MENYALIBKAN MANUSIA LAMA
Pdt. Yolanda Pantou
Rancangan Khotbah GKI 22 Juni 2008
GKI Surya Utama, Jakarta
Bacaan I : Kejadian 21: 8 – 21
Antar bacaan : Mazmur 86: 1 – 10
Bacaan II : Roma 6: 1 – 11
Bacaan III : Matius 10: 24 – 39
Persembahan : Mazmur 96 : 8
Tujuan:
Anggota jemaat termotivasi memahami makna persekutuan mereka dengan kematian Kristus adalah juga persekutuan mereka dengan kebangkitan Kristus, sehingga mereka bersedia secara tulus menyalibkan kehidupan dari manusia lama yang duniawi.
DASAR PEMIKIRAN
Banyak orang yang menyebut diri sebagai orang percaya sikap hidupnya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan dalam kepercayaannya. Dalam hal ini kita membahas tentang orang-orang Kristen. Mengapa dapat terjadi yang demikian? Bukankah orang-orang Kristen telah ditebus dari dosa, dilahirkan kembali, dibenarkan dan dikuduskan?
Salah satu sebabnya adalah karena masih banyak orang Kristen yang keliru dalam memahami anugerah keselamatan dan pembebasan dari dosa. Pemahaman yang mereka miliki belum menjadi bagian inti dari iman mereka.
Dalam khotbah ini, umat diajak untuk melihat kembali konsep mereka tentang keselamatan yang dari Allah dan tentang siapa diri mereka, apakah sebagai anak-anak Allah yang telah diselamatkan dengan kasih, atau konsep tersebut belum ada di dalam diri mereka?
TAFSIRAN
Kejadian 21: 8 - 21
Kisah pengusiran Hagar dan Ismail ini sesungguhnya merupakan kisah yang penuh dengan ketidakadilan dan penindasan terhadap yang lemah. Hagar, seorang budak Mesir yang dibeli oleh keluarga Abraham, disuruh tidur dengan tuannya untuk memberikan anak bagi nyonyanya, tetapi kemudian anaknya bersama dengan dirinya harus diusir dari rumah tuannya.
Kisah tragis ini kemudian dijadikan landasan pemahaman iman oleh Paulus di masa perjanjian baru. Dalam surat Galatia 4: 21 – 31 Paulus mengibaratkan anugerah keselamatan melalui iman seperti keturunan dari Sara dan bukan dari Hagar, perempuan yang hidup dalam perhambaan. Bagaimana kita memahami persetujuan Allah terhadap usulan Sara kepada Abraham untuk mengusir Hagar dan Ismail?
Kita perlu melihatnya dari sudut pandang Hagar. Baginya tentu keputusan tersebut sangatlah tidak adil dan menyakitkan. Dikatakan bahwa Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan meletakkannya bersama dengan Ismail di atas bahu Hagar. Menurut perhitungan kasar, jika Ismail lahir pada saat Abraham berusia 86 tahun sementara Ishak lahir pada saat usianya 100 tahun, pada saat pengusiran ini setidaknya Ismail sudah berusia 14 tahun. Jadi arti diletakkan di atas bahu Hagar dapat kita pahami sebagai pernyataan bahwa Hagar diberi tanggung jawab.
Bayangkan seorang yang sekian tahun lamanya menjadi budak, kemudian menjadi gundik yang ditindas oleh nyonyanya, tiba-tiba diberi tanggung jawab kehidupan yang bebas. Sesuatu yang terdengar bagus, kebebasan, tapi juga bukan sesuatu yang mudah ditangani oleh seorang ‘mantan budak’.
Namun seperti demikianlah kita dapat memahami kebebasan dari perhambaan. Sesuatu yang diinginkan tetapi tidak selalu datang dengan cara yang mudah, bahkan seringkali harus melalui kesakitan dan penderitaan. Menangani kebebasan juga bukan sesuatu yang mudah. Hagar bebas melangkah ke mana pun, tapi itu sama saja dengan mengatakan bahwa ada bahaya mengancam di mana pun. Akan tetapi kita melihat bahwa Allah tidak meninggalkan Hagar, bahkan di saat ia pikir ia dan anaknya akan mati, Allah memberikan pertolongan.
Mazmur 86: 1 – 10
Doa pemazmur ini dapat mewakili jeritan hati Hagar ketika ia berada di padang gurun dan kehabisan air. Hagar yang adalah seorang Mesir juga diselamatkan oleh Allah yang disembah oleh Abraham. Hagar bahkan tidak berdoa, ia hanya menangis dengan sepenuh hati, dan tangisannya menjadi doa yang didengar Allah. Hal ini berarti Allah adalah Allah yang sungguh berkuasa atas segala bangsa, dan Ia menawarkan kasih dan keselamatanNya kepada setiap ciptaanNya.
Roma 6: 1 – 11
Pengajaran Paulus tentang anugerah, yang semakin besar diberikan kepada orang yang lebih banyak berbuat dosa rupanya menimbulkan kesalahpahaman. Orang-orang jadi berpikir bahwa untuk terus mengejar anugerah baiklah berbuat banyak dosa untuk kemudian minta diampuni. Sebenarnya yang dimaksudkan Paulus sama seperti perumpamaan yang Yesus berikan dalam Lukas 7: 41-42 tentang dua orang berhutang 500 dan 50 dinar, yang kemudian dihapuskan hutangnya. Pemahaman anugerah pengampunan atas dosa kita seharusnya tidak dilihat secara pasif, kita sebagai penerima. Tetapi secara aktif, sebagai orang yang diberi anugerah lebih maka kita seharusnya berbuat kasih lebih banyak lagi.
Orang yang sudah mendapat anugerah pengampunan ini digambarkan sebagai orang yang telah mati bagi dosa. Manusia yang lama digambarkan telah disalibkan, dan kemudian hidup di dalam Kristus. Sebagai orang yang telah mati bagaimana mungkin dapat kembali dalam wujud tubuh yang lama? Dalam hal pengandaian ini, maka orang yang telah mati bagi dosa seharusnya tidak mungkin kembali kepada kehidupan yang lama.
Namun mengapa masih banyak orang yang telah dibaptis, yang seharusnya telah mati bagi dosa dan hidup di dalam Kristus masih hidup di dalam dosa? Pertama harus dibedakan antara ‘melakukan kesalahan’ dan ‘hidup di dalam dosa’. Yang pertama disebabkan karena keterbatasan manusia dalam menyadari tindakannya dan akibat dari tindakannya. Sementara yang kedua, hidup di dalam dosa, adalah masalah gaya hidup, keseluruhan arah hati dan orientasi hidup. Seharusnya orang yang telah mati bagi dosa sudah tidak lagi hidup dengan cara yang lama. Jika masih banyak orang yang katanya telah mati bagi dosa masih hidup demikian mungkin karena mereka belum sungguh-sungguh mati bagi dosa.
Paulus sangat menekankan kuasa baptisan dalam perikop ini. Sementara kita saat ini tampaknya semakin kurang memahami makna baptisan sebagai tanda kematian bagi dosa dan turut dibangkitkan bersama Kristus dalam wujud yang sepenuhnya baru. Pudarnya makna ini tidak dapat dianggap remeh. Banyak hal dalam iman sesungguhnya merupakan konsep dan cara pandang, bukan sesuatu yang konkrit. Misalnya, penebusan oleh darah Kristus dan pendamaian manusia dengan Allah, bukankah hal ini sangat abstrak? Namun gagasan yang sangat abstrak ini bisa begitu kuatnya memberi makna bagi iman kita.
Oleh karena itu Paulus dalam ayat 11 juga mengatakan hendaklah kamu memandangnya, atau dengan kata lain hendaklah kamu memahaminya, memiliki pikiran atau konsep sebagai berikut. Pemahaman atau konsep yang benar tentang mati bagi dosa, meninggalkan manusia yang lama harus dimiliki dan dimaknai dengan tepat sebagai salah satu pra syarat hidup baru. Tentunya pemahaman ini bukanlah dalam pengertian pengetahuan, tetapi suatu sudut pandang yang menjadi konsep diri, yang mendasari segala tindakan kita.
Matius 10: 24 - 39
Sebelumnya Yesus telah menyampaikan penderitaan yang akan dan harus dialami oleh para pengikutNya. Namun Yesus juga menguatkan mereka dengan mengatakan bahwa apa pun yang akan mereka derita tidak akan melampaui penderitaan yang harus (dan telah) Ia tanggung. Oleh karena itu para pengikutNya diharapkan untuk tidak menjadi takut kepada para penganiaya mereka, sebaliknya teruslah kerjakan apa yang telah mereka yakini sebagai tugas panggilan mereka.
Dalam kaitan dengan meninggalkan manusia lama, salah satu cara bagaimana melakukannya adalah dengan membayar harga sebagai pengikut Kristus, yaitu tetap setia dan melakukan tugas panggilan kita apa pun yang kita hadapi. Mengapa kita bisa tetap setia dan teguh dengan tugas itu disebabkan karena kita percaya kepada kuasa pemeliharaan dan kasih Allah.
Harga yang harus kita bayar sebagai pengikut Kristus bukanlah harga yang murah. Seluruh hidup kita harus kita serahkan secara total, karena toh kita telah mati bagi manusia yang lama. Dalam hidup yang baru, sebagai manusia yang baru, maka kita akan diberi makna dan prioritas yang baru. Tidak ada yang lebih penting daripada melakukan kehendak Allah.
Ketika Yesus mengatakan Ia datang untuk memisahkan anak dari orang tua, dan Ia menuntut dikasihi lebih daripada kasih anak terhadap orang tua, bukan berarti kita diminta untuk tidak mempedulikan keluarga kita atau orang-orang terdekat kita. Yang diminta dari kita adalah melepaskan diri dari segala kelekatan à la manusia lama.
Ringkasan
- Hagar memperoleh kebebasannya dengan cara yang pahit. Kebebasan itu juga diperolehnya bukan sebagai sukacita pada awalnya, ia harus berjuang antara hidup dan mati untuk dapat menjadi bagian dari kebebasan itu. Demikian pula kebebasan kita dari perhambaan dosa tidak selalu datang dengan cara yang romantis dan manis. Sering kali kita justru harus berjuang setengah mati untuk mengalami pembebasan itu. Namun sebagaimana Allah menolong Hagar, Allah juga akan menolong kita mencapai kebebasan yang sejati dari perhambaan dosa.
- Bagi orang percaya pembebasan yang sejati dari dosa telah diwakili oleh kematian Yesus di kayu salib. Yesuslah yang menjalani sakit dan derita itu bagi kita. Dan kita yang dibaptiskan di dalam Kristus turut menerima anugerah kebebasan sejati dari dosa.
- Untuk itu syaratnya adalah kita harus meninggalkan manusia yang lama, cara hidup dalam dosa, di mana hati dipenuhi dengan luka, kemarahan, kekahwatiran, kecemburuan, dan sebagainya.
- Untuk dapat meninggalkan manusia yang lama tentunya tidak cukup hanya dengan memberi diri dibaptis di gereja, tapi terutama dengan memprioritaskan kehendak Allah di atas segalanya dan melakuannya. Dan sekali lagi ini artinya adalah perjuangan keras di dalam hidup untuk menyangkal diri, melawan godaan kemudahan yang ditawarkan dunia, dan tetap setia melakukan kehendak Allah.
SARAN PENYUSUNAN KHOTBAH
Khotbah dapat diawali dengan kisah berikut ini:
Dalam Les Miserables karya Victor Hugo, dikisahkan tokoh utamanya adalah seorang mantan narapidana. Ia dipenjara karena mencuri roti akibat kemiskinannya. Selama dipenjara ia diperlakukan dengan tidak manusiawi, dan ditekankan kepadanya bahwa ia adalah sampah masyarakat, orang yang tak berguna. Ketika pada akhirnya ia dibebaskan, ia tidak dibekali dengan uang tapi dengan surat tanda bebas dari penjara.
Dalam keadaan lapar ia mengetuk pintu rumah seseorang untuk meminta makan dan ingin tidur di halaman depan rumah itu. Ia katakan ‘aku adalah manta narapidana, berikan aku makan dan biarkan aku tidur di depan, aku tidak akan mengganggu kalian’. Ternyata pemilik rumah itu adalah seorang pendeta yang menyambutnya dengan ramah, menawarinya makan, bahkan mengizinkannya bermalam di rumahnya.
Tetapi di malam hari, si pendeta terbangun mendengar suara. Rupanya orang itu sedang menggasak peralatan peraknya. Tertangkap basah, ia malah memukul pendeta tersebut sehinggap pingsan dan melarikan diri. Malang baginya, esok paginya ia bertemu patroli polisi yang segera mencurigainya. Mereka menggeledahnya dan menemukan padanan yang tidak cocok: peralatan perak dengan inisial pendeta tersebut dan surat bebas dari penjara. Setelah diselidiki, para polisi membawanya kembali ke rumah pendeta itu.
Sesampainya di sana mereka bertanya, ‘kenalkah bapak dengan orang ini? Kami menemukannya bersama dengan peralatan perak Anda’. Pendeta itu berkata, ‘oh ya, saya kenal dia. Terima kasih Anda membawanya kembali, saya melakukan kesalahan kemarin. Saya hanya memberikan sedikit peralatan perak saya, padahal saya mau memberikan lebih banyak lagi’. Terheran-heran, polisi akhirnya membebaskan orang yang juga sama terkejutnya itu. Sambil memberikan hartanya si pendeta berbisik, ‘dengan ini aku menebus jiwamu’.
Sejak saat ‘penebusan’ itu si tokoh utama berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Ia merintis usaha, menjadi sukses, terhormat dan baik kepada banyak orang. Sebenarnya ia bukanlah orang yang jahat, tetapi ia memiliki konsep diri yang keliru bahwa ia adalah sampah masyarakat, mantan narapidana. ‘Penebusan’ yang ia alami mengubah konsep dirinya, sehingga ia sama sekali tidak mau lagi hidup dengan cara hidup yang lama.
Banyak orang percaya tidak memiliki konsep diri yang tepat tentang dirinya sebagai orang yang telah ditebus dan dilahirkan baru. Akhirnya walau percaya, mereka masih terus melanjutkan hidup dalam dosa. Tekankan pentingnya memiliki pemahaman iman yang benar dan berakar di dalam batin, sehingga segala tindakan dan keputusan kita dalam hidup didasari akan hal itu.
Salah satu sebabnya orang tidak meninggalkan manusia lamanya, juga karena sedikit orang yang mau melalui ‘gerbang kesusahan’ menuju kebebasan yang sejati dari dosa. Banyak orang yang seperti ‘Hagar’ lebih memilih di bawah perhambaan karena sudah kenal lingkungan tersebut, daripada menempuh padang gurun menuju kebebasan.
Sementara sebagai orang Kristen, murid Kristus, seharusnya kita memang meninggalkan segala sesuatunya, termasuk kenyamanan kita, untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Allah. Ajaklah anggota jemaat untuk memikirkan hal sederhana apa yang dapat mereka lakukan untuk melepaskan diri dari kelekatan, dan semata-mata mengarahkan diri kepada kehendak Allah dan melakukannya.
TEOLOGI