FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

June 24, 2008

Berperang Melawan Dosa

Filed under: Rancangan Khotbah — Martin @ 5:15 pm

Pdt. Willy Darmawan
Rancangan Khotbah GKI 6 Juli 2008
Sekum GKI SW Jateng

Tema : Berperang Melawan Dosa
Bacaan I : Kej 24: 34-38
Antar Bacaan : Mzm 45: 11-18
Bacaan II : Rm 7: 15-26
Bacaan III : Mat 11: 16-19, 25-30
Tujuan : Anggota Jemaat menyadari adanya kuasa dosa yang bekerja di dalam diri
mereka, sehingga tidaklah cukup bagi mereka hanya mengandalkan kesalehan dan kekuatan diri mereka sendiri, tetapi mereka sungguh-sunguh harus mengakui dengan rendah hati bahwa mereka membutuhkan pertolongan dan anugerah Tuhan.

I. DASAR PEMIKIRAN

Agustinus, salah seorang Bapa Gereja, mengatakan bahwa manusia tidak akan merasa sejahtera dan damai bilamana kerinduan ini belum terpenuhi, alias dia belum bertemu Tuhan. Kerinduan ini melekat pada diri manusia, dan menjadi dorongan instingtif manusia untuk mencari Tuhan, atau paling tidak meyakini adanya Tuhan. Dalam literatur tentang keberagamaan, dorongan seperti ini seringkali disebut sebagai “semen relijius”. Dalam konteks yang lebih modern, barangkali hal ini bisa dikaitkan dengan penemuan baru mengenai bagian otak manusia yang disebut “God Spot”. Adanya berbagai macam kepercayaan serta agama-agama, termasuk agama wahyu di dunia ini, dengan penganutnya masing-masing, barangkali dapat dimengerti sebagai manifestasi dari intuisi manusia yang paling mendasar ini.
Salah satu persoalan yang dihadapi oleh penganut kepercayaan dan agama adalah tentang “dosa”. Manusia selalu berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan “Tuhan”. Dan kalau dirinya merasa bersalah, atau berdosa, manusia akan berusaha berdamai lagi, melalui beragam cara seperti memberi sesaji. Dalam pandangan teologis Kristen, semua manusia itu berdosa. Rasul Paulus, misalnya, dalam Roma 3: 23 pertama-tama menyatakan bahwa semua manusia itu telah berbuat dosa, dan hal itu mengakibatkan dirinya kehilangan kemuliaan Allah. Ini terjadi karena pelanggaran Adam (Rm 5: 15 b). Akibat ulah “Manusia Pertama” ini, seluruh generasi manusia kemudian tak dapat melepaskan diri dari “kutukan dosa”. Manusia juga tidak dapat melepaskan diri dari perbuatan dosa ini meskipun mendapatkan hukum-hukum Allah, seperti Hukum Taurat. Namun demikian, manusia juga memiliki keinginan untuk berbuat baik, dan melalui hukum itu tahu bagaimana seharusnya. Akan tetapi melakukan yang baik itu ternyata sulit terjadi. Hal ini dapat membuat manusia “frustrasi” sehingga berteriak seperti Rasul Paulus: “Aku, manusia celaka…” (Rm 7: 24).
Kerinduan yang inheren untuk mengikut Tuhan dan kegagalan manusiawi untuk tidak berbuat dosa ini dapat menjadi beban berat bagi manusia. Agama dan hukum-hukumnya, seperti Hukum Taurat, tidak membuat manusia lebih merdeka dan sejahtera. Sebaliknya, agama dan tuntutannya dapat menjadi beban berat dalam hidup manusia. Namun Tuhan dengan kasih-Nya menjawab frustrasi manusia ini dengan memberikan anugerah yang besar dalam Kristus (Rm 7: 25). Yesus Kristus menjadi jawaban bagi kerinduan manusia, dan oleh anugerah-Nya manusia beriman dilepaskan dari beban berat kehidupan ini. Dan kepada manusia yang rindu, Tuhan Yesus Kristus dengan lembut memanggil: ” Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11: 28). Anggota jemaat yang menanggung beban berat dalam hidupnya dan merindukan kelegaan kiranya mendengarkan ajakan Tuhan ini.

II. TAFSIRAN SINGKAT

1. Kej 24: 34-38
Ayat-ayat ini merupakan bagian dari perikop panjang mengenai penemuan Ribka sebagai istri Ishak. Abraham yang waktu itu berumur sekitar 140 tahun, berharap Ishak (40 tahun) segera memperoleh istri sebelum ia meninggal. Ia menyuruh Eliezer, hambanya yang paling tua, untuk menemukan, dan sekaligus meminang calon istri bagi Ishak, dari kalangan rumpun keluarga Abraham di kota Nahor di Aram-Mesopotamia. Supaya Eliezer tidak menipunya dengan memberikan seorang perempuan Kanaan untuk Ishak, Abraham meminta Eliezer bersumpah. Tugas Eliezer menjadi “comblang” ini tidak mudah. Untuk itu, Eliezer meminta petunjuk dari Tuhan. Tuhan menjawab doanya, dan tanda yang diberikan begitu jelas. Eliezer tidak lagi ragu-ragu memastikan Ribka sebagai calon istri yang dipilihkan Tuhan bagi Ishak, dan kemudian meminangnya dari Betuel, ayah Ribka.

Ayat 34-39 menceritakan bagaimana Eliezer meminang Ribka di hadapan Laban, saudara Ribka, dan Betuel, ayah Ribka. Eliezer belum mau makan hidangan yang disuguhkan Laban, sebelum ia menyatakan maksud dan tujuannya. Dan ia menceritakan siapa dirinya, Abraham dan Ishak, anaknya, yang dilahirkan ketika Sara, istri Abraham, ketika usianya sudah tua. Abraham diberkati Tuhan dengan kambing domba dan lembu sapi, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai. Abraham menjadi orang kaya, dan semua kekayaan itu akan jatuh ke tangan Ishak, anak lelakinya.

Skenario cerita seperti itu tampaknya penting sebelum seseorang mengajukan lamaran. Jadi pada jaman dulu, aspek “bibit, bobot, bebet’ (Jawa) sudah diperhatikan ketika orang mencari jodoh. Dan cerita tentang sumpah yang diucapkan Eliezer di depan Abraham, tentu ikut berperan meyakinkan keluarga Betuel mengenai kesungguhan Eliezer meminang Ribka bagi Ishak.

2. Mazmur 45: 11-18
Mzm 45 merupakan suatu “sajak kepada raja” (Barth-Pareira, 2001: 457), sehingga dikelompokkan dalam “mazmur-mazmur raja”. Mazmur ini merupakan suatu nyanyian dalam acara pernikahan seorang raja. Ada kemungkinan yang dimaksudkan adalah pernikahan raja Salomo, yang memiliki banyak istri dari luar negeri. Ayat-ayat 3-10, 17-18 secara langsung menyapa sang raja, tetapi ayat-ayat 11-16 lebih banyak berkata-kata tentang sang permaisuri istri raja. Kalimat-kalimat dalam Mzm ini puitis, namun demikian beberapa daripadanya sulit dimengerti.

Ayat 11-16 berwujud nasihat dan pujian bagi calon permaisuri raja. Sebagai calon permaisuri, “puteri” diajak melepaskan ikatan dengan keluarga dan bangsanya. Nasihat ini logis, karena ia akan menjadi istri raja. Biarlah sekarang fokus perhatiannya adalah raja, dan ia harus siap mengabdi kepada raja sebagai tuannya. Nasihat ini dipandang penting oleh Pemazmur karena dari sejarah dapat dilihat bahayanya istri raja yang berasal dari bangsa asing.

Dalam ay. 13 digambarkan apa yang akan terjadi kelak ketika dia menjadi permaisuri. Puteri dari negeri asing, atau penduduk kota Tirus, akan datang membawa persembahan bagi sang raja. Demikian pula orang-orang kaya di dalam negeri. Mereka akan ‘mengambil muka’ dengan membawa persembahan, juga bagi sang permaisuri. Tetapi persembahan juga dapat merupakan pengakuan akan kekuatan dan keunggulan sang raja.

Dalam ay. Berikutnya, sang puteri disanjung-sanjung. Keindahannya memancar dari dalam dan luar. Pakaian keemasan yang penuh dengan sulaman akan membuatnya terlihat anggun berwibawa. Bagi sang raja sendiri, sang puteri akan kelihatan elok dan memikat, ketika ia dibawa kepadanya dengan iringan para teman atau dayang-dayang. Prosesi ini akan diringi sorak-sorai sukacita dari dari hadirin dan hartawan yang hadir di istana. Puisi ini menggambarkan kemeriahan acara pernikahan sang raja.

Menurut Barth-Pareira, Mzm ini seringkali dipakai untuk menggambarkan “pengharapan mesianis’ ketika tidak ada lagi raja-raja di Israel sesudah pembuangan. Dalam tradisi Kristen, Mzm ini digunakan untuk memuji-muji Kristus (Ibr 1: 8-9), dan dilihat sebagai “nyanyian pernikahan antara Kristus dan gereja-Nya”.

3. Rm 7: 15-26
Ayat-ayat ini berada dalam perikop mengenai hukum Taurat dan dosa. Rasul Paulus menceritakan perjuangannya untuk melaksanakan hukum Taurat. Ia memiliki kehendak untuk berbuat baik. Namun, ternyata ia tidak sanggup. Hukum Taurat bersifat rohani, dan baik. Bagi rasul Paulus, Taurat bukan sekedar buku ritual keagamaan atau standar moralitas saja. Sebagai hukum rohani, Taurat menukik ke dalam nurani manusia, dan selalu memeriksa batin manusia. Tetapi ia bersifat jasmani, masih hidup dalam daging, yaitu berada dalam kekuasaan dosa. Dan dari dirinya sebagai manusia yang demikian ini, tidak ada yang baik (ay. 16.a). Karena itu ia selalu gagal untuk melaksanakan tuntutan Taurat secara benar, dan Taurat menuduhnya sebagai orang berdosa.

Keterbatasan insaninya sebagai darah dan daging ini tidak hanya menghalanginya untuk berbuat baik sesuai tuntutan hukum Taurat, tetapi juga menyebabkannya justru melakukan apa yang jahat. Sebetulnya rasul Paulus tak ingin melakukan yang jahat, namun tubuhnya menjerumuskannya ke dalam perbuatan yang jahat itu. Ini dirasakannya sebagai akibat dosa yang melekat pada dirinya sebagai manusia, Situasi ini menyebabkannya merasa frustrasi sehingga ia berseru: “Aku, manusia celaka…” (ay. 24)

Perbedaan antara kehendak berbuat baik yang muncul dalam akal budinya, dengan
perbuatannya yang jahat karena pengaruh dosa yang melekat pada anggota-anggota tubuhnya, menyebabkan rasul Paulus mengalami “split personality”. Kata hati atau akal budinya tahu bahwa ia melakukan yang jahat, tetapi ia tak kuasa mencegahnya karena anggota-anggota tubuhnya dikuasai nafsu jahat. Hal ini tentu menyebabkan rasul Paulus menderita. Dan baginya, semua perbuatan jahat yang ia benci itu terjadi karena adanya kuasa dosa yang berdiam di dalam dirinya.

Kondisi seperti itu disebut rasul Paulus sebagai sebuah hukum (ay. 21). Batinnya suka akan hukum Allah, dan ia memiliki kehendak berbuat baik, tetapi pada saat yang sama ada hukum lain yang menentangnya, yang bekerja di dalam anggota-anggota tubuhnya. Inilah hukum dosa, yang membuatnya frustrasi itu. Rasul Paulus merindukan kelepasan dari kontradiksi dalam dirinya. Ia sendiri merasa tidak sanggup. Ia berseru meminta “orang” lain menolongnya. Dan ternyata pertolongan itu didapatkannya dalam Yesus Kristus. Karenanya ia mengucap syukur kepada Allah. Walaupun demikian, persoalan belum selesai dengan tuntas. Ia berkata: “… dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.” (ay. 26). Tetapi barangkali inilah pergumulan situasional yang akan selalu dihadapi orang percaya: Ingin melakukan yang baik, tetapi seringkali justru berbuat jahat. Kuasa dosa terlalu kuat melekat di dalam diri manusia. Hanya oleh anugerah, dan oleh kuasa, Kristus manusia dapat dilepaskan dari frustrasi keagamaan ini.

4. Mat 11: 16-19, 25-30
Mat 11: 16-19 berada dalam perikop mengenai Yesus dan Yohanes Pembaptis. Dalam perikop ini dikisahkan pandangan Yesus tentang Yohanes. Di mata Tuhan Yesus, perintis-Nya ini adalah orang yang besar, bahkan yang terbesar dari semua orang yang pernah dilahirkan perempuan sebelumnya. Namun pada ayat 16-19 ini yang diungkapkan adalah kecaman Yesus terhadap orang Yahudi yang menolak Yohanes, dan sekaligus juga menolak diri-Nya.

Selain merupakan kecaman terhadap mereka yang menolak-Nya, dari sisi lain, ayat 16-19 ini bisa dikatakan merupakan gambaran dari orang atau se kelompok orang yang mengalami kesulitan memahami orang lain. Istilah modernnya: “communication gap”. Dalam sebuah keluarga, gap ini menyebabkan ayah dan ibu sulit mengerti bahasa anak-anak remaja mereka yang beranjak dewasa, dan sebaliknya. Dalam masyarakat, gap ini menyebabkan munculnya kesulitan untuk mengerti bahasa (verbal maupun non verbal, dan gesture) kelompok lain.

Dalam perikop ini Tuhan Yesus memakai metafora se kelompok anak dan teman-temannya, untuk menggambarkan sikap dan perilaku masyarakat pada waktu itu. Se kelompok anak-anak (dengan sengaja) ingin berdialog dengan se kelompok anak-anak lain. Pertama-tama mereka meniup serling, dan mengharapkan teman-temannya menari. Tapi ini tidak terjadi. Kemudian mereka menyanyikan kidung duka, dan berharap teman-temannya menangis. Tetapi itu tidak terjadi. Harapan dan kenyataan berbeda, karena ada hambatan komunikasi.

Perumpamaan ini kemudian secara eksplisit digunakan Tuhan Yesus untuk menggambarkan sikap kebanyakan orang-orang Yahudi pada waktu itu, yang disebutnya “angkatan ini”, kepada Yohanes Pembaptis dan diri-Nya sendiri. Yohanes itu hidupnya seperti pertapa. Ia hidup dan berkarya ‘di padang gurun’ (Mat 3). Pakaiannya terbuat dari bulu unta dan memakai ikat pinggang kulit. Makanannya juga luar biasa, yaitu belalang dan madu hutan. Penduduk Yerusalem dan seluruh Yudea dan daerah sekitar Yordan datang kepadanya. Dan kepada mereka Yohanes menyerukan pertobatan karena Kerajaan Allah sudah dekat. Matius mencatat bahwa mereka yang mendengarkan Yohanes bertobat dan dibaptiskan.

Namun demikian, ada juga sebagian orang yang menolak seruan Yohanes, dan sinis terhadap gaya hidupnya yang asketis. Kelompok inilah yang oleh Yesus dikatakan mencap Yohanes Pembaptis sebagai orang yang kerasukan setan. Kelompok ini jugalah yang menolak Yesus yang gaya hidupnya “biasa-biasa saja”. Yesus yang bergaul dan mau makan bersama “orang-orang berdosa dan pemungut cukai” (Mat 9: 9-13), mereka tuduh sebagai pelahap dan peminum, dan sebagai sahabat orang berdosa.

Penolakan terhadap Yohanes Pembaptis dan Yesus terjadi karena mereka tidak dapat mengerti, dan tidak mau mengerti, siapakah Yohanes dan Yesus itu. Padahal Yohanes itu orang besar, “Elia” yang datang lagi, dan seorang Pendahulu Yesus untuk mempersiapkan jalan Tuhan. (Mat 3: 3 dan 11: 10). Sedangkan Yesus adalah Mesias yang akan menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Mengapa ‘angkatan’ini gagal memahami Yohanes dan Yesus? Sebab utamanya adalah karena mereka bergeming dengan dengan konsep mesianis yang lama, yang sudah mentradisi, yang menggambarkan mesias itu seperti raja Daud yang akan berperang membebaskan mereka dari penjajahan asing (Kis 1: 6). Mereka bersikukuh dengan paham lama mengenai kebenaran (sendiri). Mereka telah menjadi kelompok konservatif keras kepala, yang merasa tak memerlukan pemahaman baru ataupun pembaharuan paham.
.
Dengan mereka Yesus tak mau berdebat. Tuhan hanya katakan bahwa kebenaran atau hikmat Allah akan dinyatakan dalam perbuatan. Bukan pernyataan, tetapi karya nyata, akan menyatakan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam Yesus, melalui perbuatan dan pengajaran-Nya, banyak orang menemukan Allah, dan mendapatkan jalan hidup yang membawa damai sejahtera.

Mat 11: 25-30:
Perikop ini diberi judul LAI: Ajakan Juruselamat. Dalam ayat 25-27, Yesus mengungkapkan pengalaman-Nya selama ini. Mereka yang terdidik secara intelektual dan dalam memahami kitab-kitab (suci), kebanyakan menolak-Nya. Mereka yang dipandang bijak dan disebut kaum cerdik-pandai, justru tidak dapat memahami jaran dan ajakan-Nya. Tampaknya intelektualitas tidak berbanding lurus dengan pemahaman mengenai ajaran Yesus. Tetapi hati manusia, adalah kunci untuk percaya dan menerima-Nya. Karena itu justru mereka yang rendah hati, mereka yang disebut orang kecil, mereka yang jauh dari gelar-gelar akademik, adalah mereka yang paling terbuka bagi pemahaman baru mengenai kebenaran dan keselamatan yang diajarkan Yesus. Oleh Tuhan Yesus hal ini disebut sebagai yang berkenan kepada Bapa, dan untuk itu Ia mengucap syukur.

Ayat 27 mengungkapkan klaim Tuhan Yesus tentang diri-Nya sebagai Anak Allah. Tidak seorang pun dalam pencariannya akan Tuhan dapat mengenal Allah Bapa. Yang dapat membawa seseorang kepada pengenalan yang benar akan Allah Bapa hanya Anak, yaitu diri-Nya sendiri. Hanay Anak yang mengenal Bapasecara sempurna, dan kepada orang yang berkenan kepada-Nya, Ia menyatakan siapa Bapa.

Ayat 28 merupakan undangan Tuhan Yesus kepada mereka yang merasa letih lesu dan menanggung beban berat dalam hidupnya. Terutama mereka yang rindu berat untuk menemukan Tuhan dan kehendak-Nya, serta rindu untuk hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya. Mereka yang merasa tertekan oleh tuntutan agama yang mereka anut, dan menghayati kehidupan beragama sebagai “kewajiban” belaka sehingga tidak menemukan damai sejahtera dan sukacita di dalamnya, diundang untuk datang kepada Yesus. Dalam Yesus keselamatan adalah anugerah, dan hidup baik adalah pengucapan syukur. Dalam Yesus, Roh Kudus dicurahkan untuk memimpin orang percaya kepada kebenaran dan hidup yang membebaskan. Kuk, yang akan dipasangkan oleh-Nya pas di leher, dan terasa menyenangkan. Penyerahan diri kepada-Nya, akan menjadi kebahagiaan abadi bagi orang percaya.

III. SARAN PENYUSUNAN KOTBAH

1. Sebagai pembukaan, anggota jemaat diajak “berdiskusi” tentang susahnya mengatasi ‘keinginan daging’ yang kurang baik. Contoh sederhana bisa diambil dari Kitab Amsal 6: 10-11 atau 24: 33 (ayat-ayat ini bisa dijadikan Kata Pembukaan ibadah). Firman Tuhan mengingatkan bahayanya kalau kita bermalas-malasan. Bisa-bisa kita jatuh miskin. Tetapi kalau pun tidak miskin, bisa-bisa kondite kita kurang baik karena sering terlambat ke acara atau menemui orang sesuai janji. Kita sedikit banyak tahu tentang hal itu. Tapi…, tampaknya kita suka juga “…berbaring sebentar lagi, tidur sebentar lagi…”, dst.
2. Ajukan pertanyaan kenapa kita suka dengan kebiasaan seperti itu? Jawabannya: “Habis enak sih…, berbaring, tidur, bermalas-malasan… Apalagi kalau badansedang capai.” Yah, seperti itulah dosa. Seringkali orang terus melakukannya karena ‘enak…’ Hal itu tidak hanya berlaku untuk ‘dosa’ seperti bermalas-malasan. Dosa berzinah, bohong atau menipu, bahkan korupsi dan melakukan kekerasan terhadap orang lain, bisa dibilang ‘enak’ juga. Walaupun tentu ada resikonya. Selain bisa kena hukuman manusia kalau ketahuan, dosa juga akan dikenai hukuman oleh Allah, dan pada tingkat terakhir adalah hukuman (kematian) kekal.
3. Berkaitan dengan ‘enak’ nya dosa dan ancaman hukuman yang menantinya, ada cukup banyak orang yang tidak peduli. Mereka ini adalah golongan yang suka berkanjang dalam dosa, atau termasuk kelompok orang fasik…Akan tetapi tidak sedikit orang yang amat sedih kalau jatuh ke dalam perbuatan dosa. Ada perasaan bersalah yang amat mendalam menusuk ke dalam hati nurani mereka. Kadang ada ketakutan juga terhadap hukuman Allah, tetapi ada juga yang menjadi sedih karena tidak mampu melakukan hal yang baik yang dirasa sudah seharusnya dilakukan. Sebagai contoh, ceritakan pergumulan rasul Paulus, sebagaimana tersirat dan tersurat dalam Roma 7: 15-26 (Bacaan II). Pada satu sisi ia ingin melakukan yang baik, tetapi yang seringkali diperbuatnya adalah yang jahat yang dia benci. Hal ini menyebabkannya seperti “frustrasi” (7:24).
4. Selain rasul Paulus, tokoh lain yang bergumul berat dengan persoalan ini adalah Martin Luher. Rahib yang satu ini sangat takut kepada kematian kekal, kepada hukuman Tuhan. Karena itu selama menjadi rahib, ia berjuang keras sekali untuk hidup suci dan memenuhi kaulnya. Tidak jarang ia berpuasa sampai pingsan, supaya hatinya menjadi tenang dan tidak gelisah karena merasa bersalah. Tapi hal itu tidak pernah terjadi. Kegelisahan dan ketakutan terhadap hukuman Tuhan selalu menghantuinya. Ketakutan ini baru hilang setelah dia membaca dan mengerti Roma 1: 16 dan 17, yang kemudian dijadikannya intisari teologinya: Sola fide sola gratia. Hanya iman, hanya anugerah, yang menyelamatkan…bukan usaha dan perjuangan manusia, termasuk perjuangan melawan dosa.
5. Penerapan: kita seyogyanya berusaha untuk tidak melakukan dosa. Apalagi berkanjang di dalamnya. Kita harus berjuang melawan dosa, dengan mengembangkan kebajikan dan kekudusan seperti yang dikehendaki Tuhan. Nurani atau batin kita harus dilatih untuk itu. Namun demikian, ada kalanya kita gagal dalam perjuangan, dan jatuh ke dalam dosa. Yang kita perlukan adalah kerendahan hati dan keterbukaan untuk mengakuinya di hadapan Tuhan. Dan kemudian jangan mau dituduh oleh hati nurani sendiri atau dikuasai rasa bersalah. Kalau kita meminta pengampunan, Tuhan akan memberikannya dengan berlimpah seturut anugerah-Nya yang besar. Dan kalau kita meminta Roh Kudus menolong kita untuk berbuat baik dan memelihara kekudusan, Dia akan datang menolong kita. Dengan datang kepada Tuhan Yesus dan menyerahkan diri serta pergumulan kita, kita akan menerima dama sejahtera-Nya. Hal ini sesuai dengan janji-Nya dalam Mat 1: 28-29 (Bacaan Injil), yang mengatakan bahwa barang siapa menangung beban berat dan letih lesu dalam perjuangan melawan dosa, Ia akan memberikan kelegaan. Sola fide, sola Gratia…

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It