MENANTI TUHAN DENGAN KERENDAHAN HATI
MINGGU, 18 DESEMBER 2005
Pdt.Nur Wahyuni Kristiadji
GKI Perniagaan – Jakarta.
Bacaan : Lukas 1 : 46 – 55
Nas : Lukas 1 : 46 – 48a
Tujuan : Anggota Jemaat terdorong untuk dengan rendah hati menantikan kehadiran Tuhan yang mengubah tatanan kehidupan menjadi adil dan sejahtera.
I. DASAR PEMIKIRAN
Merupakan keprihatinan bersama, kalau di tengah masyarakat kita ini (baca :
di Indonesia). Tindak kekerasan menjadi jalan penyelesaian setiap masalah yang diha-
dapi baik sebagai perorangan maupun kelompok-kelompok di masyarakat/bangsa ini. Suatu gejala yang menunjukkan ketidak percayaan terhadap penegak hukum, atau bahkan terhadap Pemerintah yang seharusnya sebagai pengayom/pelindung masyarakat.
Oleh sebab itu main hakim sendiri, cara penyelesaian masalah yang dianggap paling adil : “mata ganti mata gigi ganti gigi” . Namun di pihak lain, gejala tersebut juga menun-jukkan “ketinggian hati manusia”, arogansi dalam menunjukkan kuasa dan kekuatannya yang tidak boleh/ tidak mau disentuh. Soal harga diri yang begitu tinggi/ mahal, maka dengan cara apapun akan dipertahankan dan nyawa pun akan dipertaruhkan untuk itu.
Di tengah kenyataan yang mencemaskan bahkan dapat dikatakan mengerikan, Minggu depan kita sudah masuk ke masa raya Natal, yang mengingatkan kita akan kedatangan/ kehadiran Yesus Kristus Tuhan, sang Juruselamat dunia. Allah yang menjadi manusia dan bahkan rela menderita sampai mati dalam kehinaan, demi menggantikan manusia untuk menerima penghukuman atas dosa, sekalipun Dia tidak berdosa.
[Bandk.II Kor.5:21]
Advent mengingatkan akan penantian akan kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang
kedua kali. KedatanganNya sebagai Hakim yang adil yang membawa kesejahteraan bagi manusia. Sebagai umat Tuhan, sejauh mana keyakinan percaya itu menjadi nyata dan terasa melalui kehidupan nyata di tengah masyarakat? Dan dengan demikian, dunia (orang) melihat sikap dan tindakan percaya melalui kerendahan hati untuk rela diubah oleh Tuhan [Roma 12 : 2]; sehingga dapat membawa perubahan pula bagi masyarakat/ bangsa ini.
II. TAFSIRAN SINGKAT
Pericope pada Lukas 1 : 46 – 55, oleh LAI diberi judul “Nyanyian pujian Maria”, atau kita mengenal kata/ sebutan “Magnificat” suatu pujian bagi “kemuliaan dan keagungan” Allah.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, maka bentuk nyanyian pujian ini punya warna sebagaimana nyanyian-nyanyian dari Perjanjian Lama; suatu nyanyian eskatologis ( gambaran masa yang akan datang, yang dituliskan seakan-akan telah terjadi). Isi dari pujian Maria ini mirip dengan “Puji-pujian Hana” pada I Sam.2 :1 – 10.
Maria mengungkapkan pujian kepada Allah atas Karya AgungNya bagi dunia melalui dirinya. Pujian yang keluar dari hati yang terdalam dan penuh sukacita : “Jiwaku..”, ungkapan yang menggambarkan kesungguhan dan ketulusan memuja dan memuji Allah.
Bukan kebanggaan dan pamer diri, sebagai seorang gadis sederhana yang disapa dan dipakai sebagai alat Tuhan [Bandk.Ayat 48b – 49]. Namun dengan itu, Maria melu-kiskan bagaimana Allah sedemikian peduli terhadap orang miskin, tertindas dan orang-orang hina/ tersisihkan. [perhatikan ayat 46 – 48a]
Melalui pericope ini, kita dapat melihat bahwa ke Kristen-an mempunyai sifat revolusioner; sebagaimana yang dikatakan oleh Stanley Jones : “Magnificat adalah dokumen paling revolusioner di dunia”. Ada 3 tindakan revolusioner yang terdapat dalam magnificat ini :
- revolusi moral : “… sebab Ia telah memperhatikan kerendahanhambaNya.”;
“…mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya.” [ay.48a&51b]
Menjadi Pengikut Kristus, berarti “menyangkal diri”dengan membuang kecong-
kakannya. Dapatkah manusia yang telah diangkat dari kerendahannya meninggi-
kan diri?
- revolusi sosial : “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan
meninggikan orang-orang yang rendah;” [ay.52]
Dalam Kristus segala kedudukan dan kuasa tidak ada artinya. Dia Tuhan yang
empunya kuasa dan kemuliaan. “Siapakah manusia ….” (bandk.Mazmur
tidak seorang manusia pun yang boleh dan bisa mempermainkan sesamanya,
sebab oleh penebusan Kristus, setiap orang “berharga” di hadapan Tuhan, dan
punya status yang sama. (bandk.Mazmur 116:15; Gal.3:28)
- revolusi ekonomi : “Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,
dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” [ay.53]
Dalam kehidupan manusia di dunia pada umumnya, manusia berlomba-lomba
untuk meraih sebanyak-banyaknya hasil bagi dirinya/ kelompoknya; bahkan bisa
terjadi, hak orang lain pun diambil demi kepentingan diri/ kelompok. Hal inilah
yang melahirkan ungkapan “manusia adalah serigala bagi sesamanya”.
Di dalam Kristus, ungkapan itu tidak berlaku, sebab hokum kasih membawa
masyarakat Kristen kepada pemahaman “hidup bukan bagi dirinya sendiri” tetapi
“berbagi” atau menjadi penyalur berkat bagi sesamanya. [bandk.Kis.4 : 32].
III. SARAN PENYUSUNAN KHOTBAH
1. Khotbah dapat dimulai dengan pertanyaan mengenai pengertian dan arti kata/
istilah “rendah hati”(= tidak sombong) dan “rendah diri” (perasaan kurang dan
rendah terhadap orang lain; rasa minder).
Anggota Jemaat perlu diingatkan akan kecenderungan manusia dalam mengung-
kapkan “kerendahan hati” yang cenderung kearah kebanggaan/ kesombongan.
Penjelasan tentang “kerendahan hati” dapat disampaikan dengan ilustrasi; cerita
ini dapat menjadi salah satu alternative :
“Wartasuka sedang membuat cerita pendek untuk dikirimkan ke sebuah majalah.
Pak Panurata kebetulan berkunjung ke rumahnya.
“Sedang membuat cerpen, ya?”
“Betul, Bapak ingin membantu mengoreksi naskah saya?”
“Wah, maafkan saya. Saya ini termasuk orang bodoh dalam soal menulis cerpen.
Sejak menjadi juara menulis naskah drama radio, saya tidak lagi menulis cerpen.
Talenta saya kini hanya sekadar menulis novel dan scenario film. Maaf, ya.”
Dikutip dari :Merenung sambil Tersenyum
Tersenyum sambil Merenung 2
2. Adakah kesan pada anggota Jemaat, bahwa Maria merasa bangga dan cenderung
sombong dengan keadaan dirinya? Ataukah sebenarnya Maria hendak menyem-
bunyikan kerendahan dirinya?
Pengkhotbah mulai pada pembahasan tentang perasaan Maria ketika mengungkap
pujian kepada Allah atas apa yang dialaminya.
Ungkapan pujian Maria, adalah ungkapan yang spontan, polos, sebagai seorang
gadis sederhana. Suatu ungkapan hati yang begitu takjub terhadap kebesaran dan
kemurahan Allah yang Mahatinggi, namun begitu peduli terhadap manusia seperti
dirinya. Perasaan bahagia dan bukan sekedar kebanggaan atas keterpilihannya ba-
gi suatu karya besar Allah melalui dirinya. Sesuatu yang rasanya tidak mungkin
namun dibuat mungkin oleh Allah.
3. Melalui Maria, gambaran masa depan yang gemilang bagi bangsanya telah dinya-
takan. Ada perubahan yang sedemikian besar dalam kehidupan manusia, masyara-
kat/ bangsa yang dilakukan Allah melalui Maria.
Yesus Kristus Tuhan, Penyelamat dunia datang dan mengubah manusia dan dunia
kepada suatu tatanan yang baru. Di mana manusia tidak mengandalkan kekuatan,
kekuasaan, kekayaan dan kedudukan. Ada suatu kehidupan baru dalam diri
manusia yang membawa perubahan pula bagi dunia. Manusia tidak lagi buas/
jam terhadap sesamanya.
4. Penerapan :
Pada bagian akhir dari khotbah ini, jemaat diajak untuk menempatkan diri pada
posisi Maria. Adakah kesediaan jemaat dengan tulus dan sungguh-sungguh untuk
mengemban tugas sebagai penyalur anugerah Tuhan?
Bagaimana jemaat melaksanakan dalam hidup keseharian dalam kerendahan hati
sebagai “orang-orang penting” atau “yang dijadikan penting” oleh Tuhan.
Yaitu menunjukkan melalui dan di dalam keyakinan percaya bahwa Kristus Yesus
Tuhan telah mengangkat manusia dari kerendahan dan kehinaan dosa, menjadi
manusia mulia/ berharga di mata Tuhan. Dengan itu, manusia dapat melihat orang
lain sebagai sesama untuk saling mengasihi dan saling peduli.
TEOLOGI