FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

July 24, 2008

DISELAMATKAN UNTUK MENJADI PEMBEBAS

Filed under: Rancangan Khotbah — Martin @ 10:41 pm

Pdt. Simon Filanthropa
Rancangan Khotbah GKI 24 Agustus 2008
Pendeta Jemaat di GKI Mojokerto

Bacaan I : Keluaran 2 : 1 – 10
Antar Bacaan: Mazmur 124
Bacaan II : Roma 12 : 1 – 8
Bacaan III : Matius 16 : 13 – 20

Tujuan : Jemaat dapat menghayati keselamatan Allah yang telah dianugerahkan di dalam Kristus, sehingga mereka terpanggil untuk menjadi kawan sekerja Allah yang peduli guna membela sesama yang tertindas

DASAR PEMIKIRAN

Dalam sebuah perjalanan dari bandara Cengkareng ke Ukrida untuk menghadiri rapat sinode, beta bercakap-cakap dengan sang sopir taksi Blue Bird. Dalam percakapan tersebut yang menarik adalah keluhannya bahwa bahkan setelah tumbangnya Orde Baru yang melahirkan Orde Reformasi, ternyata kondisi sosial, ekonomi, politik dan keamanan tetap sama saja (kalau tidak mau dibilang makin acakadut). Apa yang disebut ‘reformasi’ ternyata hanya setengah hati dan tak banyak membawa perbaikan, termasuk bagi penghidupannya sebagai penyedia jasa layanan transportasi masyarakat. Kuberanikan diri bertanya, “Kira-kira apa sebabnya, bang?” Dengan cepat ia menjawab, “Ya, karena selama ini kita terlalu asyik sibuk membangun raga, tetapi lupa membangun jiwa!”.

Jawaban spontan itu membuatku teringat lirik lagu yang sayup-sayup kunya-nyikan dalam hati: ‘bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya’. Betul, itulah kalimat lirik lagu kebangsaan kita INDONESIA RAYA yang pasti menjadi lagu wajib kala upacara HUT Kemerdekaan RI (dan upacara-upacara kebangsaan kita lainnya) diselenggarakan. Betul juga bahwa negeri ini terlalu disibukkan dengan berbagai macam proyek pembangunan prasarana ragawi yang sampai menjulang ke langit (oya, kudengar akan dibangun menara doa Kristen tertinggi di Jakarta supaya bisa berdoa sambil mengintip langit), namun tidak diimbangi dengan pembangunan jiwa. Akibatnya, berdirilah banyak bangunan dan perusahaan tanpa jiwa; ada banyak undang-undang/peraturan dibuat tanpa hati nurani; dan ada banyak sarana ibadah didirikan guna melanggengkan formalitas beragama tanpa ‘nyawa’. Pantas saja kalau kita susah bangkit dari keterpurukan selama ini walau sudah merdeka 63 tahun.

Masihkah lagu Indonesia Raya merasuki, mempengaruhi dan mengubahi sikap tindak cara hidup kita sebagai bangsa yang merdeka, atau kita masih bertanya-tanya merdeka untuk apa? Menjadi penikmat kemerdekaan semata, atau menjadi pembebas dalam memaknai kemerdekaan kah kita ini?

TAFSIRAN SINGKAT

Keluaran 2 : 1 – 10
Segala jasa kehebatan Yusuf mengelola tujuh tahun kemakmuran untuk menghadapi tujuh tahun kelaparan telah membuat Mesir menjadi bangsa dan kerajaan yang luar biasa gagah dan megah. Namun kini jasa besar itu dilupa-kan sudah, bahkan malah berganti menjadi ketakutan kalau-kalau keturunan Yusuf bakal menguasai Mesir. Atas nama ‘bertindak bijaksana’ guna meng-hambat pertambahan warga Israel (Kel. 1:10), raja Mesir mempersusah dan mempersengsara hidup mereka. Mulailah masa penindasan dalam bentuk kerja paksa terjadi. Penindasan berkembang menjadi pembunuhan bayi laki-laki secara sembunyi-sembunyi oleh para bidan sampai pada pembunuhan secara terang-terangan. Inilah konteks awal kitab Keluaran yang mendahului kisah kelahiran Musa.

Kebengisan yang mengerikan tersebut pasti menakutkan bagi keturunan Yusuf, namun sekaligus membuat mereka jadi kreatif untuk mempertahankan hidup bersama keturunannya. Salah satu keluarga yang diceritakan adalah keluarga seorang Lewi yang melahirkan seorang anak laki-laki yang rupawan dan belum bernama. Selama tiga bulan mereka berhasil menjaga dan menyembunyikan tangisan bayi di rumah mereka, namun daya jaga itu tak bisa lagi dipertahankan. Kreativitas mereka pun muncul dengan mengambil sebuah peti pandan lalu merajutnya dengan gala-gala dan ter supaya wadah itu nyaman dan aman bagi sang bayi manakala dilarung (dihanyutkan) di sungai Nil. Tak ketinggalan muncul juga tokoh lain yakni sang kakak perempuan yang turut mengintai kelangsungan ‘nasib sang adik yang tak menentu’ itu. Sungguh, mereka sampai pada tapal batas upaya dan kemam-puan mempertahankan kehidupan anaknya.

Nasib sang bayi tak bernama yang tak menentu itu menjadi menentu manaka-la tokoh penolong hadir. Dia adalah putri Firaun yang sedang mandi di sungai Nil bersama para dayang. Peti pandan yang terapung-apung di sungai itu lalu ditemukan oleh sang putri. Tatkala peti itu dibuka, tampaklah wajah bayi rupawan tak berdosa sedang menangis. Bergetarlah harkat naluri keibuan sang putri mengalahkan kesadarannya bahwa bayi itu adalah bayi orang Ibrani. Belas kasihannya melampaui kepatuhannya pada perintah raja Firaun, sehingga ia menyetujui usulan si pengintai, kakak perempuan si bayi, untuk menyusukan bayi itu pada ibunya, bahkan memberinya upah untuk merawat sang bayi. Dengan logat Mesir, dia memberinya nama Musa, yang berarti mengambil/menarik dari air (draw out) dan mengangkatnya menjadi anaknya (mengadopsi?). Begitulah kisah penyelamatan bayi Musa diceritakan sebagai tokoh yang bakal dipakai oleh Allah guna membebaskan bangsa Israel dari perbudakan dan pembantaian di Mesir. Peran jasa para perempuan (ibu, kakak perempuan dan putri Firaun bersama para dayangnya) tidak bisa diabaikan dari kehidupan Musa di masa mendatang. Allah berkenan memakai mereka untuk menyelamatkan hidup Musa..

Tentang nama Musa, ada penafsir yang menyatakan bahwa tradisi Israel kuno tidak tahu bahwa sesungguhnya nama tersebut adalah nama berlogat Mesir, yakni kependekan dari nama Mesir : Ahmosis atau Thutmosis yang berarti ‘mengadopsi’. Kisah pun berlanjut bagaiman Allah mempersiapkan Musa menjadi Pembebas bagi bangsa Israel secara lebih matang dan cermat (Kel. 2:11 dst). Selain itu, Perjanjian Lama (Pertama) berbahasa Latin, Vulgata, menyebut kitab Keluaran (Exodus) dengan Liber Exodi yang ber-nuansa tekanan kuat pada ‘pembebas atau pembebasan’.

J. Severino Croatto menulis sebuah buku berjudul “EXODUS: A Hermeneutics of Freedom”, menegaskan bahwa kitab Keluaran memberikan inspirasi yang sangat kuat bagi lahirnya ‘teologia pembebasan’ di Amerika Latin. Lebih jauh beliau menuliskan, “Teologia pembebasan adalah teologia tentang proses pembebasan dimana Allah yang membebaskan terus menyelamatkan kita saat ini, sehingga mustahil kita menjumpai Allah di luar proses pembebasan umat manusia. Berita Alkitab senantiasa menantang aktivitas manusia untuk berbuat (praxis) seperti Allah bertindak. Karena itu, tujuan terpenting bukan pembebasan (liberation) melainkan kebebasan (freedom)”. Semoga kisah Musa bersama exodus masih mengilhami dan menyemangati kita (GKI) untuk menjadi pembebas di tengah begitu banyaknya belenggu kehidupan yang memenjarakan kita.

Mazmur 124
Mazmur ini tergolong dalam mazmur liturgis yang biasa dipakai dalam ibadah syukur umat. Ayat 1-5 merefleksikan kehidupan yang dilingkupi oleh banyak bahaya yang sewaktu-waktu siap menelan umat (kita). Disadari betul bahwa betapa tidak berdayanya umat menghadapi keganasan manusia lain yang siap memangsa mereka. Sungguh, jikalau bukan Tuhan yang memihak kita, niscaya kita sudah hancur binasa.

Ayat 6-7 mengungkapkan karya penyelamatan Tuhan yang membebaskan umat bagaikan meluputkan burung yang sudah terperangkap jerat. Kondisi terperangkap jerat bahaya tidak dibiarkan oleh Tuhan. Allah berinisiatif untuk bertindak membebaskan mereka. Karena itu, terpujilah Yahweh (TUHAN) yang telah membebaskan kita dari ancaman mara bahaya.

Ayat 8 adalah ayat yang sering kita pakai sebagai Votum pada liturgi kita. Ayat ini sekaligus menjadi pengakuan, betapa pertolongan Tuhan semesta alam yang menciptakan langit dan bumi, selalu dekat dengan kehidupan mereka yang penuh dengan ancaman. Dengan rendah hati umat senantiasa sedia bersyukur atas pertolongan Tuhan, Sang Pembebas.

Roma 12 : 1 – 8
Di setiap argumentasi teologisnya, Paulus selalu mengakhirinya dengan ajakan beretika (lihat, Roma 12-15; Gal. 6:1-10; Ef. 5:21-6:6:9; Kol. 3:18-4:6). Bacaan kita merupakan salah satu dari ajaran dan ajakan Paulus untuk hidup beretika dengan beberapa ciri kebajikan:

1. Ibadah memang memerlukan kehadiran dan layanan para imam (dalam PL, mempersembahkan korban mesti bergantung pada para imam) atau pendeta (dalam GKI yang masih ‘pendetasentris’), namun hanya sebatas itu saja. Mereka tidak bisa menggantikan persembahan hidup ‘tubuh’ para pelaku ibadah (umat/jemaat), karena ibadah sejati adalah pemancaran seluruh kehidupan jemaat itu sendiri. Ketergan-tungan terbesar pada peran para imam/pendeta patut dipertanyakan, bahkan ditolak bila perlu! Inilah gema ajakan Roma 12:1.
2. Etika percaya pada keniscayaan akan perubahan. Untuk itulah Paulus mengajak kita supaya ‘berubahlah oleh pembaharuan budimu’ (tidak sama dengan pelajaran agama di sekolah yang kehilangan sentuhan budi pekerti!). Konon katanya, dalam agama Budha tidak pernah disebut nama Tuhan, karena setiap orang yang mengalami pencerahan budhi, dia mengalami Budha dalam hidupnya. Lebih jauh, Albert Einstein bertutur, “ukuran kecerdasan seseorang terletak pada kemampuannya untuk berubah”. Mengubah dunia? Pasti mustahil tanpa mengubah diri sendiri melalui pembaharuan budi! Inilah gema ajakan Roma 12:2
3. Perubahan tidak membutuhkan pemikiran yang muluk-muluk (tinggi-tinggi mencapai langit, sombong amat?) Yang diperlukan adalah menyadari bahwa etika Kristen adalah etika komunitas. Artinya, bagaimana mempergunakan setiap karunia yang Tuhan berikan agar bermakna-guna bagi komunitasnya. Gambaran ‘tubuh’ dengan banyak anggota adalah tepat untuk menjelaskan etika komunitas tersebut. Bernubuat, melayani, mengajar, menasehati, membagi-bagikan dengan kemurahan, dan memberi pimpinan selayaknya dikerjakan dengan penuh tanggung-jawab dan dalam kerendahan hati supaya berdayaguna bagi orang lain. Etika ini membebaskan orang dari kesombongan diri menganggap paling berkarunia. Inilah gema ajakan Roma 12:3-8
4. Tentu saja mengikuti ajakan beretika ala Paulus mengandung juga tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semua kesadaran teroritis beretika wajib dijelmakan menjadi praktek hidup sesehari yang kongkrit dan menyapa masyara-kat di sekitar kita. Kasih, ibadah, perubahan, penggunaan karunia dan pengampunan mestinya juga menjadi sikap-tindak-cara hidup yang menyentuh keseharian kita. Kalau ini terjadi, benarlah ucapan orang bijak yang pernah berujar, ‘a man cannot do without society, and society cannot do without him’. Inilah gaya hidup interdependensi! Gema etika ini kuat ditulis oleh Paulus dalam Roma 12:9-21.

Matius 16 : 13 – 20
Manakala Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia (Aku) itu?”, maka mereka menjawab, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah satu dari para nabi”. Lantas Yesus melanjutkan dengan bertanya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”. Spontan Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Wah, ini adalah pengakuan yang luar biasa mendalam, sehingga Yesus berkata, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga”.

Yang menarik dari dialog di atas adalah ternyata Yesus tidak protes, apalagi mempersalahkan pengakuan orang banyak bahwa Ia hanyalah salah satu dari para nabi dan Yohanes Pembaptis. Bagi Yesus, setiap pengakuan mengandung konsekwensi untuk benar-benar memberlakukan pengakuan tersebut dalam hidup seseorang. Demikian juga dengan pengakuan Petrus yang mendalam itu memuat konsekwensi cara hidup yang disemangati dan dituntun oleh pengakuannya. Itulah sebabnya Yesus menegaskan bahwa pengakuan Petrus yang mendalam itu berasal dari Bapa yang di sorga, karena menjalankan pengakuan semacam itu amatlah berat dan beresiko besar, yakni kesediaan untuk menderita (sehabis pengakuan Petrus, segera disusuli kisah pemberitaan pertama tentang penderitaan Yesus yang diprotes oleh Petrus, Mat. 16:21-28)

Dibandingkan Injil Sinoptik lainnya (Markus dan Lukas), Matius menceritakan jawaban pengakuan Petrus atas pertanyaan Yesus lebih panjang dan mendalam, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (bandingkan Markus, “Engkau adalah Mesias; Lukas, “Mesias dari Allah”). Berdasarkan pengakuan Petrus yang mendalam dan berasal dari Bapa, kemudian Matius memunculkan gagasan tentang jemaat (ekklesia = gereja) melalui ucapan dan nubuatan Yesus (ayat 18). Pantas saja para ahli tafsir sependapat bahwa hanya dalam Injil Matiuslah terdapat ide berdirinya gereja. Lebih ekstrim lagi, ada pendapat bahwa kepada Petruslah Yesus mempercayakan kunci kerajaan sorga (ayat 19).

Bagi saya, gagasan tentang gereja dalam Injil Matius menegaskan dua hal penting, yakni, tidak gegabah memprotes apalagi mempersalahkan penga-kuan (iman) orang lain; dan selalu sedia untuk disusahkan/menderita Siapa tahu ini adalah ciri hidup sang pembebas?

SARAN PENYUSUNAN KHOTBAH

Pada sampul buku “OPEN SOCIETY: Reforming Global Capitalism”, karya George Soros, ditulis ‘Kesempurnaan itu berada di luar jangkauan kita; disain apa pun yang kitapilih untuk tata masyarakat kita cenderung mempunyai cacat dan kekurangan, karenanya kita harus puas dengan terbaik kedua saja, yaitu: suatu organisasi sosial yang kurang sempurna tetapi terbuka untuk perbaikan. Inilah konsep Masyarakat Terbuka, sebuah masyarakat yang terbuka untuk perbaikan. Di sinilah letak keunggulan atas Masyarakat Tertutup, yang berupaya mengingkari ketidaksempurnaannya sendiri, sekali pun dunia sekitarnya berubah. Pengakuan kita atas ‘falibilitas’ (kemungkinan salah) dan ‘refleksivitas’ adalah kunci mencapai kemajuan’. Yang penting dari buku Soros adalah ajakan melakukan perbaikan dan perubahan. Untuk itu dibutuhkan sangat JIWA DAN SEMANGAT PEMBEBAS!

Alinea ketiga UUD 1945 berbunyi, ‘Atas berkat rahmat Allah yang Mahakuasa dan dengan didorong….’ adalah kesadaran dan pengakuan yang mendasar bahwa kemerdekaan RI yang telah dicapai itu merupakan karya pemerdekaan Allah semata. Hal ini wajib menjadi titik berangkat gaya hidup seorang pembebas (lihat tafsiran Mazmur 124 dan kisah penyelamatan Musa)

Beberapa belenggu yang perlu dipatahkan oleh para pembebas adalah (silahkan pilih sesuai dengan konteks jemaat Anda)
1. Kesombongan merasa atau menganggap diri berkarunia paling ampuh dalam mengubah jemaat dan dunia, namun lupa memulau perubah dari diri sendiri dengan pembaharuan budinya (tafsir Roma 12)
2. Status quo yang mempertahankan mati-matian kemandegkan/keter-tutupan, sehingga susah (tidak mau) berubah, takut berubah dan segudang alasan untuk tidak berubah (lihat tafsiran Roma 12)
3. Diskriminasi gender yang merendahkan perempuan (lihat peran para perempuan dalam kisah awal hidup Musa, tafsir Keluaran 2)
4. Penindasan, penggusuran sewenang-wenang, pembinasan sampai pada kebengisan yang kian semarak menghantui hidup ini (tafsir Keluaran 2)
5. Memprasangkai dan mempersalahkan keyakinan/pengakuan orang lain (lihat tafsiran Matius 16)
6. Ketergantungan pada peran para pendeta dalam menjelmakan makna ibadah adalah persembahan hidup sesehari (tafsir Roma 12)
7. Gaya hidup hedon yang cuma mau enak, mudah, nikmat dan cepat, sehingga tidak mau menderita sedikit aja, apalagi disusahkan (tafsir Matius 16)

Wih, banyak amat? Maukah GKI mengisi kemerdekaan ini dengan menjadi pembebas? Jawabnya ada di relung hati Anda masing-masing.

Hanya bagi yang bersedia jadi pembebas pantas berseru “MERDEKA”!

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It