FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

June 26, 2008

Matius 16:1-12

Filed under: Bahan PA Lentera Umat — Martin @ 11:03 pm

Minggu Ketiga, Juli 2008
TANDA DULU, BARU PERCAYA
Pdt. N. Yudhi Rumpaka
Pendeta Jemaat GKI Pulomas, Jakarta
Bahan: Matius 16:1-12

Tujuan:
1. Peserta memahami mengapa orang Farisi dan Saduki mensyaratkan ‘tanda’ untuk percaya.
2. Peserta menyebutkan sikap yang diharapkan oleh Yesus untuk beriman kepada-Nya.

PENGANTAR

Mempercayai sesuatu memang bukan perkara sederhana, apalagi jaman sekarang terlalu banyak orang menjadi korban penipuan, sehingga untuk dapat mempercayai orang lain rasa-rasanya sangat sulit terjadi.

Sudah lumrah tentunya kita perlu “tanda” atau bukti dahulu, sehingga bukan sekedar isu, rumor, joke, guyon, atau gosip. Ketika bukti itu nyata, maka lebih mudah untuk percaya, itupun sering terjadi di hari-hari kemudian ternyata berubah dan akhirnya kita tertipu lagi. Kita dapat belajar dari kasus-kasus penipuan uang ala MLM, dengan dalih investasi, pelipatgandaan uang atau para pecandu narkotika yang ketika tertangkap basah mengaku kapok tetapi kambuh lagi, dll.

Apakah sikap kristis dan hati-hati juga perlu kita berlakukan dalam konteks iman percaya? Apalagi muncul novel The Da Vinci Code, film kuburan Yesus dan disusul buku The Jesus Dynasty, Injil Maria Magdalena, dll. Hal-hal tersebut bisa saja menggoyahkan iman! Maka belajar dari kisah percakapan antara Tuhan Yesus dengan beberapa orang Farisi dan Saduki kita akan melihat bagaimana sikap percaya kita saat ini dan nanti.

PENJELASAN
1. Latar belakang bacaan kita tidak bisa dipisahkan dari suatu kenyataan terjadinya “perang” atau “persaingan” pengaruh antara Tuhan Yesus dengan pemimpin-pemimpin bangsa Yahudi. Seperti kita ketahui setelah mujizat-mujizat yang Tuhan Yesus lakukan, banyak sekali umat Yahudi mengikuti Tuhan Yesus. Akibatnya pemimpin-pemimpin bangsa Yahudi mulai kehilangan pengaruh (krisis kekuasaan). Dan seperti biasanya sama dengan keadaan kita sekarang ini, tentu setiap orang yang mulai turun popularitasnya akan resah, sebab akan menjadi awal berkurangnya beberapa hal-hal lainnya, misalkan: kekuasaannya, pengaruhnya, fasilitasnya. Intinya ketika orang telah berpindah memberikan dukungannya kepada pihak lain tersebut, pasti lebih menghargai, menyenangi dan akhirnya menurut kepada pihak lain tersebut. Agar pemimpin-pemimpin bangsa Yahudi tidak kehilangan muka, akhirnya mereka berusaha “menjatuhkan dan menyerang” Tuhan Yesus dengan tujuan merebut kembali “eksistensinya” yang telah pelan tetapi pasti mulai luntur. Maka kata-kata “hendak mencobai Yesus” (ay. 1) menunjukkan suatu usaha untuk menjatuhkan Tuhan Yesus dan usaha semacam ini berkali-kali dilancarkan oleh pemimpin-pemimpin bangsa Yahudi.

2. Tuhan Yesus menyadari keadaan yang tidak sehat tersebut sehingga dengan hikmat yang dimiliki-Nya Tuhan Yesus sanggup memberikan jawaban yang pada akhirnya menjadi boomerang (senjata makan tuan) bagi pemimpin-pemimpin bangsa Yahudi sendiri. Kali ini mereka meminta “tanda dari sorga”. Tentu maksud mereka adalah suatu tanda yang menunjukkan legalitas atau sumber otoritas atas tindakan-tindakan dan ajaran-ajaran Tuhan Yesus sehingga banyak orang Yahudi mengikuti-Nya. Jadi kira-kira mereka hendak mengatakan: “Atas nama siapa kamu berani-beraninya melakukan tindakan-tindakan dan ajaran-ajaran baru sehingga umatku menurutimu atas perintah siapa, atas dukungan siapa, apakah Allah mendukungmu?”.

3. Jawaban Tuhan Yesus sangat menarik. Dia mengatakan: ‘Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit cerah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakan tetapi tanda-tanda zaman tidak’. Sebetulnya Tuhan Yesus hendak menegur mereka sebab seringkali sikap dan perilaku pemimpin-pemimpin bangsa Yahudi seperti “Tuhan yang Mahatahu”, tahu akan hari baik dan tahu kapan akan datang hari sial itu. Sebenarnya mereka melakukan itu karena selama ini hanya kepada merekalah umat Yahudi menggantungkan iman percaya mereka. Umat Yahudi terlanjur menempatkan mereka terlalu berlebihan, selama ini menurut Perjanjian Lama dengan aturan-aturan Hukum Taurat menempatkan pemimpin-pemimpin bangsa Yahudi sebagai “wakil” Tuhan yang tidak boleh dibantah.

4. Maka Tuhan Yesus pun melanjutkan dengan menyindir mereka agar sadar dari kesombongan iman mereka. Yunus (ay. 4) adalah contoh tepat, sebab eksklusivisme Yunus adalah cermin bagi pemimpin-pemimpin bangsa Yahudi itu. Yunus beranggapan bahwa bangsa Niniwe tidak layak untuk diampuni kesalahannya, aneh bukan? Tetapi itulah kenyataannya, Yunus marah ketika Tuhan mengasihi dan mengampuni bangsa Niniwe (band. Yun 4:1-2). Dari ayat-ayat tersebut setidaknya ada beberapa hal yang Tuhan Yesus harapkan dapat dimengerti oleh pemimpin-pemimpin bangsa Yahudi dan mau mengubah sikap mereka, yaitu:
a. Tuhan mengasihi semua umat ciptaan-Nya, tidak sebatas bangsa Yahudi atau umat Israel sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk merasakan kasih karunia Tuhan.
b. Kuasa Tuhan tidak terlampaui, Dia bisa melakukan apa saja sehingga hanya kepada Dialah umat seharusnya percaya, bukan kepada pemimpin-pemimpin mereka yang sama-sama manusia biasa.
c. Di sisi lain sekalipun Yunus seorang nabi, ternyata ia dapat juga melakukan kesalahan, sehingga para pemimpin bangsa Yahudi itu diingatkan agar jangan sekali-kali menyombongkan diri.

6. Akhirnya Tuhan Yesus memperingatkan murid-murid-Nya bahwa pemimpin-pemimpin bangsa Yahudi akan terus melancarkan serangan mereka melalui pemutarbalikkan ajaran-ajaran mereka, dengan satu tujuan menghentikan kiprah Tuhan Yesus yang telah menarik umat mereka. Tuhan Yesus menggambarkan mereka seperti ‘ragi’. Bagi ibu-ibu yang sering membuat roti atau kue tentu tahu peran ragi tersebut. Daya kerja ragi sangat unik, dengan sedikit ragi sudah dapat “mempengaruhi” dan “mengubah” banyak gandum/terigu atau adonan. Jadi artinya ajaran-ajaran pemimpin-pemimpin bangsa Yahudi sangat berbahaya sebab memiliki daya pengaruh (negatif tentunya) yang kuat dan sanggup “mempengaruhi” dan “mengubah” kepercayaan umat. Bersyukur akhirnya para murid tahu maksud Tuhan Yesus (ay. 12).

PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI
1. Kalau kita bandingkan: Tomas pernah meragukan juga eksistensi Tuhan Yesus (Yoh 20:24-29), apakah Saudara menemukan motivasi yang sama dengan orang-orang Farisi dan Saduki?
2. Apakah yang bisa kita lakukan ketika menemukan buku, film, dokumen yang isinya bertentangan dengan isi Firman Tuhan atau ajaran kita?
3. Bagaimana sikap kita terhadap umat beragama lain di Indonesia yang isi ajaran agamanya kadang-kadang bertentangan dengan isi Firman Tuhan atau ajaran kita?
4. Bagaimana usaha Gereja untuk menghadapi tingkat kekritisan jemaat terhadap ajaran-ajaran Kekeristenan di masa sekarang ini?

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It