MATAKU MEMANDANG YESUS, TANGANKU KERJA BAGINYA
Minggu , 19 Agustus 2007
Pdt. Dahlia Vera Aruan
GKI Purwareja Klampok
Bacaan I : Yesaya 5:1-7
Bacaan II : Ibrani 11: 29-12:2
Bacaan III : Lukas 12:49-56
Antar Bacaan : Mazmur 72
Tujuan :
o Anggota jemaat menyadari begitu besar kasih Allah dalam melindungi dan merawat umat-Nya
o Anggota jemaat merespon kasih Allah dengan memperjuangkan iman kekristenannya di tengah-tengah pergumulan hidup yang sulit.
DASAR PEMIKIRAN
Mempertahankan iman dalam kehidupan dunia yang semakin penuh dengan kesulitan, bukanlah suatu hal yang mudah. Seringkali kita melihat orang kristen yang menyerah pada kesulitan lalu memilih mengkhianati imannya agar dapat keluar dari kesulitan. Ketika iman harus diperhadapkan dengan pilihan, kita tidak mampu untuk bertahan dan tetap memilih bertekun dalam iman.
Keadaan ini semakin dipersulit jika kita sendiri tidak mendapatkan dukungan dari keluarga. Keluarga justru semakin memojokkan kita. Kita kembali diingatkan oleh kisah Ayub yang disindir pedas oleh istri yang dikasihinya. Pada saat Ayub tetap memilih bertekun dalam iman sekalipun menderita. Hal ini sangat mungkin masih sering dialami oleh orang Kristen di zaman sekarang.
Kita perlu peka untuk menyadari kasih dan bentuk pemeliharaan Allah dalam kehidupan orang percaya. Kita tidak perlu meragukan bahwa Allah melupakan kebutuhan hidup kita. Tetapi inilah yang seringkali kita pertanyakan dalam hidup yang penuh dengan kesulitan. Di tengah pergulatan seperti inilah umat diajak untuk tetap merespon kasih Allah dengan bertekun dalam iman di tengah pergumulan hidup yang sulit.
TAFSIRAN
1. Yesaya 5 : 1-7
Kitab Yesaya Pasal 1-35 memuat 3 macam kumpulan nubuat.
1. Pasal 1-12 nubuatan berupa ancaman ditujukan kepada umat Allah di Yehuda
2. Pasal 13-23 nubuatan berupa ancaman ditujukan kepada berbagai bangsa yang memusuhi umat Tuhan.
3. Pasal 24-35 nubuatan berupa janji bagi umat yang terlanda kemalangan. Nubuat itu mengenai masa depan, termasuk akhir zaman.
Pada bagian ini, kitab Yesaya memaparkan kejahatan umat Allah yang tidak bisa ditolerir lagi sehingga nabi Yesaya melancarkan nubuatannya yang berisi penghukuman. Sikap Israel yang demikian dipandang nabi sebagai bentuk pelecehan umat terhadap kekudusan Allah.
Kejahatan yang dilakukan Umat Allah : penindasan, ketidakadilan, penyembahan berhala, para penguasa dan pemimpin umat hidup dalam kemewahan dengan memeras rakyat kecil, mereka melakukan ibadah meriah yang tidak disertai kelakuan yang sepadan dari para pemimpin, raja, imam dan para penguasa.
Pasal 5:1-7 adalah sebuah puisi berupa perumpamaan. Pembicara pertama-tama tidak membuka subjek yang sebenarnya tetapi membimbing pendengar untuk memberikan penilaian sebelum mereka sendiri menyadari bahwa mereka menghakimi diri sendirinya (seperti perumpamaan Natan kepada Daud)
Ayat 1-2 menceritakan tindakan yang dilakukan sang pemilik anggur dalam merawat anggurnya. Kebun anggur itu berpotensial untuk berbuah banyak dan manis sebab berada di lereng bukit yang subur. Agar hasil panen memuaskan segala sesuatu telah dilakukan oleh sang pemilik dari mulai mencangkul, menanam bibit unggul, dan membangun menara penjaga. Tetapi segala jerih payah tersebut sia-sia sebab anggur yang dihasilkan asam. Pengharapan berakhir dengan kekecewaan.
Ayat 3-4 Penghakiman diserahkan kepada penduduk Yerusalem, agar mereka menentukan sikap, apa yang harus dilakukan kepada kebun anggur yang berbuah asam itu?
Ayat 5-6 Tindakan sang pemilik yang kecewa, ia akan menebang pagar durinya sehingga tidak terawat dan terjaga lagi, tidak akan dirantingi dan disiangi sehingga tumbuh semak-semak, tidak akan ada hujan yang turun atasnya. Kebun anggur yang tadinya dijaga dan dirawat dengan penuh kasih sayang kini telah dibiarkan hancur dan tidak menghasilkan apa-apa.
Ayat 7 : Mengungkapan arti perumpamaan tersebut bahwa yang disebut kebun anggur adalah Israel dengan segala kejahatannya. Permainan kata dalam puisi ini menarik : …yang diharapkan mishpat (keadilan) yang muncul mispah (ing: bloodshed ; ind: kelaliman). Yang diharapkan tsedaqah yang muncul tse’aqah (ing : a cray /cries of distress ; ind : keonaran). Melalui permainan kata ini ingin diperlihatkan bahwa pengharapan terhadap umat Israel berbanding terbalik dengan kenyataannya.
2. Tafsir Ibrani 11:29-12:2
Bacaan ini termasuk dalam bagian besar Ibrani 11:1-12:2 yang menceritakan daftar panjang contoh model Iman dari PL yang berpuncak dalam diri Yesus Kristus (12 : 1-2). Bagian ini diawali dengan sebuah defisi iman yang perlu mendapat perhatian untuk dapat memahami daftar perjuangan orang-orang beriman dalam PL. Kemenangan diperoleh orang beriman, ketika mereka bertahan dalam iman di tengah kesulitan yang mereka hadapi dan mereka menjadi saksi bagaimana Allah meluputkan mereka dari bahaya. (ayat 29 – 34)
Ayat 35-38 Tetapi kehidupan dan perjuangan orang beriman tidak serta merta mulus begitu saja. Ada yang mengalami penganiayaan yang berat, diejek, dihina tetapi mereka memilih tetap bertekun dalam iman.
Ayat 39-40 sekalipun mereka bertekun dalam iman, mereka tidak mendapat kesempatan untuk melihat penggenapan janji tersebut. Walaupun demikian iman mereka bukan berarti sia-sia, sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik lagi.
12: 1-2 untuk itu penulis Ibrani mengajak umat tetap bertekun dalam iman sekalipun ia harus mengalami penderitaan. Ketekunan dalam iman ditandai dengan meninggalkan semua beban dan dosa yang merintangi mereka masuk dalam kemenangan dan kemuliaan Allah. Keteladanan bertekun dalam iman berpuncak dalam diri Yesus Kristus. Oleh sebab itu umat diajak untuk terus memandang Yesus dan bekerja bagiNya. Iman itu akan membawa umat kepada kesempurnaan yang akan menggantikan kehinaan dengan sukacita dan kemuliaan bersama dengan tahta Allah. Maka jangan menyerah pada dosa, lepaskan diri dari jerat dan beban dosa dan berlomba-lomba dalam perbuatan baik bagi kemuliaan Allah. Seperti Yesus yang menderita karena memilih bertekun dalam iman dan kemudian mengalami kemuliaan dari Allah Bapa, maka kita pun yang menderita karena bertekun dalam iman, akan mengalami hal yang sama.
3. Tafsir Lukas 12:49-56
Kata-kata dalam ayat ini cukup mengejutkan apalagi selama ini kita menghayati bahwa Yesus datang membawa damai sejahtera dan bukan pertentangan seperti yang dinyatakan dalam ayat ini. Ayat 49 : Bagi orang Yahudi, api selalu dipandang sebagai penghakiman sehingga diartikan Yesus datang membawa penghakiman. Penghakiman ini belaku bagi seluruh bangsa termasuk bangsa pilihan, Israel.
Ayat 50 : Yesus menggambarkan penderitaan yang harus ditanggung-Nya dengan kata …”menerima baptisan”. Dalam bahasa Yunani penggunaan baptizein (menyelam ; pasif –diselamkan) sering dipakai sebagai kiasan misal dipakai sebagai gambaran kapal yang “menyelam” diantara gelombang-gelombang. Kiasan itu dipergunakan Yesus untuk menggambarkan pengalaman dahsyat yang harus dilewati-Nya; hidup penuh dengan ketegangan sampai dapat terlewati dan tampil dalam kemenangan. Gambaran ini sangat bertentangan dengan harapan mesianik orang Yahudi bahwa Mesias datang dengan membawa tentara. (Barclay)
Ayat 51-53 : Perpecahan dapat saja terjadi dalam sebuah keluarga seperti yang dituliskan dalam ayat ini sebab kesetiaan kepada Yesus harus merupakan pilihan utama daripada apapun, termasuk keluarga. Kita ingat kisah Ayub yang disindir oleh istrinya sendiri pada saat ia memilih untuk tetap bertekun dalam iman sekalipun menderita. Seseorang harus berani kehilangan segala sesuatunya demi kesetiaan kepada Yesus Kristus. Kadangkala orang Kristen harus mengalami banyak hambatan untuk bertekun dalam iman justru berasal dari kalangan keluarganya sendiri.
Ayat 54-56 : Penghakiman yang dibawa melalui kehadiran Yesus sangat jelas, tetapi ternyata tidak respon oleh orang Yahudi yang sangat ahli membaca tanda-tanda alam. Ini merupakan kecaman Yesus kepada mereka yang menolak Yesus sebagai Mesias. Mereka menutup hati dan memilih untuk berkeras hati serta tidak percaya. Mereka tidak mampu melihat tada-tanda Kerajaan Allah yang datang dalam karya Yesus dan hal ini menjadi sangat kontras dengan kemampuan mereka yang jeli membaca keadaan alam.
Kesimpulan Tafsir :
1. Allah mengasihi umat-Nya sehingga Allah menjaga dan merawat umat sedemikian rupa. Apa yang dibutuhkan diberikan-Nya. Tetapi cinta kasih Allah ini berakhir dengan kekecewaan karena umat tidak menghasilkan buah yang menyenangkan hati Allah. Allah pun membiarkan mereka merasakan upah perbuatan mereka yang berakhir dengan kehancuran.
2. Ibrani memberikan daftar panjang dari kehidupan orang-orang beriman. Kehidupan yang tidak mudah harus mereka hadapi tetapi mereka tidak menyerah. Di tengah penderitaannya mereka memilih untuk tetap bertekun dalam iman. Hidup umat diarahkan kepada Yesus sambil terus berkarya dan menanti saatnya Allah menyatakan kemuliaan.
3. Lukas mengingatkan setiap kesulitan dan penderitaan yang mungkin dihadapi oleh orang beriman sebab penderitaan dapat menenggelamkan iman seseorang kepada Yesus. Penderitaan bisa muncul dalam bentuk pertentangan. Pertentangan itu dapat muncul dari keluarga, tetapi disanalah dibutuhkan suatu pengorbanan untuk tetap bertekun dalam iman kepada Yesus Kristus. Tiap orang beriman harus terus berjuang dalam imannya dengan tetap memandang Yesus.
SARAN PENYUSUNAN KOTBAH
o Berikanlah contoh-contoh kongrit tentang penderitaan yang bisa dialami oleh orang percaya ketika mereka memilih untuk tetap bertekun dalam iman. Berikan pula contoh tentang peranan keluarga yang seringkali melemahkan dan bukan menguatkan pergumulkan sebagai orang percaya.
o Kemudian kotbah dirangkai dengan tafsiran yang telah diungkapkan diatas. Tafsiran diawali dengan penggambaran tindakan Allah yang merawat dan menjaga kebun anggur yang dikasihi-Nya. Dilanjutkan dengan gambaran kehidupan orang beriman dalam mempertahankan imannya dan harus berhadapan dengan penderitaan sampai mengalami kematian. Penderitaan itu bisa saja muncul dari keluarga yang tidak memberikan dukungan dan dorongan pada masa sulit.
o Pengkotbah kemudian mengajak jemaat untuk tetap bertekun dalam iman. Caranya dengan tetap memandang Yesus sebagai teladan iman yang sempurna. Seperti Yesus yang menderita di salib dan berakhir dalam kemenangan dan kemuliaan. Hal yang sama pun akan terjadi kepada setiap orang yang tetap memilih bertekun dalam iman. Sambil memandang Yesus, janganlah menjadi gentar dan goyah, teruslah bekerja bagi kemuliaan Allah.
o Akhiri kotbah dengan memotivasi jemaat bahwa kemenangan adalah sebuah kepastian bagi setiap orang percaya. Biarlah sambil menantikan kemuliaan Allah dinyatakan, umat Allah tetap bekerja bagi Allah ditengah-tengah pergumulan dunia yang semakin sulit ini. Tuhan pasti memelihara kehidupan umat-Nya yang diharapkan terus menyatakan buah yang banyak dan manis. Amin
TEOLOGI