IMAN YANG MEMBANGKITKAN, KASIH YANG MENYELAMATKAN
MINGGU, 17 JUNI 2007
Pdt. Natanael Sigit Wirastanto
GKI Kediri – Jawa Timur
Bacaan I : I Raja-Raja 21:1-21
Bacaan II : Galatia 2:15-21
Bacaan III : Lukas 7:36-8:3
Tujuan : Anggota jemaat dapat memiliki imannya, sehingga mereka mampu menunjukkan kasihnya kepada Tuhan dalam tindakan nyata.
DASAR PEMIKIRAN
Iman, bukanlah kata asing ditelinga setiap insan Kristiani (bahkan sangat akrab dalam kehidupan keagamaan yang lain) dan definisi umum yang sering terucap adalah “Iman adalah Percaya”. Benarkah? Memang benar, namun apakah hanya sebatas itu? Rupanya, tidak. Pdt. Harun Hadiwiyono dalam buku dogmatisnya “Iman Kristen” mengungkapkan hal tentang apa itu iman. Iman, berasal dari kata kerja aman yang memiliki arti “memegang teguh”. Siapa yang harus dipegang teguh? Dia adalah Tuhan Allah, dalam arti bahwa Tuhan Allah harus dianggap sebagai Yang Teguh atau Yang Kuat.
Oleh sebab itu bisa dikatakan bahwa iman adalah percaya (credo) dan memegang teguh Tuhan Allah di dalam Sabda-Nya. Namun yang perlu diperhatikan adalah, bahwa iman bukanlah urusan hati yang dicorongkan dengan rongga mulut alias bukan hanya bahasa mulut (seperti kita mengucapkan credo Rasuli) namun iman adalah bahasa perilaku dalam segala totalitas kehidupan dengan sepenuhnya tunduk di bawah otoritas Tuhan Allah. Tetapi alangkah tidak bijaksana, jika kita menundukkan diri di bawah otoritas Tuhan Allah, namun kita hanya mengabsolutkan hal-hal yang berbau supernatural dan mengabaikan rasionalitas (praksis) demikian juga sebaliknya. Pemutlakan “supernatural” yang diperoleh melalui olah rasa batiniah (afeksi), akan berdampak pengabaian rasionalitas (kognisi) dan pemutlakan rasionalitas (kognisi) akan berdampak pengabaian hal-hal yang batiniah (afeksi) dan kesaksian pengalaman-pengalaman iman yang tidak terjangkau indra jasmaniah akan menjadi bahan tertawaan. “Supernatural” dan rasionalitas, seharusnya berjalan seiring sejalan di bawah terang Tuhan Allah yang absolut. Bukankan mengasihi Tuhan Allah (baca : menunjukkan kasih kepada Tuhan Allah) harus dengan segenap hati, jiwa dan akal budi? (Matius 22:37)
TAFSIRAN SINGKAT I RAJA-RAJA 21:1-21
Ada tiga aktor dalam I Raja-raja 21:1-21 sebelum munculnya peran Elia, yaitu Ahab, Izebel dan Nabot. Siapakah Ahab? Dia adalah Raja Samaria (Kerajaan Israel Utara) dan memiliki istana di Yizreel (kota dekat (tetangga) Sunem). Ahab adalah putra mahkota raja Omri dan mereka berdua (Ahab dan sang ayah, Omri) melakukan kejahatan dimata Tuhan, melebihi kejahatan para pendahulunya (I Raja-raja 16:29-30). Izebel adalah putri Etbaal raja Sidon. Setelah diperistri Ahab, maka Ahab ikut terhanyut dalam penyembahan Baal dan Asyera (I Raja-raja 16:31-33). Nama Izebel juga ditulis dalam kitab Wahyu 2:20 sebagai sebuah figur yang menebarkan penyesatan yaitu pelacuran, baik pelacuran fisik (perzinahan) maupun pelacuran spiritual (melacurkan diri kepada berhala), dia adalah kejahatan. Sedangkan Nabot adalah penduduk kota Yizreel yang memiliki kebun anggur tepat disebelah istana raja Ahab.
Dikisahkan, Ahab tertarik ingin memiliki kebun anggur milik Nabot, bahkan Ahab menawarkan barter (mengganti dengan kebun yang lain dan janjinya dengan kualitas lebih baik) atau uang. Nabot menolak karena kebun itu adalah tanah pusaka milik nenek moyangnya (Life Application STUDY BIBLE, NEW INTERNATIONAL VERSION menambahkan keterangan bahwa penolakan Nabot didasarkan pada Keluaran 25:23). Setelah terjadi penolakan maka mulailah muncul nafsu serakah yang sungguh eksploitatif dari Izebel, yang sangat bernafsu mengubah kegagalan Ahab menjadi keberhasilan (betapa dominannya peran Izebel dalam langkah-langkah pengambilan kebijakan raja Ahab), namun dengan cara yang sangat licik yaitu memfitnah (melalui orang lain) bahwa “Nabot telah mengutuk Allah dan raja” sampai akhirnya Nabot dirajam batu sampai mati (I Raja-raja 21:13). Karena hal inilah, maka Tuhan melalui Elia memberitahukan kematian Ahab (ayat 21). Namun yang terjadi adalah : Ahab yang awalnya memperbudak diri kepada kejahatan (ayat 20) berubah menjadi merendahkan diri di hadapan Tuhan (ayat 29), maka penghukuman berlalu dari Ahab.
TAFSIRAN SINGKAT GALATIA 2:15-21
Surat Galatia ditulis oleh Paulus, berkaitan dengan kondisi jemaat Galatia yang mengalami kebimbangan rohani dalam kehidupan spiritualitasnya. Kebimbangan tersebut dikemukakan oleh kelompok yang disebut sebagai “Saudara-saudara palsu” (Gal 2:4) dengan ajaran pemutlakan ritual Yahudi (khususnya sunat). Praktek keagamaan Yahudi (sunat dan hukum Taurat) yang sejak semula diyakini sebagai berasal langsung dari Allah, tetap merupakan beban kewajiban bagi orang-orang Kristen. Sehingga, jemaat Galatia dibingungkan dan mereka berada dalam ancaman bahaya ambiguitas “Menjadi Kristen dengan iman yang Kristosentris ataukah menjadi Kristen namun tetap berjiwa Yudaisme?”. Bahkan, beban kewajiban ala Yudaisme juga dimaklumkan kepada orang-orang Kristen non Yahudi. Namun, Paulus sangat lugas dan tegas dalam memberikan pernyataan pastoral bahwa “…tidak seorangpun dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus” (Gal 2:16). Pernyataan Paulus bahwa ia “telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah” (Gal 2:19) memiliki pararelisme dengan II Korintus 4:15, sehingga arti kongkretnya adalah : Paulus telah mati dalam hukum Taurat (baca:manusia lamanya telah mati karena melakukan hukum Taurat, an sich) dan menjadi manusia baru yaitu hidup untuk Allah dalam Kristus Yesus (Gal 2:20).
Namun Paulus tidak pernah mengatakan bahwa semua peraturan/hukum Taurat “Batalkan/lenyapkan saja!” karena dalam Roma 7:12 dikatakan bahwa “Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik”. Artinya, hukum Taurat itu kudus sifatnya, sehingga boleh saja melakukan hukum Taurat (termasuk sunat) namun itu tidak menyelamatkan. Dan lagi, alangkah tidak etis memaksakan peraturan Taurat kepada orang Kristen non Yahudi, karena menjadi pengikut Kristus adalah panggilan iman, bukan panggilan kultural. Manusia diselamatkan hanya karena iman kepada Kristus Yesus.
TAFSIRAN SINGKAT LUKAS 7:36-8:3
Dua “adegan” utama dalam Injil Lukas 7:36-8:3 adalah perminyakan kaki Tuhan Yesus oleh perempuan berdosa dan pengampunan dosa karena iman. Siapakah perempuan yang dikenal sebagai orang berdosa itu? Tidak jelas dalam Injil Lukas, namun sangat besar kemungkinan dia adalah seorang pelacur. Perempuan itu hadir ketika Yesus sedang diundang makan oleh Simon, orang Farisi, lalu membasahi kaki Tuhan Yesus dengan air matanya dan menyeka kaki Tuhan Yesus dengan rambutnya serta mencium kaki-Nya. Sudah tentu, air mata yang keluar bukanlah hal yang dibuat-buat, namun keluar dari rasa yang tak tertahankan, rasa bahagia, rasa haru dan rasa sesal. Lalu, perempuan ini meminyaki kaki Tuhan Yesus. Sebuah hal yang sangat kontras dengan kebiasaan dalam kultur Yahudi, pembasuhan kaki, dimana Simon orang Farisi tidak melakukakannya terhadap Tuhan Yesus. Tuhan Yesus, melihat perempuan berdosa itu sebagai “orang yang berhutang banyak” yang dibebaskan dari hutangnya (Luk 7:41-43). Perumpamaan tentang penghapusan hutang ini adalah sebuah “pintu gerbang” untuk memasuki pernyataan dan proklamasi eksistensi Tuhan Yesus Kristus sebagai Mesias yang memiliki otoritas penuh dalam pengampunan dosa. Dan yang terjadi memang demikian “Dosamu telah diampuni” (Luk 7:48). Sangat wajar jika banyak orang mempertanyakan tentang otoritas ini (Luk 7:29) karena dalam keagamaan Yahudi, hanya Allah yang berhak mengampuni dosa manusia. Dan Tuhan Yesus mengulangi lagi pernyataan-Nya kepada perempuan itu “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Luk 7:50). Jadi dapat dikatakan secara keseluruhan, bahwa pengampunan yang diberikan oleh Tuhan Yesus adalah murni karena iman kepada-Nya.
Sedangkan dalam pasal 8:1-3 adalah sebuah tindakan emansipatoris para perempuan yang telah mendapatkan anugrah Tuhan Yesus Kristus, Dia men-sah-kan pengabdian mereka. Keterbukaan Tuhan Yesus dalam hal gender sangat berbeda dengan tradisi Yahudi yang sangat patriarchal. Namun, ini semua karena Tuhan Yesus ingin menyaksikan bahwa di hadapan Allah semua manusia adalah sama.
KESIMPULAN TAFSIR
• Kejahatan yang dilakukan oleh Ahab terhadap Nabot sebenarnya murni karena keinginan untuk memiliki dan kemudian dibuahi oleh permainan licik Izebel sang permaisuri dengan menyalahgunakan kedudukan Ahab sebagai raja Israel. Ahab dan Izebel, telah melakukan dosa sosial di hadapan Tuhan. Karena kejahatan inilah, maka Tuhan akan menghukum Ahab dengan membinasakannya.
• Namun, terjadi transformasi spritualitas Ahab. Dari memperhambakan diri kepada kejahatan, berubah menjadi merendahkan diri di hadapan Tuhan sehingga penghukuman berlalu dari padanya.
• Tindakan Ahab “mau berubah” untuk menjadi merendahkan diri di hadapan Tuhan, bukanlah soal bahasa batin, namun juga termanifestasi dalam bahasa laku (praksis) yang sebelumnya mengalami proses olah akal budi / rasio (baca:berpikir/menggumulkan). Inilah iman kepada Tuhan dalam keutuhannya. Dan dalam berita di Galatia, Rasul Paulus juga mengatakan, bahwa iman kepada Kristus-lah jalan satu-satunya untuk mendapatkan keselamatan dan bukan karena melakukan aturan-aturan tertulis dari hukum Taurat. Meskipun Taurat adalah penting dan kudus (dan boleh dilakukan) namun itu tidak menyelamatkan.
• Tuhan Yesus sendiri berkenan mengampuni dosa perempuan berdosa karena iman-nya kepada Dia. Karena iman, maka bangkitlah Kasih Sejati Tuhan dalam pengampunan dosa.
SARAN PENYUSUNAN KHOTBAH
• Khotbah dapat diawali dengan sebuah pertanyaan “Mengapa kita bergereja?” atau “Mengapa kita menjadi Kristen?” Pertanyaan ini merupakan pertanyaan reflektif yang tidak perlu dijawab oleh jemaat, namun pengkhotbah sendiri yang melontarkan alternatif jawaban “Apakah kita ke gereja supaya kita selamat?” atau “Menjadi Kristen supaya kita diselamatkan?”. Perlu dijelaskan disini, bahwa “Gereja” dan “Kristen” bukanlah keselamatan dan bukanlah tujuan, namun merupakan sarana untuk belajar dan membangun dasar iman kepada Tuhan, karena hanya dengan imanlah kita diselamatkan oleh-Nya. Jelaskan dengan mengulas Galatia 2:15-21 (Tafsiran Singkat) dan lanjutkan dengan mengulas Lukas 7:36-8:3 (Tafsiran Singkat).
• Lanjutkan dengan pertanyaan “Apakah itu iman?”. Pertanyaan ini dapat dijawab dengan Dasar Pemikiran Rancangan Khotbah ini, bahwa iman adalah “Percaya” dan “Memegang Teguh” Tuhan di dalam Sabda-Nya yang Kudus.
• Oleh sebab itu, iman menuntut adanya praksis dalam kehidupan, yaitu adanya pertobatan. Jelaskan sedikit tentang praksis perempuan berdosa yang diampuni oleh Tuhan Yesus dan jelaskan kisah transformasi spiritualitas raja Ahab dalam I Raja-raja 21:1-21.
• Akhiri khotbah dengan ajakan demikian “Jika kita telah beriman kepada Tuhan dan bersyukur karena mendapatkan anugrah keselamatan, marilah kita membalas Cinta-Kasih Tuhan dengan perbuatan kita”. Jika dikatakan membalas Cinta-Kasih Tuhan dalam tindakan nyata, berarti hidup beriman adalah hidup dengan melihat realitas, umat beriman harus ikut menggumuli persoalan dan pergumulan kemanusiaan. Bertobat bukan hanya secara personal, namun juga bertobat dari dosa-dosa sosial (baik personal maupun komunal). Karena bagaimanapun juga, permasalahan dan duka masyarakat (sosial) adalah permasalahan dan duka Gereja.
TEOLOGI