KENIKMATAN HIDUP BARU DI DALAM KRISTUS
Minggu, 05 Agustus 2007
Pdt. Hendri M. Sendjaja
GKI Samanhudi Jakarta
Bacaan I : Hosea 11:1-11
Bacaan II : Kolose 3:1-11
Bacaan III : Lukas 12:13-21
Tujuan : - Anggota jemaat menyadari panggilan kasih Allah yang menuntun mereka kepada pertobatan;
- Anggota jemaat menyadari bahwa pertobatan harus ditandai oleh perubahan pola hidup yang melawan kenikmatan duniawi.
I. DASAR PEMIKIRAN
Kemajuan adalah satu kata yang secara umum dipahami secara positif. Lawan dari kata ‘kemajuan’ adalah ‘kemunduran’. Hampir dapat dipastikan, setiap orang mengharapkan adanya kemajuan dalam hidupnya, tinimbang kemunduran. Orang mengharapkan terjadinya perubahan yang bertambah secara kualitas atau kuantitas: dari tidak tahu menjadi tahu; dari tahu tiga hal menjadi empat hal, dst; dari tidak ada menjadi ada; dari ada satu menjadi ada dua, dst.
Apakah zaman sekarang ini dapat kita katakan sebagai zaman penuh dengan kemajuan? O, sudah tentu. Banyak hal yang dapat kita nikmati berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Dulu orang tidak mengantongi pesawat telepon. Sekarang? O, orang dapat mengantongi dua (bahkan lebih dari dua) telepon genggam. Ini kemajuan atau kemunduran? Pasti kemajuan.
Namun, kemajuan berkat hasil-hasil iptek itu tampaknya dibayang-bayangi kemunduran. Buktinya, dulu orang mengikuti persekutuan atau kebaktian di gereja tidak pakai acara bertelepon. Sekarang orang bisa bertelepon sambil ikut kebaktian. Orang bisa dengar khotbah sambil memainkan jempolnya di handphone-nya untuk menulis short massage service (sms).
Memang, kemajuan iptek ditunjukkan paling jelas melalui perubahan cepat dunia teknologi informasi dan teknologi komputer. Dulu komputer digunakan untuk mengetik dan menyimpan data, kemudian berkembang untuk menggambar; berkembang lagi untuk musik (multimedia system); berkembang lagi untuk game. Bagi kita yang suka main game komputer, yang namanya game itu bertambah maju juga: dari game single player menjadi game multiplayer (contoh: Counterstrike, Civilization, Sims, dsb.). Sekali lagi, ini adalah kemajuan. Tapi sadarkah kita bahwa ini pun membuat suatu kemunduran? Kemunduran akibat game-game komputer: hidup dalam dunia maya (malas dan cuek); pengaruh negatif secara diam-diam, seperti tindak kekerasan.
Kita tentu tidak alergi dengan kemajuan. Kita bersyukur dengan kemajuan. Namun, kita juga seharusnya selalu berusaha kritis terhadap setiap kemajuan. Kita berusaha memperhitungkan dampak negatif dari suatu kemajuan.
Kemajuan iptek memungkinkan pekerjaan-pekerjaan manusia dapat ditangani dengan baik dan mudah. Ini pun patut kita syukuri. Namun, tampaknya kemudahan-kemudahan akibat hasil-hasil iptek itu dapat menggiring orang pada sikap egois-hedonis, yakni sikap mengutamakan kesenangan diri. Tanpa sadar, orang pada zaman sekarang ini makin bergantung pada hasil-hasil iptek – oleh karena itu, putusnya aliran listrik untuk waktu yang lama, sekarang ini dapat dikategorikan sebagai “bencana” bagi kita. Orang pada zaman serba-canggih ini makin menikmati dunianya, dan makin melekatkan hatinya pada perkara-perkara duniawi. Allah telah tersingkir dari khasanah manusia egois-hedonis. Allah telah dibelakangi oleh para pecandu kenikmatan dunia. Sekalipun barangkali Allah sering disebut oleh mereka, penyebutan Allah itu tampaknya tanpa makna, karena toh dilakukan untuk kepentingan, kesenangan dan hiburan diri semata. Bagi pecandu kenikmatan dunia, yang menjadi pusat hidup tidak lagi Allah, tetapi diri sendiri.
Khotbah ini mau mengajak umat untuk menyadari kasih dan kesetiaan Allah terhadap orang-orang yang suka membelakangi Dia. Sekalipun orang suka menjauh dari TUHAN, TUHAN tidak pernah menjauh dari dia. Manusia mendekat kepada TUHAN, maka TUHAN pun mendekat kepadanya. Manusia menjauh dari TUHAN, maka TUHAN pun, karena besar kasih dan kesetiaan-Nya, terus mendekat kepadanya. Dengan kesadaran ini, umat diajak untuk mengarahkan hidupnya kepada Allah saja dan berusaha menjadi kaya di hadapan Allah.
Hidup baru sudah dinyatakan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kini, umat seharusnya mengalami kenikmatan hidup baru di dalam Kristus, bukan lagi kenikmatan duniawi yang menjerat dan makin mengikat manusia di dalam kekeringan makna.
II. TAFSIRAN
2.1. Hosea 11:1-11
Hosea bernubuat di Israel Utara menjelang akhir pemerintahan Raja Yerobeam II. Masa kerjanya dapat diperkirakan sekitar tahun 750-725 s.M. Nabi Hosea bernubuat beberapa tahun setelah Amos.
Pada masa Hosea, pengaruh agama Baal dari Kanaan tampaknya semakin kuat. Hosea berjuang keras melawan Baalisasi (proses penyebaran agama Baal) di Israel Utara. Agama Baal mengajarkan bahwa kehidupan manusia itu berlangsung dengan baik karena adanya kesuburan. Tanpa kesuburan, tidak ada kehidupan. Kesuburan itu berasal dari Baal. Jadi, Baallah sesungguhnya sumber kehidupan manusia, dan hanya Baal yang patut dipuja oleh manusia.
Menurut agama Baal, manusia dapat meningkatkan kesuburan dengan melakukan pelacuran bakti. Dalam kebaktian itu, seorang imam berbaur dengan seorang pelacur sakral, dan dengan demikian meniru perbuatan para dewa. Pancaran mani dari dewa Baal dianggap sebagai hujan yang memberi kesuburan kepada tanah. Itulah praktek yang umum berlaku di Israel selama hidup Hosea (lihat Hos 4:13).
Praktek keagamaan Baal yang dilakukan umat Israel itu jelas merupakan perselingkuhan iman kepada TUHAN. Sekalipun demikian, TUHAN berupaya mengambil kembali hati umat-Nya. Itulah bukti betapa besar kasih TUHAN kepada Israel.
(a) 11:1-4
TUHAN mengasihi umat Israel sejak dari Mesir. Dia telah memanggil, mengajar, dan memelihara umat Israel dengan kesetiaan dan kasih. Namun, TUHAN mendapati umat Israel malah menyembah para Baal.
(b) 11:5-7
Penyembahan terhadap Baal merupakan perselingkuhan iman kepada TUHAN. Oleh karena itu, kehancuran karena murka TUHAN akan terjadi bagi mereka yang berselingkuh iman.
(c) 11:8-11
TUHAN menyatakan bahwa Dia tidak akan melaksanakan murka-Nya kepada Israel. Ini membuktikan betapa besar belas kasihan TUHAN kepada Israel. TUHAN tidak akan membiarkan Israel mengalami kehancuran seperti yang terjadi pada Adma dan Zeboim, dua kota yang mengingatkan Israel kepada Sodom dan Gomora (bandingkan Kej 14:2, 8). TUHAN bukanlah seperti manusia yang mendendam. Dia mengampuni dan memulihkan umat-Nya, walaupun umat-Nya bersalah kepada-Nya (bandingkan Mzm 103:8-13).
2.2. Tafsiran Singkat Kolose 3:1-11
Sekalipun tidak mendirikan Jemaat di Kolose, Rasul Paulus merasa bertanggung jawab atas kehidupan Jemaat di Kolose. Rasul Paulus mendengar bahwa di dalam jemaat itu ada guru-guru yang menyampaikan ajaran-ajaran yang sesat. Guru-guru sesat itu mengajarkan bahwa untuk mengenal Allah dan diselamatkan dengan sempurna, orang harus menyembah roh-roh yang menguasai dan memerintah semesta alam. Selain itu, orang harus pula taat menjalankan peraturan-peraturan, sunat, pantangan, dan lain sebagainya. Ajaran-ajaran ini pada gilirannya mengacaukan iman beberapa orang di Kolose. Hal inilah yang mendorong Rasul Paulus melayangkan suratnya bagi Jemaat di Kolose.
(a) 3:1-4
Bagian ini mesti dipahami dalam rangkaian teks sebelumnya (Kolose 2:20-23). Rasul Paulus mengingatkan bahwa ajaran-ajaran dan peraturan-peraturan yang disebarkan guru-guru sesat pada hakikatnya bersifat duniawi, fana dan tiada guna. Hidup orang Kristen seharusnya tidak melekat pada apa yang ditawarkan dunia, melainkan pada apa yang ditawarkan Kristus.
(b) 3:5-11
Rasul Paulus mengajak umat untuk mematikan segala sesuatu yang duniawi. Dasar ajakan ini adalah kuasa Kristus yang telah memperbaharui setiap orang yang percaya kepada-Nya (bandingkan 2 Korintus 5:17).
2.3. Tafsiran Singkat Lukas 12:13-21
Tidak dapat dielakkan, pengajaran Yesus kepada orang-orang Yahudi pada masa-Nya membawa pengaruh yang besar. Hikmat dan kewibawaan Yesus menyertai setiap pengajaran-Nya, sampai-sampai para pemimpin keagamaan Yahudi tidak berkutik di hadapan-Nya.
Fokus pengajaran Yesus adalah kabar baik Kerajaan Allah. Bagi Yesus, kehidupan ini seharusnya berpusat pada Allah; bukan pada harta kekayaan duniawi. Harta kekayaan memang diperlukan di dalam kehidupan ini, namun Yesus mengingatkan harta kekayaan bukanlah segala-galanya dalam hidup manusia. Harta kekayaan dapat membuahkan ketamakan dan membuat orang lupa akan hal yang paling penting di dalam hidup ini, yakni kebergantungan kepada Allah.
(a) 12:13-15
Bagian ini menceritakan seorang dari orang banyak datang kepada Yesus dan meminta Yesus untuk menegur saudaranya agar berbagi harta peninggalan orangtuanya. Dalam hal ini, kita, pembaca, dapat merasakan bahwa kecakapan Yesus dalam mengajar dimanfaatkan oleh orang tersebut demi kepentingannya sendiri. Yesus menolak permintaan orang itu. Dia pun menyampaikan peringatan bagi orang itu agar berjaga-jaga dan waspada terhadap segala ketamakan harta kekayaan duniawi. Kata Yesus, hidup manusia itu tidak tergantung pada harta kekayaan.
(b) 12:16-21
Yesus menggambarkan melalui sebuah perumpamaan tentang apa yang terjadi pada orang yang tamak kepada harta kekayaan. Orang kaya yang tamak dalam perumpamaan Yesus itu tampaknya hidup hanya untuk mengurusi harta kekayaannya. Ia merasa senang dengan harta kekayaan yang dikumpulkannya. Seolah-olah ia dapat terus bersama-sama dengan harta kekayaannya. Padahal, kalau ia mati, maka harta kekayaan pun tidak bisa dibawa pergi. Bukankah segala upaya untuk mengumpulkan dan mempertahankan harta kekayaan duniawi itu merupakan kesia-siaan? Menurut Yesus, orang seharusnya mengarahkan hidupnya kepada Allah. Menjadi kaya di hadapan Allah, pastilah tidak sia-sia.
2.4. Kesimpulan Ketiga Tafsiran Singkat
Dari ketiga bacaan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa:
• Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, manusia cenderung menjauh dari TUHAN. Manusia seringkali mengikuti kepentingan dan keinginannya sendiri. Ia terjerat ke dalam praktik hidup yang sesat, dan hidup membelakangi TUHAN. Sekalipun manusia berbuat seperti itu, TUHAN tidak pernah mendendam. Kasih dan kesetiaan TUHAN tampaknya mahabesar dan mahaluas. Seperti bapa sayang kepada anaknya, demikianlah TUHAN sayang kepada umat-Nya. TUHAN tidak terus-menerus murka, tapi mau merangkul dan memulihkan anak-anak-Nya. Itulah yang diberitakan nabi Hosea kepada umat Israel.
• Di dalam Yesus Kristus, orang Kristen mendapatkan hidup yang baru. Hidup yang baru ini bukanlah persoalan “nanti di seberang sana”, tetapi persoalan “sekarang di sini”. Dengan demikian orang Kristen yang sungguh-sungguh mengalami kuasa kebangkitan Kristus tentu akan meninggalkan kemanusiaannya yang lama. Ia akan mengarahkan hidupnya kepada Kristus saja, dan tidak melekat lagi pada perkara-perkara duniawi. Inilah kebenaran yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose.
• Tuhan Yesus sendiri menegaskan bahwa selama di dunia ini orang seharusnya bergantung kepada Allah, bukan kepada harta kekayaan duniawi. Kebergantungan dan ketamakan orang kepada harta kekayaan duniawi pada kenyataan menggiring orang kepada kebinasaan. Orang seharusnya menjadi kaya di hadapan Allah, yakni dengan hidup bersyukur atas segala kasih dan kesetiaan Allah, Sang Pemelihara kehidupan.
III. SARAN PENYUSUNAN KHOTBAH
3.1. Pembuka
Khotbah dapat dibuka dengan paparan tentang kemajuan zaman sekarang ini. Segala hasil iptek telah mewarnai kehidupan manusia, misalnya penggunaan listrik, telepon genggam dan komputer. Hasil-hasil iptek itu patut disyukuri.
Pengkhotbah memaparkan juga dampak-dampak negatif dari hasil-hasil iptek tersebut. Paling tidak, dampaknya adalah kebergantungan yang sangat tinggi dari manusia terhadap hasil-hasil iptek, contohnya terhadap penggunaan listrik atau komputer. Kebergantungan semacam ini lambat-laun menggiring manusia kepada sikap egois-hedonis. Manusia makin melekat pada kenikmatan duniawi, dan hidupnya tidak lagi berpusat kepada Allah, tetapi kepada dirinya sendiri (lihat bagian Dasar Pemikiran di atas).
3.2. Isi
Jembatan bagian pembuka dan isi khotbah adalah pernyataan berikut ini. Sikap egois-hedonis dapat makin menjauhkan orang dari TUHAN. Namun, TUHAN itu tidak pernah menjauhkan diri-Nya dari kita. Kasih dan kesetiaan TUHAN begitu besar. Berita inilah yang dinyatakan oleh nabi Hosea bagi umat Israel yang hidup membelakangi TUHAN (lihat bagian Tafsiran Singkat Hosea 11:1-11).
Pengkhotbah dapat menyatakan bahwa di dalam Yesus Kristus, kasih dan kesetiaan TUHAN itu nyata. Orang yang percaya kepada Yesus Kristus mendapatkan anugerah keselamatan dan hidup yang baru. Hidup yang baru adalah persoalan “sekarang dan di sini”, mesti nyata melalui pola hidup yang tidak melekat kepada hal-hal duniawi (lihat bagian Tafsiran Singkat Kolose 3:1-11).
Selanjutnya, khotbah menegaskan bahwa menurut pengajaran Tuhan Yesus, orang yang melekat dan tamak kepada harta kekayaan duniawi pada akhirnya akan binasa. Harta kekayaan duniawi itu tidak bisa dibawa mati. Oleh karena itu, yang paling penting di dalam hidup ini adalah mengarahkan diri kepada Allah Sang Pemelihara Kehidupan (lihat bagian Tafsiran Singkat Lukas 12:13-21).
3.3. Penutup
Khotbah ditutup dengan ajakan untuk menyatakan hidup baru di dalam Tuhan Yesus. Hidup yang baru di dalam Kristus itu ditandai dengan perubahan pola hidup yang melawan kenikmatan duniawi.
Pdt. Hendri M. Sendjaja
GKI Samanhudi Jakarta
TEOLOGI