FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

June 24, 2008

MENGENAL SEPINTAS INJIL MATIUS

Filed under: Bahan PA Lentera Umat — Martin @ 10:55 pm

Siapakah sejatinya penulis Injil yang pertama dari keempat Injil yang kita miliki ternyata tidak jelas. Di kalangan ahli-ahli Perjanjian Baru ada perdebatan tentang Matius yang mana yang menulis Injil ini. Mat 10:3 menyebut nama ‘Matius, pemungut cukai’ dan kisah ini menjadi kelanjutan dari pemanggilannya oleh Yesus menurut versi Mat pada Mat 9:9-13. Secara tradisional diterima bahwa penulis Injil ini adalah Matius mantan pemungut cukai. Papias memberi catatan khusus mengenai kegiatan Matius “ … mengumpulkan sabda-sabda (Yesus) dalam bahasa Ibrani, dan masing-masing menafsirkannya sebagaimana ia mampu.”
Setelah membaca Injil Matius kira-kira gambaran penulisnya adalah sebagai berikut. Ia seorang Yahudi yang menjadi Kristen, punya pengetahuan yang cukup luas dan mendalam tentang Perjanjian Lama, taurat dan praktik-praktik keagamaan maupun adat-istiadat Yahudi (mungkin dia seorang Guru/Rabbi). Ia mampu meletakkan dengan sangat tepat berita Kristiani dalam terang kehidupan beragama orang Yahudi, bahkan dengan sangat apik dan teratur memperlihatkan kontinyuitas dan diskontinyuitas antara umat Allah yang orang Yahudi dengan gereja sebagai umat Allah yang baru. Ia mempunyai informasi yang cukup lengkap yang berkaitan dengan sikap para pemimpin agama Yahudi terhadap kematian dan kebangkitan Yesus yang tidak terdapat pada Injil-injil yang lain, yaitu informasi tentang kubur Yesus yang dimeteraikan dan dijaga oleh para prajurit (27:62-66); para penjaga yang tidak berdaya pada hari pertama minggu itu karena para malaikat yang menggulingkan batu penutup kubur (28:2-4); dan dusta Sanhedrin (28:11-15).
Injil Matius disusun oleh pengarang yang berpikir jelas dan teratur sehingga menjadi satu karya tulis imaniah yang matang malahan, menurut beberapa dugaan, Injil Matius ini berfungsi sebagai buku pedoman katekisasi.
Pada umumnya diterima pendapat bahwa Injil Matius terbit pada sekitar dasawarsa 80-90 Masehi dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa dalam Injil ini nampak bahwa gereja atau ke-Kristen-an sudah berkembang. Dua hal yang harus disebut adalah bahwa Injil Matius menjadi saksi atas hancurnya Yerusalem beserta Bait Allah yang mulia itu tetapi sekaligus menjadi saksi masuknya ‘orang-orang kafir’ ke dalam gereja Kristen. Injil Matius menjadi saksi dari sebuah proses di mana tradisi Yahudi-Kristen meninggalkan ciri partikularisnya yang eksklusif melalui keterikatannya pada taurat secara legalistik. Berita baik yang dibawa oleh Yesus Kristus tidak melulu ditujukan kepada umat Yahudi tetapi sekarang bagi seluruh bangsa. Bahkan hanya Injil Matius pula yang menggunakan kata ekklesia yang kemudian kita kenal terjemahannya menjadi ‘gereja’ atau ‘jemaat’. Kata ini diberi konteks kisah pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Allah (Mat 16:16). “… engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku, ….” demikian Mat 16:18 menyatakan.
Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada waktu kita menelaah injil Matius yaitu :
1. Kontinyuitas dan diskontinyuitas umat Allah. Injil Matius mengakui bahwa pada mulanya ikatan umat dengan Allah itu adalah ikatan antara orang Yahudi dan Yahwe, Allah mereka seperti diberitakan dalam Perjanjian Lama. Karena itu nampak beberapa bagian yang terkesan partikularis dan eksklusif dari penyataan dan karya Allah terhadap orang Yahudi. Pertama-tama dan utamanya kepada orang Yahudi tetapi kemudian, lewat otoritas yang dimiliki oleh Yesus, berita baik itu tidak berhenti bagi orang Yahudi saja melainkan untuk bangsa-bangsa yang non Yahudi juga meskipun dirasakan reaksi orang Yahudi negatif adanya. Kesan ini kuat sekali misalnya pada kisah yang ekstrim yang direkam dalam Mat 15:21-28 dengan menggunakan kiasan untuk perempuan Kanaan itu sebagai ‘anjing’ dibandingkan dengan ‘anak-anak’ untuk orang Yahudi. Pada ay. 24 Yesus mengungkapkan maksud misi-Nya: ”Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” tetapi toh akhirnya Ia keluar dari lingkungan Yahudi karena melihat ‘iman’ pada bangsa-bangsa non Yahudi juga.
2. Yesus sendiri ditampilkan sebagai Mesias yang didambakan tetapi tetap dengan cara hidup yang diserahkan secara total kepada rencana ilahi dengan menjalani hidup beragama secara luhur, bersedia menderita, mati dan pada saatnya bangkit pula. Yesus adalah sosok Mesias ideal tetapi bukan seperti harapan umat yang menginginkan Mesias sebagai seorang tokoh politik yang memimpin Israel berperang mengusir penjajah dan mengembalikan kejayaan kerajaan Daud. Dia justru mengajarkan sikap welas asih, murah hati, berlaku adil sambil menjalankan aturan-aturan agama dengan memperhatikan terutama inti dan makna dari tindak-tindak agamawi itu sendiri. Yesus ingin umat Allah menyadari lagi panggilannya dan mengintegrasikan ketekunan mereka menjalankan aturan-aturan agama, melakukan secara cermat upacara dan adat istiadat dengan sikap etis-moral yang luhur dalam hidup sehari-hari dan didasari dengan dua motif utama saja yakni ‘mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi’ dan ‘mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri’ (Mat 22:37-39) dan bukan motif yang egosentris yang berpusat pada diri sendiri. “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya. …. Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:17,20). Hidup beriman tanpa motif yang benar hanya akan membuat orang menjadi munafik dan pada waktunya sikap ini mendatangkan celaka dan kutukan belaka (Mat 23). Perumpamaan-perumpamaan akhir zaman dipakai untuk mengingatkan umat pada tanggungjawab mereka untuk hidup sesuai dengan panggilan mereka selaku umat Allah. Sang Hakim ilahi ini bersikap keras dan tegas karena Ia adalah Tuhan itu sendiri.
3. Ia juga ditampilkan sebagai Musa yang baru, yang mirip sekali dengan sosok para nabi pra pembuangan. Ia memimpin umat Allah dengan memberikan penafsiran yang baru atas ‘hukum-hukum’ yang selama ini sudah dimengerti oleh umat. Ia mengajarkan hukum-hukum baru ini dengan kuasa. Mat 7:28-29 menulis: ”Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan-Nya ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.” Yesus ditampilkan konsekuen dan konsisten dengan apa yang diajarkan-Nya. Apa yang Dia ajarkan itu pula yang Ia jalankan dengan sepenuh hati. Hukum-hukum baru dari Kerajaan Sorga itu disampaikannya secara kreatif dan dengan cara yang sederhana (komentar-komentar singkat pada Khotbah di Bukit atau Perumpamaan-perumpamaan dari hal-hal sehari-hari)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It