Dipanggil Untuk Menjadi Berkat
Pdt. Willy Darmawan
Rancangan Khotbah GKI 31 Agustus 2008
Bacaan I : Kel 3: 1-15
Antar Bacaan : Mazmur 105: 1-11
Bacaan II : Roma 12: 9-21
Bacaan III : Mat 16: 21-28
Tujuan : A.J. menyadari bahwa GKI dipanggil Allah untuk menjadi berkat bagi
masyarakat.
I. DASAR PEMIKIRAN:
Panggilan untuk menjadi berkat adalah panggilan yang berulang-ulang menjadi perhatian kita. Maksudnya adalah tentu saja agar kita sebagai gereja atau umat Tuhan dapat selalu mengingat dan menghayatinya kembali. Panggilan ini merupakan perintah Allah. Karena itu kita sebagai umat-Nya wajib memperhatikannya dengan baik dan melaksanakannya dalam hidup kita setiap hari.
Pada hari ini, panggilan ini kita kaitkan dengan masyarakat di sekitar kita. Sebagai bagian dari umat Tuhan di dunia, khususnya di Indonesia, kita sebagai (anggota) GKI dipanggil untuk menjadi berkat bagi masyarakat di sekitar kita. Pada hari ini, 24 Agustus 2008, ketika kita bersama-sama sedang merayakan Hari Ulang Tahun GKI, kita akan merenungkan kembali, sejauh manakah kita sungguh-sungguh telah menjadi berkat bagi masyarakat. Pada hari ini kita sebagai GKI telah berusia 20 tahun. Selama 20 tahun ini apa yang telah kita lakukan bagi bangsa dan masyarakat di sekitar kita. Apakah kita telah mengisi hidup dengan berbagi dan juga melayani mereka, atau lebih banyak hidup bagi diri sendiri? Marilah kita merenungkannya dengan sungguh-sungguh.
Dalam Visi dan Misi GKI, panggilan untuk menjadi berkat bagi masyarakat ini kita rumuskan dengan kata-kata yang berbeda, namun dengan hakikat yang sama. Dalam Visi dan Misi GKI, panggilan ini tersirat dan tersurat dalam Visi yang berbunyi sebagai berikut: “GKI menjadi mitra Allah untuk mewujudkan damai sejahtera Allah di dunia”. Sama seperti panggilan untuk menjadi berkat bagi masyarakat, Visi GKI untuk ikut mewujudkan damai sejahtera Allah juga harus kita perjuangkan. Dengan berkat dan pertolongan Allah, kita yakin bahwa bersama-sama kita pasti dapat mewujudkan sekaligus tugas panggilan sebagai umat Tuhan maupun Visi dan Misi GKI.
II. TAFSIRAN SINGKAT:
Bacaan I: Kel 3: 1-15
Keluaran 3: 1-15 merupakan bagian dari perikop mengenai pemanggilan Musa untuk menjadi utusan Tuhan. Pada waktu itu Musa sedang berada di Midian, bekerja sebagai gembala kambing domba pada Yitro, mertuanya (tekstual: ay. 1. Terjemahan lain dari choten: “saudara ipar”. Dlm Kel 2: 21, mertua Musa adalah Rehuel, imam di Midian). Pada waktu itu Musa juga berstatus sebagai “pelarian” dari Mesir, karena ulahnya membunuh orang Mesir yang menganiaya seorang Ibrani, saudaranya.
Pemanggilan Musa terjadi secara dramatis. Pada waktu itu ia sedang menggembalakan kambing domba Yitro di gunung Horeb, atau Sinai, yang disebut gunung Allah. (Horeb mungkin nama asli gunung itu. Disebut gunung Allah, karena Allah menampakkan diri di sana, dan disebut Sinai (semak) karena Allah menampakkan diri pada semak duri yang menyala). Di kesunyian padang gurun itu, Malaikat Tuhan (yaitu Allah sendiri) menampakkan diri kepadanya, dalam wujud yang tidak biasa, yaitu sebagai “nyala api yang keluar dari semak duri”. “Semak duri itu menyala, tetapi tidak di makan api” (ay. 2). Bagi Musa, penglihatan itu ‘hebat’ (ay. 3), dan menariknya untuk datang lebih dekat ke sana. Namun keinginan Musa tidak terpenuhi, karena ketika TUHAN melihat Musa mendekat, ‘… berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa” (ay. 4), … ‘janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu …, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah kudus.’ (ay. 5).
Api adalah simbol kehadiran Allah atau “deity” pada umumnya. Dan tempat di mana Allah hadir, yang dalam hal ini adalah semak yang menyala, menjadi kudus. Untuk mendekat ke tempat di mana Allah berada, Musa harus “menanggalkan kasut”nya (ay. 5). Tindakan ini bersumber dari tradisi kuno, yaitu ketika orang menyembah Allah harus melakukannya dengan kaki telanjang. Sandal yang dipakai dalam perjalanan, dikotori debu-debu. Karena itu harus ditanggalkan ketika menghadap Allah. Demikian juga kaki pemakainya. Bukan ditanggalkan, tentu saja, tetapi harus dibasuh supaya bersih (Cf. Yoh 13: 1-20). Dalam perkembangannya, menanggalkan kasut adalah simbol tindakan membersihkan kotoran , karena orang sudah berjalan di jalan dosa.
Allah memperkenalkan diri kepada Musa sebagai Allah ayahnya, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub (ay.6). Allah yang menjumpainya adalah Allah yang hidup, Allah nenek moyang Musa. Kehadiran Allah membuat Musa takut, dan menutupi mukanya supaya tidak memandang Allah. Dosa manusia menyebabkannya tidak mampu berhadapan dengan Allah yang kudus.
Allah berkata bahwa Ia telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Nya di Mesir (ay.7). Allah yang Maha Tahu, bukan hanya melihat dan memperhatikan kesengsaraan Israel, tetapi juga ikut prihatin dan bersimpati kepada mereka. Kesengsaraan itu timbul sebagai akibat dari tindakan “pengerah-pengerah” mereka. Pengerah ini bertindak seperti mandor yang galak dan kejam. Mereka terus menerus menjaga dan mengawasi umat Israel, dan memaksa siapa pun terus bekerja keras. Tuhan telah menyaksikan juga betapa kerasnya penindasan ini (ay. 9). Barangsiapa kedapatan menjadi lemah dan kendor dalam bekerja, pengerah ini tak akan segan mengayunkan cambuk dan mendera mereka. Karena itu orang-orang Israel amat tersiksa dan menderita. Mereka berseru, atau bahkan berteriak kepada Tuhan. Teriakan mereka memilukan hati Allah, sehingga Ia berkenan turun (dari tempat tinggi, dari kediaman-Nya) ke gunung Horeb (untuk memberitahukan rencana-Nya ini kepada Musa (ay.16)), dan ke Mesir (untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir (ay.8)), serta membawa umat-Nya ke tanah luas (Kanaan), yang penuh dengan susu dan madu, dan yang menjanjikan kehidupan yang sejahtera, walaupun tanah yang baik dan luas ini telah ada penghuninya, yaitu orang-orang Kanaan, Het, Amori, Feris, Hewi dan Yebus. Pertolongan Tuhan akan dilaksanakan secara tuntas. Namun untuk itu Tuhan memerlukan kesediaan manusia untuk menjadi “perantara”, untuk memimpin dan membawa umat-Nya ke luar dari tanah perbudakan itu. Dan Musa dipanggil dan diutus untuk melakukan semua tugas itu. Musa harus menghadap Firaun dan menyampaikan rencana Tuhan kepadanya.
Musa menerima pengutusan Tuhan ini dengan bermacam perasaan. Selain mengagetkan, karena begitu besar kepercayaan Tuhan kepadanya, pengutusan itu juga dirasa berat olehnya. Karena itu Musa berkata kepada Allah: ‘Siapakah aku ini…’ Musa merasa tak sanggup, dan tak layak untuk menerima tugas itu. Penolakan ini juga mencerminkan kerendahan hati Musa yang mengenali keterbatasan dirinya. Tetapi juga rasional. Siapa yang sanggup membawa budak sebanyak itu ke luar dari Mesir yang makmur dan memiliki tentara yang kuat? Namun demikian Allah menolak keberatan Musa. Kelemahan Musa menjadi relatif, tak berarti, karena Tuhan akan menyertainya. Bersama Tuhan, semua bisa. Dan demi menguatkan keyakinan diri Musa, Allah memberikan tanda bahwa kalau umat Israel telah ke luar dari Mesir, mereka akan berbakti di gunung yang kudus ini. Tanda ini menyiratkan nubuat bahwa Israel akan melewati gunung Sinai, dan di gunung ini akan menerima Hukum Taurat, yang akan menjadi landasan ibadah mereka selanjutnya.
Dialog dengan Allah dalam ay. 13-15 menunjukkan bahwa Musa masih memerlukan konfirmasi mengenai Allah yang mengutusnya. Siapa nama-Nya? Nama menunjukkan identitas, dan sering terkait dengan kekuasaan. Israel di Mesir tampaknya mengenal banyak ‘allah’ atau dewa, sebagaimana orang-orang Mesir. Karena itu kalau Allah akan melakukan pembebasan, mereka akan menanyakan nama-Nya. Allah menyatakan diri sebagai Ehyeh Asyer Ehyeh, yang dipandang merupakan asal kata nama Yhwh, atau Yahweh. Dengan menyebut diri-Nya ‘Aku adalah Aku’, Allah bermaksud menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang akan dikenal umat-Nya dari tindakan-tindakan penyelamatan yang akan dilakukan-Nya kelak, bukan ‘nama-Nya’ an-sich. Dengan menyebut diri-Nya sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah ingin menunjukkan diri-Nya sebagai Allah yang kekal, yang hidup sejak dulu, sekarang, sampai jaman yang akan datang. Dalam ay. 15 Allah juga menegaskan bahwa ‘nama’-Nya ini adalah untuk selama-lamanya, dan nama ini akan disertai perbuatan-Nya turun-temurun. Allah ingin nama-Nya dikenal dan diingat, juga dari perbuatan-perbuatan-Nya.
Antar Bacaan : Mazmur 105: 1-11
Mazmur ini merupakan semacam “review” terhadap sejarah Israel yang paling awal. Sejarah itu dimulai dengan pembebasan mereka dari tanah perbudakan Mesir. Pembebasan itu dilakukan Allah melalui “perbuatan-Nya yang ajaib” (ay. 2), “mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya” (ay. 5), yang kemudian diuraikan lebih mendetail pada ay. 12, dst). Pembebasan itu dilakukan Allah sesuai dengan perjanjian yang diikat-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Perjanjian yang dikuatkan dengan sumpah itu berbunyi: ‘Kepadamu akan kuberikan tanah Kanaan, sebagai milik pusaka yang ditentukan bagimu’ (ay. 11). Pada waktu mereka dikeluarkan dari Mesir, mereka masih “berjumlah sedikit” (ay. 12). Namun mereka harus mengembara di antara bangsa-bangsa lain yang telah lebih dulu menghuni Kanaan. Namun demikian, Israel dapat selamat dari gangguan dan mendiami tanah yang dijanjikan itu.
Ingatan terhadap karya pembebasan Allah itu dijadikan dasar oleh Pemazmur untuk mengajak umatnya “bersyukur kepada TUHAN”, berseru, bernyanyi dan bermazmur bagi-Nya (ay. 1,2). Umat juga diajak memperkenalkan nama Allah dan perbuatan-perbuatan-Nya kepada segala bangsa. Umat juga dipanggil untuk bermegah dan mempercakapkan segala perbuatan-Nya (ay. 2 dan 3). Dan berdasarkan semua itu umat diajak untuk mencari Tuhan dan kekuatan-Nya, sehingga dapat bersukahati karena Dia.
Bacaan II: Roma 12: 9-21
Perikop ini berisi nasihat mengenai hidup bersama. Perikop ini merupakan kelanjutan dari bagian “praktis” (mulai ps. 12), yang mengikuti uraian “teologia Rasul Paulus” sebagaimana terurai dalam Roma ps. 1-11. Dalam perikop ini Paulus menasihati jemaat Roma agar hidup dalam kasih. Semua anggota diharapkan melakukannya dengan tulus hati alias tidak cuma berpura-pura (ay. 9, 10). Selain saling mengasihi, anggota-anggota jemaat juga dinasihati untuk saling membantu, memberi tumpangan, memberkati, memberi makan dan minum kepada seteru, dan supaya hidup dalam damai, serta melakukan apa yang baik bagi semua orang (ay.17). Dengan jenis kalimat lain, anggota jemaat diharapkan tidak mengutuki orang, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Anggota jemaat juga diminta dapat menunjukkan simpati kepada orang lain, baik yang menangis maupun yang sedang bersukacita. Dan dengan sesama anggota hendaknya mereka bersehati sepikir (cf. Fil 2), merendahkan diri, mengarahkan diri kepada perkara-perkara sederhana, dan tidak menganggap diri sendiri pandai (ay. 16).
Dengan bersikap dan bertindak sesuai nasihat rasul Paulus seperti di atas, jemaat di Roma pasti akan menjadi jemaat yang (cukup) ideal. Selain hidup bersama dengan baik di antara saudara seiman sendiri, jemaat pasti juga akan dapat membangun kehidupan bersama yang indah dengan sesamanya atau orang-orang yang beriman lain. Sebagai individu maupun sebagai sebuah komunitas kristiani, mereka akan dapat menjadi berkat bagi masyarakat.
Walaupun dinasihati untuk menjaga relasi yang baik dengan siapa saja, rasul Paulus tetap mengingatkan jemaat Roma agar tidak melupakan dasar iman dan prinsip-prinsip hidup bersama yang mendasar. Yang mana? Dasar iman adalah “sola fide” kepada Yesus Kristus sebagai juru selamat kita, dan sola gracia” karena kasih Tuhan. Prinsip-prinsip yang tetap harus dijunjung tinggi adalah seperti kebenaran dan keadilan, dan juga kemerdekaan. Dalam perikop ini rasul Paulus belum mengungkapkan pandangannya mengenai pemerintahan. Dalam ps. 13 rasul Paulus menasihati agar jemaat patuh kepada pemerintah, yang secara positif dipandangnya sebagai bentukan atau penetapan Allah. Namun tentu saja pandangan ini harus diikuti secara kritis. Kalau pemerintah melakukan penindasan, seperti Firaun Mesir pada jaman Musa, atau menjalankan otoritarianisme seperti pada jaman Suharto dengan “Orde Baru” nya, atau berbuat tidak adil kepada kelompok minoritas dan melanggar hak azasi manusia pada umumnya seperti yang dilakukan junta militer yang memerintah Burma pada tahun-tahun lalu (2007), umat Tuhan harus menyatakan ketidak-setujuan, atau penentangan.
Bacaan III: Mat 16: 21-28
Perikop ini mengikuti perikop mengenai pengakuan Petrus tentang Yesus sebagai Anak Allah yang hidup (16: 16). Sejak peristiwa pengakuan itu, Yesus mulai menyatakan kepada para murid bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ke tiga (ay. 21). Tampaknya ada kaitan yang erat antara keberanian menderita, dengan iman kepada Tuhan. Para murid perlu mengenal siapa Tuhan, dan mengakui-Nya dengan segenap hati, sebelum dapat menghadapi tantangan besar, bahkan teror, dalam kehidupan dan pekerjaan mereka, dengan keberanian.
Misi Tuhan Yesus, yang akan dilanjutkan para murid, adalah mendatangkan damai sejahtera bagi seluruh umat manusia di dunia. Namun tidak semua manusia menerima misi yang baik ini. Ada saja kelompok-kelompok manusia yang tidak menyukainya. Pada jaman Tuhan Yesus, kelompok ini adalah elit agama. Elit ini, yang pada dirinya sering terlibat konflik, menjadi kompak menolak Tuhan dan misi penyelamatan-Nya. Mereka bahkan dengan licik memfitnah, menyergap-Nya, dan menyiksa serta membunuh-Nya, memakai tangan pihak lain. Namun, dalam rangka menjalankan misi Kerajaan Allah, Tuhan Yesus dengan tegar menghadapi semua itu, sampai tugas-tugas-Nya sepenuhnya terlaksana.
Seperti yang dialami Tuhan, para murid mula-mula juga mengalami aniaya dan penentangan pihak-pihak yang tidak suka. Sebagian ada yang terkalahkan, namun sebagian besar tetap setia kepada Tuhan dan tetap menjalankan tugas pelayanan mereka sepenuhnya. Dan seperti pengalaman para murid Tuhan dahulu, jemaat-Nya sekarang mungkin juga mengalami hal yang sama. Tentu saja intensitas dan bentuknya berbeda. Artinya, tetap saja pelayanan untuk mendatangkan damai sejahtera bagi masyarakat di sekitar kita bisa memunculkan penolakan dan penentangan. Namun, karena pada jaman modern ini kebanyakan Negara tidak lagi mentolerir kekerasan fisik dan kekejaman terhadap orang atau sekelompok warga Negara, maka kekerasan (mungkin) tidak akan dilakukan oleh Negara. Penolakan dan penentangan, (mungkin) bisa muncul dari kelompok tertentu yang memiliki misi khusus. Dalam konteks Indonesia, upaya untuk menjadi berkat bagi masyarakat dan untuk mewujudkan damai sejahtera yang menjadi misi kita, mungkin saja akan menghadapi tentangan dan penolakan kelompok agama tertentu yang (masih) fanatis-eksklusif.
Penolakan dan penentangan bisa menyebabkan sekelompok anggota jemaat menjadi “takut”, atau menganggapnya sebagai ketidak-adilan. Petrus juga bersikap demikian ketika untuk pertama kali Tuhan Yesus memberitahukan penderitaan yang akan dialami-Nya. Petrus ‘menarik Yesus ke samping’, dan berkata: ‘… kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.’ (ay. 22). Namun sikap Petrus itu malah ditegur Yesus (ay. 23). Jadi, penderitaan karena penolakan dan penentangan tampaknya menjadi sebuah keniscayaan bagi mereka yang bermaksud ikut mendatangkan damai sejahtera atau untuk menjadi berkat bagi masyarakat.
Tuhan Yesus mengingatkan para murid agar tetap setia kepada-Nya meskipun menghadapi bermacam resiko. Untuk mengikut Yesus (seperti seorang prajurit mengikuti komandan, atau seorang murid mengikuti guru, atau seorang “awam” mengikuti nasihat para ahli, dst.), umat Tuhan harus siap menyangkal diri dan memikul salib (ay. 24). Ada harga yang harus dibayar (Bonhoffer: cost of discipleship). Mungkin, senilai “nyawa”. Jadi memang bisa jadi “mahal sekali”. Namun demikian, ada “imbalan” yang akan diterima oleh mereka yang setia sampai akhir. Imbalan itu adalah memperoleh “nyawa” (kembali) dalam kehidupan kekal kelak, dan “balasan” (kemuliaan) dari Tuhan ketika Ia datang dalam kemuliaan sebagai Anak Manusia diringi malaikat-malaikat-Nya (ay. 25-27).
III. SARAN PENYUSUNAN KOTBAH
1. Khotbah dapat dimulai dengan mengingatkan jemaat bahwa panggilan untuk menjadi berkat adalah panggilan yang telah lama didengar atau diketahui jemaat. Panggilan ini ditujukan kepada seluruh bagian dari umat Tuhan, termasuk anggota GKI. Khotbah kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan reflektif: ‘Apakah kita, saudara-saudara dan saya, sebagai anggota GKI saat ini dapat dipandang telah menjadi berkat bagi sesama atau bagi masyarakat? Hari ini kita merayakan HUT GKI yang ke 20. Ada baiknya pada saat ini kita juga melakukan refleksi. Dalam kebaktian hari ini, pertanyaan reflektif seperti di atas akan kita renungkan bersama-sama’.
2. Khotbah dilanjutkan dengan menguraikan makna menjadi berkat. Mulailah dengan menjelaskan pengalaman Musa. Dalam konteks Musa, menjadi berkat dapat dimaknai sebagai panggilan untuk melakukan tindakan-tindakan sbb:
1) Pembebasan, yaitu membebaskan umat Israel dari penindasan oleh Firaun atau penguasa Mesir. Aspek-aspeknya meliputi, misalnya:
- Politis, seperti pengingkaran terhadap hak sebagai warga Negara Mesir, perlakuan diskriminatif terhadap orang Israel, pembatasan tempat tinggal dalam enklaf-enklaf khusus dan terbatas.
- Sosial, khususnya penetapan status ‘budak’ pada umat Israel dengan segala akibatnya, seperti “kerja rodi”.
- Ekonomi, seperti keharusan bekerja keras tanpa imbalan memadai, pembatasan jenis dan lapangan kerja, dst.
Beragam aspek penindasan dan perbudakan itu saling terkait, dan tentu saja dapat diuraikan lebih lanjut oleh pengkhotbah sesuai pesannya.
Dari sisi pembebasan ini, tugas Musa termasuk berani melawan penindas.
2) Kepemimpinan, yaitu memimpin umat Israel ke luar dari Mesir. Tanah Kanaan masih jauh, dan belum diketahui persis “di mana rimbanya”. Karena itu, Musa harus memiliki “visi” yang jelas. Perjalanan yang akan ditempuh juga “lama”, panjang, dan penuh bahaya (dari suku lain, hewan liar, dan alam). Musa harus punya keberanian menghadapinya. Selain itu, bangsa yang dipimpinnya ‘tegar tengkuk’, bermental budak, dan mungkin juga ‘liar’. Karena itu, Musa harus memiliki kepemimpinan yang kuat.
3) Keteladanan, yang menyangkut aspek iman maupun kepribadian. Musa telah bertemu dan mengenal Tuhan. Israel belum, dan pasti masih sering “menanyakan siapa nama-Nya”. Musa harus menunjukkan iman yang kuat, dan membuktikan bahwa Tuhan adalah Allah yang hidup. Musa harus membawa Israel kepada ibadah yang benar, termasuk menerima Taurat di Sinai. Sebagai pemimpin, Musa juga harus berpribadi sabar, rendah hati, dan rela berkorban bagi bangsanya (cf. Kel 32: 32).
3. Sebagai GKI, (saat ini) kita tidak dipanggil untuk melawan belenggu penindasan “Firaun” Indonesia, atau membawa umat eksodus “ke tanah Kanaan lain” (separatisme). Tetapi, dalam konteks Indonesia saat ini, GKI tetap dipanggil menjadi berkat dengan (ikut) melakukan “pembebasan” rakyat dari “belenggu-belenggu” lain. Belenggu-belenggu itu, dalam beberapa aspeknya, misalnya adalah:
- Politik: diskriminasi terhadap warga keturunan, minimnya perlindungan terhadap penganut agama minoritas, meningkatnya anarkhisme, dst.
- Sosial: kemiskinan, rendahnya pendidikan bagi kebanyakan warga, pengangguran (terselubung maupun tidak), kekerasan dalam rumah tangga, makin renggangnya hubungan social, dst.
- Ekonomi: makin kuatnya kapitalisme (pemilik modal), yang mengakibatkan tergusurnya ekonomi (pro) rakyat/sosial, upah buruh rendah dan kecenderungan “out-sourcing” yang merugikan buruh, dst.
4. Jemaat diingatkan bahwa dalam melaksanakan tugas untuk menjadi berkat, kita harus menjauhkan kecenderungan saling curiga, atau untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebaliknya, upaya menjadi berkat harus diwujudkan dengan tindakan kasih, melakukan yang baik kepada semua orang, dengan dengan mengusahakan perdamaian dengan semua orang (Lihat dan uraikan Tafsiran Rm 12).
5. Mungkin saja, dengan melakukan yang baik pun, GKI akan mendapat penolakan dan penentangan dari pihak-pihak tertentu. Menghadapi kemungkinan seperti itu, kita harus mengingat perkataan Tuhan dalam Mt 16 di atas. Kesusahan dan penderitaan dalam berbuat baik menjadi keniscayaan. Tetapi itulah salib yang harus dipikul, dan penyangkalan diri yang harus dilakukan. Namun ketika menghadapi semua itu, jemaat dinasihati untuk tetap sabar dan setia. Tuhan menyertai kita, dan akan memberikan “upah” yang setimpal dengan perbuatan (baik) kita (Mt 16: 26, dll.)
TEOLOGI