MEMPERSEMBAHKAN YANG PALING DIKASIHI
Royandi Tanudjaya
Rancangan Khotbah GKI 29 Juni 2008
Bacaan I : Kejadian 22:1-14
Antar Bacaan :Mazmur 13
Bacaan II : Roma 6:12-23
Bacaan III :Matius 10:40-42
Tujuan : Anggota jemaat dapat belajar untuk mengasihi Allah dengan sikap yang tidak mudah terikat dengan semua hal di dalam dunia ini, bahkan mereka bersedia untuk mempersembahkan yang paling berharga kepada Allah.
DASAR PEMIKIRAN
Kata “mempersembahkan” itu dalam bahasa sehari-hari sebetulnya sama dengan kata “memberi”, dan “memberi” itu sesungguhnya adalah hakikat dari kata Yunani “agape”, yang – mungkin dari semua bahasa yang ada di dunia! – paling baik diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata “kasih”, atau “beri”. Mengapa?. Sebab, kasih itu ya memberi!. Tidak bisa lain!. Tanpa memberi, kasih bukan hanya tiada artinya, tetapi juga tak pernah terwujud nyata. Karena itu, “kasih yang paling agung” pernah disamakan Yesus dengan “memberi diri atau nyawa sendiri” (Yoh 15:13).
Kesulitan orang Kristen pada umumnya untuk mempersembahan atau memberi yang materil atau yang non materil, apa lagi yang paling disayangi (dan, biasanya, yang paling berharga juga), tampaknya bersumber dari kesulitannya untuk mengasihi, atau menyatakan kasih kepada siapa pun, khususnya kepada Tuhan. Apa lagi, jika kita coba memahami lebih jauh, dalam kata “kasih” itu selalu tersirat suatu tindakan “memberi kebaikan tanpa mengutamakan balasan atau pamrih”. Seperti Bapa di sorga yang terus-menerus dan tiada henti “menerbitkan matahari dan menurunkan hujan bagi orang jahat dan orang baik, bagi orang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45). Bukankah mengasihi, atau menyatakan kasih itu menjadi lebih sulit lagi?.
Sayangnya, tidak seorang pun dapat menjadi anak Allah tanpa mengikuti teladan Allah yang telah mengasihi manusia dengan memberi Anak-Nya yang tunggal dan yang paling disayangi-Nya (Yoh 3:16). Begitu juga, tidak seorang pun dapat menjadi “seorang Kristen” (yang selalu berarti: seorang yang sungguh-sungguh mengikuti hidup Kristus, dan bukan sekedar percaya kepada diri Kristus!) tanpa berbuat sama seperti Kristus, yaitu: mengasihi, memberi kebaikan – jika perlu, dengan memberi yang paling disayangi, termasuk diri-Nya! – kepada sesamanya dan kepada Allah, tanpa mengutamakan pamrih.
Ya, Allah dan Kristus telah pertama-tama (dan senantiasa!) terlebih dahulu mengasihi kita, manusia, dengan memberi yang paling disayangi-Nya. Karena itu, seperti kata Yesus sendiri, “kamu harus saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 13:34). Ini prinsip “cenglie”, atau kewajaran, kata seorang pengkotbah. Artinya, kurang dari itu, ya, tidak wajarlah, alias “bocenglie”!.
Dalam hal inilah, kita bisa memandang Abraham sebagai salah satu contoh atau teladan bagi hidup kita sebagai anak-anak Allah, atau orang-orang Kristen (Kej 22:1-14). Kita juga bisa mengerti nasihat Rasul Paulus, agar sebagai anak-anak Allah atau orang-orang Kristen, kesalahan atau dosa di dalam hidup kita, sewajarnya dan seharusnya, semakin hari semakin berkurang, dan bukannya semakin hari semakin bertambah! (Rom 6:12-23). Dan, semuanya itu, kalau kita sungguh-sungguh mau mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan iman dan perbuatan iman kita dari Allah Bapa, pada akhirnya! (Mat 10:40-42).
TAFSIRAN SINGKAT
Tafsiran I : Kejadian 22:1-14
Menarik!. Dalam bacaan ini, Allah “dimanusiakan” oleh para penulisnya (konon oleh “Yahwis”, ay 11,14, dan selebihnya oleh “Elohis”). Allah sebagai Allah, yang sesungguhnya dapat melihat dan menyelidiki hati manusia lebih dari pada melihat perbuatan manusia (Sam 16:7; 1 Taw 28:9), seakan-akan, menjadi seperti manusia, yang harus “mencoba” (NRSV: “tested”) atau “ngetes” Abraham dalam perbuatannya terlebih dulu untuk – baru setelah itu – bisa mengetahui seberapa besar imannya kepada-Nya.
Kalau begitu, sangat mungkin, “test iman” ini sebetulnya lebih terkait dengan keperluan Abraham sendiri untuk dapat mengetahui, memelihara dan menumbuhkan terus imannya kepada Allah. Di samping itu, “test iman” Abraham pun diperlukan oleh sesamanya, supaya ia bisa menjadi teladan iman bagi setiap orang beriman di segala zaman (termasuk bagi kita di zaman sekarang ini!). Tapi, jelas, “test iman” ini bukan untuk keperluan Allah!. Sebab, sebelum mengetes imannya pun, Allah, Sang Pelihat dan Penyelidik hati manusia, sudah tahu pasti seberapa besar iman Abraham kepada-Nya.
Ay 1a, menjadi tema kisah: Allah mencoba Abraham. Selanjutnya, kisahnya mencerminkan hal-hal yang terkait dengan pencobaan itu.
Ay 1b-2, tugas Abraham ditetapkan Allah, yaitu pergi ke tanah Moria (tidak diketahui lagi percisnya di mana), membawa Ishak sertanya dan mempersembahkan Ishak di salah satu gunung di sana. Penugasan Abraham diperoleh dalam keintiman relasinya dengan Allah (lewat pemanggilan namanya, “Abraham”, oleh Allah, dan jawabannya, “Ya, Tuhan”, kepada Allah, ay 1b). Dan beratnya penugasan Allah itu terungkap dalam kata-kata, “anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi” (ay 2). Penugas itu terdiri atas 3 (tiga) perintah, yaitu (1) pergi ke salah satu gunung di tanah Moria, (2) membawa Ishak bersamanya, dan (3) mempersembahkan Ishak sebagai korban di sana. “Tanah Moria” sendiri, dalam Alkitab PL, pernah disamakan dengan tanah Yerusalem, tempat bait Allah didirikan (2 Taw 3:1).
Ay 3-10, betapa pun berat dan susah dirasakan olehnya sebagai manusia biasa, Abraham menjalankan tugas itu, percis seperti yang telah ditetapkan Allah kepadanya. Berat dan susahnya pemenuhan tugas itu pun dinyatakan dalam kata-kata, “Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama” (ay 6b). Sekali pun demikian, dalam jawaban atas pertanyaan Ishak, anaknya, tetap terungkap kepercayaan Abraham kepada Allah yang mengasihinya, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya” (ay 8). Dan, sampai detik-detik terakhir sekalipun, Abraham tidak ragu-ragu untuk memenuhi tugas yang diperintahkan Allah kepadanya!.
Ay 11-12a, Abraham dicegah dari penuntasan tugasnya oleh Allah sendiri, melalui seorang malaikat-Nya. Abraham mendengar “kabar sukacita”, “jangan kau apa-apakan dia” (ay 12). Sekaligus, mengetahui, bahwa dari sejak semula Allah memang tidak sungguh-sungguh bermaksud untuk mengorbankan Ishak. Kejadian ini pun membuktikan, Allah tidak menyetujui pengorbanan manusia, khususnya anak-anak, di dalam ibadat umat-Nya kepada-Nya.
Ay 12b, pencobaan Abraham berakhir, dan diakhiri dengan penyimpulan tentang iman Abraham kepada Allah. Bahwa Abraham “takut akan Allah” (ay 12), dalam arti: “takut akan mendukakan hati Allah, bila perintah atau kehendak-Nya tidak dilakukan”, dan karena itu sesungguhnya sama artinya dengan, “mengasihi Allah”, sekarang tidak hanya diketahui oleh Allah sendirian, tetapi juga oleh Abraham sendiri dan oleh sesamanya di segala zaman.
Ay 13, Abraham mengganti persembahan korban anaknya dengan korban seekor domba jantan yang disediakan oleh Allah sendiri.
Ay 14, kesimpulan berupa tanggapan Abraham atas pencobaan yang telah dialami di dalam hidupnya. Bersama dengan ay 13, Abraham membuktikan sekali lagi kebenaran iman atau kepercayaannya kepada Allah yang, karena kasih-Nya, selalu menyediakan pertolongan-Nya, bahkan di saat tergelap sekalipun, di dalam hidupnya.
Kesimpulan: (1) Memberi apa pun yang paling disayangi hanya mungkin dilakukan, jika seseorang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan atau sesama; (2) Pemberian sejati kepada yang sungguh-sungguh dikasihi biasanya cenderung disertai rasa “sakit” di hati orang yang melakukannya; dan (3) Memberi yang paling disayangi, tak lain dari, menyaksikan kasih sejati Allah kepada manusia di dalam Yesus Kristus.
Tafsiran II : Roma 6:12-23
Bacaan ini merupakan konsekwensi logis dan praktis dari penjelasan Rasul Paulus sebelumnya (“Sebab itu”, ay 12). Sebelumnya (ay 1-11), ia menjelaskan, bahwa dalam baptisan (di sini, tampaknya, memang baptisan selam!), orang beriman mengalami dan mengawali penyatuan hidupnya dengan hidup Kristus (bd Rom 8:38-39). Bersama kematian Yesus (yang dilambangkan dengan penyelaman ke dalam air), manusia lama orang beriman ikut mati, dan bersama dengan kebangkitan Yesus (yang dilambangkan dengan pengangkatan dari dalam air), manusia baru orang beriman ikut dibangkitkan. Nah, konsekwensinya, sebagai manusia baru, mestinya hidup orang beriman berbeda dan tidak sama lagi dengan hidupnya sebelumnya sebagai manusia lama.
Ay 12-14, menyatakan, bahwa hidup sebagai manusia baru merupakan perjuangan baru dan terus-menerus melawan dosa. Mengapa?. Sebab, selama masih dalam “tubuh fana”nya (ay 12), godaan untuk berbuat dosa itu, bukan hanya datang dari luar dirinya, tetapi juga dari dalam dirinya (bd Rom 7:18-21). Hanya, hidup sebagai manusia baru itu berbeda dengan hidup sebagai manusia lama. Jika hidup sebagai manusia lama merupakan hidup yang tanpa pengharapan, maka hidup sebagai manusia baru merupakan hidup yang penuh pengharapan untuk mengalahkan kuasa dosa (“hukum Taurat”, ay 14) dan untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Sebab, kuasa Roh Kudus (“kasih karunia”, ay 14) selalu mau dan mampu menolongnya, sejauh orang beriman mau selalu “menyerahkan diri”nya kepada Allah (ay 13), dan bukan kepada dosa (ay 12).
Ay 15-23, menjelaskan, bahwa hidup sebagai manusia baru tidak memungkinkan orang beriman terus-menerus berbuat dosa. Halnya sama dengan seorang budak atau hamba pada masa Rasul Paulus!. Seorang budak adalah milik majikannya. Hidupnya sepenuhnya mengabdi kepada majikannya. Sebagai manusia lama, seorang tak beriman adalah milik majikan lamanya, yaitu dosa. Ia menjadi “hamba dosa” (ay 17,20), atau “hamba kecemaran dan kedurhakaan” (ay 19). Karena itu, hidupnya sepenuhnya mengabdi kepada dosa. Tetapi, sebagai manusia baru, seorang beriman adalah milik majikan barunya, yaitu Allah. Ia menjadi “hamba Allah” (ay 22), atau “hamba kebenaran” (ay 18,19). Karena itu juga, hidupnya sepenuhnya mengabdi kepada Allah dan kehendak-Nya..
Hidup manusia lama ditandai oleh pelanggaran (hukum Taurat). Sebaliknya, hidup manusia baru ditandai oleh kebenaran (ay 19). Selanjutnya, jika pelanggaran (hukum Taurat) membuahkan kecemaran dan kedurhakaan dan akhirnya maut, maka kebenaran membuahkan pengudusan dan akhirnya hidup kekal.
Kesimpulan: (1) Memberi atau mempersembahkan yang paling disayangi kepada Tuhan dan sesama, hanya mungkin dilakukan oleh seseorang sebagai manusia baru di dalam Kristus; (2) Karena itu, seorang beriman harus selalu menyerahkan dirinya kepada Allah, supaya kasih karunia-Nya di dalam Kristus (yaitu Roh Kudus) dapat memampukannya untuk melakukannya.
Tafsiran III : Matius 10:40-42
Bacaan ini punya kemiripan dengan Mrk 9:37,41, Luk 9:48; 10:16, dan Yoh 12:44-45, namun, secara khusus, ay 41 merupakan bahan khas Matius.
Ay 40, dilatar-belakangi oleh pemahaman , bahwa seorang utusan itu mewakili sepenuhnya orang yang mengutusnya. Karena itu, semua sikap dan perlakuan yang diterima oleh seorang utusan, baik atau buruk, akan dianggap sebagai sikap dan perlakuan terhadap orang yang mengutusnya.
Ay 41-42, menyamakan seorang utusan Allah sebagai seorang nabi, seorang benar dan seorang kecil. Seorang utusan Allah adalah seorang yang harus dan hanya mengerjakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Ia harus mau menjadi seorang “nabi”, atau “juru-bicara Allah”, yang memberitakan apa yang difirmankan Allah kepadanya. Ia juga harus mau menjadi seorang “benar”, dalam arti: melakukan yang benar di hadapan Allah, karena itu ia teladan dalam hidup mengasihi, atau memberi kebaikan – termasuk yang paling disayanginya – tanpa mengutamakan pamrih, di hadapan manusia. Ia pun harus mau menjadi seorang “kecil”, dalam arti direndahkan dan dihina-dina di hadapan manusia, biar pun di hadapan Allah ia ditinggikan dan dihargai. Hidup seorang utusan Allah, bahkan, menjadi batu ujian bagi setiap orang, apakah ia menyambut, atau menolak Allah, dan apakah ia layak beroleh diganjari yang baik atau yang buruk dari Allah, pada akhirnya.
Kesimpulan: (1) Sesungguhnya setiap orang beriman adalah utusan Allah di tengah dunia ini; (2) Sebagai utusan Allah, setiap orang beriman dikehendaki Allah menjadi seorang yang memberitakan “kasih Allah di dalam Yesus Kristus”, dan menyaksikan “kasih” itu di dalam perbuatan memberi kebaikan – termasuk yang paling disayangi atau paling berharga baginya – dengan tanpa mengutamakan pamrih. Biar pun, karena itu, ia mungkin direndahkan dan dihina-dinakan oleh dunia.
SARAN PENYUSUNAN KOTBAH
Pendahuluan
Dapat diawali dengan satu cerita yang sesuai dengan tema kotbah. Salah satunya adalah cerita tentang Ucok. Ucok adalah seorang anak kecil lelaki usia 6 tahun. Ia bukan hanya seorang anak Pendeta, tetapi juga seorang pengagum kotbah-kotbah ayahnya. Pada suatu hari Minggu, kembali Ucok memilih untuk ikut kebaktian pertama pagi hari dari pada mengikuti Sekolah Minggu, sebab ayahnya akan berkotbah dan Ucok ingin mendengarkannya. Pagi itu, Ucok terkesan lagi dengan kotbah ayahnya, yang pada intinya mengajarkan, bahwa bukti paling jelas dari seorang Kristen yang mengasihi Allah adalah ketika ia mengasihi orang kecil-miskin dan memberikan kepadanya apa yang terbaik dan yang paling disayangi kepadanya.
Karena ayahnya masih memimpin kebaktian pagi yang kedua, dan ibunya ikut melayani di gereja, Ucok pulang ke rumah duluan. Sesampainya di rumah, ketika sedang berganti pakaian, Ucok mendengar pintu rumahnya diketok orang. Ternyata kemudian yang mengetok-ngetok pintu rumah adalah seorang pengemis yang minta sedekah. Ucok pun ingat kotbah ayahnya di gereja. Ia ingin mengasihi pengemis itu dengan memberikan yang terbaik dan paling disayangi. Ia ingat burung cucak-rawa yang paling disayangi oleh ayahnya. Kata ayahnya, karena suaranya yang indah, burung itu pernah ditawar orang seharga jutaan rupiah, tapi ayahnya menolak untuk menjualnya. Ucok pun memberikan burung cucak-rawa itu kepada pengemis itu.
Sepulang melayani dari gereja, Ucok segera lapor kepada ayahnya, bahwa ia telah melakukan kotbah ayahnya, dengan memberi burung kesayangan ayahnya kepada seorang pengemis. Ucok syok bukan main, ketika menjumpai ayahnya bukan hanya marah besar kepadanya, tetapi juga dalam amarahnya ayahnya berkata, “Cok, Ucookkk …! Kamu tuh ngga ngerti ya? Kalo Papa kotbah di gereja itu, kotbah Papa tuh buat jemaat, Cookkk …! Bukan buat kita! Bukan buat Papa, Mama dan kamu!!”.
Ayah Ucok menjadi contoh, bahwa sesungguhnya mengasihi sesama dengan memberi yang paling disayangi tanpa mengutamakan pamrih itu lebih mudah dikotbahkan, atau diucapkan daripada dilakukan!.
Isi
Selanjutnya, jelaskan, mengapa Abraham tokh dapat memberikan Ishak, anak tunggalnya yang paling disayanginya, kepada Allah?. Pertanyaan ini perlu dijawab oleh pengkotbah dalam kotbahnya (tanpa mengulangi lagi kisahnya, sebab kisahnya sudah jelas dan sangat dikenal oleh jemaat!).
Dari hasil tafsiran, tampaknya, hal-hal yang dapat memampukan Abraham untuk memberi yang paling disayanginya kepada Tuhan adalah: (1) Hubungannya yang intim dengan Allah. Keintiman hubungannya dengan Allah telah memungkinkan dirinya untuk mengenal Allah secara lebih mendalam. Selanjutnya, pengenalannya yang mendalam akan Allah menjadi dasar yang kokoh bagi keyakinan dan ketaatannya kepada Allah; (2) Pengharapan hidupnya ia letakkan dan lekatkan hanya pada Allah. Bukan pada apa atau siapa pun, termasuk bukan pada Ishak, anak tunggalnya!. Kalau masa depan hidupnya ia letakkan dan lekatkan pada anak tunggalnya yang paling disayangi, Abraham mustahil dapat memberikan yang paling berharga dalam hidupnya kepada Allah!. Ia juga mustahil bisa mengasihi Allah dalam hidupnya!.
Penutup
Akhiri dengan penegasan, bahwa Allah justeru mengutus setiap orang Kristen untuk menyaksikan kasih itu, kepada dunia, supaya dunia percaya. Sebab, pengutusan-Nya itu bukan lagi merupakan suatu kemustahilan bagi setiap orang Kristen. Sebagai manusia baru, setiap orang Kristen mau dimampukan oleh kasih-karunia-Nya, yang dikerjakan Allah melalui Roh Kudus-Nya. Dan, untuk semua itu, Allah telah menyediakan ganjaran yang setimpal bagi setiap utusan-Nya, pada saat-Nya!.
TEOLOGI