FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

July 1, 2008

Matius 16:21-28

Filed under: Bahan PA Lentera Umat — Martin @ 11:12 pm

MENGIKUT YESUS ITU SULIT
Pdt. Pelangi Kurnia
Pendeta Jemaat GKI Klaten
Bacaan : Matius 16:21-28
Tujuan :
1. Peserta dapat menyebutkan makna syarat mengikut Yesus pada ayat 24
2. Peserta memahami bahwa kesulitan-kesulitan bisa menjadi tanda dari para pengikut Yesus.

PENGANTAR
Seorang teolog yang bernama Robert Boehlke pernah mengatakan bahwa “dalam diri Yesus tersimpan suatu misteri yang menghalangi setiap usaha untuk mengenal siapa Dia sesungguhnya” (dikutip dari buku “Selamat Mengikut Yesus”). Mengikut Yesus itu menjadi sulit oleh karena dalam pengajaran-Nya, ada banyak hal yang harus diterima dan wajib dilakukan oleh para pengikut-Nya. Tidak ada pilihan lain. Setiap pengikut Yesus harus memanggul salibnya, menyangkali diri dan berjalan di belakang Yesus. Hal-hal seperti ini, jika dilihat dari kacamata manusia terlihat mustahil untuk dilakoni. Maka wajar saja jika kemudian para murid bertanya, “Jika demikian, siapakah yang akan diselamatkan?”.

Harus diakui bahwa mengikut Yesus itu sulit. Bukan hanya sekadar berkata, “Ya, saya percaya bahwa Yesus itu adalah Tuhan dan Juruselamat.” Mengikut Yesus berarti juga mau mengambil bagian yang paling tidak menyenangkan, menerima risiko yang paling berat dan bahkan mungkin harus mempertaruhkan nyawa. Intinya, ada harga yang harus dibayar. Tampaknya mustahil kita melakukan itu, tetapi apa yang mustahil bagi kita, tidak bagi Allah. Dia akan memberikan kekuatan dan pertolongan sehingga kita dapat mengikut Yesus dengan taat dan setia.

PENJELASAN
Perikop sebelumnya (Mat 6:13-20) menceritakan pengakuan Petrus tentang “siapakah Yesus?”. Pengakuan itu menjadi sangat penting dalam kitab-kitab Injil. Di sini, Petrus mengakui, untuk pertama kalinya, Yesus sebagai Mesias, bahkan sebagai Anak/Putra Allah yang hidup (Mat 16:16). Perikop yang sekarang diulas merupakan lanjutan dari kisah pengakuan tersebut.

Ayat 21
Yesus mulai menjelaskan tentang siapa diri-Nya. Dia memang Mesias namun Mesias yang berbeda daripada yang dipikirkan oleh orang Yahudi pada waktu itu. Pada saat itu orang-orang Yahudi berpendirian bahwa Mesias adalah Raja orang Israel yang hendak mengalahkan musuh-musuh Israel dengan mudah dan gilang-gemilang. Namun Yesus justru memberikan pemahaman yang sama sekali baru tentang Mesias. Menurut Yesus, sang Mesias itu harus menderita, sengsara, mati dan kemudian bangkit pada hari ketiga. Hal ini sebagai bagian dari rencana penyelamatan dan kehendak Allah yang harus digenapi di dalam diri Yesus, sebagaimana yang dibicarakan dalam Yesaya 53.

Ayat 22-23
Mendengar pelajaran yang semacam itu, Petrus langsung memberikan reaksi. Dia kaget mendengar pernyataan Yesus itu. Petrus menganggap Yesus tidak pantas berbicara tentang Mesias yang seperti itu. Petrus lalu menarik Yesus dan berkata, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Perkataan Petrus yang dalam bahasa aslinya berbunyi, “hileos soi, kyrie” ini, banyak diterjemahkan dengan berbagai cara. Alkitab Terjemahan Baru LAI menyajikannya dengan panjang sekali. Kemungkinan yang paling tepat perkataan Petrus itu diterjemahkan dengan kalimat: “Astaga, Tuan!… Janganlah Allah membiarkan hal itu menimpa Engkau!” Mendengar ucapan Petrus yang seperti itu, Yesus lalu menegur Petrus dengan keras! Pada satu sisi Yesus memahami bahwa ungkapan Petrus itu merupakan ungkapan kasihnya kepada Yesus. Namun, pada sisi yang lain, Yesus juga mengetahui bahwa di balik itu, Setan si penggoda, tengah bekerja dengan memakai Petrus sebagai alatnya, agar Yesus menyimpang dari tugas yang dipercayakan kepada-Nya. Tetapi Yesus kuat. Ia tidak mau melepaskan ketaatan-Nya kepada Bapa, betapapun pahit dan berat tugas yang harus Dia pikul. Maka Yesus menegur Petrus. Di sini kita dapat melihat kebesaran Yesus. Sekalipun Dia takut akan apa yang terjadi di depannya namun kehendak Allah jauh lebih penting.

Ayat 24
Yesus tidak hanya menyampaikan pengajaran-Nya kepada Petrus saja, tetapi juga kepada murid-murid lainnya, dan kepada semua pengikut-Nya sekarang ini. Dalam ayat ini, ada tiga kata kerja yang perlu diperhatikan, yaitu: menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Aku. Ketiga kata kerja ini bukan hanya sekadar syarat yang harus dipenuhi oleh pengikut Yesus. Lebih dalam dari itu, ketiga hal ini harus menjadi dasar dalam kehidupan manusia yang mengikut Yesus.
• Menyangkal diri mengacu pada sikap hidup yang bersungguh-sungguh dalam menaati kehendak Allah. Menyangkal diri berarti tidak mementingkan kesenangan sendiri, melainkan mementingkan apa yang dikehendaki/dituntut Allah dari kita.
• Memikul salib. Dengan perkataan ini Yesus tidak menunjuk kepada salib yang Ia pikul sewaktu Ia digiring ke bukit Golgota. Perkataan “memikul salib” lebih merupakan kiasan atau istilah yang dikenakan kepada para pengikut-Nya, untuk mau juga menempuh jalan yang berat dan penuh penghinaan. Pengikut Kristus bukan saja harus rela untuk dihina karena Kristus tetapi juga rela untuk mati demi Kristus. Pengikut Kristus tidak boleh lari dari pergumulan dan perjuangan yang berat dan pahit sekalipun.
• Mengikut Aku. Mengikut Yesus berarti “berjalan di belakang Yesus”. Tentu saja maksud dari perkataan ini bukan yang bersifat lahiriah saja, melainkan melekat kepada-Nya secara batiniah. Berjalan di belakang Yesus berarti mau tidak mau kita harus belajar berubah. Belajar mengubah apa yang harus kita utamakan dalam hidup ini. Belajar memahami apa yang diutamakan Tuhan Yesus. Dalam New King James Version, ayat 24 berbunyi demikian: “Then Jesus said to His disciples, “If anyone desires to come after Me, let him deny himself, and take up his cross, and follow Me” (Mat 6:24). Dalam bahasa Indonesia, kata come after dan follow diterjemahkan dengan kata yang sama, yaitu “mengikut.” Namun sesungguhnya keduanya memiliki makna yang berbeda. Kata “come after” berarti “datang”, “tiba”, “kembali”, “sampai”, “pergi”. Semuanya memiliki makna perpindahan, seperti peralihan dari satu tempat ke tempat lain. Namun dalam konteks ayat ini bukan berarti perpindahan secara fisik, melainkan perpindahan secara rohani atau istiliah kerennya mengalami transformasi kehidupan. Sedangkan kata “follow”, dengan mengacu pada ayat-ayat lain yang menggunakan kata yang sama, memiliki arti: “mengikuti” (Matius 4:20,22,25, 2 Tesalonika 3:7,9), “mengusahakan” (1 Tesalonika 5:15), “mencontoh iman” (Ibrani 13:7), dan “meniru” (3 Yohanes 1:11). Jadi jika diucapkan dengan bahasa masa kini Yesus berkata: “setiap orang yang ingin mengalami transformasi kehidupan maka dia harus memikul salibnya dan meneladani atau menjadi sama dengan Yesus.”

Ayat 25-26
Bagian ini menjadi semacam penegasan bahwa barangsiapa yang mau menyelamatkan nyawanya dengan jalan menyangkal Kristus serta meninggalkan Kristus ia akan kehilangan nyawanya. Dalam arti yang lebih dalam, mereka akan kehilangan persekutuan dengan Tuhan dan berarti juga kehilangan hidup yang kekal.

Ayat 27
Akhirnya, kemuliaan akan dinyatakan kepada Yesus Kristus setelah sengsara dan maut Ia kalahkan. Bahkan kemuliaan itu tidak hanya dinyatakan kepada Kristus saja, tetapi juga kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus dan setia sampai akhir hayatnya.

Ayat 28
Pada umumnya, ayat ini dianggap sebagai ayat yang sulit ditafsirkan. Dapat dikatakan bahwa dalam ayat ini sesunguhnya Yesus benar-benar berbicara tentang Kerajaan-Nya secara penuh sebagaimana kerajaan itu akan nyata pada akhir zaman; namun kerajaan itu sesungguhnya sudah menjadi nyata tatkala Yesus bangkit dan pada saat Pentakosta.

PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI

1. Sebutkan dan jelaskan tiga hal yang harus menjadi dasar dalam diri seseorang ketika memutuskan untuk mengikut Yesus!
2. Kesulitan-kesulitan apakah yang pernah Saudara alami sebagai pengikut Yesus? Jelaskan!
3. Bagaimana cara Saudara mengatasi kesulitan sebagai seorang murid Yesus?

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It