Matius 16:13-20
Juli 2008, Minggu Keempat
Pdt. Sthira Budhi Purwosuwito
Pendeta Jemaat GKI Gading Indah, Jakarta
Pengakuan Petrus
Bahan: Matius 16:13-20
Tujuan:
1. Peserta menyebutkan arti Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup
2. Peserta memiliki pemahaman siapa Yesus dalam hidup mereka
Pengantar
Sebagian besar dari orang Kristen di Indonesia, termasuk kita, adalah orang-orang Kristen “turunan”, artinya kita menjadi Kristen pertama kali adalah karena orangtua kita adalah orang Kristen. Kita dibaptis pada usia kecil, kemudian kita menjalani kelas katekisasi dan akhirnya menjalani pengakuan percaya (sidi). Tentu sama sekali tidak ada yang salah dengan menjadi seorang “Kristen Turunan”; orangtua kita sangat bisa dipakai Tuhan menjadi “pintu masuk” kita untuk menjadi seorang Kristen. Namun tetap saja kita harus sampai pada sebuah keputusan dan pemahaman pribadi tentang Yesus Kristus. Itulah yang sebenarnya terjadi pada waktu kita mengakui percaya (sidi).
Percaya kepada Kristus memang adalah sesuatu yang unik. Dalam percaya kepada Kristus kita bukan hanya percaya kepada sejumlah ajaran tentang Yesus (dogma tentang Yesus), tetapi kita diajak untuk percaya kepada Yesus. Kita boleh saja mengenal dan mempelajari bahkan menghapal sekian banyak ajaran tentang siapakah Yesus, namun pada akhirnya kita selalu ditantang untuk menemukan dan merumuskan, siapakah Yesus itu, menurut kita sendiri. Kita diajak untuk menemukan sendiri makna dari iman kepada Yesus Kristus, siapa Yesus bagi kita, apa artinya kalau kita percaya kepada Yesus Kristus dan apa dampaknya bagi kehidupan kita. Karena percaya kepada Yesus sekali lagi bukanlah percaya kepada serangkaian dogma/ajaran tentang Yesus, tetapi percaya kepada Yesus (oknum) dan sebenarnya juga berarti mempercayakan diri kita kepada-Nya. Dengan demikianlah kita bisa mencapai sebuah iman yang otentik, yang menjadi milik kita sendiri.
Penjelasan
Kisah dalam perikop ini terjadi di sebuah daerah yang bernama Kaisarea Filipi. Nama Kaisarea Filipi mau membedakan daerah itu dengan 2 kota Kaisarea yang lain, yaitu yang terletak di tepi laut tengah (di Samaria) dan kota Kaisarea yang dibangun oleh Raja Filipus, penguasa lokal pengganti Herodes Agung. Kaisarea Filipi adalah sebuah daerah di perbatasan Israel yang paling jauh di utara, dekat dengan kota Dan (dapat dilihat pula di peta Alkitab pada zaman kerajaan Israel dan Yehuda). Pada masa hidup Tuhan Yesus, Kaisarea Filipi hampir tidak dapat lagi disebut sebagai daerah Israel, kebanyakan penduduknya pun adalah orang-orang kafir (bukan Yahudi). Agaknya memang Yesus mau “menyepi” sejenak dari kesibukan pelayanan-Nya, pergi bersama murid-murid-Nya ke daerah di mana ia tidak terlampau dikenal. Kita tidak menemui bahwa Yesus melakukan pekerjaan pelayanan di situ. Lalu apa yang Ia kerjakan? Nampaknya Ia mau secara khusus menyediakan waktu yang tenang, jauh dari kesibukan, untuk bercakap-cakap dengan murid-murid-Nya.
Di situ Yesus mulai bertanya (ay. 13), “Menurut pendapat orang, siapakah Anak Manusia itu?” Istilah “Anak Manusia” memang dapat dipakai secara umum untuk menyebut siapa saja, khususnya untuk mereka yang mendapat wibawa ilahi. Namun karena dalam Perjanjian Baru istilah ini hanya muncul dalam kitab-kitab Injil dan sekali dalam Kisah Para Rasul, maka biasanya cukup jelas bahwa ketika Yesus bicara tentang “Anak Manusia”, Ia sedang menunjuk kepada diri-Nya sendiri.
Di sini nampaknya Yesus mau melihat, siapakah Dia menurut pandangan banyak orang, yang sudah mengenal, mendengar bahkan melihat sendiri diri dan pekerjaan-Nya. Maka para murid menyampaikan banyak pandangan dari orang banyak, kebanyakan adalah merujuk pada tradisi nabi-nabi yang ada dalam kehidupan bangsa Israel. Ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, yang bangkit dari kematiannya (misalkan Herodes Antipas, Matius 14:2). Ada pula yang mengatakan bahwa Ia adalah Elia, salah satu nabi terbesar dalam sejarah Israel, yang berani menantang Raja Ahab yang tidak taat kepada perintah Tuhan. Ada pula yang mengatakan bahwa Ia adalah Yeremia atau salah satu nabi lainnya. Semua itu adalah penilaian yang cukup hebat. Namun nampaknya bukan itu yang mau dicari oleh Yesus, yang mau Yesus ketahui dari para murid-Nya.
Maka Yesus masuk ke pertanyaan-Nya yang terpenting, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Rupanya Yesus mau menguji, sejauh mana murid-murid-Nya mengenal diri-Nya. Mereka boleh saja mendengar begitu banyak julukan orang lain akan Yesus; mereka boleh saja memperhatikan begitu banyak pandangan orang tentang Yesus; mereka boleh saja belajar tentang begitu banyak karya Yesus yang dibandingkan dengan karya para nabi-nabi besar dalam sejarah Israel. Namun mereka harus sampai pada satu pemahaman mereka sendiri, untuk mereka, siapakah Yesus itu. Mereka boleh mengenal begitu banyak ajaran, julukan, pandangan tentang Yesus, tapi mereka harus sampai pada pemahaman mereka sendiri siapakah Yesus bagi mereka, apa artinya Yesus bagi kehidupan mereka.
Maka Simon Petruslah yang memberikan jawaban, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Penulis Injil Matius menuliskan nama Petrus cukup lengkap (Simon Petrus) untuk menjelaskan pentingnya saat itu, di mana Petrus mengucapkan pengakuan siapakah Yesus menurut dirinya. Ada beberapa catatan penting dari pengakuan Petrus ini.
1. “Mesias” (artinya “yang diurapi), atau dalam bahasa Yunani diterjemahkan menjadi “Kristus” adalah istilah yang dipakai untuk Raja besar yang selalu dinantikan bangsa Israel untuk membawa keselamatan bagi bangsa Israel, sebagaimana dinyatakan dalam nubuat-nubuatan para nabi di Perjanjian Lama. Artinya di sini mau ditegaskan bahwa Yesus berbeda, “unik”, bahkan lebih dari para nabi yang kepadanya tadi disematkan berbagai julukan (Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, dll). Menurut Petrus, Yesus-lah penggenapan nubuatan para nabi tadi, ialah Mesias, Juruselamat yang dijanjikan dalam nubuatan mereka. Ialah pusat dan pernyataan karya keselamatan Allah bagi umat-Nya.
2. Di sini, pengakuan Petrus tidak berhenti pada “Yesus adalah Mesias” saja (sebagaimana terjadi dalam bagian yang sejajar di Injil Markus dan Injil Lukas), tetapi Petrus melanjutkan dengan pernyataan tambahan “Anak Allah yang hidup”. Istilah ini adalah sesuatu yang amat khas dalam Injil Matius (misalkan dalam kisah pembaptisan, 3:17, dan pengakuan para murid, 14:33). Istilah “Anak Allah yang hidup” mau menunjukkan bahwa ada sebuah hubungan yang amat istimewa antara Yesus dengan Allah yang disapanya sebagai “Bapa”, hubungan yang kuat dan erat. Sesuai tradisi Perjanjian Lama dan pandangan orang Yahudi, istilah “Anak Allah” juga biasanya dipakai untuk menunjuk orang-orang tertentu yang dipercaya dipilih Allah untuk bertindak atas nama-Nya untuk kepentingan umat-Nya. Jadi Yesus memiliki hubungan yang luar biasa dan khusus dengan Allah, sumber kehidupan. Itulah sumber kekuatan dan wibawa-Nya.
3. Pengakuan Petrus ini, secara tekstual, memang adalah pengakuan Petrus secara pribadi. Namun juga pengakuan Petrus dapat dilihat sebagai sebuah pengakuan jemaat, secara khusus jemaat mula-mula, yang kepada merekala Injil Matius ini ditulis dan ditujukan. Apa yang diakui oleh Petrus sebenarnya juga merupakan apa yang diakui oleh Jemaat Kristen mula-mula; bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Inilah bentuk pengakuan iman Kristen yang paling mendasar dan awal. Sebelum adanya serangkaian dogma dan ajaran tentang Yesus, inilah bentuk pengakuan iman yang paling dini, tapi juga sekaligus paling asasi. Hal ini juga sekaligus mau menunjukkan bahwa pengakuan iman selalu memiliki dua dimensi: pribadi (seperti pengakuan Petrus) dan komunal (pengakuan iman jemaat).
Pertanyaan Panduan Diskusi
1. Menurut Saudara, mengapa Yesus perlu membawa murid-murid-Nya ke tempat yang “asing”, jauh dari hiruk-pikuk orang yang mengenal mereka?
2. Menurut Saudara, mengapakah para murid mengutip pandangan orang banyak yang membandingkan Yesus dengan para nabi besar? Kira-kira apa hubungan Yesus dengan para nabi tersebut?
3. Bagaimana pengalaman Saudara sendiri tentang mengenal Yesus? Bagikanlah kisah hidup Saudara!
4. Menurut Saudara sendiri, siapakah Yesus itu? Bagikanlah pemahaman Saudara, beserta dengan alasannya!
Variasi Metode
- PA dapat dilakukan dengan metode sharing, pertanyaan-pertanyaan di atas dapat juga disampaikan dalam sebuah percakapan di mana para peserta diminta untuk terlebih dahulu menceritakan latar belakang mereka masing-masing (apakah mereka memang sudah Kristen sejak lahir, atau kalau tidak bagaimana kisah hidup mereka masing-masing hingga bisa mengenal Yesus/Iman Kristen).
- Juga bisa dilakukan atau disediakan waktu kontemplasi sebelum mereka menjawab pertanyaan “Menurut Anda, siapakah Yesus itu”, masing-masing peserta diberi kesempatan untuk meneduhkan diri sejenak, berdiam diri sebelum menjawab pertanyaan tersebut.
- Bisa juga jawaban pertanyaan tersebut dituliskan dalam selembar kertas yang kemudian bisa dibawa pulang untuk menjadi semacam “pernyataan iman pribadi” masing-masing peserta (baik juga kalau pemimpin PA bisa menyediakan karton kecil kosong seperti pembatas Alkitab, bertuliskan “Yesus bagiku adalah…..”, yang bisa diisi sendiri oleh peserta PA).
TEOLOGI