FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

August 2, 2007

SIAP SEDIA DALAM KARYA KESELAMATAN

Filed under: Rancangan Khotbah — Martin @ 3:21 am

Minggu, 12 Agustus 2007
Pdt. Rasid Rachman
GKI Perumnas-Tangerang

Bacaan I : Yesaya 1:1, 10–20;
Bacaan I I : Ibrani 11:1-3, 8-16;
Bacaan I II : Lukas 12:32-40

A. DASAR PEMIKIRAN
Gereja adalah “bahtera” yang sedang berarakan menuju “tanah perjanjian” atau “pelabuhan abadi”. Ada banyak hal yang harus dilakukan oleh gereja di dalam proses perjalanan tersebut.
Beberapa hal yang dapat kita tarik sebagai benang merah dari ketiga pembacaan ini adalah sebagai berikut:
1. mempersiapkan diri untuk berjalan ke muka
2. iman berkaitan dengan keberanian menghadapi masa depan.
3. taat dalam pengharapan merupakan kunci iman Kristen.

Proses perjalanan tersebut adalah sebuah persiapan. Siap sedia dalam menyambut memasuki kerajaan Allah. Siap sedia menyambut Tuhan.

B. TAFSIRAN HOMILETIK
Yesaya dibuka dengan “penglihatan”, yakni penglihatan akan masa depan. Masa depan harus dimasuki dengan persiapan, bukan dengan “mata gelap”. Memasuki masa depan dengan “mata gelap” dilakukan oleh orang Israel. Mereka terlalu ber-putar2 hanya pada soal2 lahiriah dan ritualisme: doa2, kurban2, persembahan, dan nyanyian2, sehingga tidak proporsional. Pada satu pihak Israel giat beribadah, pada pihak lain Israel melakukan perbuatan jahat. Padahal TUHAN membenci hal tersebut; perayaan2 ibadah Israel penuh dengan kejahatan.
Yesaya mengajarkan hal persiapan tersebut. Yang TUHAN kehendaki adalah menjauhkan hal2 jahat dan belajar berbuat baik. Bukan ritualisme, melainkan perbuatan baik yang membawa kebaikan. Bukan tangan yang penuh dengan darah (1:15), melainkan mengusahakan keadilan, mengendalikan orang kejam, membela anak2 yatim, dan memperjuangkan perkara janda2lah yang dikehendaki TUHAN (1:17). Jika niat dan kesadaran berbuat baik sudah dimiliki oleh Israel, niscaya Israel akan memakan hasil yang baik. Kesadaran akan perlunya mempersiapkan diri akan memberi hasil yang baik.
Berdasarkan surat Ibrani, mempersiapkan diri di sini dikaitkan dengan menantikan pengharapan akan janji Tuhan. Taat pada TUHAN, taat pada panggilan-Nya. Ketaatan dalam menantikan pengharapan adalah kuncinya; seperti Abraham (dalam surat Ibrani) taat akan panggilan Allah.
Iman menjadi dasar untuk mengharapkan janji Allah (11:1) sekalipun dalam situasi yang tiada berpengharapan. Karena iman itulah, Abraham taat di dalam pengharapan. Abraham tinggal di tanah yang dijanjikan-Nya se-olah2 di tanah asing (Ib 11:9) supaya pengharapan itu tetap ada. Abraham yang telah mati pucuk (Ib 11:12) taat akan janji banyaknya keturunannya. Pengharapan laksana orang yang cuma melihat dari jauh kota perjanjian dan tetap tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu (Ib 11:13). Taat dalam pengharapan merupakan bukti iman. Ketaatan itu melampaui akal budi (11:3 “apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat”).
Pengharapan yang didasarkan oleh iman adalah pengharapan seorang hamba yang siap sedia sekalipun tidak mengetahui kapan tuannya pulang. Siap sedia yang dilakukan adalah siap sedia di dalam melakukan karya keselamatan. Bagaimanakah caranya? Ada dua hal, yaitu:
1. berbuat baik dengan sedekah atau derma
2. waspada menyambut tuannya datang

Dunia yang penuh dengan berwacana dan ide2, berbuat baik adalah hal yang relevan. Gereja harus menjadi juru kampanye berbuat kebaikan kepada dunia. Berbuat baik kepada korban2 bencana, orang2 yang membenci kita, dan musuh2 kita. Berbuat baik tanpa pandang bulu merupakan salah satu cara siap sedia di dalam karya keselamatan.
Selain berbuat baik, waspada adalah hal yang sangat perlu. Ketidakwaspadaan hanya menyebabkan gereja melakukan karya keselamatan secara tidak strategis dan grasa-grusu. Sang hamba harus waspada supaya tidak asal responsif: berbuat baik hanya setelah ada musibah atau kalau ada permintaan pertolongan. Waspada dan ber-jaga2 menantikan tuannya datang adalah mempersiapkan segala yang hal akan lazim terjadi.

SARAN PENYUSUNAN KHOTBAH
1. Berikan analogi tentang Gereja adalah gereja yang sedang berjalan, laksana bahtera sedang berlayar.
2. Berikan tafsiran homiletis dari Injil, Perjanjian Lama, dan Surat.
3. Kembali lagi kepada pesan Injil.
4. Berbuat baik harus terencana sehingga tidak dijalankan tanpa strategi.
5. Berikan aplikasi: Kematangan dan kedewasaan Gereja diukur oleh persiapan startegis yang dilakukannya untuk berbuat kebaikan.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It