di selatan Yehuda. Mungkin ia berencana tidak akan kembali, sehingga ia meninggalkan pelayannya di Bersyeba.
Dalam keputusasaannya Elia hanya minta satu hal yaitu mati. Sungguh ironis, pada saat ia sedang berusaha menyelamatkan dirinya dari pedang Izebel, ia justru minta mati kepada TUHAN (ayat 4). Sama halnya setelah ia dengan yakin menunjukkan kuasa Allah di gunung Karmel di hadapan 450 nabi Baal dan seluruh rakyat Israel, namun sesudah itu, ia begitu takut pada seorang Izebel. Tetapi inilah realita yang tidak dapat kita sangkali. Untunglah Allah tetap setia. Ia tetap memelihara bahkan memulihkan Elia.
Setelah memperoleh makanan dari Allah secara mujizat, Elia berjalan empat puluh hari empat puluh malam ke Gunung Horeb. Horeb adalah nama lain dari Sinai, gunung Allah tempat TUHAN berbicara dengan Musa dalam semak yang menyala (lihat Keluaran 3) dan kemudian memberikan sepuluh perintah kepada Musa (lihat Ulangan 4-5).
“Apa kerjamu di sini Elia?” Sampai dua kali TUHAN bertanya kepada Elia. Kita tidak tahu apakah pertanyaan TUHAN ini dapat diartikan sebagai kemarahan atau kesempatan yang diberikan TUHAN bagi Elia untuk mengungkapkan perasaannya? Yang jelas di Gunung Horeb ini Elia menumpahkan keluh kesahnya kepada TUHAN, “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” Sampai dua kali pula ia mengatakan hal ini. Ia merasa segala upayanya gagal dan tidak berguna. Mungkin juga ia menyalahkan TUHAN yang membiarkan semua itu terjadi. Untunglah TUHAN tetap “meladeni” Elia.
Perjumpaan Elia dengan TUHAN tidak terjadi pada saat di mana kekuasaan TUHAN paling diharapkan, yakni angin yang besar dan kuat serta gempa bumi dan api, tetapi lewat angin sepoi-sepoi yang berhembus dengan tenang. Yang TUHAN sampaikan kepada Elia tampaknya hanya satu yaitu bahwa “pekerjaan kita belum selesai”. Tugas yang diberikan kepada Elia untuk mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram, Yehu cucu Nimsi menjadi raja Israel, dan Elisa menjadi nabi menggantikan Elia, menyiratkan bahwa TUHAN masih akan membuat “perhitungan” dengan Izebel dan orang-orang Israel yang tidak setia. Apa yang dikatakan TUHAN tentang tujuh ribu orang di Isarel yang masih setia menunjukkan bahwa cerita masih belum berakhir.
Paradoks yang menggembirakan adalah pada saat Elia merasa sudah selesai (“cukuplah itu” ayat 4) TUHAN justru seolah-olah berkata, “kisah belum selesai, cerita belum berakhir, engkau masih harus berjuang dan engkau tidak sendiri.”
2. Tafsir Galatia 3:23-24
Di dalam kehidupan masyarakat Yunani dikenal pekerjaan pelayan rumah yang disebut paidagogos. Biasanya paidagogos adalah budak lanjut usia yang dapat dipercaya dan sudah cukup lama melayani keluarga itu. Ia bertugas memelihara kesejahteraan moral anak yang diasuhnya, serta menuntunnya menuju kepada tingkat kedewasaan yang mantap. Berkaitan dengan hal itu, ia mempunyai satu tugas khusus, yaitu mengantarkan dan menjemput sekolah anak-asuhannya. Meski demikian, ia bukan guru. Ia bertugas menyerahkan anak asuhannya kepada guru yang sebenarnya.
Rupanya analogi inilah yang dipakai oleh Paulus untuk menjelaskan peran dan fungsi hukum Taurat bagi manusia. Hukum Taurat ada untuk menuntun manusia kepada Kristus. Selanjutnya Kristus sajalah yang membenarkan manusia karena iman. Hukum Taurat tak dapat membenarkan manusia.
Sebelumnya Paulus menjelaskan bahwa hukum Taurat diadakan karena adanya pelanggaran-pelanggaran. Maksudnya jika tidak ada hukum, maka dosa pun tidak ada. Seseorang tidak dapat dipersalahkan atas perbuatannya, jika ia tidak tahu bahwa ia berbuat dosa. Hukum Taurat berfungsi mendefinisikan dosa, tetapi tidak dapat melepaskan manusia dari dosa. Seperti seorang dokter yang dapat mendiagnosa suatu penyakit, tetapi ia tidak berdaya menyembuhkan.
Rasul Paulus menunjukkan keunggulan jalan iman daripada jalan hukum Taurat. Pertama, jalan iman (yang ditunjukkan melalui iman Abraham) lebih tua (empat ratus tiga puluh tahun) dari jalan hukum Taurat. Karena imanlah Abraham dibenarkan di hadapan Allah, dan iman tetap merupakan satu-satunya jalan bagi manusia untuk mendapatkan pembenaran di hadapan Allah.
Kedua, suatu persetujuan yang didasarkan pada hukum selalu menyangkut dua orang, yakni orang yang memberi dan orang yang menerima. Kalau hukum itu dilanggar oleh satu pihak saja, maka seluruh persetujuan itu pun hancur. Namun berbeda dengan janji. Ia hanya bergantung pada satu pihak saja, yaitu pihak yang memberi janji. Begitu pula perjanjian anugerah. Ia hanya bergantung kepada Allah, sang pemberi perjanjian itu. Manusia sama sekali tidak mampu untuk mengubahnya. Manusia bisa saja berbuat dosa, tetapi kasih dan anugerah Allah tetap tidak berubah. Anugerah Allah sama sekali tidak bergantung pada kelemahan manusia.
Jika demikian, apa gunanya hukum taurat? Hukum Taurat mendorong manusia untuk mencari anugerah, karena hukum Taurat telah membuktikan bahwa manusia itu lemah dan tidak berdaya. Itulah yang dikatakan Paulus melalui analogi paedagogos, bahwa hukum Taurat berperan sebagai “penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.”(ayat 24)
3. Tafsir Lukas 8:26-39
Daerah orang Gerasa atau Gadara (demikian Injil Matius menyebutnya) adalah daerah sebelah timur Galilea, yang mempunyai banyak gua di atas batu-batu karang berkapur. Gua-gua ini banyak dimanfaatkan sebagai kuburan. Pada saat-saat tertentu tempat ini sangat mengerikan. Apalagi jika menilik catatan Markus, tampaknya Yesus bersama murid-muridnya tiba di daerah itu ketika hari sudah melewati petang (bandingkan Markus 4:35).
Dari kuburan keluarlah seorang yang kerasukan roh jahat. Pada masa itu orang-orang percaya bahwa roh-roh jahat berdiam di hutan, taman, tempat-tempat kotor, di tempat-tempat sunyi dan di pekuburan. Dipahami juga bahwa roh-roh jahat secara khusus aktif pada waktu malam dan sebelum ayam berkokok.
Orang yang kerasukan setan itu disebutkan sudah lama tidak berpakaian, tidak tinggal dalam rumah, suka pada tempat-tempat yang sunyi, sangat kuat tenaganya sehingga tidak ada rantai atau belenggu yang dapat mengikatnya. Injil Markus menambahkan keterangan bahwa ia suka memukuli dirinya dengan batu (Markus 5:5)
Kita tidak memperdebatkan pandangan yang mengatakan bahwa laki-laki ini bukan kerasukan setan, tetapi “hanya” sakit jiwa atau gila. Termasuk bahwa bukan roh jahat yang menyebabkan babi-babi itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan kemudian mati lemas, melainkan teriakan dari orang yang dianggap kerasukan setan tersebut. Bagaimanapun gejala sakit jiwa dan kerasukan setan kadang-kadang memang tampak mirip.
Yang jelas Lukas mencatat bahwa Yesus telah membebaskan laki-laki ini dari penderitaannya. Namun anehnya, apa yang Yesus lakukan tidak membuat penduduk daerah itu bersukacita, tetapi ketakutan. Mereka mendesak Yesus untuk meninggalkan daerah mereka (ayat 37). Mungkinkah karena mereka telah terbiasa dengan kondisi laki-laki yang kerasukan setan itu, sehingga asalkan tetap di pekuburan dan tidak mengganggu penduduk, mereka sudah tidak peduli padanya? Tetapi Yesus tidak demikian, ia sangat peduli. Ataukah mereka memang lebih peduli kepada sejumlah besar kawanan babi yang mati, karena mempunyai nilai ekonomi? Markus 5:13 mencatat jumlah kawanan babi itu kira-kira 2000 ekor. Meskipun orang Yahudi sebenarnya tidak makan babi, pasti babi-babi itu sengaja dipelihara, karena ada penjaga-penjaga yang ditempatkan bagi kawanan itu. Kita tidak tahu alasan Yesus mengijinkan roh-roh jahat itu masuk ke dalam kawanan babi. Tetapi setelah peristiwa itu, tampak sekali Yesus ingin mengajak setiap orang sampai pada kesimpulan bahwa bagaimanapun satu jiwa manusia yang diselamatkan jauh lebih bernilai daripada sejumlah besar kawanan babi. Pasti pesan itu Ia ingin sampaikan pula kepada laki-laki yang kerasukan setan. Bayangkan, mungkin sudah sangat lama tidak seorang pun peduli, apalagi menghargai dia. Dan sekarang ada seorang yang benar-benar menganggap dia berharga.
Orang yang kerasukan setan tidak dapat membebaskan dirinya. Sementara tidak seorang pun yang sanggup (dan mau?) menolongnya. Itulah sebabnya tidak heran ia sangat terkesan pada apa yang telah dilakukan Yesus baginya, sehingga ia minta diperkenankan untuk menyertai Yesus. Tetapi Yesus tidak mengabulkan. Mungkin orang itu ingin melayani Yesus, sebagai wujud terimakasihnya. Namun bagi Yesus ada hal lain yang lebih penting yaitu menceritakan perbuatan Allah. Karena itulah ia berkata kepada laki-laki itu, “Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu.” (ayat 39a) Memang kemudian orang itu mentaati perintah Yesus. Ia “pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya” (ayat 39b)
4. Kesimpulan Tafsir
Ketidakberdayaan manusia berhadapan dengan kekuasaan Allah. Kira-kira itulah kebenaran yang sangat kentara dari ketiga bacaan di atas. Betapapun salehnya Elia hidup di hadapan Allah, serta betapa pun hebatnya ia telah dipakai oleh TUHAN, tetapi ia tetap seorang manusia. Ia tidak berdaya ketika harus berhadapan dengan kekuasaan penguasa yang sewenang-wenang. Sekali lagi, ketidakberdayaan manusia juga kita temukan dalam diri orang yang kerasukan setan. Kita memang tidak mengenal siapa dia dan latarbelakangnya. Tetapi yang jelas ia telah menjadi “bulan-bulanan” (baca: permainan) roh jahat. Rasul Paulus dalam surat Galatia sedikit memberikan pencerahan kepada kita. Ia menunjukkan akar dari semuanya adalah dosa (3:22a). Dan Hukum Taurat (serta hukum apa pun) di dunia ini semakin menegaskan keberadaan kita yang benar-benar tidak berdaya.
Untunglah kita tidak perlu putus asa meratapi ketidakberdayaan kita, karena kita memiliki Allah yang penuh kuasa.
Yang melegakan hati adalah bahwa meskipun Allah penuh kuasa, ia selalu “menangani” manusia dengan lembut. Baik kepada Elia, maupun laki-laki yang kerasukan setan, serta kepada semua orang beriman, tampak sekali perhatian dan cinta Allah yang bersifat pribadi dan istimewa. Ia bukan Allah yang dingin, tidak berperasaan, yang memperlakukan manusia bagaikan mesin-mesin ciptaan-Nya, yang Ia kendalikan dengan kuasa-Nya. Sebaliknya, terasa sekali perhatiannya yang lembut penuh cinta kepada setiap pribadi.
Yang juga tampak dari kisah-kisah di atas adalah bahwa pekerjaan Allah masih terus berlanjut. Kepada Elia, Allah menyuruh ia mempersiapkan regenerasi bagi pertobatan Israel. Kepada laki-laki yang telah dibebaskan dari setan, Yesus meminta ia memberitakan pekerjaan Allah.
SARAN PENYUSUNAN KHOTBAH
Khotbah dapat diawali dengan membukakan beberapa realita pengaruh kuasa kegelapan di sekitar kita, baik dalam bentuk kejahatan, maupun kuasa-kuasa sihir dan penyembahan roh setan. Manusia yang ada di bawah pengaruh kuasa kegelapan ini biasanya kehilangan akal sehat dan hati nuraninya. Demikian pula kuasa-kuasa itu seringkali telah membuat kita terpesona atau sebaliknya, menjadi ngeri dan takut. Kita merasa kehilangan tempat perlindungan.
Khotbah dapat dilanjutkan dengan mengakui ketidakberdayaan manusia, tanpa Tuhan. Elia nabi Allah, “kalah” oleh ketakutannya akan kuasa kejahatan yang dipropagandakan oleh Izebel. Demikian pula laki-laki dari Gerasa, hanya menjadi korban menyedihkan dari kuasa kegelapan yang telah menghancurkan hidupnya serta masa depannya. Pengkhotbah dapat menambahkan contoh-contoh yang ada di seputar kehidupan anggota jemaat.
Kesimpulannya, bagaimana pun kuasa kegelapan adalah realita yang tidak dapat kita ingkari dan tolak.
Mengapa agama seolah-olah tidak berperan? Tentu saja selama agama hanyalah kumpulan hukum dan aturan. Jelaskan singkat pengajaran Paulus kepada jemaat Galatia tentang fungsi hukum Taurat. Jadi hukum dan aturan agama apa pun hanya menegaskan betapa manusia tidak berdaya melawan dosa, yang telah mewujudkan diri dalam kuasa kegelapan. Hanya iman yang dapat memberi jalan keluar. Iman bergantung pada perjanjian anugerah Allah, sama sekali tidak bergantung pada kelemahan dan keberdosaan manusia.
Tunjukkan kepada anggota jemaat apa yang Allah dapat lakukan. Pertama, Ia dapat menunjukkan kuasa-Nya yang tidak terbatas, baik kuasa atas alam, manusia maupun roh-roh jahat. Namun meski Dia Allah Mahakuasa, Ia tetap Allah yang memiliki hati yang lembut dan penuh cinta. Ia memahami depresi yang dialami Elia, sama seperti Ia memahami penderitaan laki-laki yang dirasuk setan di Gerasa. Ia “menangani” masing-masing mereka dengan lembut.
Kepada Elia, TUHAN berbicara melalui “angin sepoi-sepoi basa” setelah Ia menyediakan kebutuhan fisik Elia. Ia menyediakan telinga-Nya untuk mendengar keluh kesah Elia.
Kepada laki-laki yang kerasukan setan di Gerasa, Yesus juga menunjukkan betapa ia sangat berharga lebih daripada sejumlah besar kawanan babi, yang menurut anggapan orang kalau dijual pasti lebih berharga secara ekonomi. Kalaupun laki-laki itu dijual sebagai budak, pasti tidak berharga, karena tidak ada orang yang mau memperkerjakan seorang laki-laki kerasukan setan yang menakutkan, bukan?
Mengapa Allah “menangani” setiap orang dengan lembut dan penuh cinta? Galatia 3:1-24 menjelaskan karena kasih karunia-Nya, Allah telah mengikatkan diri-Nya melalui perjanjian kasih setia dengan kita. Dengan kata lain Ia telah berjanji untuk mengasihi kita. Ia tidak mungkin mengingkari perjanjian itu. Kita pun tidak mungkin membatalkan perjanjian itu, bagaimana pun keadaan kita.
Khotbah dapat diakhiri dengan dorongan kepada anggota jemaat untuk tidak putus asa, meski saat ini mereka melihat seolah-olah kuasa kegelapan masih berkuasa. Mengapa demikian? Karena Allah belum selesai. Allah masih akan terus bekerja. Yang kita butuhkan adalah terus terikat pada iman kepada-Nya.
Demikian pula kita tidak boleh puas diri, ketika melihat kuasa kegelapan telah dikalahkan. Tuhan Yesus menginginkan kita memberitakan perbuatan-Nya yang ajaib, agar banyak orang lain dibebaskan dari kuasa kegelapan dan dengan merdeka datang kepada Kristus, sehingga dapat menikmati janji-janji Allah dalam kasih setia-Nya. Jika seorang telah dibebaskan dari kuasa kegelapan, ia dapat dengan leluasa menikmati persekutuan dengan Allah.
TEOLOGI