PERWUJUDAN RENCANA KESELAMATAN ALLAH
11 Desember 2005, (Minggu Advent III)
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
GKI Perniagaan, Jakarta.
Bacaan : Roma 16:25 - 27
Nas : idem
Tujuan : Anggota jemaat tergerak untuk berusaha memahami dan merasakan
kedatangan Kristus sebagai perwujudan rencana keselamatan Allah
bagi umat manusia yang sedang menuju kebinasaan.
I. DASAR PEMIKIRAN
Misi dari karya keselamatan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus bukanlah sekedar menambah agar deretan nabi-nabi menjadi lebih panjang. Di dalam Tuhan Yesus, Allah bukanlah sekedar memakai Tuhan Yesus sebagai penyampai firman sebagaimana yang telah dilakukan oleh nabi-nabi. Sebaliknya di dalam Tuhan Yesus, Allah sendirilah yang berfirman; sebab Tuhan Yesus sendiri adalah Sang Firman. Karena itu di dalam karya keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, Allah menjadikan Dia sebagai poros kehidupan atau poros sejarah umat manusia. Sehingga di dalam Dia, keselamatan umat manusia bergantung. Sehingga manakala umat manusia yang mengabaikan Tuhan Yesus, maka tidak tersedia keselamatan Allah. Gambaran Tuhan Yesus sebagai poros sejarah atau poros kehidupan dapat digambarkan sebagai suatu roda apapun fungsinya, tetap membutuhkan poros atau as yang menopang seluruh jari-jari roda tersebut. Sehingga manakala poros atau as dari roda itu patah, maka seluruh jari-jari roda tersebut juga akan patah. Itu sebabnya Injil menyaksikan bahwa pada hakikatnya Tuhan Yesus memiliki kuasa atas di dalam kehidupan ini. Dia mampu melaksanakan kuasaNya untuk membimbing manusia kepada keselamatan sempurna. Sehingga ketika manusia bergantung dan percaya kepada Tuhan Yesus, maka mereka akan dibebaskan dari kebinasaan dan dari cengkeraman kuasa gelap.
Tetapi pada sisi lain tidaklah cukup umat percaya hanya sebagai penerima berita keselamatan Allah di dalam Tuhan Yesus. Jika mereka mengamini berita keselamatan Allah tersebut, maka mereka juga dipanggil untuk memberitakan Injil keselamatan itu kepada sesamanya. Itulah kewajiban utama orang Kristen, agar semua umat manusia menjadikan Tuhan Yesus sebagai poros hidupnya. Sebab di dalam Tuhan Yesus, kekekalan Allah telah hadir secara eksistensial di dalam sejarah umat manusia. Sehingga manakala manusia menolak atau mengabaikan Kristus, maka mereka hidup di luar Allah. Itu sebabnya mereka berada dalam kebinasaan. Dengan menyadari pemahaman teologis tersebut kita selaku anggota jemaat dipanggil untuk memberitakan Injil agar makna kedatangan Tuhan Yesus sebagai perwujudan rencana keselamatan Allah bukan hanya ditujukan untuk umat Kristen saja, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Maka manakala kita melaksanakan tugas pemberitaan Injil itu, pada hakikatnya kita telah mempermuliakan Allah dan karya keselamatanNya. Itu sebabnya memberitakan Injil pada hakikatnya merupakan ungkapan puji-pujian kita kepada Allah yang telah melaksanakan karya keselamatanNya secara sempurna di dalam Tuhan Yesus.
II. TAFSIRAN SINGKAT
Roma 16:25-27 merupakan bagian akhir surat dari rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Pada bagian perikop tersebut merupakan surat yang berisi puji-pujian (doksologi) kepada Allah. Setelah rasul Paulus memberikan salam pribadi kepada orang-orang yang pernah ambil bagian dalam pelayanannya, maka mulai ayat 25a, rasul Paulus menyampaikan suatu pujian, yaitu: ”Bagi Dia yang berkuasa menguatkan kamu”. Ungkapan rasul Paulus tersebut telah dinyatakan dalam bagian awal, yaitu dari Rom. 1:4, yaitu: ”…. dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita”. Di sini terdapat pernyataan pengakuan, bahwa Tuhan Yesus berkuasa. Baik Rom. 1:4 maupun Rom. 16:25a menggunakan pengertian ”dunamei” yang menunjuk bahwa subyek yang menggunakan pada hakikatnya merupakan subyek yang berkuasa, memiliki kekuasaan dan mampu untuk melaksanakan sesuatu. Jadi makna dari Rom. 16:25a adalah suatu puji-pujian kepada Tuhan Yesus, bahwa Dia berkuasa untuk menguatkan jemaat yang percaya.
Pemberitaan tentang Kristus pada masa itu dapat bermacam-macam, tergantung orang memandang diri Yesus dari sudut pandangannya sendiri. Dengan demikian pemahaman tentang Kristus dapat jatuh dalam subyektivisme. Khususnya bagi orang Yahudi Kristen, Kristus sering tidak dipandang sebagai Tuhan yang berkuasa dan sumber keselamatan, sehingga orang-orang percaya masih diwajibkan untuk melaksanakan hukum Taurat. Di Rom. 3:21-22 rasul Paulus berkata, ”Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya”. Itu sebabnya di Rom 16:25, setelah pernyataan doksologi, ”Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu” dilanjutkan dengan penegasan pernyataan: ”menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, yang didiamkan berabad-abad lamanya”. Jadi Tuhan yang berkuasa untuk menguatkan jemaat pada hakikatnya adalah Tuhan Yesus yang telah disaksikan oleh rasul Paulus dalam seluruh pemberitaan Injilnya. Di sini rasul Paulus menegaskan, bahwa ia memberitakan Injil Yesus Kristus. Sehingga Injil yang diberitakannya itu sesungguhnya bersumber pada Kristus, tetapi Allah berkenan memakai manusia untuk memberitakannya. Tanpa inisiatif dan karya dari Tuhan Yesus, maka tidak akan ada Injil sama sekali. Tetapi perlu dipahami pula, bahwa tanpa ada manusia yang memberitakan Injil Yesus Kristus tersebut, maka tidak akan terjadi penyebaran Injil kepada umat manusia dalam lingkup yang lebih luas. Di sini terletak makna panggilan utama orang Kristen setelah mereka menerima Injil Yesus Kristus, maka mereka diwajibkan untuk pergi dan memberitakan Injil kepada sesamanya.
Kewajiban orang Kristen pada masa kini tidak boleh berdiam diri dan bersikap menutup diri terhadap tanggungjawab untuk melaksanakan pemberitaan Injil. Sebelum kedatangan Kristus, Injil sempat ”tersembunyi” dan tersimpan selama berabad-abad lamanya. Pada waktu Kristus belum datang ke dalam dunia sebagai manusia, berita Injil yang menyelamatkan itu belum dapat diberitakan karena saatnya belum tiba. Para nabi masih menubuatkan, dan karya Messias yang dinanti-nantikan itu masih samar-samar. Di Rom. 1:2-3, rasul Paulus berkata, ”Injil itu telah dijanjikanNya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabiNya dalam kitab-kitab suci, tentang AnakNya yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud”. Jadi umat manusia khususnya orang-orang percaya yang hidup pada masa sesudah kedatangan Kristus tidak dapat lagi berdiam diri, seakan-akan Injil masih tersembunyi dan tersimpan seperti pada masa sebelum Kristus datang. Sebab dengan kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia, Allah menyingkapkan seluruh maksud, rencana, karya dan diri dan kasihNya yang sempat tersembunyi selama berabad-abad kepada umat manusia. Itu sebabnya dengan kedatangan Tuhan Yesus, maka Allah yang tersembunyi itu kini menjadi nyata dalam seluruh kehidupan Tuhan Yesus.
Di Rom. 16:26 dinyatakan, ”tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman”. Ini berarti pada saat kedatangan Kristus, di situlah manifestasi penyataan Allah telah dihadirkan di atas panggung sejarah. Dengan kedatangan Kristus, kekekalan Allah telah menerobos waktu, dan Allah berkenan hadir dalam pergumulan sejarah umat manusia. Dengan demikian Injil Yesus Kristus pada hakikatnya merupakan Injil tentang kegenapan sejarah di mana Allah tidak lagi hadir di luar hidup manusia, tetapi Allah di dalam Kristus telah menjadi Allah yang hadir di dalam setiap pergumulan umat manusia. Jadi dengan kedatangan Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus menjadi poros sejarah umat manusia yang mana seluruh hidup umat manusia bergantung kepadaNya. Prinsip ini yang ditegaskan sehingga disebutkan: ”kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman”. Melalui dan di dalam Kristus, Allah berkenan membimbing segala bangsa untuk hidup dalam ketaatan iman kepadaNya. Di sini telah terjadi perubahan paradigma teologis yang radikal terhadap konsep umat Allah. Pengertian ”umat Allah” tidak lagi terbatas pada pemahaman umat Allah secara lahiriah sebagaimana selama ini dipahami dalam konsep orang Yahudi. Sebaliknya pemahaman tentang ”umat Allah” telah diperbaharui oleh Allah dengan kedatangan Kristus yang kini mencakup seluruh umat dari segala bangsa, yaitu dari sudut ”ketaatan imannya” kepada Kristus.
Pada bagian akhir, yaitu di Rom. 16:27 surat rasul Paulus kepada jemaat di Roma ditutup kembali dengan doksologi yang mendaraskan: ”Bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin”. Doksologi pada bagian penutup seluruh kitab Roma menyatakan bahwa Allah adalah yang menjadi subyek utama dari seluruh karya penyelamatan dan penebusan Kristus. Melalui karya penebusan dan penyelamatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, maka nampaklah seluruh hikmat (sophos) Allah. Itu sebabnya melalui karya keselamatan yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus, Allah layak dipuji dengan segala kemulian sampai selama-lamanya. Doksologi ini dinaikkan setelah Allah berkarya di dalam penebusan Tuhan Yesus, dan setelah manusia ikut serta dalam karya keselamatan Allah.
III. SARAN PENYUSUNAN KHOTBAH
Khotbah dapat diawali dengan mengajukan pertanyaan kepada anggota jemaat, bagaimanakah mereka memandang dan memperlakukan Tuhan Yesus di dalam kehidupan sehari-hari. Apakah mereka memperlakukan Tuhan Yesus hanya sekedar sebagai nabi, yang mana kita hanya menempatkan Dia sebagai pengajar etika, moral atau ajaran agama yang mengagumkan? Atau kita memperlakukan Tuhan Yesus sebagai seorang guru rohani, yang mana kita dapat memperoleh bimbingan dan pencerahan batin ketika kita belajar dari Dia? Hampir dapat dipastikan, bahwa jemaat akan menolak semua anggapan itu. Mereka akan menolak disebut hanya menjadikan Tuhan Yesus sebagai nabi atau hanya sekedar sebagai guru rohani. Tetapi seringkali tingkah-laku, pola pikir dan tindakan-tindakan kita tidak menjadikan Tuhan Yesus sebagai Tuhan yang berkuasa penuh atas kehidupan kita.
Kepada jemaat dapat dijelaskan, bahwa pengakuan verbal yang mengakui Yesus sebagai Tuhan yang kita ucapkan seringkali tidak sesuai dengan bukti nyata dari tindakan atau sikap perbuatan kita. Dengan perkataan lain, kita sering tidak menjadikan Tuhan Yesus sebagai poros hidup kita, yang mana hidup kita seharusnya bergantung penuh kepadaNya. Jadi karena kita tidak menjadikan Tuhan Yesus sebagai poros hidup, kita merelatifkan kuasaNya. Dalam hal ini Tuhan Yesus bukan lagi sebagai yang berkuasa atau penentu atas hidup kita secara mutlak, tetapi Dia hanya menjadi sebagai suatu alternatif. Sikap tersebut dimanifestasikan dalam bentuk sikap kita yang sering mendua (ambivalen) yang tidak konsisten dengan prinsip-prinsip ajaran Tuhan Yesus. Itu sebabnya roda kehidupan kita sering tidak dapat bergerak maju ke depan dengan iman menyongsong kedatangan Tuhan Yesus yang kedua. Karena jari-jari kehidupan kita tidak sepenuhnya berpaut pada Tuhan Yesus sebagai poros seluruh hidup kita.
Setelah itu kepada jemaat dapat diuraikan lebih mendalam lagi agar jari-jari kehidupan mereka berpaut pada poros utama, yaitu iman kepada Tuhan Yesus, yaitu:
- Seluruh jari-jari kehidupan kita ditata kembali agar berpaut erat hanya kepada Tuhan Yesus; yang mana kita tidak menjadikan Dia hanya sebagai suatu alternatif. Bukankah banyak orang Kristen yang datang kepada Tuhan Yesus, ketika mereka sudah putus-asa setelah mencoba berbagai macam cara untuk memperoleh keselamatan dan damai-sejahtera?
- Arah gerak roda kehidupan kita adalah melaksanakan karya keselamatan Allah dengan memberitakan Injil kepada sesama, agar mereka juga dapat mengenal dan memperoleh hidup kekal di dalam iman kepada Tuhan Yesus. Sehingga jari-jari kehidupan sesama kita juga berpaut kepada Tuhan Yesus, sehingga mereka dapat mengalami kuasaNya yang menyelamatkan.
Bentuk pujian (doksologi) kepada Allah sering dinyatakan dalam ritual ibadah, tetapi kita sering mengabaikan bentuk pujian yang berkenan kepada Allah apabila dinyatakan dalam karya hidup kita. Jadi seharusnya kita melakukan doksologi melalui keterlibatan kita dalam peran yang dipercayakan Tuhan untuk menyatakan karya keselamatanNya. Peran di mana kita dapat terlibat dalam karya keselamatan Allah dinyatakan melalui komitmen iman, kepedulian, panggilan hidup, dan bidang pekerjaan kita masing-masing. Ketika seluruh dimensi hidup kita berpaut erat dengan Tuhan Yesus sebagai poros hidup kita, maka sesungguhnya hidup kita telah mempermuliakan nama Allah. Dalam arti ini, doksologi menjadi bagian utama dari seluruh hidup kita. Doksologi inilah yang akan menghantar kita untuk menantikan kedatangan Tuhan Yesus, sebab doksologi ini membawa daya gerak ke depan yang menarik semua orang untuk rela bergantung penuh kepada Tuhan Yesus sebagai poros hidup mereka.
TEOLOGI