MENJADI PENGIKUT SETIA
Minggu, 1 Juli 2007 (Perjamuan Kudus III)
Pdt. Nur Wahyuni Kristiadji
GKI – Perniagaan Jakarta
Bacaan I : 2 Raja-Raja 2 : 1 – 2, 6 – 14
Bacaan II : Galatia 5 : 1, 13 – 25
Bacaan III : Lukas 9 : 51 – 62
Tujuan :
- Umat menyadari bahwa ada banyak godaan yang mengha-
langi manusia menjadi pengikut Kristus yang setia.
- Umat bertekad tetap ikut Yesus dengan setia dan mengeta-
hui bagaimana mengalahkan godaan-godaan itu.
DASAR PEMIKIRAN
Istilah/ kata “setia” dan “kesetiaan” punya makna yang dalam ketika dikaitkan dengan pergaulan/ pertemanan antar manusia; bermasyarakat/ berbangsa; bidang kerja/ pekerjaan dan terlebih dalam hidup pernikahan/ keluarga. Seolah-olah “setia” dan “kesetiaan” menjadi kata sakti dalam hubungan antar manusia. Tidaklah salah pendapat ini, namun dalam arti dan penerapan “setia” dan “kesetiaan” yang bagaimana?
Sebagai contoh dalam kehidupan masyarakat Jepang (terlebih pada masa/ abad yang lampau), “kesetiaan” hampir selalu dikaitkan dengan “harakiri” atau bunuh diri. Demi kata “setia” dan “kesetiaan” , bisa dan mau bunuh diri dan bisa juga orang lain; korupsi
Apakah istilah/ kata “setia” dan “kesetiaan” dalam Alkitab juga mempunyai makna/ pengertian yang sama dengan pengertian di atas? Atau dengan perkataan lain, kesetiaan buta yang tidak jelas tumpuan dan tujuannya? Tentu tidak!
Dalam Alkitab kata/ istilah “setia” dikaitkan dengan istilah/ kata “kasih” dan menunjuk kepada Allah yang adalah KASIH dan juga SETIA untuk memelihara ciptaan-Nya, terlebih kepada manusia. Oleh sebab itu kata “kasih-setia” terkait dengan sikap dan tindakan manusia yang dilakukan secara terus menerus bukan sekali-sekali kepada Tuhan, Allah dan juga sesamanya. Allah menuntut kasih dan kesetiaan “umat-Nya” Israel sebagai partner perjanjian dalam bentuk ketaatan. (Bandk.Yeremia 2 : 2)
TAFSIR SINGKAT
Tafsir 2 Raja-Raja 2:1-2, 6-14
Pasal 2 : 1 – 18, merupakan bagian dari serial cerita nabi Elisa. Karena tidak semua ayat-ayat ini menjadi bahan bacaan, maka kita hanya memberi perhatian pada :
Ayat 1-2 : Kalau kita perhatikan ungkapan pada ayat 1 ini, dapat disimpulkan bahwa
rencana Tuhan untuk Elia, tidak hanya diberitahukan kepada Elia saja,
tetapi juga kepada Elisa ( juga kepada rombongan para nabi = ay.3-4)
Kota Gilgal yang disebutkan pada ayat 1 adalah sebuah kota dekat Betel,
yang berbeda dengan Gilgal yang disebutkan dalam Yosua 4 : 19.
Elia mengharapkan Elisa tidak mengikuti Elisa ke Betel, mungkin Elia
ingin sendiri pada saat pengangkatan oleh Tuhan. (ayat 2) Namun Elisa
tidak mau melepaskan Elia sendiri.
Ayat 6-14 : Pada ayat 6, kembali Elia minta agar Elisa tidak mengikutinya, namun
kembali Elisa menolak untuk tinggal. Disebutkan bahwa 50 orang dari
kelompok para nabi di Yerikho melihat dari jauh. (ayat 7)
Elia membuat mujizat ketika hendak menyeberang sungai Yordan, memu-
kul sungai Yordan dengan gulungan jubahnya, dan air sungai terbelah dan
memungkinkan Elia dan Elisa berjalan pada tanah kering sampai ke sebe-
rang sungai Yordan. (ayat ![]()
Permintaan Elisa untuk mendapat 2 bagian dari roh Elia, karena :
- Elisa merasa kedekatan/ keakrabannya dengan Elia dan bahkan
sebagai calon pengganti Elia.
- oleh karena itu, Elisa menempatkan diri sebagai anak sulung dalam
hubungannya dengan Elia. Dengan miminta 2 bagian roh adalah
pencerminan hak anak sulung. (ayat 9)
Menanggapi permintaan Elisa, Elia merasa tidak punya hak untuk meme-
nuhi permintaan Elisa, yang berhak adalah Tuhan. Dan oleh perkenan
Tuhan juga, Elisa mengalami penglihatan ketika Elia “dijemput” kereta
berapi dengan kuda berapi. Elisa terpisah dengan Elia yang berakhir masa
pelayanannya.
Dalam ayat 12 – 14 : Elisa yang takjub dan tersentak oleh peristiwa perpi-
sahannya dengan Elia, mengoyakkan jubahnya sebagai tanda kesedihan/
perkabungan. Kemudian Elisa mengambil jubah Elia yang terjatuh,
dengan itu merupakan symbol bahwa Elisa menjadi pengganti Elia.
Tafsiran Galatia 5:1, 13-25
Ayat 1 dari pasal 5 surat Galatia, menggambarkan sbb.:
- Kemerdekaan sebagai lawan terbelenggu, oleh sebab itu diberi kemerdekaan, me-
Nunjuk pada sikap yang diberi kemerdekaan, yaitu secara sadar menempatkan diri
Sebagai manusia bebas tidak terbelenggu.
- Kebebasan yang bertanggung jawab, maksudnya ketika kemerdekaan sudah men-
Jadi bagian dari hidup manusia, maka setiap langkah dalam hidup manusia merde-
Ka dilakukan dengan penuh kesadaran dan dengan tujuan yang jelas.
Ayat 13 – 25 terbagi sebagai berikut :
- ayat 13 – 15 : Berbicara mengenai penggunaan kemerdekaan yang telah diterima.
Paulus mengingatkan kepada orang Galatia untuk memberlakukan atau lebih tepat
Menerapkan kemerdekaan dalam seluruh sendi kehidupan.
- Penerapan yang nyata bertolak dari kasih (Tuhan) kepada kasih (kepada sesama)
- Saling melayani berarti dengan penuh kesadaran ada kasih dan kepedulian, yang
Membawa hidup dalam damai dan bukan permusuhan atau ketegangan dengan
Sesamanya.
Selanjutnya, Paulus memberi tekanan pada makna “kemerdekaan” sebagai “hidup menurut Roh bukan daging.
- Hidup merdeka oleh karena dimerdekakan Kristus, maka berarti hidup dalam dan
Oleh pembaharuan Roh Allah.
- Dengan demikian, hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan, dengan
Memberlakukan tatanan Allah dan bukan kemauan/ kehendak sendiri.
Tafsiran Lukas 9 : 51-62
Bagian ini terdiri dari 2 bagian yaitu :
1. Ayat 51 – 56 : Yesus dan orang Samaria
Pada bagian ini, Lukas hendak menunjuk kepada arah pandang Yesus kepada
tujuan utama kehadiran-Nya di dunia, yaitu menuju jalan penderitaan.
. Penolakan orang Samaria untuk menerima Yesus menginap adalah bukti penolak-
an manusia terhadap Yesus. Kalau pun murid-murid-Nya tersinggung atas peno-
lakan tersebut; namun Yesus sebaliknya.
2. Ayat 57 – 62 : Hal Mengikut Yesus :
Pada bagian ini, Yesus memberi tekanan pada arti “mengikut” Dia, sbb. :
- Ketika ada diantara “pengikut” menyatakan kesediaannya mengikut Dia,
maka Yesus perlu mengingatkan atau lebih tepat menyadarkan, bahwa
a. Dia tidak mencari massa untuk menggalang kekuatan.
b. Perjalanan-Nya adalah jalan derita, kepergiannya ke Yerusalem bukan
hendak mendirikan kerajaan.dunia (politis).
- Yesus mengajak orang lain untuk mengikut Dia, namun yang diajak ber-
dalih hendak menguburkan ayahnya.
Tanggapan Yesus terhadap penolakan tersebut adalah agar soal mengikut
Yesus tidak diakitkan dengan adapt istiadat, tapi kemantapan oleh karena
loyalitas terhadap Yesus Tuhan.
- Orang ketiga minta izin untuk berpamitan dengan keluarganya. Hal ini
menunjukkan bahwa orang tersebut masih punya ikatan dengan masa
lalu. Yesus mengingatkan, bahwa “mengikut” Yesus berarti berarti mele-
paskan masa lalu, dan memasuki kehidupan dalam tatanan Kerajaan Allah
SARAN PENYUSUNAN KHOTBAH
1. Khotbah dapat ddiawali dengan ilustrasi mengenai perbedaan antara menjadi
“pengikut” sesorang (tokoh/ organisasi) oleh karena bayangan masa depan yang
Menguntungkan dan menjadi “pengikut” oleh karena kesadaran akan siapa yang
“diikuti” (atasan/ tokoh yang menjadi panutan)
Dikaitkan dengan cerita Elisa yang dipanggil untuk menjadi pengganti Elia, oleh
Karena itu berupaya untuk belajar banyak dari Elia yang bukan hanya dilihat dan
Dimengerti sebagai “guru”-nya, tetapi Elia dirasakan bagaikan “ayah” bagi Elisa.
Dan oleh karenanya, Allah Elia adalah juga Allah Elisa yang kepada Nya, Elisa
Mengabdikan diri.
2. Paulus mengajarkan kepada Jemaat di Galatia untuk menghargai kemerdekaan Tuhan berikan melalui dan di dalam Kristus Yesus. Hidup sebagai orang merdeka, dalam arti melepaskan keterikatan dari masa lalu dan masuk kepada kehidupan yang baru yang dipimpin oleh Roh. Dengan perkataan lain, hidup merdeka yang dipimpin oleh Roh adalah hidup dalam ketaatan akan kehendak Tuhan. Tidak lagi diperbudak oleh nafsu dan keinginan duniawi
3. Dengan demikian, menjadi “pengikut” Kristus berarti hidup dalam ketaatan dan kesediaan untuk mengalami/ menghadapi tantangan. Tantangan yang seringkali menghadang adalah keterikatan akan masa lalu. (keluarga, pekerjaan, adat istiadat). Namun keyakinan akan panggilan Tuhan dan keyakinan akan kasih dan kuasa-Nya, maka punya kemantapan untuk hidup dipimpin oleh Tuhan.
Kesetiaan menjadi Pengikut Kristus, nyata di dalam sikap dan tindakan untuk melakukan apapun yang Tuhan kehendaki. Tidak menjadi gentar oleh tantangan, tapi sebaliknya, setiap tantangan menjadi daya dorong untuk makin dekat kepada Tuhan.
TEOLOGI