FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

August 2, 2007

SETIA DALAM PANGGILAN - Ulang Tahun ke-19 GKI

Filed under: Rancangan Khotbah — Martin @ 3:29 am

Minggu, 26 Agustus 2007
Pdt. Danny Purnama
Pendeta Jemaat GKI Perumahan Citra I, Jakarta

Bacaan I : Yeremia 1:4-10
Bacaan II : Ibrani 12:18-29
Bacaan III : Lukas 13:10-17

Tujuan :
1. Anggota jemaat dapat merasakan panggilan Allah atas dirinya untuk diutus dalam pekerjaan Allah
2. Anggota jemaat tetap setia melakukan tugas panggilannya meskipun mendapatkan hambatan dari sekitarnya, termasuk dari saudara seiman dalam Kristus

DASAR PEMIKIRAN

Di tengah segala keterbatasan kita sebagai manusia, Allah mengikutsertakan kita dalam karya kasih-Nya di tengah dunia. Untuk memelihara ciptaan, memberi berkat bagi dunia, mengasihi dan memenuhi kebutuhan mahluk ciptaan-Nya, Allah memanggil kita menjadi mitra kerja-Nya. Sungguh suatu anugerah yang luar biasa karena kita diberi kesempatan menjadi kepanjangan tangan Tuhan di tengah dunia ini. Di tengah segala kekurangan dan keterbatasan kita, Allah berjanji akan menyertai dan menolong kita.
Namun seiring dengan panggilan itu, muncul pula hambatan-hambatan yang dapat menghalangi kita memenuhi tugas panggilan Tuhan. Hambatan itu bisa muncul dari diri sendiri (minder dengan kekurangan-kekurangan yang dimiliki, keengganan untuk mempersembahkan waktu-tenaga-harta dalam melakukan tugas, keegoisan yang hanya ingin menikmati sendiri berkat-berkat yang Tuhan berikan) maupun dari pihak luar (penentangan, ancaman, ketidaksukaan pihak lain). Tidak sedikit yang kemudian undur dari tugas panggilannya, berhenti bahkan menghilang entah ke mana.
Dalam rangka Ultah ke-19 GKI ini, kita mau bersyukur untuk kasih Tuhan yang memilih dan memanggil kita untuk menjadi mitra kerja-Nya di tengah dunia. Di tengah syukur itu, kita diajak untuk setia dalam panggilan Tuhan dan memenuhi setiap tugas yang dipercayakan kepada kita sebagai gereja di tengah masyarakat sehingga sekalipun ada banyak hambatan yang menghadang, tidak menghalangi kita untuk terus menjadi berkat bagi sekeliling kita.

TAFSIRAN SINGKAT

1. Yeremia 1:4-10
Teks ini merupakan kisah pemanggilan dan pengutusan Yeremia untuk menjadi nabi, utusan Tuhan bagi bangsa-bangsa. Ayat 5 ingin menegaskan bahwa pemilihan dan pemanggilan Tuhan terhadap seseorang bukanlah sesuatu yang tanpa perhitungan dan asal-asalan, melainkan sesuatu yang sudah Tuhan persiapkan matang-matang.
Menanggapi panggilan itu, di ayat 6 Yeremia merasa minder dan tidak pantas karena ia merasa punya kekurangan, yaitu tidak pandai bicara dan masih muda (B. Ibrani naar: anak laki-laki atau orang muda yang mendekati usia 20-an tahun). Keberatan Yeremia ini bisa dipahami, karena pertama-tama tugas seorang nabi adalah menyampaikan firman Allah sehingga diperlukan kemampuan berbicara yang baik untuk mengkomunikasikan kehendak Allah itu kepada umat; kedua, di daerah Timur usia seseorang dianggap berpengaruh pada kemampuan dan kebijaksanaan, sehingga orang akan lebih menghargai dan mendengar perkataan orang yang lebih tua dan dewasa. Sementara yang muda, naar dianggap masih anak-anak dan belum berpengalaman, siapa yang mau mendengarkannya. Dengan pertimbangan itu, Yeremia menolak panggilan dan pengutusan Tuhan.
Tuhan tahu apa yang menjadi kekurangan dan ketakutan Yeremia. Ayat 7-9 menyatakan bagaimana Tuhan kemudian menolong Yeremia. Ia berjanji menyertai dan melepaskan dari ancaman sehingga Yeremia tidak perlu takut melakukan tugas panggilannya. Tuhan juga menjamah mulut Yeremia dan mempercayakan firman-Nya untuk disampaikan kepada bangsa-bangsa.

2. Ibrani 12:18-29
Kalau kita memperhatikan seluruh isi surat Ibrani, kita akan mendapati banyak ayat referensi atau kutipan dari Perjanjian Lama. Jadi tampaknya, penulisnya dan juga orang-orang yang kepadanya surat ini dialamatkan, memiliki pengetahuan yang baik tentang Perjanjian Lama.
Ayat 18-21 menggambarkan betapa dahsyatnya Allah yang Transenden: seperti gunung yang tidak tersentuh, api yang menyala-nyala, kekelaman dan kegelapan, angin badai, bunyi sangkakala dan suara yang menggentarkan dan menakutkan. Semua penggambaran itu merupakan unsur-unsur yang mengerikan dan dianggap dapat menghancurkan manusia yang berada di dekatnya. Maka dalam pemahaman PL, umat tidak berani datang mendekat kepada Allah yang seperti itu, bahkan Musa sendiri pun dikatakan takut dan sangat gentar.
Puji syukur kita tidak lagi harus berhadapan dengan Allah yang seperti itu. Tapi kita datang kepada Allah yang penuh kasih, Allah yang jauh menjadi sahabat yang dekat, Allah yang transenden menjadi yang imanen. Itu semua karena karya Yesus. Ayat 22-23 menyatakan bahwa kita tidak lagi datang ke sesuatu yang mengerikan tapi: ke bukit Sion, kota Allah yang hidup, ke Yerusalem baru di mana beribu-ribu malaikat menanti kita dalam suasana meriah, kepada jemaat anak-anak sulung yang namanya terdaftar di sorga sebagai umat pilihan Allah. Kita datang kepada Allah yang menghakimi semua orang, adil tanpa memandang muka atau pilih-pilih.
Itu bisa terjadi karena karya Yesus Kristus yang telah menjadi pengantara perjanjian baru. Frasa “kepada darah pemercikan yang berbicara lebih kuat daripada darah Habel” menegaskan karya Yesus Kristus yang membuat kita tidak lagi terpisah dari Allah. Sewaktu darah Habel tercurah, darahnya di tanah menuntut pembalasan (Kej 4:10); tapi saat darah Yesus tercurah, justru menjadi jalan pendamaian manusia dengan Allah sehingga Yang Tak Terhampiri menjadi Alah yang dekat dan dapat dihampiri. Dengan demikian juga, kini tidak ada lagi kesukaran, ketakutan dan kengerian akan murka Allah bagi kita yang mau beribadah, menghadap dan berjumpa dengan-Nya.
Namun “kemudahan” berjumpa dengan Allah itu jangan membuat kita seenaknya dan lupa diri. Ayat 25 mengingatkan kita akan tanggung jawab yang besar. “Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput…”
- Ada beda antara “yang berfirman” langsung dan “yang menyampaikan firman Allah”
- Memang alkitab TB-LAI menerjemahkan kata “Dia” dua-duanya dengan huruf besar sehingga terkesan keduanya disampaikan oleh Tuhan Allah
Tapi sekali lagi surat Ibrani ini senantiasa membandingkan kejadian di masa lalu (PL) dengan kondisi baru setelah Yesus berkarya (PB). Maka ayat tersebut bisa dipahami sebagai berikut:
- “yang berfirman” itu diartikan dengan Yesus Kristus  B. Yunani lalein: Allah berfirman langsung
- “yang menyampaikan firman Allah” itu bisa diartikan Musa  B. Yunani krematein: menyampaikan firman (jadi hanya penyambung lidah)
Jadi penulis Ibrani mau mengingatkan bahayanya kalau kita menolak Dia yang berfirman langsung, yaitu Yesus Anak Allah. Sewaktu perintah Tuhan diberikan di gunung Sinai, bumi bergetar (Kel 19:18), digoncangkan dan mereka yang menolak Musa sebagai perantara firman Allah dihukum, tidak ada yang luput. Kalau mereka yang menolak Musa penyampai firman Tuhan saja tidak luput, apalagi yang menolak Yesus, Firman Allah itu sendiri.
Jika demikian halnya, di tengah kemudahan berjumpa dengan Allah itu, kita memiliki tanggung jawab yang tidak ringan dalam beribadah kepada-Nya. Kata “ibadah” dalam B. Ibrani “abodah” artinya: ritus agama tapi juga layanan masyarakat. Itu berarti di tengah ibadah kepada Allah, kita tidak terjerat pada soal ritual saja tapi juga terwujud nyata dalam pengabdian dan pelayanan di tengah dunia.
- ibadah adalah sarana perjumpaan kita dengan Allah yang Mahakudus yang mengundang kita hadir di hadirat-Nya
- ibadah adalah tempat kita mengabdi dan melayani bukan menerima dan apalagi minta dilayani
Dan semua itu dilakukan dengan penuh syukur, cara yang berkenan kepada-Nya (bukan sesuai keinginan kita), hormat dan takut (segan, bukan ketakutan).
Betul setelah Yesus berkarya, ada kemudahan kita bertemu dengan Allah, tidak ada lagi halangan yang menghambat kita berjumpa dengan-Nya, tapi itu bukan berarti kita boleh melalaikan panggilan-Nya untuk mengabdi dengan penuh syukur dan hormat.

3. Lukas 13:10-17
Kisah dalam perikop ini terjadi di salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di rumah ibadat itu selain mengajar, Yesus juga menyembuhkan sakit seorang perempuan yang telah ia derita selama 18 tahun. Karena sakitnya itu, perempuan tadi menderita dan bungkuk punggungnya sehingga tidak dapat berdiri dengan tegak. Dengan penuh kasih, Yesus menyembuhkan perempuan tersebut. Kesembuhan terjadi dan seketika perempuan itu bisa berdiri lalu memuliakan Allah. Yesus datang ke dunia ini memang untuk melakukan tugas Allah Bapa-Nya, yaitu menguatkan yang lemah, membebaskan yang ditawan, menyembuhkan yang sakit supaya Allah dimuliakan. Satu demi satu tugas itu Yesus penuhi dengan setia sampai puncak karya-Nya di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.
Namun apa yang Yesus lakukan, tidak disukai orang-orang di sekitarnya, khususnya kepala rumah ibadat. Penyembuhan itu menurutnya tidak boleh dilakukan karena hari itu adalah hari Sabat. Dalam hukum Taurat, orang tidak boleh bekerja pada hari Sabat. Lalu hukum itu dijabarkan lebih detil dalam aturan-aturan yang lebih terperinci: menolong orang untuk masalah yang tidak genting dan menyembuhkan penyakit yang tidak mematikan termasuk pekerjaan yang dilarang dilakukan pada hari Sabat. Maka dalam pandangan kepala rumah ibadat apa yang Yesus lakukan berarti melanggar hukum Taurat.
Yesus dalam melaksanakan karya-Nya di tengah dunia ini, tidak terhambat oleh rupa-rupa penolakan serta ketidaksukaan orang lain. Ia menegur kemunafikan kepala rumah ibadat yang mewakili pandangan ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi. Kalau demi seekor keledai atau lembu, mereka masih bisa mentolerir pekerjaan memenuhi kebutuhan hewan-hewan itu, terlebih lagi untuk sesama manusia yang mengalami penderitaan, harusnya mereka juga menunjukkan kasih untuk memenuhi kebutuhannya dibebaskan dari penderitaan tersebut.

Kesimpulan Tafsir:
1. Yeremia dipanggil dan diberi kuasa yang besar dalam melakukan tugas kenabiannya: bukan hanya mencabut-merobohkan-membinasakan-meruntuhkan, tetapi juga membangun dan menanam (ay. 10). Yang Tuhan minta adalah Yeremia jangan takut dan goyah dalam melaksanakan tugas panggilan dan pengutusan Tuhan itu. Hambatan karena kekurangan dan kemudaan tidak menghalangi Tuhan memilih Yeremia menjadi mitra kerja-Nya sekaligus tidak menghalangi Yeremia untuk memenuhi tugas panggilan-Nya.
2. Bagi umat Allah yang hidup setelah Yesus berkarya, kita bisa berjumpa dengan Allah dalam suasana yang tidak lagi mengerikan dan menakutkan. Namun itu tidak berarti kita asal-asalan dan seenaknya saat beribadah (abodah – ritus agama yang tampak dalam pengabdian dan pelayanan nyata di tengah sesama) kepada-Nya. Kalau Allah sendiri lewat karya Yesus sudah membuang penghalang yang membuat kita sulit datang kepada-Nya, maka kita diminta bersyukur dan memakai kesempatan mengabdi dan melayani itu dengan penuh tanggung jawab, setia dan tidak dalam suasana ketakutan.
3. Yesus memberi teladan bagaimana dengan penuh kesetiaan Ia memenuhi tugas panggilan-Nya di tengah dunia tanpa terhalang oleh ketidaksukaan dan hambatan dari lingkungan sekitar-Nya.

SARAN PENYUSUNAN KHOTBAH

1. Permulaan
Khotbah diawali dengan ilustrasi ini:
Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan itu hanya dapat membawa air setengah penuh. Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari, si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya.
Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.
Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, “Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu.” “Kenapa?” tanya si tukang air, “Kenapa kamu merasa malu?” “Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi.” Kata tempayan itu.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata,”Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.” Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.
Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”

Kerapkali kita seperti tempayan yang retak tadi. Kita merasa jelek, kurang, gagal, penuh kelemahan. Semua itu kerap membuat kita merasa tidak berharga dan undur dari tugas panggilan yang Tuhan percayakan kepada kita. Tuhan tahu semua itu. Tapi itu tidak mengurangi rencana-Nya untuk tetap memakai kita menjadi mitra kerja-Nya.

2. Isi
Lanjutkan khotbah dengan memaparkan setidaknya tiga hal yang dapat kita kerjakan sebagai gereja di masa kini untuk menyambut ajakan Tuhan sebagai mitra kerja-Nya:
(1). Mengenal diri dengan segala potensi dan talenta yang Tuhan berikan
Orang yang mengenal diri adalah orang yang bukan hanya tahu betul kelebihan dan kekuatan dirinya, tetapi juga bisa menerima kekurangan yang ada pada dirinya. Kelebihan itu tidak dipakai untuk merendahkan yang lain, melainkan justru untuk kebaikan bersama; sebaliknya kekurangan tidak menjadi halangan untuk terus maju dan memperbaiki diri.
Yeremia mengenal dirinya, khususnya kekurangan yang ada (perhatikan tafsiran Yeremia 1:4-10), dan kekurangan itu membuat ia minder dan menolak panggilan Allah untuk menjadi utusan-Nya di tengah bangsa-bangsa.
Kaitkan dengan GKI yang berulang tahun ke-19. Berikan contoh-contoh kekuatan dan kelemahan GKI, seperti antara lain:
- Usia yang masih cukup muda, apalagi bila dikaitkan dengan tafsiran kata naar, bisa menjadi hambatan untuk berkarya (minder dan dianggap masih “anak kemarin sore” yang belum berpengalaman), namun kemudaan itu bisa juga dipandang sebagai potensi kekuatan yang penuh energi dan vitalitas. Kemudian bisa ditambahkan I Timotius 4:12, yaitu panggilan pelayanan kepada Timotius di tengah masa mudanya. Kemudaan tidak menghalangi kita untuk jadi berkat: menjadi teladan bagi sesama.
- Kegagapan atau kecanggungan sebagai kelompok minoritas (bila dikaitkan dengan sebagian besar anggotanya yang keturunan Tionghoa, maka menjadi minoritas ganda) yang pada gilirannya membuat kita enggan dan takut melangkah serta berperan di tengah pergumulan masyarakat
- Keberagaman anggota jemaatnya, bisa dilihat sebagai sumbangsih kita di tengah bangsa yang belakangan cenderung menghapuskan perbedaan dan keberagaman, bahwa GKI bisa membuktikan keberagaman bukanlah sumber konflik semata tapi juga bisa menjadi daya tarik untuk saling melengkapi dan memperkaya.

(2). Menerima panggilan Tuhan
Setelah mengenal diri dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, kita menerima panggilan Tuhan menjadi mitra kerja-Nya. Dalam PD II, sebuah gereja di Munster rusak kena bom. Patung Kristus di situ juga rusak. Kedua lengan patung itu putus. Tinggallah patung Kristus itu berdiri tanpa tangan. Kemudian di bawah patung itu orang menulis: “Aku tidak mempunyai tangan selain kamu. Kamulah tanganKu.” Allah masih terus berkarya sampai saat ini bagi kebaikan dunia. Dia bekerja mengikutsertakan kita. Dia memanggil kita. Bagian kita adalah menerima panggilan itu dengan penuh syukur.
- Menerima panggilan Tuhan itu merupakan ibadah (perhatikan tafsiran Ibrani 12:18-29, khususnya tentang kata abodah), itulah tempat kita berjumpa dengan-Nya yang telah membuang segala hambatan yang selama ini menghalangi kita bersekutu dengan-Nya, sekaligus sarana kita mengabdi dan melayani Tuhan dan sesama.
- Menerima panggilan Tuhan bukan berarti kita merasa sanggup melakukan segalanya dengan kekuatan sendiri, melainkan meyakini bahwa Tuhan menyertai, menolong dan memberi kekuatan kepada kita untuk memenuhi tugas panggilan itu dengan setia (perhatikan tafsiran Yeremia 1:8-10).
Kaitkan dengan GKI melalui contoh-contoh panggilan pelayanan di tengah lingkungan kita masing-masing (sesuaikan dengan kondisi jemaat setempat) yang masih didominasi: kemiskinan, upaya pembodohan, ketidakadilan, penindasan, pluralitas, kekerasan, tingginya angka pengangguran dan kriminalitas. Ingatlah di tengah kondisi itu, GKI dipanggil untuk berkarya; dan kalau kita bisa memenuhi panggilan itu, karena Tuhan yang menolong dan memampukan kita sehingga tidak ada tempat untuk meninggikan diri.

(3). Setia memenuhi tugas panggilan walau banyak hambatan
Di tengah pelayanan-Nya di dunia, Yesus menemui banyak hambatan dari lingkungan sekitar-Nya. Ketika orang Yahudi, terkhusus para ahli Taurat saat itu jatuh pada legalisme, yang secara membuta menerapkan hukum sehingga menghambat karya kasih bagi sesama yang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan, Yesus maju terus memenuhi tugasnya menyampaikan kabar baik bagi semua orang. Sikap Yesus ini bukan sikap asal tabrak peraturan yang ada, namun Ia mau mengembalikan aturan atau hukum ke tempatnya semula, yaitu menolong kita untuk memiliki keteraturan dalam hidup bersama orang lain, bukan sebaliknya menghalangi kita untuk berinteraksi dengan sesama.
Kaitkan dengan GKI yang juga mendapatkan hambatan di sana-sini dari lingkungan sekitar maupun dari dalam. Berikan contoh-contoh kongkrit sesuai konteks jemaat setempat. Bisa juga dikaitkan dengan Tager GKI yang hampir sama tebalnya dengan Alkitab, bahkan kemudian tidak jarang menggantikan peran firman Allah dalam mengambil keputusan atau kebijakan tertentu di tengah pelayanan. Ingatkan agar jemaat meletakkan Tager GKI pada tempatnya sehingga membuat kita tidak jatuh pada legalisme (membabi buta menerapkan aturan) dan anarkisme (membuta pada aturan sehingga hidup seenaknya sendiri).
Semua hambatan itu tidak menghalangi kita memenuhi dengan setia tugas panggilan kita di tengah dunia ini.

3. Penutup
Khotbah diakhiri dengan ajakan untuk mensyukuri ulangtahun ke-19 GKI dan memaknai bertambahnya satu tahun lagi usia GKI dengan terus setia melakukan panggilan kita sebagai gereja di tengah masyarakat sehingga kehadiran GKI tidak dilihat sebagai ancaman atau batu sandungan yang perlu disingkirkan, melainkan kehadirannya dirindukan dan dinanti-nantikan karyanya karena mendatangkan berkat dan kebaikan bagi sekitarnya.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It