FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

August 1, 2007

KARYA TUHAN DI BALIK SETIAP PERISTIWA KEHIDUPAN

Filed under: Rancangan Khotbah — gki @ 10:03 am

(Tutup Tahun) SABTU, 31 DESEMBER 2005

Pdt. U.T. Saputra

GKI Jl. Maulana Yusuf – Bandung

Bacaan : Mazmur 46:1-12

Nas : Mazmur 46:9-10

Tujuan :

Anggota jemaat mampu merefleksikan peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2005 dan melihat pekerjaan Tuhan di dalamnya.

I. DASAR PEMIKIRAN

Hari-hari menjelang berakhirnya sebuah tahun yang sedang berjalan sebenarnya dapat dipahami juga sebagai hari-hari menjelang tahun baru yang segera menjelang. Hari-hari itu merupakan moment indah bagi kehidupan manusia. Selain suasana semarak yang terjadi di pusat-pusat keramaian kota, setiap pribadi atau bersama-sama sebagai keluarga maupun sebagai persekutuan jemaat, sering menggunakan moment pergantian tahun sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri.

Ada beberapa hal yang lazim direnungkan oleh manusia pada umumnya, yaitu: mengevaluasi kegagalan dan berusaha memperbaiki diri agar hal tersebut tidak terjadi lagi di tahun yang baru. Mencatat aneka keberhasilan dan berusaha agar sukses-sukses semacam itu dapat terulang lagi di tahun berikutnya. Tidak jarang malam pergantian tahun juga digunakan sebagai kesempatan untuk mengakui dosa dan memohon pimpinan Tuhan dalam memasuki masa depan yang lebih baik.

Iman Kristen memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia di dunia ini tidak ada yang lepas dari pengetahuan Tuhan sebab Ia adalah Allah yang Mahatahu. Bukan hanya itu, Allah juga turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya. Oleh karena itu, bagi umat beriman Allah merupakan tempat bersandar dari segala kepenatan hidup.

Tahun yang kita jalani ini akan segera berakhir. Sepanjang tahun ini, berbagai peristiwa kehidupan telah terjadi. Harapan dan cita-cita yang terwujud membuat perasaan kita bahagia dipenuhi oleh luapan kegembiraan. Selain itu, ada juga hal-hal menyedihkan yang membuat kita berderai air mata lantaran kecewa, frustasi dan putus asa. Dalam keadaan terhimpit oleh berbagai persoalan hidup, umat beriman perlu bercermin dari pengalaman sang Pemazmur yang tercantum dalam Mazmur 46:2-4 mengatakan, “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut-ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.”

Tema pemberitaan firman Tuhan pada saat ini mengajak anggota jemaat menghayati karya Allah dibalik setiap peristiwa yang dialami oleh umat beriman, bahkan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Pembacaan diambil dari Mazmur 46:1-12.

II. TAFSIRAN SINGKAT

Mazmur 46 merupakan sebuah nyanyian. Nyanyian ini merupakan sebuah kesaksian iman yang menganggungkan kemahakuasan Allah sebagai Penolong bagi umat-Nya. Dalam ayat 1 dikatakan bahwa mazmur ini diekspresikan dengan lagu Alamot yang dapat dipahami sebagai suara yang tinggi.

Ayat 2-4 merupakan pujian bagi Tuhan yang telah berulang kali menolong umat-Nya. Sang Pemazmur menyatakan, “Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut-ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.” Ayat-ayat ini dapat dipahami dalam dua pengertian, yaitu secara harfiah atau secara kiasan. Secara harfiah, wilayah Palestina sering diguncang oleh gempa bumi. Hal itu merupakan ancaman berkala yang bukan hanya meresahkan tetapi juga patut diwaspadai. Secara kiasan, berbagai bencna alam yang disebutkan di atas merupakan penggambaran dari raja-raja yang menentang Israel. Mereka dipandang sebagai kekuatan semesta yang mengancam bahkan dapat menghancurkan semua tatanan yang teratur. Tetapi umat Tuhan menghayati bahwa Tuhan senantiasa menolong mereka dari kesesakan. Kehadiran Allah dimaknai sebagai Pelindung sehingga Pemazmur mengatakan, “Allah, kota benteng kita!”

Ayat 5-8 merupakan pujian bagi Tuhan yang hadir di kota-Nya. Ungkapan Kota Allah berarti tempat kediaman Allah. Sang Pemazmur menjelaskan bahwa kota itu merupakan tempat tinggal Allah yang Mahatinggi. Hampir dipastikan bahwa yang dimaksud oleh sang Pemazmur ialah Sion atau Yerusalem. Satu hal yang menjadi pertanyaan ialah ungkapan yang menyatakan bahwa kota Allah itu disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Padahal secara geografis, di Sion atau Yerusalem samasekali tidak ada sungai. Para ahli menduga bahwa hal itu merupakan penggambaran yang menunjuk pada suasana di taman Firdaus yang melambangkan kehadiran Allah yang hidup. Tetapi ada juga yang menduga bahwa hal itu berkaitan dengan ‘luapan air yang berbuih’ dalam ayat 4. Artinya, sekalipun bencana alam atau ancaman dari pihak luar sedemikian dahsyat, namun apabila semuanya ada dalam genggaman kuasa dan kedaulatan Allah, niscaya Ia dapat mengubahnya menjadi aliran sungai yang menguntungkan Kota Allah beserta seisi penduduknya.

Sekalipun terjadi keributan dan guncangan dahsyat niscaya kota itu tetap aman karena Allah hadir di situ dan Ia berkuasa menenangkan badai yang dahsyat sekalipun. Inti berita dari bagian ini ialah kekuatan spiritual yang memberikan keamanan dan ketenteraman hidup umat Allah sekalipun mereka dikepung oleh berbagai macam persoalan yang mengancam keselamatan.

Pada saat bangsa-bangsa ribut dan kerajaan-kerajaan guncang, Pemazmur justru mengajak umat Allah untuk berdiam diri. Berdiam diri seperti apa? Pemazmur tidak menganjurkan umat Allah untuk berdiam secara pasif. Dalam berdiam diri, umat Tuhan dipanggil untuk melihat sepasang karya Allah yang bersifat paradoks. Ayat 9-10 mengajak jemaat menyaksikan kedahsyatan karya Allah, mendengarkan sabda-Nya dan mengakui kekuasaan-Nya. Pada satu sisi Allah mengadakan pemusnahan. Hal ini menunjukkan bahwa Ia menentang ketidakadilan. Tetapi pemusnahan Allah bersifat konstruktif karena dibalik itu Ia mengupayakan perdamaian. Pada sisi yang lain, Allah menghentikan perang diantara bangsa-bangsa di seantero bumi. Menurut kebiasaan zaman dahulu, semua alat perang yang dirampas, dibakar. Tetapi di sini Pemazmur menyatakan bahwa Tuhan meremukkan semua senjata yang digunakan untuk berperang. Intinya, Allah dimaknai sebagai figur yang menghendaki perdamaian di bumi. Oleh karena itu pantas lah apabila setiap orang di muka bumi ini berlindung kepada-Nya. Jadi, dasar untuk berdiam diri ialah karena penyertaan Tuhan.

Akhir perikop (ayat 11-12) menunjukkan luapan sukacita jemaat kepada Allah yang menghendaki perdamaian dan mewujudkannya bagi mereka. Pengajaran sang Pemazmur tampak jelas dan lugas. Mengingat kedaulatan Allah yang telah dipaparkan di atas maka sepatutnyalah umat-Nya berlindung dan berharap hanya kepada Allah karena di dalam Dia ada harapan untuk masa depan.

III. SARAN PENYUSUNAN KOTBAH

1. Pendahuluan

Pengkotbah mengawali khotbah dengan memberi penekanan bahwa saat ini merupakan hari atau malam penutupan tahun. Hari-hari terakhir pada setiap tahun biasanya dijadikan sebagai momentum untuk mengevaluasi aktifitas selama setahun.

Pengkhotbah kemudian mengajak anggota jemaat mengingat beberapa peristiwa kehidupan yang terjadi sepanjang tahun ini. Gunakanlah pertanyaan retorik, sebagai beriktu: “Hal-hal apa saja yang Anda alami dalam kehidupan pribadi, keluarga, atau pekerjaan? Hal-hal apa pula yang terjadi dalam kehidupan berjemaat maupun dalam masyarakat?”

2. Berita Firman Tuhan

Pengkhotbah melanjutkan khotbah dengan menguraikan empat pokok pemikiran yang menjadi berita firman Tuhan.

Menurut kesaksian Pemazmur, umat Allah juga mengalami berbagai macam peristiwa kehidupan, diantaranya ialah yang dilukiskan dalam Mazmur 46:2-4. (Bila dipandang perlu, pengkhotbah dapat menguraikan adanya dua kemungkinan penafsiran terhadap hal ini.) Sekalipun demikian, Tuhan menolong umat-Nya dari berbagai-bagai bencana alam atau serangan dari pihak luar yang menentang eksistensi Israel sebagai bangsa. Pada masa yang lalu pertolongan Allah sudah teruji pada saat Ia melepaskan umat-Nya dari berbagai macam kesesakan. Allah yang kita sembah adalah Allah yang sama dengan Allah yang dipuji dan dimuliakan oleh sang Pemazmur. Oleh karena itu, Ia pun siap menolong kita dalam berbagai persoalan yang kita temui.

Hal selanjutnya yang dapat kita pahami dari perikop bacaan ialah tentang Allah yang hadir diantara umat-Nya, di dalam kota-Nya. Kehadiran Allah sering kita ekspresikan dengan ungkapan Immanuel yang berarti Tuhan beserta kita. Artinya, Allah juga berkenan hadir dalam setiap sendi kehidupan umat-Nya pada masa kini. Dengan demikian, kita senantiasa berada dalam naungan kasih dan kuasa-Nya yang melindungi. Kehadiran Allah yang memberikan perlindungan itu memungkinkan kita menjalani hidup dengan aman dan tenteram sekalipun dikepung oleh berbagai ancaman.

Allah merupakan figur yang menghendaki perdamaian dan mewujudkannya. Pemazmur menggambarkan hal tersebut dengan ungkapan bahwa Allah menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi. Selain itu, Ia juga mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, dan membakar kereta-kereta perang dengan api! Dalam hidup ini seringkali kita mengalami peperangan batin. Kita diperhadapkan dengan pilihan untuk mengampuni atau mendendam, menaati kehendak Allah atau mengikuti hawa nafsu yang dipicu oleh kesenangan duniawi? Apabila kita menyerahkan diri dalam pimpinan kuasa Allah, niscaya Ia dapat memadamkan api angkara murka atau roh pementingan diri sendiri. Demikian pula ketika kita diperhadapkan pada situasi konflik dengan orang lain. Pemazmur mengajak kita untuk berserah kepada Allah agar Ia dapat dengan leluasa memadamkan perseteruan yang ada.

Dalam sejarah kehidupan bangsa Israel yang penuh dengan dinamika, Pemazmur mengarahkan mereka untuk berlindung dan berharap kepada Allah. Ia sanggup membebaskan mereka dari bencana alam peperangan maupun berbagai pergumulan dalam kehidupan mereka. Ajakan sang Pemazmur kepada umat Tuhan bukan hanya berlaku pada masa yang lalu tetapi masih relevan bagi umat manusia dan dunia sekarang ini. Oleh karena itu, pada masa kini pun kita seharusnya memiliki sikap yang sama, yakni berlindung dan berharap hanya kepada Allah karena dibalik setiap peristiwa kehidupan ini Ia turut berperanserta di dalamnya. Selain itu, di dalam Dia ada pengharapan untuk masa depan.

3. Penutup

Pengkotbah mengakhiri khotbah dengan mengajak anggota jemaat merefleksikan pengalaman hidup yang terjadi sepanjang tahun ini. Pilihlah contoh yang lazim terjadi dalam kehidupan anggota jemaat. Kemudian tolonglah mereka melihat karya Allah dibalik setiap peristiwa tersebut dan menggantungkan harapan masa depan hanya kepada-Nya. “Adalah maksud dan rencana Allah dibalik peristiwa kematian, sakit, kegagalan, konflik, harapan yang tidak dapat terpenuhi? Kalau kita berhasil melewati salah satu dari pergumulan tersebut, dapatkah kita menghayati peran serta Allah di dalamnya? Dalam kondisi yang sebaliknya, adakah maksud dan rencana Allah dibalik peristiwa kelulusan studi, kenaikan pangkat, perolehan rejeki yang meningkat, pernikahan dan kehadiran anak di tengah keluarga, atau berbagai keberhasilan lainnya? Bila demikian, sikap seperti apa yang sepatutnya kita nyatakan kepada Tuhan?”

Selain contoh di atas, Pengkhotbah juga dapat merefleksikan peristiwa gerejawi yang betul-betul terjadi dan teralami oleh jemaat yang mendengarkan berita firman Tuhan ini. Atau dapat juga mengambil contoh dari peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Namun, satu hal yang penting untuk diperhatikan oleh pengkhotbah ialah memperhatikan konteks anggota jemaat dan memilih contoh yang sesuai.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It