KESETIAAN ALLAH KEPADA UMATNYA
MINGGU, 29 JULI 2007
Pdt. Samuel Santoso
GKI Kedoya, Jakarta
Bacaan I : Hosea 1:2-10
Bacaan II : Kolose 2-6-19
Bacaan III : Lukas 11:1-13
Antar Bacaan : Mazmur 85
Tujuan : Anggota jemaat dapat menyadari bahwa Allah tetap berlaku setia kepada umatNya, dan untuk itu mereka dipanggil dan mau bertekad berlaku setia juga kepada Allah.
DASAR PEMIKIRAN
Semboyan ‘sola fide, sola gratia’ kerap kali dipahami secara pasif dan negatif. Manusia cukup diam saja tidak melakukan apa-apa – ini suka disebut sebagai sikap percaya – sedangkan Tuhan mengerjakan semuanya. Semangat beriman semacam ini adalah sisi ekstrim dari hidup beragama yang semuanya tergantung pada pihak manusianya apakah ia bisa mengumpulkan pahala dari amalan-amalannya secara maksimal. Akibat dari dua sikap ini sama. Orang beragama hidup dalam beban mental yang sangat berat dan aturan-aturan agama menjadi belenggu yang tidak memungkinkan orang hidup sebagai orang yang merdeka.
Hidup beriman kepada Kristus memberikan kepada para pengikut Kristus kebebasan. Beban yang tidak mungkin dipikul oleh manusia secara sempurna dipikul-Nya tetapi supaya orang yang beriman kepada-Nya ikut mengambil tanggungjawabnya maka ada tanggungjawab yang mesti dipikulnya. Tepatlah ungkapan populer di kalangan warga jemaat “kita harus hidup benar bukan supaya kita selamat tetapi justru karena kita selamat maka kita harus hidup benar.” Para pengikut Kristus sungguh adalah orang yang beruntung.
TAFSIRAN SINGKAT
1. Hosea 1:2-10
Dalam rangka menyampaikan berita dari Tuhan kepada umat Allah para nabi sering melakukan apa yang biasa dikenal sebagai ‘tindakan perlambang’ (symbolic action – mis. Yes 7:3 ; 8:1-4 ; 20:1-6 atau Yer 13:1-11 ; 18 ; 19 ; 27: 1-22 atau Yeh 24:1-27 atau Zak 6:9-15). Tindakan-tindakan itu bukan tujuan melainkan alat untuk menjelaskan amanat Tuhan kepada umat-Nya. Perbuatan para nabi ini sangat berkesan karena melibatkan kedirian mereka secara emosional yang membutuhkan pengorbanan diri mereka tetapi sekaligus belum tentu menerima tanggapan seperti yang diharapkan. Kisah Hosea terasa lebih impresif sekaligus tragis karena Tuhan melibatkan kehidupan keluarga nabi sendiri secara langsung dalam tindakan yang, secara moral pada umumnya, dianggap sebagai suatu aib.
Perkawinan nabi dengan Gomer penuh dengan makna perlambang. Hosea, sang nabi, melihat bahwa perkawinannya dengan seorang pelacur atau orang yang mempunyai kecenderungan melacur atau seorang pelacur kuil Baal adalah atas kehendak Tuhan untuk kepentingan menggambarkan sikap Tuhan terhadap umat-Nya yang sudah mendua hati. Umat Allah tidak berpaut hanya kepada Tuhan tetapi kepada Baal juga dan sikap ini semakin menjadi-jadi justru pada masa Israel Utara mengalami kemakmuran pada zaman raja Yerobeam II (786-746 sM). Sikap menyembah ilah lain disertai dengan kebobrokan moral masyarakat sudah sedemikian parahnya sehingga umat Allah tidak lagi terlihat seperti statusnya sebagai umat Allah. Hal ini dinyatakan dengan ‘nama perlambang’ dari tiga anak yang dilahirkan oleh Gomer. Yisreel, Lo Ruhamah, Lo Ami. Yisreel adalah tempat berdiam raja Israel Utara menjadi personifikasi dari umat Israel. Kehidupan umat Allah, yang dikuasai oleh penyembahan kepada berhala dan kehidupan moral yang bejat, tidak lagi mencerminkan kehidupan umat yang dikasihi (rakham) Tuhan malahan mengkhianati kasih Tuhan. Kenyataan semacam ini membuat umat tidak pantas lagi menyandang status sebagai umat Allah. Nama anak ketiga Lo Ami (bukan umat-Ku) juga mencerminkan hal itu.
2. Kolose 2:6-19
Dengan bahasa seorang gembala, rasul Paulus memulai nasihat-nasihatnya kepada jemaat Kolose yang rupanya cukup terganggu oleh ulah sekelompok orang Yahudi Kristen yang konservatif, dan pandangan serta kebiasaan dari agama lama mereka sendiri. Gangguan dari orang Yahudi adalah pandangan bahwa apabila seorang mau menjadi Kristen maka ia harus menjadi penganut agama Yahudi lebih dulu serta menjalankan aturan-aturan tertentu yang disyaratkan oleh agama Yahudi seperti ritual sunat (sebagai yang utama, ay. 11-13), dan melaksanakan ‘aturan-aturan Taurat’ yang legalistik (yang tidak mungkin) yang membuat mereka menjadi seperti orang berutang (ay.14). Kendala berikutnya adat istiadat masyarakat mereka sendiri (ay.8). Rasul Paulus mengingatkan agar mereka ekstra waspada terhadap dua hal ini. Kata yang diterjemahkan dengan ‘menawan’ secara hurufiah berarti ‘membawa seseorang untuk dijadikan budak’. Keterikatan yang berbentuk sikap memberhalakan ritus agama dan adat istiadat, bagi Paulus, sangat bertentangan dengan iman kepada Kristus yang karya-Nya justru membuat orang merdeka.
Kemerdekaan orang yang beriman kepada Kristus tidak didasarkan pada kuasa dan kekuatannya sendiri atau pada ketaatan mereka melakukan ritual keagamaan; tetapi karena jemaat berada di dalam persekutuan yang akrab dengan Yesus sendiri. Hal ini ditandai dengan layanan baptisan kudus yang menyatukan mereka dengan kematian dan kebangkitan Kristus (ay.12-14). Kematian sebagai lambang dari kehidupan yang lama dan kebangkitan yang menunjuk kepada kehidupan yang baru. Dalam persekutuan dengan Kristus semacam inilah orang Kristen semakin berakar teguh dan membangun kehidupannya. Jadi persekutuan dengan Kristus di sini HARUS diartikan sebagai satu keadaan yang baru dari kehidupan seseorang yang terjadi karena ia mengamini gaya hidup pribadi Kristus menjadi gaya hidup pribadinya. Hidup orang itu sendiri menjadi hidup yang terarah dan berorientasi kepada Tuhan dan tidak kepada dirinya sendiri. Hidup yang demikian bertentangan dengan hidup para penyembah berhala dan pelaku hukum Taurat yang egoistis. Peran Kristus sendiri sangat sentral. Di dalam Dia segenap kepribadian Allah telah dinyatakan secara sempurna. Sehingga ketika manusia berpaut kepada Kristus maka mereka sesungguhnya berpaut kepada Allah sendiri juga. Kemelekatan kepada Kristus memungkinkan manusia memperoleh kepenuhan kuasa kehidupanNya. Persekutuan dengan Kristus pula yang memungkinkan kita dapat menjadi manusia baru secara kualitatif (jadi bukan secara jasmaniah yang kuantitatif)
3. Lukas 11:1-13
Perikop ini terdiri dari tiga bagian besar yakni (1) Doa yang benar, (2) Perumpamaan tentang ketekunan meminta sesuatu yang penting, dan (3) Perumpamaan tentang seorang ayah yang pasti akan memberikan apa yang dibutuhkan oleh anak-anaknya. Pada bagian pertama Tuhan Yesus mengajarkan tentang apa saja yang paling penting yang harus diminta kepada Tuhan dalam doa orang yang beriman kepada-Nya. Dia mengajarkan Doa Bapa kami yang ringkas tetapi padat isinya karena menyangkut hal-hal yang dasarilah dalam penghayatan iman (supaya kehendak Tuhan yang terjadi, kebutuhan pokok yang cukup, kesediaan mengampuni orang yang bersalah, dan permohonan hikmat supaya tidak jatuh dalam pencobaan). Isi Doa Bapa kami ini adalah memprioritaskan apa yang seharusnya menjadi prioritas utama (minta bukan yang diinginkan tetapi yang dibutuhkan), urgensi, dan bermanfaat untuk membangun kehidupan damai bersama Tuhan dan sesama. Semua yang penting dan berguna untuk hidup boleh diminta kepada Sang Bapa. Sapaan ‘bapa’ untuk Allah sangat radikal untuk zamannya. Bagi kebanyakan orang Yahudi Allah sangat jauh jaraknya dari manusia bahkan tak layak manusia menyebut nama-Nya (dalam Kitab Suci orang Yahudi, kata YHVH tidak pernah diucapkan dan, bila menemukan kata ini orang akan membacanya dengan: ADONAI – ‘tuan’ dan dengan demikian menempatkan diri sebagai ‘hamba/budak’.
Bagian kedua dan ketiga dari perikop ini mengajarkan kepada para pembaca untuk tidak ragu atau takut untuk meminta kepada Tuhan apa yang baik dan dibutuhkan untuk hidup dengan benar. Allah Bapa kita tidak pernah merasa direpotkan oleh permohonan bantuan semacam itu. Tuhan juga pasti akan mengabulkan apa yang baik dan berguna bagi kehidupan umat karena Ia juga adalah Bapa yang baik. Bapa yang baik tidak pernah menolak untuk mengabulkan permintaan anak-anaknya sepanjang itu memang – sekali lagi - bermanfaat, berguna, dan membangun kehidupan beriman umat Allah.
SARAN UNTUK PENYUSUNAN KOTBAH
1. Kecenderungan untuk hidup berkanjang dalam dosa adalah bahaya laten dari kehidupan manusiawi, bahkan dari orang-orang yang beriman kepada Kristus sekali pun tidak luput dari kecenderungan demikian. Hidup dalam dosa nikmat, memabukkan, dan adiktif (membuat orang bergantung dan merasa tidak hidup bila tidak melakukannya). Kecenderungan ini yang kemudian membuat umat Allah tidak dapat hidup sesuai dengan status mereka sebagai ‘orang yang dikasihi’, dan ‘umat Allah’, terancam hidup tanpa makna, dan mengalami kehancuran hidup. Bagi Allah kecenderungan berdosa semacam ini sangat mengecewakan dan mencederai kasih ilahi yang sudah dilimpahkan kepada umat Allah.
2. Hidup berdosa adalah hidup yang egosentris, dan hal ini sama dengan praktik penyembahan berhala dan sikap egois yang ujung-ujungnya adalah menomer-satukan diri sendiri. Kehidupan egoisme yang menomorsatukan diri sendiri seharusnya merupakan keadaan yang palsu yang mestinya sudah menjadi masa lalu yang sudah dibuang jauh-jauh oleh para kekasih Allah. Hidup yang bersifat penyembahan berhala ini berbentuk penyembahan kepada hal-hal yang tidak sepatutnya disembah. Dengan sikap demikian kemudian orang mengikatkan diri kepadanya (seperti: astrologi, dan kekuatan-kekuatan gelap) tetapi juga beragama secara legalistik yang ujung-ujungnya adalah untuk mencari keuntungan diri sendiri.
3. Sikap hidup yang benar adalah bila orang mengikatkan diri kepada Kristus. Dia menjadi personifikasi yang sempurna dari Allah dan sekaligus bisa mengejawantahkan kasih setia Allah yang ajeg atau konsisten. Dia menyatakan dengan sangat jelas Allah yang berinisiatif, dan bukan ilah yang menunggu sesaji manusia, untuk melakukan apa yang baik, berguna, dan menyejahterakan manusia. Allah tahu bahwa dengan daya dan upayanya sendiri manusia tidaklah mungkin mampu hidup dengan benar. Tetapi kalau saja seseorang bersedia mengikatkan dirinya dengan Kristus, maka ‘kepenuhan Allah’ di dalam Kristus itu akan mengalir juga ke dalam kehidupannya. Kalau begitu orang mesti mengadaptasi gaya hidup Kristus menjadi gaya hidupnya. Ini bisa terjadi atau terwujud karena Sang Bapa pasti memberikan yang luhur itu kepada yang memintanya dengan sikap tanpa ragu, percaya, dan tekun. Meminta, dan pasti diberi, ini tidak menghapuskan seseorang dari tanggungjawab. Ia juga mesti berjuang keras untuk itu. Perjuangan keras itu tidak perlu disertai dengan beban mental takut gagal atau ragu-ragu karena Tuhan sendiri memberi jaminan kepastian atasnya. Injil memperkenalkan kepada kita cara Yesus mengajar para murid-Nya. Ia melakukannya melalui ‘learning by doing’ - para murid Kristus belajar hidup seperti Dia hidup dengan cara ini.
Beberapa contoh sikap Yesus yang konsisten bisa diurai di sini seperti ‘sikap tegas dan tidak menyerah dari diri Yesus terhadap dosa’. Juga Tuhan Yesus memiliki sikap yang bersedia mengampuni, sikap mengasihi dengan tulus, ikhlas, dan jujur. Ini sejiwa dengan ungkapan Tuhan Yesus sendiri yang menyatakan bahwa hukum Taurat tidak dihapuskan (Mat 5:17) karena pada dasarnya hukum Taurat adalah pedoman supaya orang bisa menjalani kemerdekaan dari Tuhan secara bertanggungjawab bersama dengan Tuhan dan
sesamanya.
NYANYIAN YANG BISA DIPERGUNAKAN
KJ 1:1-2
10:1-5
37a:1-3
369a:1-3
365b:1-
387:1-4
TEOLOGI