REKONSILIASI DAN HIDUP RUKUN
Pdt. Yosias Nugroho Wijaya
Rancangan Khotbah GKI 17 Agustus 2008
Pendeta jemaat GKI Serpong, Tangerang
Bacaan I :Kejadian 45:1-15
Antarbacaan :Mazmur 133
Bacaan II :Roma 11:29-32
Injil :Matius 15:10-20
Tujuan:
Anggota jemaat bersedia untuk senantiasa berdamai dan saling mengampuni, sehingga kehidupan mereka menjadi berkat bagi persekutuan di tengah keluarga, jemaat, dan masyarakat
Dasar Pemikiran
Hidup di tengah-tengah perselisihan, curiga, sungguh tidak mengenakkan. Suasana yang dipenuhi oleh kebencian dan kedengkian, sekalipun kerap menghiasi hidup ini, benar-benar mengganggu pikiran dan perasaan manusia. Tentunya yang ingin dirasakan oleh manusia adalah kesejukan dan kelegaan hati, yang dilandasi oleh damai sejahtera, sehingga hidup terasa indah dan dapat dinikmati.
Jika dipikirkan dan ditelusuri, sesungguhnya kebutuhan terpenting dalam kehidupan manusia adalah kedamaian dan ketentraman. Hal itulah yang memicu berbagai upaya untuk memperoleh kebahagiaan. Kedamaian yang sesungguhnya akan tercapai jika hati ini dapat menemukan relasi yang baik dengan seluruh pihak di dunia ini, mulai dari Tuhan, sesama, diri sendiri, bahkan lingkungan tempat manusia itu tinggal. Di sini anggota jemaat diajak menghayati pentingnya berdamai dengan orang lain, sehingga damai sejahtera Tuhan tersalurkan kepada banyak orang.
Tafsiran
1. Kejadian 45:1-15
Bagian ini merupakan bagian yang paling menegangkan sekaligus dramatis dalam penceritaan hidup dan karya Yusuf. Diawali dengan gaya penulisan mencekam yang membuat pembacanya serasa mengalami suasana perjumpaan di tengah beraneka perasaan yang berkecamuk di kedua belah pihak (Yusuf di satu pihak dan saudara-saudaranya di pihak yang lain). Dengan tegas Yusuf menyuruh semua orang keluar dari ruangan itu, sehingga hanya tinggal dirinya bersama dengan 11 orang saudaranya. Kita dapat membayangkan apa yang terlintas dalam pikiran saudara-saudara Yusuf. Dalam kisah ini Yusuf, yang dengan sengaja menempatkan 11 orang saudaranya itu di depannya, mungkin dia akan menunjukkan kekuasaannya dan segera membalaskan sakit hatinya atas perlakuan saudara-saudaranya itu. Kondisi saat itu sangat kondusif baginya untuk melakukan pembalasan kepada saudara-saudaranya. Lalu, kala ia mengatakan, “Akulah Yusuf!” maka sangat mungkin seluruh saudaranya yang berhadapan dengannya langsung tergetar karena takutnya. Mereka bisa saja berpikir, “Kali ini, tamatlah riwayat hidup kami!”
Tapi, sungguh luar biasa apa yang ditunjukkan Yusuf di situ. Alih-alih menunjukkan balas dendam, Yusuf malah memperlihatkan kerinduan yang dalam kepada kakak-kakaknya. Kerinduan itu dilandaskan oleh kasih Yusuf kepada mereka. Yusuf menawarkan pendamaian atas ketakutan hati kakak-kakaknya yang gemetar ketakutan. Ia mengatakan, “Mari mendekat.” Kata Ibrani yang digunakan di sini adalah nah-gash, bukan hanya menunjuk pada hubungan yang akrab tapi kedekatan yang intim. Ini adalah istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan sikap mau mendekat dengan tujuan memeluk dan mencium seseorang. Di sini Yusuf ingin memperlihatkan sebuah bentuk kedekatan yang nyata, yaitu bahwa ia dan kesebelas saudaranya merupakan satu daging. Di hadapan saudara-saudaranya, ia tidak mau menunjukkan bahwa ia adalah pengusasa Mesir dan saudara-saudaranya sebagai pendatang, tapi kenyataan yang sesungguhnya adalah mereka bersaudara! Dan saudara sudah semestinya hidup dalam kasih, berangkulan, berpelukan, dan hidup rukun satu sama lain!
Tawaran Yusuf untuk berdamai dengan kakak-kakaknya itu tentu disambut gembira, sebab memang mereka mengharapkannya. Sekalipun terkejut dengan berbagai adegan di hadapan mereka, namun kerinduan hati mereka menyambut uluran tangan Yusuf untuk berdamai kembali.
Momentum ini mustahil untuk dilukiskan. Kata-kata saja tidaklah cukup untuk menjelaskan atau menampung adegan itu. Sungguh luar biasa keharuannya. Alangkah ajaib dan agung cinta kasih yang tergambar di sana. Benar-benar menakjubkan pemandangan yang diperlihatkan oleh kakak-beradik itu! Sebuah tayangan yang mungkin membuat orang tak mau mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Apa yang membuat Yusuf dapat bertindak seperti itu? Yusuf tidak melihat saudara-saudaranya sebagai musuh, karena persepktif hidupnya telah diubah. Bagi Yusuf, yang penting bukan lagi masa lalunya, tapi masa depan. Hidup bersama Allah telah membuatnya diubahkan oleh kerinduan yang serupa dengan Allah, yaitu mendamaikan dirinya dengan orang lain, agar kehidupan terpelihara.
2. Mazmur 133
Mazmur ini menggambarkan kehidupan keluarga yang dipenuhi kerukunan satu sama lain. Di dalamnya diperlihatkan bahwa hidup dalam suasana kekeluargaan yang penuh cinta kasih akan mempengaruhi hidup setiap anggotanya. Keharmonisan keluarga besar amat indah rasanya, dan inilah yang mau ditekankan oleh pemazmur.
Kerukunan antar saudara dikiaskan dengan minyak dan embun yang menyegarkan dan disamakan dengan berkat. Kebersamaan dalam kedamaian antar manusia yang berelasi menghasilkan berkat bagi mereka yang menjalaninya.
Jika ada perselisihan antara dua orang atau lebih patut disesalkan, sebab Allah menghendaki persatuan antara ciptaan-Nya yang satu dengan yang lain.
Mazmur ini menegaskan bahwa hubungan yang baik pasti selalu menyegarkan. Di Timur Tengah kuno, minyak yang dicampur rempah-rempah menghasilkan kesegaran bagi orang yang mengoleskannya pada kepala dan kulitnya.
3. Roma 11:29-32
Bagian ini memperlihatkan bahwa Allah ingin menunjukkan kasih karunia-Nya kepada manusia. Bagaimana kasih karunia Allah dimengerti? Secara logis, ketika manusia jatuh ke dalam dosa, maka Allah patut dan berhak menghukumnya karena ketidaktaatannya pada aturan yang ditetapkan Allah. Juga atas keinginannya memberontak terhadap Allah. Seharusnya manusia beroleh murka Allah. Tapi ternyata Allah malah menunjukkan kasih dan penyelamatan-Nya kepada manusia. Atas apa yang telah dilakukan dan diupayakan Allah bagi kepentingan manusia, Allah tidak pernah menyesal. Allah tidak menyesal karena Dia memberikan kesempatan kepada manusia untuk menjadi kekasih Allah. Allah tidak menyesal telah mengambil sikap mendekatkan diri-Nya kepada manusia. Allah tidak menyesal tidak membinasakan manusia, yang sebenarnya sudah mengecewakan-Nya. Justru Allah dengan inisiatif yang bulat, menetapkan manusia menjadi anak-Nya. Bukan sekadar anak, tapi yang dikasihi-Nya. Itu adalah perwujudan kasih karunia-Nya.
Ayat 30-31 mau menyejajarkan kedudukan orang Israel dan non-Yahudi, yang merasa bahwa jalannya sejarah hidup mereka tidak sama, dan tidak pernah mampu hidup akur satu sama lain. Di sini Paulus mau menggagaskan sebuah kesamaan, yaitu: Baik orang Israel maupun orang non-Yahudi sama-sama tidak taat pada perintah dan aturan Allah. Kini, datanglah keselamatan dalam Kristus, yang membuka lembar sejarah baru. Baik orang Israel maupun orang non-Yahudi menerima kesempatan yang sama untuk diperbaharui di dalam Kristus, yang menunjukkan kemurahan-Nya. Kristus mau mendamaikan semua orang yang dulunya tidak taat dengan diri-Nya, tanpa syarat atau perbuatan apapun.
Jelaslah, bahwa Allah mau memberi contoh nyata tentang pendamaian. Kasus keagungan kasih Allah malah menentang logika berpikir manusia, di mana orang yang tidak taat harusnya dihukum. Justru dengan kasih karunia inilah Allah mau mengatakan bahwa ada pengampunan. Logika manusia dikalahkan oleh rahmat Ilahi, yang didasari kasih dan pendamaian ilahi.
4. Matius 15:10-20
Pada masa itu, orang-orang Farisi dan ahli Taurat sangat kuat pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat. Menyadari keadaan ini, Yesus berusaha terjun langsung mendekat pada masyarakat untuk memperingatkan mereka agar tidak terperangkap oleh hasutan dan pengajaran yang salah dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tersebut. Salah satunya adalah pengajaran tentang hal-hal yang najis bagi manusia, yang dipicu oleh pernyataan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu. Bagi mereka, kehidupan yang murni adalah menjalankan hal-hal yang bersifat ritual, seperti menyucikan makanan yang akan mereka makan terlebih dahulu, sehingga apa yang tidak suci akan mereka tolak dan tidak akan mereka makan. Sebaliknya, Yesus menekankan kemurnian yang berasal dari dalam diri, yang diproduksi melalui kedalaman hubungan dengan Allah. Menurut Yesus, yang dikehendaki Allah bukanlah apa yang berasal dari luar diri, melainkan apa yang ada di dalam diri. Untuk itu dibutuhkan sikap pertobatan. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat menyadari bahwa sesungguhnya mereka belum bertobat dan kehidupan mereka masih dipenuhi dengan hal-hal yang tidak berkenan kepada Allah. Akan tetapi mereka tidak mau mengakuinya, mungkin karena mereka mementingkan gengsi, dan lebih mementingkan pembelaan diri berdasarkan kebenaran hukum Taurat yang mengarahkan mereka kepada pembenaran diri, padahal yang mereka pahami sesungguhnya merupakan sesuatu yang salah. Malah mereka tetap berpegang pada pemahaman keliru itu dengan kolotnya, sehingga menjerumuskan orang lain dengan ajaran mereka. Dengan kata lain, mereka itu menyesatkan orang dengan ajaran yang salah. Inilah yang mau diluruskan oleh Yesus, supaya tidak semakin banyak orang tersesat oleh ketidakbenaran ajaran orang-orang semacam itu.
Tentu saja orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu tidak bisa menerima upaya Yesus meluruskan pandangan dan pemahaman mereka tentang ajaran itu. Bagi mereka, yang najis tetaplah apa yang masuk dari mulut, dan tidak bisa lain. Mereka tersinggung atas apa yang dikatakan Yesus, apalagi ketika reputasi mereka dipertaruhkan di hadapan orang banyak. Sesungguhnya, mereka tidak mau kehilangan pengikut. Mereka paham bahwa apa yang disampaikan Yesus bisa menghilangkan pengaruh mereka atas orang-orang yang selama ini percaya pada pengajaran mereka. Oleh karena itu mereka berusaha mati-matian mempertahankan apa yang mereka pegang.
Menghadapi hal ini, Yesus menjawabnya dengan dua pernyataan: {1} “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya”. Ini menunjukkan Yesus mau mengatakan bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak berasal dari Allah, dan pengajarannya keliru; jadi, para murid tidak perlu percaya kepada ajaran mereka; serta {2} orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu disebut sebagai orang buta, yang tentu saja tidak tahu ke mana mereka pergi. Buta di sini bukanlah buta secara fisik, melainkan buta rohani, di mana mereka tidak bisa menentukan arah yang benar dari kehidupan rohani mereka. Manusia diminta mendengarkan petunjuk dari orang yang tahu dan mengerti jalan yang benar, dan jika mereka mau mengikutinya maka mereka akan selamat. Yesuslah yang bisa menunjukkan arah yang benar, jadi mereka diharapkan percaya dan mengikuti apa yang Yesus katakan.
Lalu Yesus menjelaskan maksud ajaran-Nya. Menurut-Nya, yang menjadi pusat dari seluruh kehidupan manusia terletak pada hatinya. Makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia akan dicerna dalam usus dan lambung. Setelah diproses lebih lanjut, semua sisa makanan tersebut akan dibuang. Sementara itu, segala sesuatu yang masuk ke dalam hati dan dihasilkan olehnya, jauh lebih penting. Apa yang diolah di dalam hati jauh lebih menghasilkan makna dan nilai kehidupan ketimbang apa yang diolah di dalam perut (usus dan lambung). Dengan kata lain, sesungguhnya Yesus mau mengatakan bahwa murid-murid atau pengikut-Nya semestinya lebih melandaskan hidupnya pada kebenaran firman Allah dan bukan pada hal-hal fisik yang sifatnya duniawi semata. Dengan kebenaran Allah, maka hidup manusia tidak akan berakhir pada kebinasaan. Hidup manusia akan lebih tahan uji dan kuat dalam berbagai macam cobaan.
Saran Penyusunan Khotbah
1. Khotbah bisa diawali dengan menceritakan pengalaman-pengalaman orang yang bertikai dan bermusuhan. Gambarkan suasana panas yang menyelimuti mereka. Tunjukkan dampak-dampak yang mungkin timbul akibat permusuhan: saling tuding, saling menghancurkan, bahkan saling bunuh! Jika memungkinkan, tanyakan kepada beberapa orang: apakah mereka menyukai keadaan seperti itu? Apa alasannya?
2. Lanjutkan khotbah dengan mengaitkan benang merah perikop-perikop Alkitab yang dibaca. Mulailah dengan memperlihatkan keagungan kasih dan kemurahan pendamaian dalam diri Yusuf; sesungguhnya itu dijiwai oleh kasih Tuhan yang terlebih dahulu mendamaikan Yusuf dengan Tuhan. Yusuf mengalami pendamaian dari Tuhan. Itulah yang kemudian dipraktekkan Yusuf terhadap saudara-saudaranya.
3. Rangkaikan kisah itu dengan keindahan kerukunan antaranggota keluarga menurut filosofi pemazmur. Rukunnya anggota keluarga membuat hati setiap anggotanya disejukkan. Dengan kesejukan hati, seseorang dapat menikmati hidupnya lebih optimal.
4. Ajaklah jemaat menyanyikan lagu “Kukasihi Kau dengan Kasih Tuhan” dengan berdiri dan bergandengan tangan (bisa dinyanyikan1 atau 2 kali), sambil bertatapan satu sama lain. Setelah itu, tanyakan kepada mereka, bagaimana rasanya menjalani persekutuan yang seperti itu. Bukan sekadar duduk bersama dalam satu ruangan, tapi mengalami interaksi yang dilandasi kedamaian hati dengan sesama anggota persekutuan tubuh Tuhan. Selanjutnya, dapat juga ditanyakan kepada satu keluarga (suami-istri yang duduknya berdekatan atau bersebelahan), apakah mereka bisa merasakan kasih dan kedamaian yang diberikan oleh pasangannya atau anggota keluarganya yang memegang tangannya saat itu.
5. Lanjutkan khotbah dengan menafsirkan bacaan Injil, yang menekankan kesucian hati dan kemurnian diri. Tekankan kepada anggota jemaat pentingnya hidup menjaga hati mereka dari hal-hal yang najis. Ketika kerinduan untuk melakukan yang baik lahir dari hati yang dalam, maka mereka akan mampu mencapai hasil yang baik, termasuk ketika mereka memberlakukan kerukunan dengan orang lain. Kerukunan bisa tercipta dengan kuat jika dilandasi oleh semangat kemurnian hati alias hati yang tulus, dengan maksud membina hubungan yang baik dengan orang lain demi kebaikan orang lain itu (bukan hanya demi kepentingan dan kesenangan sendiri saja). Kerukunan juga akan bertahan lama (dan mengakar) jika tercipta dari hati yang murni dan suci, bukan hanya dari yang ada pada ‘kulit luar’nya saja.
6. Jelaskan peranan hati dalam tutur dan gerak setiap manusia. Terangkan bahwa hati menjadi pusat setiap kelakuannya. Pengkhotbah juga bisa mempergunakan ilustrasi-ilustrasi yang menceritakan pentingnya hati untuk mendasari seluruh tindakannya dalam hidup, termasuk dalam membina kerukunan dengan sesama.
* Teks Lagu “Kukasihi Kau dengan Kasih Tuhan”
Kukasihi kau dengan kasih Tuhan
Kukasihi kau dengan kasih Tuhan
Kulihat di wajahmu kemuliaan Tuhan
Kukasihi kau dengan kasih Tuhan
TEOLOGI