FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

June 24, 2008

TAK TERPISAHKAN DARI KASIH KRISTUS

Filed under: Rancangan Khotbah — Martin @ 5:33 pm

Pdt. Samuel Santoso
Rancangan Khotbah GKI 27 Juli 2008
Kej 29:15-28 ; Mz 105:1-11 ; Rom 8:26-39 ; Mat 13:31-43
Tujuan :
Di tengah pergumulan hidup dan kesusahannya, anggota jemaat mampu menghayati makna kasih Allah yang telah mengaruniakan Kristus sehingga mereka makin mengasihi Kristus dan tidak dapat dipisahkan dari Kristus.

Kejadian 29:15-28
Novel tentang kakek moyang Israel di sepanjang kitab Kejadian sangatlah menarik. Up and down dari hidup mereka digambarkan sebegitu hidupnya. Mereka adalah orang-orang yang dipilih Allah tetapi toh hidup mereka tidak selalu ideal. Contohnya adalah bahan kita kali ini. Apakah Yakub orang baik? Jawabnya pastilah tidak meski pun ia adalah orang yang dipilih Allah dan menjadi kakek moyang Israel. Ia tokoh umat Allah tetapi … Yakub tetap manusia biasa yang hidupnya berwarna-warni. Kitab Kejadian menceritakan secara rinci dan dramatis tipu daya dan kelicikan-kelicikannya dalam satu rangkaian panjang kisah kehidupan si Licik itu (demikianlah arti kata ‘Yakub’). Dari sisi moral yang baik kita tidak bisa belajar banyak dari Yakub tetapi memang dalam kisah-kisah tersebut Yakub bukan pemeran utama melainkan pemeran pembantu utama. Pemeran utama dari kisah-kisah Yakub adalah Tuhan sendiri yang digambarkan konsekuen dan konsisten pada perjanjian yang telah diikat-Nya dengan nenek moyang Israel termasuk Yakub juga. Isi perjanjian itu dipegang teguh dan digenapi tanpa mengabaikan sikap-sikap moral yang luhur. Kepada Yakub yang mengambil berkat itu dengan berbagai tipu daya dan kelicikan (Esau dengan hak kesulungannya ; berkomplot dengan Ribka, ibunya, berkat dari Ishak), janji-Nya itu tetap dipenuhi. Berkat tetap diberikan melimpah ruah. Inilah kesaksian Yakub ‘… sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan …’ (Kej 32:10). Tuhan tidak ingkar janji tetapi berkat yang diambil secara paksa dan tidak pada waktu Tuhan hanya akan menggelisahkan Yakub saja. Hidupnya jauh dari rasa aman, nyaman, dan tenteram padahal, secara kasat mata, seharusnya ia merasa sangat berbahagia.
Laban menerima Yakub tinggal di keluarganya lewat perkenalan yang dramatis seperti sudah diatur begitu rupa. Ketemu jodoh di oase (bnd. Eliazar yang menemukan jodoh bagi Ishak). Di atas langit masih ada langit, begitu kira-kira ungkapan yang tepat untuk menggambarkan apa yang dialami oleh Yakub sehubungan dengan niat mengawini Rahel. Ia sudah membuat kesepakatan dengan Laban, pamannya, untuk bekerja selama tujuh tahun kepadanya demi Rahel tetapi dengan alasan yang sah secara budaya masyarakatnya ia ‘hanya’ memperoleh Lea. Untuk tetap menyunting Rahel ia harus bekerja lagi selama tujuh tahun pada Laban. Tetapi dasar sudah jatuh cinta Yakub bersikeras memenuhi persyaratan itu demi Rahel. Intrik-intrik manusiawi ini dihadirkan secara menarik dalam cerita kita dalam kerangka rencana besar Tuhan sendiri. Yakub harus mengawini Rahel supaya pada waktunya nanti Yusuf hadir menjadi pahlawan keluarga itu. Bagaimana pun rumitnya jalan dan lamanya waktu yang dipakai dengan segala pernik-perniknya, rencana Tuhan tetap berjalan ke depan dan terpenuhi. Hidup beriman kepada Allah tidak dibebaskan dari kesulitan-kesulitan atau kesukaran-kesukaran kehidupan bahkan tidak pula luput dari kesalahan atau kekeliruan yang menyebabkan pahit getir.

MAZMUR 105:1-11
Pemazmur berhenti sebentar dari perjalanannya dan menengok ke belakang kepada hari-hari yang telah dilewatinya. Dia memuji Tuhan yang telah menjanjikan tanah Kanaan bagi umat-Nya dan telah menggenapinya. Tuhan ini dapat dijumpai di sembarang tempat dan di segala waktu, dan janji-Nya terlaksana di mana-mana. Oleh karena itu pemazmur ini mengajak keturunan dari Abraham dan Yakub untuk memuji dan mencari hadirat Allah (ay.1-6). Pemazmur mengajak para pembaca dan pendengar nyanyiannya ini untuk mengingat dan mengenang lagi karya keselamatan yang pernah mereka alami di masa lalu. Ungkapan-ungkapan yang khas dipakai di sini yakni ‘perbuatan-perbuatan ajaib’, ‘mujizat-mujizat’, dan ‘penghukuman-penghukuman’ di masa silam. Karya yang membela tetapi juga menegur dan menghukum tetapi di tangan-Nya yang bijaksana menjadi alat-alat yang berguna untuk membangun kehidupan beriman mereka. Ay.7-11 mengidentifikasikan Allah sebagai Tuhan jagad raya ini namun Ia sekaligus menjadi Tuhan yang ingat pada janji menganugerahkan tanah Kanaan kepada nenek moyang Israel. Pengalaman dirawat dan dipelihara Tuhan dengan kasih setia di masa lalu ini harus menjadi modal iman yang kuat dan positif untuk menghadapi masa kini dan masa mendatang yang sering tidak menentu secara manusiawi. Israel bisa bersandar dan mengandalkan kehidupan mereka ‘cukup’ kepada Yahwe saja. Ia sudah terbukti dan teruji setia pada perjanjian yang telah diikat-Nya bersama umat.
ROMA 8:26-39
Kita tahu sekarang bahwa demi mereka yang mengasihi Dia segala sesuatu bekerja serempak untuk hal-hal yang baik, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana/kesetiaan-Nya (8:28). Teks Yunani agak berbeda dengan terjemahan LAI. Kalimat “mereka yang mengasihi Dia” diletakkan pada bagian awal kalimat. Ini bukan sekedar supaya kalimat menjadi indah tetapi mau memberi tekanan tertentu atasnya. “Orang-orang” ini menjadi subyek. Kita adalah anak-anak Allah oleh karya Roh. Kita sanggup menyapa Allah kita sebagai ‘papi’ (bagi anak Belanda) oleh karena Ia yang memungkinkannya. Oleh karena Ia mengasihi kita. Orang yang beriman kepada Kristus sudah beralih status dari orang-orang hukuman karena menjadi budak dosa menjadi anak-anak, ahli waris, janji-janji Allah di dalam Kristus. Kita tidak lagi berada di ancaman hukuman yang menghancurkan kehidupan meski pun kekuatan yang menghancurkan kehidupan kita masih ada dan terus bekerja. Ketika orang hidup oleh iman kepada Kristus maka hidupnya sekarang dan di masa mendatang terjamin di tangan-Nya. Hidup dengan sepenuhnya beriman kepada Kristus di masa sekarang tidak secara otomatis membuat kita menjadi nyaman dan aman tetapi tetap berpengharapan. Tidak penderitaan dari luar diri kita tidak pula keinginan-keinginan untuk mengetahui segala sesuatu tentang diri kita di masa yang akan datang yang membuat kita penasaran dan hidup dalam ketegangan yang bisa membuat kita hidup dalam ketidak pastian. Entah sekarang kita tenteram dan hidup dalam kelimpahan mau pun ketika kesulitan-kesulitan, yang tidak bisa kita mengerti dengan nalar kita, semuanya berada di bawah kasih karunia Tuhan sendiri. Yang pasti adalah semuanya itu dikendalikan Tuhan untuk kebaikan umat-Nya. Agathos – kebaikan – bisa diterjemahkan juga dengan ‘yang punya tujuan’ – jadi tidak asal-asalan – atau ‘yang bermanfaat’. Jadi peristiwa-peristiwa yang dialami umat – entah seperti yang diharapkan mau pun yang tidak diharapkan – itu bukan hal-hal yang terjadi tanpa makna. Peristiwa-peristiwa itu menjadi bagian dari jaminan Tuhan bagi kehidupan umat yang mempercayakan diri mereka sepenuhnya kepada Kristus.
… tidak akan memisahkan kita dari kasih Allah. Kalimat di depan bisa dirumuskan dengan ungkapan bahwa Allah setia mengasihi serta loyal terhadap umat-Nya. Jaminan atas kesetiaan dan loyalitas Tuhan atas umat-Nya digambarkan secara impresif pada ay, 31-35. Kalau ‘anak-Nya sendiri saja’ diberikan kebaikan itu tentu Ia tidak membiarkan ‘penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, atau pedang’ menjadi kekuatan yang menghancurkan kehidupan mereka. Barclay memberikan kiasan yang tepat. Kalau seorang pergi berobat ke dokter lalu dokter itu memberikan baginya obat yang pahit dan tidak enak, atau bahkan memutuskan untuk melakukan tindakan yang punya dampak menyakitkan (mis. operasi) toh pasien menerimanya karena akibat yang diharapkan adalah pulihnya kesehatan! Bahkan keadaan yang tidak baik, dalam pandangan manusia, bisa menjadi berguna bagi manusia itu di tangan Allah.

Mat 13:31-43.
Bagian ini terdiri dari dua perumpamaan dan satu penjelasan alegori. Ay, 31-32 perumpamaan tentang biji sesawi ; Ay. 33 tentang ragi ; sedangkan ay. 36-43 menjelaskan alegori lalang di antara gandum pada ay.24-30.
Perumpamaan (parabolè) adalah satu metoda mengajar yang lazim dipakai oleh para rabi Yahudi untuk mempertajam atau memperjelas satu pengertian atau nilai yang akan diajarkan. Perumpamaan biji sesawi dan ragi adalah dua dari sekian banyak perumpamaan yang dipakai oleh Tuhan Yesus untuk mengajar.
Perumpamaan ‘bji sawi’ membawa pesan bahwa Kerajaan Allah sangat hirau pada ‘yang kecil’ karena, bahkan dari yang sangat kecil, seperti biji sawi itu bila tumbuh pada situasi yang kondusif menjadi pohon yang kuat dan rindang. Pohon ini tidak hanya menghasilkan sayur tetapi sekaligus menjadi tempat berteduh burung-burung. Melalui perumpamaan ini Yesus mau membesarkan hati orang-orang yang beriman kepada-Nya untuk tidak berkecil hati karena ‘kecil’. Keadaan kecil bukan keadaan yang statis tetapi menjadi awal dari sebuah pertumbuhan yang pada waktunya pertumbuhan itu menghasilkan buah yang berguna. Jangan kecil hati, begitu pesan Yesus.
Perumpamaan ‘ragi’ juga membawa pesan yang kira-kira sama dengan ‘biji sawi’. Aspek yang lebih ditekankan di sini adalah aspek ‘kecil’ dan ‘tidak kelihatan’ tetapi justru di situ keistimewaannya. Seperti ‘ragi’ yang sedikit bekerja dari dalam secara diam-diam dan mengkhamirkan seluruh adonan maka demikianlah kuasa Kerajaan Allah itu mengubahkan karakter kehidupan seseorang. Dalam takaran yang tepat ragi mengubah adonan menjadi roti yang sedap. Ketika seorang pengikut Yesus berlaku seperti ragi sorgawi (=hidup dengan nilai-nilai sorgawi) maka karakter atau sifat atau kondisi lingkungannya akan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik!
Kecil tetapi berakibat besar dan berguna begitu pesan dari dua perumpamaan ini. Karya penyelamatan Tuhan yang istimewa itu tidak selalu hadir dalam bentuk-bentuk yang spektakuler dan kolosal tetapi juga lewat perkara-perkara yang sangat sederhana dan, bahkan, tidak nampak tetapi berdampak. Di tangan Tuhan yang berdaulat dan berkuasa kecil besar menjadi relatif dan bisa dijadikan berguna bagi kehidupan manusia.
SUGESTI UNTUK PENYUSUNAN KHOTBAH.
1. Apa alasan seseorang memilih suatu agama? Jawabannya, pada umumnya, adalah egosentris dan subyektif. Yang bisa memberikan berkat, kepastian hidup, keselamatan, kebahagiaan, sukses, kekayaan, kesehatan yang lebih baik dan lebih sempurna pastilah menjadi alasan utama. Tentu saja alasan ini tidak salah sebab memang demikianlah kebutuhan dasar manusia. Alasan ini menjadi masalah bila dijadikan satu-satunya harapan manusia terhadap agamanya. Tuhan hanya menjadi pelayan bagi orang-orang yang menyembahnya. Karena kepentingan-kepentingan pribadinya menjadi yang nomer satu maka bila apa yang diharapkan itu tidak menjadi kenyataan orang bisa menjadi kecewa.
2. Di sisi yang lain mestinya orang sadar bahwa kenyataan hidup tidak selalu seperti yang diharapkan. Orang yang beriman kepada Tuhan Yang Mahakasih tiba-tiba menjadi rapuh, tidak siap, dan merasa tidak berdaya bila dihadapkan pada kesulitan, persoalan, keras dan kejamnya hidup ini. Orang terbuai oleh satu kenyataan saja dan mengabaikan kenyataan yang lain atau malahan menganggap bahwa kenyataan buruk itu sebagai sesuatu yang tidak mungkin mereka alami. Kenyataan yang tidak seperti diharapkan bisa saja sebagai akibat ulah sendiri (seperti Yakub) tetapi bisa juga karena pihak lain. Suka tidak suka kenyataan ini harus diterima.
3. Ada ‘Kenyataan Lain’ di atas dua kenyataan bahagia atau tidak bahagia, senang atau susah yakni Tuhan sendiri. Bagi Tuhan dua kenyataan yang bertolak belakang itu berada di bawa pengawasan dan kendalinya. Dua hal yang nampaknya saling berlawanan dan masuk dalam kehidupan umat-Nya sekali pun BISA dan MAMPU diubahkan menjadi berguna untuk membangun dan membina kehidupan umat sehingga mereka menjadi lebih matang dan dewasa secara rohani. Di tangan Tuhan pula kenyataan-kenyataan itu dipakai untuk membuat mereka makin dekat dan bergantung pada kasih setia-Nya saja. Bahwa Tuhan menguasai dan mengendalikan kenyataan-kenyataan tadi, hal itu bisa dilihat dari pengalaman hidup umat di masa yang sudah lewat (Maz 105). Pengalaman manis, positif, dan luar biasa bersama Tuhan itu menjamin bahwa kenyataan-kenyataan hidup yang paling pahit sekali pun bermanfaat bagi umat Allah – karena Tuhan. Bagi umat Perjanjian Baru kuasa Allah yang mengatasi kenyataan-kenyataan ini dijamin dengan kuat karena kebangkitan Kristus Yesus sendiri. Kenyataan pahit dalam kehidupan-Nya – ketika dijalani dengan setia – berbuah manis bukan hanya untuk diri-Nya sendiri tetapi untuk seluruh dunia.
4. Doa berikut menjadi doa seseorang yang bisa melihat kenyataan-kenyataan hidup itu dengan kacamata iman yang benar dan mengambil manfaat dari keadaan itu.
PRAYERS ANSWERED THE OTHER WAY !
I asked God for strength,
that I might achieve,
I was make weak,
that I might learns humbly to obey.
I asked for health
that I might do greater things ;
I was given infirmity
that I might do better things.
I asked for riches
that I might be happy
I was given poverty
that I might wise.
I asked for power
that I might have the praise of men
I was given weakness
that I might feel the need of God
I ask for all things
that I enjoy life
I was given life
that I might enjoy all things
I got nothing that I asked for
but everything I had hope for.
Almost despite my self,
my unspoken prayers were answered.
I am among all men most richly blessed.

An unknown Confederate Soldier
5. Lagu-lagu yang bisa dipergunakan :
NKB 2:1,5,6 (Hai, mari sembah)
NKB 133:1-3 (Syukur pada-Mu, ya Allah)
NKB 14:1-4 (Jadilah, Tuhan, kehendak-Mu)
NKB 49:1-3 (Tuhan yang pegang)
PKJ 7:1-3 (Bersyukurlah pada Tuhan)
KJ 443:1-2 (Kau sukacita)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It