FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

June 24, 2008

INTEGRITAS IMAN DAN TINDAKAN

Filed under: Rancangan Khotbah — Martin @ 4:44 pm

Pdt. Arliyanus Larosa
Rancangan Khotbah untuk GKI, 1 Juni 2008
Pendeta Jemaat GKI Basis Pelayanan GKI Kepa Duri – Jakarta Barat

Tujuan:
Anggota jemaat dimampukan untuk melaksanakan kehendak Allah dengan menghayati integritas imannya yang dinyatakan dalam perbuatan, sehingga kehidupan mereka menjadi kesaksian yang mempermuliakan nama Allah

TEKS
Bacaan I : Kej. 6:9-22
Antar Bacaan : Mzm. 46
Bacaan II : Rm. 1:16-17
Bacaan III : Mat. 7:21-29

DASAR PEMIKIRAN
“DICARI PEMIMPIN YANG MEMILIKI INTEGRITAS!” Kalimat seperti ini sering terlontar ketika ada pembicaraan atau diskusi tentang kepemimpinan di negeri kita ini. Yang dimaksud dengan pemimpin yang memiliki integritas adalah pemimpin yang dapat dipercaya, pemimpin yang tidak omdo (omong doang), melainkan yang melakukan apa yang ia katakan atau janjikan. Pemimpin yang berintegritas adalah pemimpin yang memperlihatkan kesatuan antara kata dan perbuatan.
Ketika kata ”dicari” dibubuhkan di depan kalimat tersebut, maka itu berarti negeri ini tidak memiliki (minimal nelum memunculkan) pemimpin yang berintegritas. Dan, kalau mau jujur, memang demikianlah adanya. Negeri kita ini memang kekurangan pemimpin yang dapat dipercaya. Para pemimpin yang dimiliki negeri ini lebih banyak yang senang mengeluarkan kata-kata manis tinimbang perbuatan yang baik. Mereka lebih senang mengumbar janji, tetapi gagal memenuhinya. Mereka memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang seharusnya, tetapi pengetahuan itu gagal menggerakkan mereka untuk melakukan hal-hal yang baik bagi rakyat yang memilih mereka.
Tapi, hal ini tidak hanya menjadi milik para pemimpin politik. Negeri kita ini dalam berbagai aspek dan aras kehidupan sosial, memang kekurangan orang yang memiliki integritas. Di tengah keluarga, anak-anak kehilangan figur orangtua yang memiliki integritas, yang menjadi panutan, yang dapat dipercaya, yang perkataan dan nasihat-nasihatnya menyatu dengan perbuatannya. Orangtua lebih senang memberi peraturan kepada anak-anaknya, (misalnya buku atau sepatu harus ditempatkan pada tempatnya), tapi mereka sendiri melanggar aturan itu. Di sekolah, para murid kehilangan figur guru yang pantas diteladani. Sebab para guru lebih senang berbicara dan enggan memberi contoh. Mereka mengajarkan agar murid berbicara sopan dan saling menghormati; namun para guru sendiri sering berkata kasar, mengancam, dan tidak menghormati muridnya. Di jalanan, masyarakat kehilangan panutan. Para polisi menganjurkan agar masyarakat mematuhi aturan lalu lintas, namun mereka sendiri sering melanggarnya atau menjebak masyarakat supaya melanggar. Di kantor-kantor pemerintahan, masyarakat mengalami kebingungan. Sebab, di berbagai tempat terpampang tulisan yang melarang memberi uang jasa atau memanfaatakan jasa calo, tapi para petugas sendiri menawarkan diri jadi calo dan meminta uang jasa. Di gereja, para pelayan berseru tentang keadilan dan pentingnya kesehatian sebagai umat Tuhan, namun mereka sendiri suka bertindak tak adil dan bertikai seorang dengan yang lain.
Masyarakat kita ini kelihatannya memang kehilangan integritas diri. Kita membanggakan diri sebagai bangsa yang religius dan hidup toleran, tapi korupsi tumbuh subur dan konflik terjadi di mana-mana. Situasi seperti ini memerlukan seruan pertobatan! Dan bukan hanya seruan pertobatan melainkan memerlukan suatu teladan. Dan gereja, seharusnya menjadi masyarakat eksmplaris (yang menjadi contoh) di tengah situasi seperti ini. Di sinilah letak relevansi tema khotbah minggu ini.

TAFSIRAN

BACAAN I : KEJADIAN 6:9-12
Teks kita adalah kisah tentang air bah versi P. dalam kisah ini, P terlihat menggiring pembaca untuk memusatkan perhatian pada keputusan dan perintah Allah. Nuh ditampilkan tidak semeriah dalam kisah Y. Tindakan-tindakan Nuh di sini selalu didahului oleh perintah Allah. Dengan cara bertutur seperti ini, P memperlihatkan betapa berdaulatnya Allah, bahwa Allah tidak bergantung pada ciptaan-Nya, serta tidak membiarkan dosa berkelanjutan. Allah memberikan hukuman kepada manusia yang memberontak, namun ia tetap menyisakan baginya beberapa orang, yaitu orang yang bergaul akrab dengan-Nya serta yang mematuhi perintah-perintah-Nya
Kisah Air bah versi P ini dapat dibagi dalam dua bagian. Kej. 6:9-12 merupakan pengantar; Kej. 6:13-13 adalah inti berita.

Hati yang Berpusat pada Allah
Nuh adalah orang yang benar dan tidak bercela di hadapan Allah. Kata benar dan tidak bercela lazim dipakai dalam kaitan dengan ibadah. Jadi, ketika dikatakan bahwa Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela maka itu berarti Nuh adalah orang yang tidak mempunyai halangan dalam hubungannya dengan Allah. Lebih jauh, Nuh adalah orang yang hatinya tidak bercabang kepada sesuatu yang lain. Hatinya hanya terpusat kepada Allah.

Kekerasan di Bumi Menyebabkan Hukuman
Berbeda dengan itu, bumi telah rusak di hadapan Allah. Kerusakan ini bukan kerusakan biasa, melainkan kerusakan di hadapan Allah. Artinya keberadaan bumi sudah tidak sesuai dengan maksud ketika bumi diciptakan oleh Allah. Dalam bumi tidak ada lagi keamanan, kesejahteraan, ketentraman, keselamatan, kedamaian; yang tersisa hanya kekerasan. Kekerasan di sini berarti penindasan serta kesewenang-wenangan, ketidak-taat-an pada hukum dan pemutar-balik-an keadilan. Manusia sudah menjadi serigala bagi sesamanya. Keadaan bumi yang rusak ini bukan isapan jempol belaka, sebab Allah sendiri telah memeriksanya. Dan dari pemeriksaan itu memang terbukti bahwa bumi ini telah rusak. Atas pemeriksaan inilah Allah menjatuhkan hukuman berupa air bah. Jadi, Allah menjatuhkan hukuman bukan dengan sembarangan, tanpa dasar yang kuat. Allah menjatuhkan hukuman setelah memeriksa fakta-fakta di lapangan. Sebab Allah selalu bertindak adil.
Penegasan bahwa hukuman dari Allah atas bumi berupa air bah itu diputuskan bukan secara sewenang-wenang kembali terlihat dalam Kej. 6:13. Di sana tertulis: ”… sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka…” Jadi, hukuman yang Allah berikan itu dapat dikatakan bersumber dari kesalahan manusia, manusia tidak melakukan apa yang benar seperti telah mereka terima dari Allah. Hukuman diberikan bukan karena Allah senang menghukum, melainkan karena dosa manusia. Segala tindakan manusia yang melawan hukum Allah memang ada akibatnya. Dan penghukuman sebagai akibat dosa itu tidak tanggung-tanggung: ”Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk…” Yang akan menerima penghukuman adalah segala makhluk. Dampak dari tindakan penindasan serta kesewenang-wenangan, ketidak-taat-an pada hukum dan pemutar-balik-an keadilan itu ternyata sangat luar biasa; seluruh makhluk akan dimusnahkan oleh Allah dengan air bah. Air bah itu bukan bencana alam, melainkan suatu kesengajaan dari Allah karena dosa manusia.
Hal berikut yang kita temukan dalam teks adalah perintah mengenai pembuatan bahtera serta rincian mengenai ukuran, bahan dan cara pembuatannya. Meskipin semua ini dikisahkan oleh P secara rinci, rasanya sukar bagi kita untuk merekonstruksi bangun bahtera tersebut secara tepat bila mendasari diri pada tuturan P. Dan memang pembaca tidak diharapkan mengarahkan pikirannya pada bentuk bahtera itu, melinkan pada pesan yang termuat di dalamnya. Dengan rincian ini P hendak menegaskan bahwa Allah menyiapkan bahtera keselamatan bagi Nuh secara seksama. Allah sangat memperhatikan keamanan dan keselamatan Nuh. Ia tekah menyiapkan segala sesuatu, sampai hal-hal yang menyangkut kebutuhan akan makanan pun Allah perhatikan dan siapkan (Kej. 6:21). Pada sisi lain, Nuh (baca orang percaya yang memiliki hubungan yang baik dengan Allah) dapat mengetahui rencana dan kehendak Allah, serta hukuman Allah. Jadi, orang percaya melaksanakan perintah Allah tidak dalam keadaan ketidak-tahu-an akan tujuan yang hendak dicapai. Berbeda dengan Y, kisah P menggambarkan bah Nuh mengetahui mengapa dan untuk apa ia diperintahkan oleh Allah untuk membuat bahtera.

Allah Membuat Pengecualian Sudah kita catat di bagian sebelumnya bahwa hukuman yang diberikan Allah itu akan menimpa segala makhluk. Meskipun demikian, Allah tetap menyisakan bagi-Nya orang yang benar dan tidak bercela. Dalam Kej. 6:18 dicatat bahwa Allah membuat pengecualian. Allah berkata kepada Nuh: ”Tetapi dengan engkau akan akan mengadakan perjanjian-Ku,dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu…” Bukan karena sesuatu yang ada dalam diri Nuh maka ia dan keluarganya diselamatkan. Penyelamatan Nuh terjadi semata-mata karena kehendak Allah. Allah dan Nuh bukan rekan yang sederajat yang hendak mengadakan perjanjian. Allah-lah yang mendirikan perjanjian. Allah-lah yang berdaulat. Allah-lah yang menghendaki perjanjian itu. Nuh hanya menerima dan melaksanakan saja apa yang direncanakan dan dikehendaki oleh Allah. Dan Nuh memang dengan patuh melakukan semua yang perintahkan Allah itu secara tepat. Penempatan kepatuhan Nuh setelah Allah selesai memberi perintah ini hendak menegaskan bahwa keputahan Nuh tidak mendahului penyelamatan oleh Allah. Nuh diselamatkan bukan karena ia patuh. Sebaliknya, anugrah Allah berupa penyelamatan yang telah dibeberkan kepadanya itulah yang memungkinkan atau menggerakkan Nuh untuk patuh pada setiap dan semua yang diperintahkan Allah.

Mazmur 46
Mazmur ini merupakan ungkapan pujian atas karya Allah yang memberi pertolongan dalam kesesakan. Di dalamnya terlihat keyakinan yang begitu kuat bahwa Allah pasti memberikan perlindungan dan pertolongan ketika hal-hal yang menghancurkan datang menyerang.

Tafsir Roma 1:16-17
Perikop ini, meskipun pendek, namun di dalamnya termuat inti surat Roma, bahkan ada yang menyatakan sebagai sari dari seluruh teologi Paulus.
Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Artinya, Injil, dan hanya Injil yang dapat menolong manusia melakukan apa yang ia yakini sebagai yang baik dan benar. Di tengah para tiran yang sangat menghancurkan, kepercayaan kepada berita Injil menuntun orang pada kebenaran yang paling BENAR dan memberi kekuatan serta keberanian kepadanya untuk tetap konsisten melakukan apa yang ia yakini sebagai kebenaran. Injil melahirkan iman atau keyakinan, dan iman yang lahir dari Injil inilah yang mengerakkan sikap atau perbuatan. Keyakinan pada Injil membuat seseorang tidak lagi menggantungkan apa yang ia lakukan pada apa yang ia alami dalam keseharian, seperti kerugian material, ancaman jiwa, dan lain-lain; melainkan pada kebenaran yang telah ia yakini tersebut. Lebih jauh, seseorang yang telah percaya pada berita Injil tidak merasa malu untuk memberitakan Injil yang telah ia terima dan yakini tersebut. Bahkan, seseorang yang telah menerima dan meyakini Injil tersebut dan ia malu (enggan) menyaksikannya, sesungguhnya ia telah menyangkal Injil itu sendiri. Sebab, Injil bukan sekedar berita mengenai Allah yang perlu dipahami dan diyakini, melainkan perbuatan Allah yang menyelamatkan yang justru perlu terus-menerus dibuktikan, disaksikan secara konkrit.
Jadi, keyakinan akan Injil menolong, mendorong serta menguatkan seseorang untuk melakukan apa yang ia yakini sebagai kebenaran, yaitu Allah yang menyelamatkan.

Tafsir Matius 7:21-29
Bagian penutup dari Khotbah di Bukit ini berisi ukuran yang dipakai Yesus dalam menilai kesejatian seorang murid atau pengikut-Nya. Sangat jelas bahwa Yesus, menurut pengarang Matius, menekankan ortopraksis (perilaku yang benar) tinimbang ortodoksi (ajaran yang benar). Kesejatian seorang pengikut Yesus dinilai berdasarkan perbuatannya atau sejauh mana ia melakukan apa yang telah diajarkan Yesus.

Ketidakcukupan Karunia
Tidak ada bagian lain dalam Perjanjian Baru yang lebih tajam dari bagian ini dalam menggambarkan hakekat kemuridan. Di sini ditegaskan bahwa hakekat kemuridan, yang adalah partisipasi dalam Kerajaan Allah, ditemukan bukan pertama-tama dalam perkataan-perkataan atau kehidupan keagamaan, bahkan bukan pula di dalam penampilan atau tindakan-tindakan atau karunia spektakuler yang dilakukan dalam atau atas nama Yesus; melainkan dalam melakukan Kehendak Allah. Kehendak Allah, bagi Matius, tersimpan dalam ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh Yesus, seperti tercatat dalam khotbah di bukit.
Dengan perkataan lain, mengaku percaya atau mengakui Yesus sebagai Tuhan, bukan jaminan untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Tuhan, pada saat penghakiman terakhir, tidak membutuhkan kartu identitas atau pengenal atau tanda keanggotaan gereja, melainkan perbuatan. Kata-kata atau ucapan-ucapan atau ajaran-ajaran yang baik tidak pernah bisa mengganti perbuatan-perbuatan yang baik.
Namun, patut dicatat, ini tidak berarti bahwa mengaku Yesus, melakukan mujizat, menjadi anggota gereja itu tidak penting. Bukan itu maksudnya! Semua itu mendapat tempat dalam Kerajaan Allah sejauh semua itu dilakukan sebagai bagian dari pemberlakuan kehendak Allah, dan bukan demi tindakan itu sendiri atau demi diri sendiri.

Dua Orang yang Membangun Rumah
Penekanan akan pentingnya perbuatan yang benar kembali Yesus tegaskan dalam bagian penutup khotbah di bukit ini. Yesus menegaskan bahwa ketika para murid melaksanakan seluruh yang telah Ia ajarkan, pada saat itu mereka sedang membangun dasar yang kuat bagi proses memuridkan dunia. Dengan menempatkan semua ini pada bagian penutup pengajaran-Nya, Yesus mengingatkan para murid bahwa semua yang telah Ia ajarkan tidak akan pernah ada gunanya jika ia dibiarkan menjadi pengetahuan semata. Kekuatan pengajaran ini terlihat ketika ia dilaksanakan dalam kehidupan yang senyatanya. Karena itu, setiap dan semua murid Yesus atau yang menyebut diri murid Yesus dipanggil untuk mewujudkan semua yang telah Tuhan ajarkan dalam Khotbah di Bukit ini. Setiap orang yang dengan sungguh-sungguh dan dengan motivasi yang benar melakukan semua pengajaran Tuhan yang ada dalam khotbah di bukit, ia adalah murid Yesus yang sejati.

GAGASAN UTAMA BERDASARKAN TEKS
Dari teks yang sudah coba dijelaskan secara sederhana di atas, ada beberapa gagasan untuk penyusunan khotbah.
1. Tuhan Yesus (menurut Injil Matius) sangat menekankan ortopraksis (sikap hidup yang benar) tinimbang ortodoksi (ajaran yang benar). Andaikan harus memilih antara keduanya maka pilihan pasti jatuh pada sikap hidup yang benar. Sikap hidup yang benar itu adalah sikap hidup yang sesuai dengan yang telah diajarkan Yesus, yaitu Khotbah di Bukit. Bacaan III adalah bagian dari khotbah di bukit tersebut. Yesus menghendaki agar para murid memperlihatkan konsistensi antara perkataan dengan perbuatan. Pengetahuan tentang kebenaran harus diwujudkan dalam hidup keseharian. Tanpa itu, semua sia-sia, tak berarti.
2. Meskipun penyelamatan Nuh dan keluarganya terjadi semata-mata karena kemurahan Allah dan bukan karena kebaikan Nuh, namun Allah toh tidak memilih orang lain yang hidup penuh dosa, melainkan Nuh, yang dalam teks disebut sebagai “orang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya. Meskipun Allah menyelamatkan Nuh bukan karena yang ada dalam dirinya, namun Nuh jelas seorang yang memiliki integritas. (tafsir bacaan I)
3. Supaya bisa menjadi pribadi yang berintegritas, yang melakukan kebenaran yang diketahui dan/atau dikatakan, maka seseorang perlu menerima dan percaya pada Injil. Sebab, Injil, dan hanya injil yang dapat menolong manusia melakukan apa yang ia yakini sebagai yang baik dan benar untuk dilakukan. (tafsir bacaan II)
4. Dalam rangka menampilkan jati diri sebagai pengikut Yesus, yaitu menjadi pribadi yang berintegritas, umat dapat mengalami tantangan, bahkan ancaman. Tapi, umat tidak perlu gentar; sebab para pendahulu sudah mengalami bahwa dalam keadaan seperti itu, Allah pasti melindungi dan menolong. (Mazmur antar bacaan)

SARAN PENYUSUNAN KHOTBAH
1. Khotbah dapat dimulai dengan mendeskripsikan berbagai inkonsistensi yang terjadi di tengah masyarakat, dan pada saat yang sama kita sesungguhnya memerlukan manusia yang berintegritas (lihat dasar pemikiran)
2. Hal seperti ini (inkonsistensi atau manusia yang tak memiliki integritas), sudah ada sejak zaman purba. (Tafsir bacaan I)
3. Jelaskan akibat dari ulah manusia yang kehilangan integritas diri ini, baik dalam hidup sekarang maupun yang tergambar dalam teks (tafsir bacaan 1)
4. Jelaskan gagasan tentang pengikut Yesus yang semestinya menjadi pribadi yang memiliki integritas. Beri penjelasan dengan mengembangkan gagasan-gagasan yang terdapat dalam tafsir bacaan III dan I.
5. Untuk menjadi pribadi yang memiliki integritas diperlukan kekuatan ekstra. Sebab, tantangan, bahkan ancaman tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam. Di sini pengkhotbah mendeskripsikan tantangan-tantangan tersebut. Deskripsi tentang tantangan ini diakhiri dengan meneguhkan umat bahwa Tuhan pasti menolong asal umat memiliki komitmen dan berserah kepada Tuhan (tafsir bacaan I dan II, serta Mazmur antar bacaan).

Tafsiran yang diberikan di sini memang benar-benar sederhana, hanya untuk melayani khotbah. Keterangan-keterangan yang ada dalam buku tafsir yang tidak berhubungan dengan tema khotbah, sengaja diabaikan. Buku Tafsir yang dimanfaatkan pun terbatas pada beberapa buku tafsir yang tersedia dalam koleksi pribadi saya. Karena itu, pengguna rancangan khotbah yang memerlukan informasi lebih lengkap tentang teks, dapat melihat tafsiran yang dirujuk atau sumber-sumber lain.
Buku Tafsir yang sudah diperiksa dalam bagian ini adalah Walter Lempp, Kitab kejadian 5:1-12:3, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. 4, 1997), hal. 58-62, 79-87, George Arthur Buttrick, The Interpreter’s Bible, vol. 1 (New York: Abingdon Press, 1952). Hal. 536-540
Buku tafsir yang sudah diperikas untuk bagian ini adalah Marie Claire Barth & B.A. Pareira, Tafsir Alkitab, Kitab Mazmur 1-72, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. 2, 1998), hal. 463-469
Buku Tafsir yang sudah diperiksa dalam bagian ini adalah Th. van den End, Tafsir Alkitab Surat Roma (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. IV, 2003), hal. 55-62, juga William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat Roma (Jakarta: BPK Gunung Mulai, cet. 7, 2003),hal. 32-40
Buku-buku Tafsir yang telah diperiksa dalam bagian ini adalah Donald A.Hagner, Word Bible Commentary 33A (Texas: Word Books Publisher, 1993), hal. 184-194; J.L.Ch. Abineno, Khotbah Di Bukit, Catatan-catatan Tentang Matius 5-7 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. 2, 1996), hal.185-204; Stefan Leks, Tafsir Injil Matius (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003), hal. 186-196; Warren Carter, Matthew and Margins, A Sociopolitical and Religious Reading (New York: Orbis Books, 2000), hal. 190-195; William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari, Injil Matius Fs. 1-10, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985), hal. 471-480

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It