FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

May 29, 2007

MENJADI SESAMA MANUSIA BAGI YANG LAIN

Filed under: Rancangan Khotbah — gki @ 10:50 pm

MINGGU, 15 JULI 2007
Pdt. Eka Setiawan Tejo Kesuma
GKI Pajajaran Magelang
Bacaan I : Amos 7:7-11
Bacaan II : Kolose 1:1-14
Bacaan III : Lukas 10:25-37

Tujuan: Anggota jemaat menyadari dan bertekad untuk tidak hanya menuntut orang lain menjadi sesama bagi dirinya, tetapi terlebih dahulu menjadi sesama bagi yang lain.

DASAR PEMIKIRAN
Menolong itu dapat menjadi pekerjaan yang mudah dan dapat pula menjadi pekerjaan yang sulit. Jika kita menolong orang yang kita kenal (orang tua, kakak, adik, teman segereja dll.) maka menolong menjadi pekerjaan yang mudah. Sebaliknya, menolong akan menjadi pekerjaan yang sulit ketika kita lakukan untuk orang yang tidak kita kenal. Akan ada banyak pertimbangan sebelum kita melakukannya, misalnya: apakah dia orang baik atau orang jahat? apakah dia mau menerima pertolonganku atau tidak? Dan banyak pertimbangan lain. Semakin banyak pertimbangan, akhirnya membuat kita tidak jadi menolong. Kecenderungan manusia pada umumnya, pertama-tama tertuju pada dirinya terlebih dahulu. Bila aku sudah mendapat baru yang lain aku perhatikan, bila tidak menguntungkan diriku, yang lain saja lah… bila membahanyakan diriku, tidak usah saja ya. Kita lebih banyak menuntut orang lain menuruti kemauan kita, bila orang lain menuntut hal yang serupa, maka jadilah kita ahli filsafat dadakan, ahli hukum dadakan, ahli etika dadakan dan ahli-ahli dadakan yang lain untuk menghindar.

TAFSIRAN SINGKAT
1. Tafsir Amos 7:7-17
Amos itu bukan seorang nabi atau murid nabi sejak kecil (7:14). Ia berasal dari kota Tekoa, Selatan Yerusalem (1:1). Di saat menggiring kambing domba, Amos dipanggil Tuhan untuk menjadi nabi di Kerajaan Utara pada masa pemerintahan Yerobeam II (7:15). Pada masa itu Kerajaan Utara sedang menikmati masa-masa kejayaannya, terutama di bidang ekonomi. Ekonomi berkembang, orang merasa aman dan tokoh-tokoh masyarakat bangsa Israel hidup dengan mewah sekali (3:12, 15; 4:1; 6:1, 4-6). Tetapi justru kemakmuran dan kemewahan itu diprotes oleh Amos, karena ia melihat bagaimana orang-orang kaya menindas orang-orang miskin. Tidak ada keadilan sosial di negeri Israel (2:6-8; 5:10-12; 8:4-6). Dan upacara-upacara agama yang dijalankan di Israel dikecam oleh Amos.

Dalam menjalankan kenabiannya, Amos menunjukkan suatu keberanian dengan tidak memandang bulu. Orang-orang kaya, tokoh-tokoh masyarakat, sampai imam Amazia di Betel ditentangnya tanpa takut atau ragu-ragu. Tuhan menginginkan keadilan dari pada korban-korban (5:21-26). Pengkhotbah yang semacam itu tidak dapat tidak akan mengakibatkan konflik dengan pemimpin-pemimpin agama di Israel. Oleh karena itu Amos diusir dari Betel oleh imam Amazia yang menyerukan supaya Amos kembali ketanah asalnya (7:10-17).

2. Tafsir Kolose 1:1-14
Dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Rm.15:20) Paulus menegaskan sebagai berikut: ”Aku menganggap sebagai kehormatanku tidak (memberitakan Injil) di tempat-tempat di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun atas dasar yang telah diletakkan orang lain” (bdk. 2Kor.10:15-16). Namun demikian Kolose oleh Paulus dialamatkan kepada sebuah jemaat yang tidak didirikan olehnya. Jemaat di Kolose malah tidak mengenal Paulus pribadi (Kol.2:1; bdk. 1:4). Jemaat itu didirikan oleh seorang dari Kolose sendiri (Ko.4:12), bukan orang Yahudi (Kol.4:11-12), yang bernama Epafras (Kol.1:7). Dari Epafras itulah Paulus mendapat semua informasi tentang keadaan jemaat di Kolose.

Paulus memuji jemaat setinggi langit (Kol.1:1-8; 2:5-6). Tetapi pujian itu hanya berdasarkan informasi yang diterima dari Epafras dan sebagian barangkali hanya bermaksud memikat hati sidang pembaca. Sebab ternyata tidak semua berjalan sebagaimana diinginkan. Paulus menekankan pergumulan mental, bukan keadaannya dalam penjara (bdk.1:24). Mentalitas, pikiran dan ulah-ulah sementara jemaat di Kolose mengelisahkan hati Epafras (Kol.4:12) karena itulah ia datang kepada Paulus oleh karena dirinya tidak mampu menangani jemaat yang terancam penyelewengan. Dan itu memancing tanggapan Paulus yang tertuang dalam Kolose.

Kolose 1:1-12 merupakan pembukaan yang memuat doa ucapan syukur dari Paulus dan Timotius kepada jemaat di Kolose. Apa sebabnya Paulus mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan Yesus Kristus? Dari ayat 4 dan 5 kita dapat mengetahui bahwa ada dua hal yang membuat Paulus mengucap syukur (yang dia dengar dari Epafras) yaitu: iman yang hidup dan kasih yang bekerja di sana.

Iman dan kasih adalah sama dengan iman yang bekerja oleh kasih (Gal.5:6). Memang kasih harus lahir dari iman, mustahil kalau iman tidak melahirkan kasih. Dengan tidak ada kasih maka iman itu bukan iman. Di dalam kasih maka iman memiliki kerinduan berhubungan dengan manusia lain di dalam kehidupan ini. Iman menjadi nyata dan kelihatan bila berhadapan dengan yang lain.

Sekalipun dikatakan, bahwa Paulus mengucap syukur, itu bukan berarti bahwa segala-galanya di dalam jemaat telah beres dan tujuan dari jemaat itu sendiri telah tercapai. Gereja Yesus Kristus senantiasa merupakan gereja yang berjuang di dunia ini. Demikian pula dengan jemaat Kolose yang didengar Paulus dari Epafras. Paulus sendiri tidak bisa ke Kolose karena dia ada di dalam penjara, tetapi dia tidak tinggal diam. Apa yang dapat ia lakukan, ia lakukan untuk jemaat di Kolose. Selain menulis surat, ia pun menaikkan doa syafaat.

Doa syafaat seseorang untuk orang lain merupakan bentuk persekutuan yang nyata di dalam Kristus. Di dalam gereja Yesus Kristus kita terikat satu sama lain, kita saling bertanggung jawab, saling menanggung beban sesama (Gal.6:2,10). Doa syafaat tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Demikian pula Paulus di dalam penjara hanya dapat berdoa untuk jemaat di Kolose.

Ayat 13 dan 14 merupakan suatu peralihan yang mengarahkan pikiran kepada pokok utama surat, yaitu kedududkan dan peranan Kristus.

3. Tafsir Lukas 10:25-37
Dikisahkan, ada seorang yang dirampok habis-habisan dan dipukul sampai setengah mati, setelah itu ditinggal di tengah jalan. Orang itu memerlukan pertolongan, tetapi siapa yang mau menolong dia? Daerah itu merupakan daerah yang berbahaya, banyak penyamun di sana karena di sana merupakan sarang penyamun. Jalan ini sempit, berbatu-batu, dan dengan lekukan yang tiba-tiba menambah keseramannya.

Kebetulan lewat seorang imam, tetapi ia hanya melihat, menghindar dan meneruskan perjalanannya. Ia ingat dengan ayat yang mengatakan: Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya (Bil.19:11). Memang ia tidak merasa yakin, tetapi ia tidak mau mengambil resiko, lebih penting menjaga kekudusan supaya tetap berhak melayani di Bait Allah. Dan lewat pula seorang Lewi, ternyata ia melakukan hal yang sama, hanya melihat, menghindar dan meneruskan perjalanannya. Karena dia memiliki semboyan, ”Pertama-tama keamanan diri”. Ia tidak akan mengambil resiko untuk menolong orang lain.

Datanglah seorang Samaria. Pada waktu itu Orang Samaria dianggap sebagai orang yang najis, dijauhi atau tidak dianggap teman oleh orang Yahudi bahkan dapat dikatakan sebagai orang yang dimusuhi. Dan ternyata, orang yang dianggap najis, orang yang dimusuhi inilah yang peduli dan menolong orang yang dirampok habis-habisan. Dan orang Samaria ini menolong sampai tuntas, diobati, dibawa kepenginapan, bahkan semua biaya yang dikeluarkan ditanggung oleh orang Samaria ini.

Yesus tidak secara langsung menanggapi pertanyaan dari seorang ahli Taurat: ”Siapakah sesamaku manusia?” Karena dengan pertanyaan ini, menjebak orang menetapkan kreteria: siapa saja yang pantas disebut sesamaku manusia. Maka yang terjadi, jika dia tidak sesuai dengan kreteriaku, dia bukan sesamaku, tidak pantas menerima pertolonganku bahkan bergaul dengan dia pun najis.

SARAN UNTUK PENYUSUNAN KHOTBAH
1. Menolong itu dapat menjadi pekerjaan yang mudah dan dapat pula menjadi pekerjaan yang sulit. Jika kita menolong orang yang kita kenal (orang tua, kakak atau adik, teman) maka menolong menjadi pekerjaan yang mudah. Sebaliknya, menolong akan menjadi pekerjaan yang sulit ketika kita lakukan untuk orang yang tidak kita kenal. Akan ada banyak pertimbangan sebelum kita melakukannya, misalnya: apakah dia orang baik atau orang jahat?, apakah dia mau menerima pertolonganku atau tidak? Semakin banyak pertimbangan, akhirnya membuat kita tidak jadi menolong.

2. Disaat ada seorang yang dirampok habis-habisan dan dipukul sampai setengah mati, setelah itu ditinggal di tengah jalan. Orang itu memerlukan pertolongan, tetapi siapa yang mau menolong dia? Daerah itu merupakan daerah yang berbahaya, banyak penyamun di sana karena di sana merupakan sarang penyamun.

Kebetulan lewat seorang imam, tetapi ia hanya melihat, menghindar dan meneruskan perjalanannya, dan lewat pula seorang Lewi, eee… ternyata ia melakukan hal yang sama, hanya melihat, menghindar dan meneruskan perjalanannya. Mereka berpikir: ”Akan lebih aman dan tidak perlu repot, kalau aku bersifat pasif melihat apa yang terjadi di sekitarku, selama itu tidak mengganggu kepentinganku dan aku pun tidak mengganggu kepentingan orang lain.”

Lalu datanglah seorang Samaria. Pada waktu itu Orang Samaria dianggap sebagai orang yang najis, dijauhi atau tidak dianggap teman oleh orang Yahudi bahkan dapat dikatakan sebagai orang yang dimusuhi. Dan ternyata, orang yang dianggap najis, orang yang dimusuhi inilah yang mau menolong orang yang dirampok habis-habisan. Dan orang Samaria ini menolong sampai tuntas, diobati, dibawa kepenginapan, bahkan semua biaya yang dikeluarkan ditanggung oleh orang Samaria ini.

3. Mengapa orang Samaria yang dianggap najis, dan dianggap sebagai musuh mau menolong orang yang tidak dikenalnya? Bukankah sebaiknya, kalau kita dimusuhi maka kita pun balas memusuhi? Tetapi mengapa orang Samaria mau menolong orang yang dirampok itu, orang yang tidak dia kenal bahkan di daerah yang berbahaya? Jawabannya ialah karena orang Samaria ini menganggap orang yang tidak dia kenal pun sebagai sesamanya, sebagai saudaranya. Inilah kasih. Kasih membuat kita menjadi peduli kepada siapa saja, termasuk orang yang tidak kita kenal dan mau menolong dia. Dan ini pula yang dihayati oleh Amos. Dia bersedia dipanggil dan diutus Tuhan ke tengah masyarakat yang memuja kemewahan, kemakmuran dan tidak adanya keadilan sosial.

4. Kasih harus lahir dari iman, mustahil kalau iman tidak melahirkan kasih. Dengan tidak ada kasih maka iman itu bukan iman. Di dalam kasih maka iman memiliki kerinduan berhubungan dengan manusia lain di dalam kehidupan ini. Iman menjadi nyata dan kelihatan bila berhadapan dengan yang lain, serta dalam tindakan yang konkret.

Bagaimana mewujudkannya?
a. Amos bersedia dipanggil dan diutus Tuhan untuk menyatakan kebenaran Tuhan kepada masyarakat yang telah hidup tidak berkenan kepada-Nya.
b. Orang Samaria bertindak menolong yang membutuhkan pertolongan, sekalipun ia tidak mengenal siapa yang dia tolong. Dan berani mengambil resiko dalam memberi pertolongan. Bukan keuntungan pribadi yang dia pikirkan, tetapi kasih yang diwujudkan dengan konkret.
c. Dalam keterbatasan geraknya, karena berada di dalam penjara, Paulus tetap memiliki kerinduan mewujudkan kasihnya yang konkret. Apa yang dilakukan Paulus? Menaikkan doa syafaat bagi jemaat di Kolose.

Ada banyak cara untuk menjadi sesama manusia bagi yang lain. Kapan kita akan melakukannya?

NYANYIAN DAN BACAAN YANG DAPAT DIPERGUNAKAN:
KJ 4; KJ 422; KJ 42; KJ 46; KJ 433; KJ 425
Berita Anugerah : Galatia 3:13
Mazmur tanggapan : Mazmur 82:3-4; 6-7

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It