“Aku Ini, Jangan Takut”
Pdt. Mulyadi
Rancangan Khotbah GKI 10 Agustus 2008
GKI Muara Karang - Jakarta
Tujuan: Umat tetap bersandar kepada Kristus dan tidak bimbang dalam menghadapi pergumulan hidup
Setiap manusia selalu diperhadapkan pada pilihan untuk menentukan sikap. Pilihan pertama adalah pasif, menunggu saja apa yang akan terjadi pada dirinya. Orang sering menamai situasi ini dengan sebutan “terserah nasib” yang membuat para pelaku kehidupan menjadi pasif dan cenderung menyalahkan nasib untuk hal-hal negatif yang terjadi pada dirinya. Biasanya takaran yang dipakai adalah pola pikirnya sendiri. “Anugerah” yang diperoleh adalah jika segala yang diharapkan terpenuhi menurut ukurannya. Dan biasanya kriteria anugerah itu ditentukan dengan standar materi. Pilihan kedua adalah aktif melakukan berbagai hal untuk mewujudkan kerinduannya. Pola ini memberi dampak yang besar bagi setiap orang untuk memaknai seluruh hidupnya melalui karya, sehingga ia tidak bergantung kepada nasib tetapi memaknai segala yang terjadi melalui refleksi kehidupannya.
Dua hal di atas adalah realitas yang dihadapi banyak orang. Sebuah peristiwa akan dimaknai sesuai dengan refleksi yang dilakukan seseorang sesuai dengan standar kehidupan yang didalaminya. Bagaimana kita memaknai seluruh rangkaian kehidupan kita dalam merefleksikan konteks dan teks Alkitab yang akan kita ramu menjadi pelayanan firman minggu ini?
TAFSIRAN SINGKAT
Kejadian 37: 1 – 4
Kisah tentang Yusuf yang dicintai ayahnya melebihi anak-anaknya yang lain telah mewarnai sebuah kehidupan umat Israel Perjanjian Lama. Alasan yang disampaikan Yakub (Israel) adalah karena “Yusuf lahir ketika Yakub telah berusia lanjut” (ayat 3). Tanda cinta yang dilambangkan dengan pemberian jubah yang indah telah menimbulkan kecemburuan. Pengistimewaan ini telah menimbulkan keterpecahan dalam keluarga Yakub yang ditandai dengan sikap “pengasingan” terhadap Yusuf melalui tindakan kebencian dan sapaan yang tidak ramah (ayat 4). Dalam Alkitab berbahasa Ibrani, sikap demikian dinamai “tidak ada syalom”, yang mengindikasikan pada realitas kehilangan tanda damai atau tanda kasih dalam diri saudara-saudara Yusuf. Mengapa hal ini harus muncul dalam diri saudara-saudara Yusuf? Tampaknya kecemburuan telah mengatasi akal sehat mereka sehingga nilai keluarga menjadi luntur.
Kejadian 37: 12 – 28
Sikap cemburu – sebagaimana digambarkan dalam tafsiran sebelumnya – dapat memberi dampak buruk dalam kehidupan seseorang. Kecemburuan menyulitkan seseorang untuk tiba pada pengakuan-pengakuan penting menyangkut realitas yang dihadapi. Dalam konteks Kejadian 37: 12 – 28, terlihat bahwa sikap cemburu telah menenggelamkan perasaan cinta yang seharusnya muncul dalam diri saudara-saudara Yusuf. Sebab semakin lama sikap cemburu ditanamkan, maka hal tersebut dapat menumbangkan banyak sekali hal indah yang semestinya dapat dirasakan bersama-sama. Sikap demikian semakin tampak dalam ungkapan Kejadian 37: 19 – 20. Persoalannya bukan lagi hanya pada pengistimewaan Yakub kepada Yusuf, tetapi telah mengarah kepada keputusan pribadi-pribadi (persoalan mimpi yang menjadi perdebatan saudara-saudara Yusuf telah menambah sikap cemburu semakin tajam. Bdk. Kej 37: 5 – 11). Sebab dalam tradisi Israel kuno, anak sulung memiliki hak yang sangat besar dibanding adik-adiknya. Sementara anak sulung Yakub tidak mendapat porsi yang seharusnya untuk menikmati segala fasilitas dari ayahnya. Tampaknya kisah seputar Esau-Yakub nyaris tergambarkan kembali pada bagian ini.
Mari kita memberi perhatian pada Kejadian 37: 26 – 28. Bagaimana pun kekhawatiran masih menggelayuti saudara-saudara Yusuf. Penjualan Yusuf kepada orang-orang Ismael akan menjadi kisah tersendiri dari sebuah perjalanan panjang umat. Yusuf tampaknya akan menjadi sebuah simbol baru dalam pergulatan bersama untuk memaknai hubungan umat dengan Allah. Perjalanan kedekatan umat dengan Allah dan relasi syalom tampaknya akan dimulai dari kisah perjalanan Yusuf ke Mesir melalui saudagar-saudagar Ismael itu. Di sini pemaknaan pergulatan dan peristiwa kurang manis dalam hidup seseorang mulai tergambarkan dengan kesediaan memberi nilai atas segala persitiwa yang berlangsung (lihat kembali pengantar di atas). Bukankah dari peristiwa pahit itu kita berjumpa dengan Allah yang hadir dan menyatakan diri untuk mewujudkan pertolongan bagi umat yang dilanda musibah kekurangan bahan pangan? (lihat Kej 42 – 47).
Mazmur 105: 1 – 6
Ketika kita menyimak Mazmur 105: 1 maka kita dipertemukan dengan ungkapan syukur serupa dalam 1 Tawarikh 16: 8 – 22 yang merupakan bagian dari pujian Daud yang mengusung tabut perjanjian memasuki Yerusalem (perhatikan juga Mazmur 78, 106, dan 136). Peristiwa dirayakan dengan sorak sorai ini dan dilakukan Daud (bersama umat) mengingatkan umat pada janji yang dinyatakan kepada mereka untuk memiliki tanah perjanjian. Janji ini diungkapkan dan disampaikan kepada Abraham (Kej 15: 18 – 21), yang dilanjutkan kepada Isak (Kej 26: 24, 25), dan kepada Yakub (Kej 28: 13 – 15). Namun demikian konteks yang tengah berlangsung dalam Mazmur 105: 1 – 6 adalah sebuah ungkapan Pemazmur yang hendak memperdengarkan makna kerinduan hidup bersama Tuhan. Dasar yang kuat dari ungkapan Pemazmur adalah sebuah penghargaan Tuhan bagi siapa saja yang mengimani dan mencari-Nya (Mazmur 105: 4; bdk. Ibrani 11: 6 yang menggunakan istilah upah untuk mengganti kata penghargaan. Dalam teks Alkitab bahasa Inggris digunakan isitlah “rewards” dari bahasa Yunani “misthapodotēs” yang berarti pemberi pahala atau upah). Pada ayat yang sama (Mazmur 105: 4), kita juga dipertemukan dengan kerinduan Pemazmur agar umat mencari Tuhan yang dapat kita temukan penggambarannya dalam Matius 7: 7 “carilah, maka kamu akan mendapat”. Di sini Pemazmur memberikan sebuah dorongan yang memberi makna yang besar untuk “mencari” Tuhan, yang pada puncaknya kita mencari dan mendapat kasih Agung-Nya.
Gambaran lain yang dikemukakan Pemazmur adalah tentang generasi Abraham (anak-cucu) yang disebut-sebut sebut sebagai pilihannya (Mazmur 105:6. Untuk ini mesti disimak dan didekati hingga ayat 11). Sebagaimana telah digambarkan di atas, tiga tokoh penting (Abraham, Isak, dan Yakub) mesti mendapat tempat dalam pendalaman kita. Tiga tokoh ini – melalui Abraham sebagai tokoh pertama – dinyatakan menerima janji tentang tanah perjanjian itu. Mereka patut ditempatkan sebagai peletak dasar Israel (founders of Israel). Kekuatan dari pujian Mazmur ini dapat kita temukan dalam syair yang dikumandangkan Ibrani 11: 8 – 21 yang menyatakan tentang kekuatan Iman Abraham, Isak, dan Yakub, tentu dengan pergumulannya masing-masing (saya mengusulkan bagian ini diungkapkan dalam khotbah untuk dijadikan rujukan bahwa dalam iman yang kokoh maka setiap umat dimampukan untuk berhadapan dengan berbagai pergulatan. Tentu juga perlu dipertimbangkan rangkaian perjalanan ketiga tokoh ini tanpa kehilangan konteks Mazmur yang tengah kita gumuli- Mul). Pergulatan Abraham-Isak-Yakub yang digambarkan Mazmur dengan syair pujian ini memberi makna yang besar untuk menjadi sebuah “keluarga” yang mengumandangkan syair untuk mengagungkan-Nya sekalipun pergumulan tetap menjadi bagian mereka.
Roma 10: 5 – 15
Sebagaimana kita ketahui, surat Roma berisi tentang pergulatan umat yang mengalami ujian berat karena pengusiran terhadap orang-orang Yahudi oleh kaisar Claudius (lihat Kisah Para Rasul 18: 2). Pengusiran ini berakibat kepada ‘putusnya ranting tempat bergantung dan terbangnya tanah tempat berpijak’ yang membuat umat berada dalam pergulatan yang berat sehingga mereka harus memaknai seluruh peristiwa itu dalam cerminan kehidupan yang baru. Peristiwa pengusiran yang direkam oleh Suetonius itu diduga disebabkan oleh pertikaian mengenai pengajaran orang Yahudi yang telah menjadi pengikut Kristus, Sang Mesias. Di sini umat diajak untuk memaknai hidup yang bergumul sebagai sebuah kesempatan untuk menghadirkan kebenaran Allah melalui tindakan nyata. Pernyataan ini hendak meneguhkan ungkapan akhir dalam ayat 8 ‘firman iman’ (rhêma pisteôs) yang memberi keteguhan pada ‘sikap yang dibangkitkan oleh firman yang diberitakan para rasul. Pernyataan yang dikumandangkan Paulus ini merupakan kelangsungan dari ayat 6 (kebenaran karena iman) yang hendak menegaskan makna tindakan nyata (karya) dalam refleksi hidup umat beriman.
Selanjutnya Paulus mengundang umat untuk memberi perhatian pada pengakuan iman yang dinyatakan dengan ungkapan “mengaku dengan mulut…. dan percaya dalam hati” sebagaimana dicatat dalam ayat 9 - 10. Pernyataan ini berangkat dari realitas kehadiran Yesus yang adalah Tuhan yang memiliki kekudusan, kuasa, dan kemuliaan, yang dengan pengakuan itu setiap umat telah menjadi milik-Nya dalam wujud keselamatan yang dinyatakan itu. Inilah kekuatan berita yang disampaikan Paulus yang kemudian dijelaskannya dalam ayat 11 bahwa keselamatan disediakan tanpa batas, bukan hanya untuk kelompok tertentu tetapi bagi semua orang (bandingkan ayat 12 – 13). Penegasan oleh Paulus ini hendak memberi penakanan pada karya Allah yang menyelamatkan semua orang yang memberi makna kemurahan dan kebaikan Tuhan yang selalu melimpah dan tidak pernah kurang. Itulah sebabnya setiap pergumulan mesti dihadapi dalam terang refleksi penguatan bahwa “Kristus hadir dalam setiap pergumulan hidup umat manusia”.
Matius 14: 22 – 33
Kisah pergulatan para murid yang bergumul dalam perahu dengan goncangan angina keras digambarkan dua kali dalam Injil Matius (lihat Mat 8: 23 – 27, bdk. Mat 14: 24). Pada bagian pertama dalam Mat. 8, gambaran yang disampaikan Matius hanya kepada peristiwa gelombang dahsyat yang kemudian diredakan dengan hardikan. Sementara bagian kedua dalam Matius 14 terjadi dialog yang cukup menegangkan karena kegelisahan para murid sehingga mereka mengekspresikan kedatangan Tuhan Yesus sebagai hantu (14: 26). Namun demikian kedua kisah tersebut mengangkat dua kalimat yang sama yakni tentang kepercayaan para murid yang dipertanyakan oleh Yesus (8: 26 dan 14: 31).
Pergulatan para murid yang tengah dilanda ketakutan karena gelombang dahsyat yang melanda mereka dan kehadiran “hantu” yang berjalan di atas air merupakan sebuah peristiwa yang unik dalam gambaran Matius. Pergulatan pada malam (subuh?) itu menjadi sebuah ajakan baru bagi para murid untuk memulai sebuah spiritualitas yang bersandar pada Kristus. Kalimat yang digambarkan pada Mat. 14: 27 memberikan sebuah makna yang sangat dalam yang digambarkan Matius bagi para pembacanya. Pergulatan ini menjadi sebuah upaya kehadiran Allah yang demikian unik, yang melegitimasikan peristiwa ANTHROPOMORFIS Allah dalam diri Yesus Kristus. Pada ayat ini disampaikan ungkapan “Aku ini, jangan takut!” menjadi sebuah gagasan menarik untuk menyaksikan peristiwa Kristus yang hadir dalam setiap pergulatan setiap orang. Donald A. Hagner dalam tafsirannya “Word Biblical Commentary Mathew 14 – 28” vol 33 b menyampaikan penjelasan bahwa kehadiran Kristus di tengah gelombang laut itu menggambarkan tentang Yesus yang lebih berkuasa dari gelombang laut itu. Unik dan menarik karena Donald Hagner kemudian memberikan sebuah penggambaran dalam peristiwa tersebut berupa “simbolisasi gelombang angin sakal dalam gelapnya malam sebagai tanda kuasa jahat, dan pengalaman menakutkan/mengerikan dalam goncangan gelombang badai tersebut sebagai simbol pengalaman manusia yang hidup dalam kejahatan”. Karena itu kehadiran Kristus dengan ungkapan “Aku ini, jangan takut!” mengarahkan para murid untuk memahami bahwa kehadiran Kristus mestinya membuat manusia memiliki kekuatan baru untuk menghadapi gelombang kehidupan yang demikian dahsyat menerjang. Petrus, yang menjadi lakon dalam peristiwa ini, ditantang untuk memilki sikap iman yang teguh, seteguh namanya sebagai batu yang teguh, untuk mempertontonkan sebuah pergulatan iman melalui rangkaian peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Keinginan Petrus untuk “terjun dan berjalan di atas air” seperti Yesus namun kemudian Petrus tenggelam menjadi sebuah gambaran yang menyedihkan sebab peristiwa tersebut dilukiskan Injil Matius 14 sebagai tindakan orang-orang yang “tidak percaya dan bimbang”. Di sini Injil Matius menggunakan kata Oligopiste (dari kata oligopistos) yang terjemahannya menjadi “orang yang beriman kecil”. Kata ini menjadi demikian penting dalam Injil Matius, sebab relasi yang ditunjukkan antara Petrus dengan Yesus dan para murid dengan Yesus menjadi simbolisasi kedekatan yang seharusnya menampilkan fakta keteguhan iman dalam seluruh sepak terjang kehidupan para murid itu.
Ujian gelombang badai kehidupan dalam simbolisasi gelombang laut memberi pesan penting Petrus, para murid (dan bagi kita) untuk melihat kedalaman makna hidup yang terus menerus perlu digumuli setiap saat. Pergulatan iman yang berhadapan dengan gelombang kehidupan mengantar gereja untuk merefleksikan setiap perjalanan hidup dengan tetap memandang pada Kasih yang dinyatakan Yesus sepanjang masa.
Refleksi:
Keempat bacaan kita hendak mengetengahkan rangkaian pergulatan yang terus menerus bergejolak. Peristiwa demi peristiwa Alkitab, baik Yusuf yang dicemburui, pergulatan gereja mula-mula dengan aneka perdebatan seputar keselamatan, dan perjalan Petrus yang perlu dimaknai sebagai kehadiran gereja yang tengah bergumul dengan angin sakal, mengajak umat beriman untuk memiliki sikap teguh dalam tantangan. Itulah sebabnya ungkapan Tuhan Yesus “Aku ini, jangan takut!” memberi kesempatan kepada gereja untuk –bukan saja mengawali- tetapi menindaklanjuti kiprah pelayanannya yang penuh tantangan dengan menatap pada kuasa yang dihadirkan Allah. Yusuf yang teraniaya, dalam keteguhannya dipersiapkan menjadi berkat. Umat Roma yang terusir dan bergumul dalam perdebatan keselamatan, dipersiapkan menjadi gereja yang tangguh, Petrus dan para murid yang terguncang dalam gelombang angin sakal, dipersiapkan dalam ketekunan untuk menjadi gereja yang tangguh menghadapi berbagai gelombang kehidupan. Bagaimana kita menyiapkan umat menghadapi tantangan hidup mereka? Inilah pertanyaan refleksif yang mesti dijawab oleh seluruh umat yang mengaku dan percaya kepada Allah dalam pergulatan imannya.
Sugesti penyusunan khotbah
Khotbah dapat diawali dengan mengungkapkan kisah-kisah pergumulan umat yang di dalamnya mereka dipersiapkan menjadi pribadi yang tangguh. Jika memang memungkinkan, Ibrani 12: 5 – 8 dapat digunakan untuk mengawali ibadah.
Selanjutnya umat diajak menggumuli makna hidup dalam gereja dengan melihat pergulatan Yusuf, jemaat Roma, dan juga Petrus bersama para murid. Masing-masing diberi penekanan pada pergumlan yang mesti dihadapi, termasuk melihat realitas dunia yang berat dan menjadi tantangan tersendiri .
Khotbah dapat diakhiri dengan pendalaman Mazmur, yang mengajak umat untuk menghadirkan pujian bagi Allah untuk setiap hal yang dapat dilewati dalam seluruh pergulatan hidup mereka. Jika masih diperlukan, khotbah dapat diakhiri dengan pengungkapan puisi foot prints, yang berkisah tentang seseorang yang berjalan di pantai yang menerima janji penyertaan Tuhan, namun dalam sisa perjalanan yang berat ia merasa berjalan sendiri. Ternyata pada saat itulah Tuhan menggendongnya. (Jika ilustrasi tersebut digunakan, akhiri dengan ungkapan Yesus, “Aku ini, jangan takut!”)
Selamat melayani. Tuhan memberkati
TEOLOGI