FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

June 24, 2008

TETAP TEGUH KEPADA JANJI ALLAH

Filed under: Rancangan Khotbah — Martin @ 5:05 pm

Pdt. Samuel Adi Perdana
Rancangan Khotbah untuk 8 Juni 2008
Pendeta Jemaat GKI Basis Pelayanan GKI Purwodadi Grobogan

Bacaan I : Kejadian 12:1-9
Antar Bacaan : Mazmur 33:1-12
Bacaan II : Roma 4:13-25
Bacaan III : Matius 9:9-13
Ayat Persembahan : Kolose 3 : 23

TUJUAN :

Anggota Jemaat dimotivasi agar mereka mampu untuk memiliki iman yang teguh untuk
percaya kepada janji Allah, dan merasakannya dalam hidup sehari-hari.

DASAR PEMIKIRAN

Kita pernah mendengar atau menyanyikan lagu dari NKB. 170 - Jalan Hidup Tak Selalu (lihat NKB). Lagu ini menyampaikan sebuah pengakuan iman bahwa Tuhan senantiasa mengasihi umat-Nya, dengan kasih yang nyata, Tuhan selalu menyertai umat-Nya, dan memegang teguh janji-janji-Nya bagi umat-Nya. Di sisi lain lagu ini menunjukkan sebuah kenyataan bahwa umat Tuhan, tidak selalu melewati jalan hidup yang tanpa kabut tebal, juga melewati jalan hidup yang penuh badai atau persoalan yang membuat takut, putus asa dan gentar. Salah satu tokoh yang dapat dijadikan contoh beriman yang teguh, yaitu memegang pada janji-janji Tuhan adalah Dietrich Bonhoeffer. Dalam masa yang paling gelap di abad XX, ia memberikan hidupnya hingga menjadi martir. Beberapa bulan sebelum kematiannya, ia menulis di dalam penjara kata-kata berikut ini, yang sekarang dinyanyikan di Taize:”Tuhan, satukanlah pikiranku kepada-Mu, Bersama-Mu ada terang. Engkau tidak melupakan aku. Bersama-Mu ada pertolongan, bersama-Mu ada kesabaran. ”Kembali ke Laptop,“ begitulah kalimat pamungkas yang selalu dilontarkan Tukul Arwana dalam acara Empat Mata, jika ia sudah bicara ngalor-ngidul. Kembali ke laptop supaya kembali pada arah pembicaraan. Seiring ”kembali ke laptop“, kita juga bisa mengatakan pada diri kita atau saudara kita yang sedang dilanda kabut tebal, juga melewati jalan hidup yang penuh badai atau persoalan yang membuat takut, putus asa dan gentar: ”Kembali Ke Iman“, supaya kita kembali fokus pada kenyataan bahwa Tuhan adalah pelangi kasih yang memegang teguh janji-janjiNya. Mungkin inilah yang perlu kita usahakan bersama melalui perenungan pada minggu ini, yaitu bagaimana orang percaya bisa teguh memegang pada janji-janji Allah.

TAFSIRAN SINGKAT

BACAAN I : Kejadian 12 : 1 - 9

Di dalam kisah Yahwis, pemilihan Abram merupakan misteri. Sepenuhnya tergantung dari inisiatif YAHWEH, bukan didasarkan suatu hak, jasa atau bakat dari orang / orang-orang yang dipilih-Nya. Tujuannya, untuk membuat orang/ orang-orang pilihan-Nya menjadi alat dalam rencana-Nya sehingga melalui mereka umat manusia memperoleh berkat (ayat 3), sebaliknya mengutuk orang-orang yang mengutuk Abram. Bahwa semua kaum di bumi akan diberkati dalam Abram, mungkin maksudnya agar Abram dianggap sebagai model berkat ilahi (Kejadian 48:20). Akhirnya, bisa dimengerti bahwa Israel sungguh-sungguh merupakan perantara berkat Allah untuk seluruh dunia. Janji yang disampaikan didominasi oleh istilah ”berkat“ (5x). Apa yang ditawarkan YAHWEH kepada Abram bakal merupakan bukti kebaikan ilahi sekaligus sumber kebahagiaan Abram sendiri, keturunannya dan suatu bangsa yang besar (goy-Ibrani). Untuk menjadi bangsa yang besar, Abram perlu memiliki keturunan dan tanah. Abram terkenal karena percaya kepada tindakan YAHWEH, hal ini berarti Abram meninggalkan kepercayaan Terah dan sanak keluarganya, yaitu beribadah kepada allah lain (Lih. Yosua 24:2). Pemanggilan Abram adalah babak baru sebuah kepercayaan Abram, yaitu beralih dari ketaatan dan penyembahan pada baal kepada ketaatan dan penyembahan kepada YAHWEH. Ketaatan ditunjukkan juga oleh Abram dengan mendirikan mezbah di bawah pohon Terbatin di More (ayat 6). Dimana
pohon Terbatin dikenal sebagai pohon suci. Hal ini menunjukkan bahwa sudah ada ibadah kuno sebelum kedatangan Abram di Sikhem. Ibadah kuno ini adalah ibadah kepada baal, yang kemudian Sikhem menjadi pusat ibadah orang Israel (Yosua 24:1). Bapa Abraham dan Yakub sering diceritakan mendirikan mezbah dan menyembah TUHAN di kota-kota kuno Kanaan sebagai jawaban atas pengalamannya dengan yang kudus dalam kota-kota ini. Beginilah cara menerangkan mengapa kota-kota yang mulanya kafir bisa menjadi pusat-pusat pemujaan orang Israel. Peristiwa-peristiwa penting dalam PL sering terjadi di sekitar pohon suci, yang dipercaya menjadi tempat khusus untuk menerima pewahyuan ilahi. Seperti halnya YAHWEH menampakkan diri kepada Abram dan menunjukkan kepada Abram
bahwa tanah ini, Kanaan menjadi tahah YAHWEH yang diberikan kepada Abram dan keturunannya. Pendirian mezbah itu mengartikan bahwa di tempat itu YAHWEH akan menggenapi janji-janji-Nya. Perlu kita singgung juga mengenai tiadanya reaksi Abram terhadap perintah YAHWEH itu. Penulis Yahwis tidak mengatakan, bagaimana reaksi Abram terhadap janji YAHWEH itu. Juga tidak ada penjelasan mengapa Abram menaati perintah itu. Yang dikatakan hanya: pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya (ayat 4). Kita dapat mengandaikan iman tak bersyarat dan ketaatan dari jawabannya. Yakobus mencatat bahwa Abraham adalah sahabat Allah, yaitu seorang yang dapat menyatakan iman/ kepercayaan dengan tindakan yang nyata (Yak. 2 : 23; lih. 2 Taw. 20 : 7).
Kesimpulan : Abram menanggapi inisyatif YAHWEH yang memanggilnya untuk keluar dari negerinya menuju ke negeri yang di janjikan-Nya, dengan iman/ kepercayaan yang tanpa syarat. Janji YAHWEH dihayati sebagai petunjuk jalan menuju tanah yang dijanjikan YAHWEH. Keteguhan iman/ kepercayaan Abram diwujudkan dengan ketaatannya dan pendirian mezbah-mezbah bagi TUHAN.

ANTAR BACAAN : Mazmur 33 : 1 - 12

Dalam ayat 1-3, mengajak seluruh orang-orang benar dalam TUHAN, memuji dan bersyukur kepada TUHAN. Orang-orang benar di sini, artinya orang yang percaya atas perbuatan-perbuatan TUHAN dan taat akan perintah-perintah-Nya. Sedangkan orang-orang jujur menunjukkan pujian merupakan doa yang tidak terbatas masalah batiniah, tetapi juga masalah pengalaman-pengalaman lahiriah yang menunjukkan iman dan pengharapan. Dalam ayat 4-7 menunjukkan bahwa sabda TUHAN berkuasa dan benar, hal ini tercermin dalam tindakan-Nya. TUHAN juga setia kepada apa yang telah difirmankan-Nya (teguh memegang janji-Nya). Salah satu bukti kekuasaan sabda TUHAN adalah melalui melihat segala ciptaan-Nya (lih. Kej.1:3, ”Berfirmanlah Allah…..“). Dalam ayat 8-12, manusia hendaknya takluk, yaitu takut dan gentar di hadapan TUHAN, sebab Dia tidak tertandingi. Sikap takut dan gentar, bukan beranti kengerian bagi manusia, tetapi suatu sikap yang menyatakan bahwa manusia taat dan percaya pada pemerintahan TUHAN, dan itu hal yang membahagiakan.
Kesimpulan : ayat 12, berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya, menjadi milik-Nya sendiri. Orang benar mengandalkan (Firman) TUHAN yang berkuasa atas segala ciptaan-Nya.

BACAAN II : Roma 4 : 13 - 25

Dalam abad I, ada pendapat Yahudi populer yang menyatakan bahwa Abraham mengenal dan mentaati Taurat, meskipun ia hidup jauh sebelum hal itu diwahyukan kepada Musa. Paulus menentang pendapat ini berdasarkan Kitab Suci sendiri, yaitu Kejadian 15:6 (lih. Ayat 3,9,22). Dalam Kejadian diceritakan bahwa Abraham percaya kepada TUHAN dan TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Perhatikanlah istilah memperhitungkan, suatu ungkapan yang rupanya diambil dari bidang keuangan untuk menggambarkan kelakuan seseorang. Dalam Roma 4 : 3 - 6, 8, penggunaan Paulus terhadap kata memperhitungkan memiliki pengertian: berarti iman Abraham diakui oleh Allah sebagai suatu kebenaran, sebagaimana ditunjukkan dalam keadaan hidupnya, yaitu dalam tanda-tanda kesalehannya dan dalam hubungan yang benar dengan Allah. Lagi pula, Allah menjanjikan kepada Abraham seorang pewaris dan kemakmuran yang besar (Kej.15 : 4 ; 22 : 16 - 18), sehingga tidak bergantung pada pelaksanaan Taurat Yahudi.

Ay 8 : Paulus mengutip Maz. 32 : 1 - 2 untuk membandingkan sekaligus memperkuat gagasan istilah memperhitungkan, yaitu sungguh berbahagia bahwa Allah tidak memperhitungkan kesalahan manusia, artinya pengampunan itu merupakan anugerah, diberikan oleh Allah, bukan karena kesalehan manusia. Namun setelah diampuni, manusia harus menunjukkan tanda-tanda pengampunan itu. Dengan demikian ungkapan: TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran merupakan anugerah Allah bagi Abraham, dan bukan karena hukum Taurat.
Ayat 17 - 22 menggunakan kata mati. Abraham sungguh yakin bahwa Allah dapat merealisasikan janji-Nya dengan memberikan keturunan melalui tubuhnya dan tubuh istrinya, Sarah yang mati (rahimnya tertutup) tersebut. Paulus memuji iman Abraham: Ia tidak bimbang…malah ia diperkuat dalam imannya, artinya, bahwa tentang janji Allah Abraham tidak goyah sehingga kehilangan iman, tapi justru dikuatkan oleh iman. Dan dengan demikian Abraham memuliakan nama Allah oleh karena ia percaya dengan penuh, bahwa Allah berkuasa untuk memenuhi janji-Nya. Dengan demikian Abraham menjadi bapa dari banyak bangsa, bapa bagi kita semua.

Ayat 23 - 25, Paulus sekarang menuju pada pokok yang terbesar baginya, yaitu kebenaran orang percaya. Bahwa Allah menerima Abraham, bapa orang percaya, diceritakan oleh Alkitab supaya kita percaya juga, dan memohon kebenaran yang dikaruniakan oleh Allah melalui Yesus yang telah dikorbankan bagi kesalahan-kesalahan kita, dan yang telah dibangkitkan untuk pembenaran kita.
Paulus menunjuk lagi kepada dua keyakinan yang telah dikatakan sebelumnya, yaitu bahwa pengampunan dan pembenaran diberikan dengan cuma-cuma sebagai karunia dari anugerah Tuhan. Bahwa Abraham diterima oleh Allah dan bahwa ia menerima kepastian tentang keturunan, ini semua tergantung pada anugerah Allah dan hanya diterima oleh iman (baca: percayanya).
Orang Kristen mendapat berkat itu dengan jalan yang sama dan dengan syarat yang sama. Ayat 23, mengatakan bahwa kata-kata ”hal ini diperhitungkan kepadanya“ tidak untuk Abraham saja, tetapi juga dituliskan untuk orang Kristen, karena percaya kepada Allah yang telah membangkitkan Yesus dari kematian dan kebangkitannya menghapuskan pelanggaran-pelanggaran manusia. Dan kita menerima pembenaran melalui iman.

Kesimpulan : Allah memperhitungkan iman Abraham sebagai kebenaran, dengan demikian Allah juga akan memperhitungkan iman kita yang percaya kepada Allah yang telah membangkitkan Yesus dari kematian dan kebangkitannya menghapuskan pelanggaran-pelanggaran kita, sebagai suatu kebenaran. Dan dengan iman kita memegang janji Allah, bukan dengan iman kita malah menjadi goyah, menjadi lemah, bahkan mati atau kehilangan iman.

BACAAN III : Matius 9 : 9 - 13

Tindakan Yesus yang makan bersama para pemungut cukai (adalah pegawai Kerajaan Romawi yang bertugas memungut pajak. Pekerjaan ini sangat mudah terlibat pada tindakan korupsi dan pemerasan. Inilah sebabnya kelompok ini dicap sebagai orang berdosa dan para pendosa (ay.10-11) memberi sandungan kepada orang-orang Farisi, yang menganggap kesucian ritual dan makan bersama merupakan praktek keagamaan yang penting. Mereka mempertanyakan kepada para murid mengenai tindakan Yesus tersebut. Dalam ayat 12-13 Yesus memberikan tiga penjelasan :

Pertama, orang yang sakit (rohani) sangat memerlukan penolong (tabib) ;
Kedua, kutipan Hosea 6:6 memberi kesaksian mengenai besarnya belas kasih Allah. ;
Ketiga, Yesus datang untuk memanggil orang-orang berdosa supaya dibenarkan. Jawaban ini, sebagai sindiran bagi orang-orang farisi yang mengutamakan tindakan-tindakan ritual, seperti memberikan persembahan, sekaligus berita tentang Injil Kerajaan Allah yang ditujukan bagi Israel.

Kesimpulan, Yesus yang makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa menunjukkan bahwa Allah yang hadir bertindak memanggil orang-orang berdosa dengan belas kasih-Nya untuk membenarkan mereka.

KESIMPULAN TAFSIRAN

Tindakan iman yang tanpa syarat, memampukan kita memegang janji Allah dan Allah memperhitungkan itu sebagai suatu kebenaran. Bukan sebaliknya dengan iman kita malah menjadi goyah, menjadi lemah, bahkan mati atau kehilangan iman. Janji Allah kokoh, tidak mungkin diingkari.Berbahagialah mereka yang percaya kepada Allah yang telah membangkitkan Yesus dari kematian dan kebangkitannya menghapuskan pelanggaran-pelanggaran manusia. Dan kita menerima pembenaran melalui iman. Orang benar mengandalkan TUHAN yang berkuasa atas segala ciptaan-Nya.

SARAN PENYUSUNAN KHOTBAH

Khotbah dapat dimulai dengan menyanyikan NKB 170 dan memperhatikan syairnya; atau menceritakan salah satu tokoh Gereja yang memegang janji-janji Tuhan dalam masa-masa tersulitnya, seperti Dietrich Bonhoeffer atau kisah seorang anggota jemaat; atau menghadirkan seseorang untuk memberikan kesaksian hidup selama 5 menit (orang yang bersaksi harus dijelaskan dulu maksud dari kesaksiannya).
Ajaklah Anggota Jemaat untuk memahami tentang :
Pertama, tindakan iman yang tanpa syarat. Pemahaman yang perlu dikembangkan adalah iman memampukan kita memegang janji-janji Allah, yaitu menerima damai sejahtera dan kemuliaan Allah. (lih. Roma 5:1) bukan sebaliknya dengan iman kita malah menjadi goyah, menjadi lemah, bahkan mati atau kehilangan iman (Roma 4:20).

Kedua, motivasi diri untuk dapat berpegang teguh pada janji Allah. Ajaklah anggota jemaat hidup penuh syukur, terimalah kesusahan sebagai yang menumbuhkan ketekunan iman, dan ketekunan iman membuat kita tahan uji, dan tahan uji membuat harapan (janji-janji Allah) menjadi nyata, dan akhirnya kita tahu bahwa janji Tuhan tidak mengecewakan. Dalam hal ini pengkhotbah dapatmemberikan semangat kepada anggota jemaat untuk dapat saling memberi kesaksian dalam kesempatan-kesempatan yang tersedia.

Buatlah komitmen dengan anggota jemaat untuk selalu dapat mengatakan: ”Syalom,“ (sambil tersenyum) setiap kali bertemu orang-orang percaya. Boleh juga langsung dipraktekkan di tengah khotbah, atau saat pulang.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It