FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

September 3, 2008

KASIH KEPADA SESAMA YANG BERSALAH

Filed under: Bahan PA Lentera Umat — Martin @ 3:17 am

Pdt. Untung Ongkowidjaja
PTK Direktur YKB-Wasiat
Bacaan: Matius 18:12-35
Tujuan:
1. Peserta memiliki sikap yang benar secara Kristiani terhadap sesama yang bersalah.
2. Peserta berbagi pengalaman dalam menghadapi sesama yang bersalah.

PENGANTAR
“Melakukan kesalahan“ merupakan hal yang sering terjadi dan dialami oleh setiap diri kita. Entah kesalahan itu dilakukan dengan sengaja ataupun tanpa sengaja. Yang jelas, tak ada seorang pun yang sempurna, sehingga luput dari kesalahan. Bahkan ditegaskan oleh Paulus dalam Roma 3:23 bahwa semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Pernyataan Paulus ini memiliki dua indikasi pastoral terhadap kehidupan bersama, yakni pertama, setiap orang tidak boleh saling menghakimi dan menghukum, karena semua orang berdosa. Kedua, bahwa setiap orang membutuhkan pengampunan dan saling mengampuni.
Jika semua orang menempati posisi yang sama dan mengharapkan rahmat yang sama dari Tuhan, maka bagaimanakah kita harus bersikap terhadap sesama yang bersalah? Terutama terhadap mereka yang melakukan kesalahan terhadap diri kita, sehingga merugikan dan melukai hati kita. Sikap ini biasanya lebih sulit daripada kesalahan yang dilakukan terhadap orang lain.

PENJELASAN

Ayat 12-14
Bahan bacaan kita kali ini terdiri dari 3 perikop yang berintikan masalah yang sama, yakni sikap-sikap yang perlu dilakukan menghadapi mereka yang bersalah. Dalam perikop pertama, seorang yang melakukan kesalahan diumpamakan seperti domba yng hilang. Analogi ini, sepintas terkesan sangat aneh dan ekstrim. Mengapa? Bayangkan saja, demi mendapatkan seekor domba yang hilang, seorang gembala rela meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor domba yang tidak tersesat.
Namun demikian, pesan utama dalam perikop ini mau menjelaskan bahwa setiap domba itu sangat berharga. Sang gembala tidak menghendaki seekor pun yang hilang, karena hal itu akan menentukan kredibilitas kerjanya pada sang tuan. Ia tidak mengkhawatirkan domba yang 99 ekor. Bukan berarti mereka tidak berharga, melainkan karena sang gembala percaya bahwa 99 ekor domba yang penurut itu tidak akan hilang. Inisiatif untuk mendapatkan yang hilang dilakukan oleh sang gembala, karena itu ia mencari. Ia tidak menunggu secara pasif dan berhadap agar domba yang hilang itu kembali.
Ada dua perasaan yang sangat menonjol dari sang gembala itu terhadap domba yang hilang: pertama, bahwa ia sangat mengasihi domba yang hilang itu, sehingga ia akan berusaha mencari dan menemukannya. Kasih itulah yang menguatkan seorang gembala memberi waktu dan tenaga ekstra untuk mencari yang hilang, bahkan pengorbanan yang lebih dari itu. Perasaan kedua adalah sukacita yang sangat besar di kala ia menemukan domba yang hilang itu. Bahkan perasaan sukacita ini dianalogikan dengan perasaan Bapa di sorga, di kala seorang anak yang hilang itu telah ditemukan. Dua perasaan ini sepatutnya melandasi kita ketika menghadapi sesama yang bersalah.

Ayat 15-20
Perikop mengenai sikap dalam menasihati sesama saudara diletakkan setelah perumpamaan domba yang hilang. Seakan perikop ini merupakan kelanjutan dari perikop sebelumnya, mengenai sikap terhadap domba yang tersesat itu. Kemungkinan besar perikop Mat 18:15-20 berasal dari sumber Matius sendiri dan disisipkan agar jemaat Matius memiliki panduan praktis menghadapi anggota jemaat yang bersalah. Jelas perikop ini mencerminkan situasi jemaat yang telah ada dan dalam proses pertumbuhan dalam penatalayanannya. Namun demikian tidak mustahil bahwa memang Tuhan Yesus memberikan pengajaran ini, dengan memperhatikan atau mengkritik cara-cara orang kaum Farisi dalam menangani orang-orang yang kedapatan melakukan dosa. Tujuan dari penataan ini adalah untuk mengatur beberapa hal:
- Pertama, tujuannya haruslah jelas, yakni mengharapkan terjadinya pertobatan dari seseorang yang telah melakukan kesalahan (dosa), bukan penghukuman seperti yang biasa dilakukan oleh para pemimpin Yahudi.
- Kedua, proses pengembalaan itu dilakukan secara prosedural, mulai dari empat mata. Ini tentu demi menciptakan kebaikan semua pihak, yakni mereka yang bersalah (berdosa), maupun jemaat secara keseluruhan. Jika pertobatan itu belum terjadi, maka bawalah satu atau dua orang lain (saksi atau penatua). Tujuannya agar perkara yang sedang dibicarakan itu tidak disangsikan. Bukan mengada-ada atau fitnah, karena dua orang yang bersaksi, maka peristiwa yang terjadi itu bisa dinyatakan sebagai benar terjadi. Jika pertobatan itu belum juga terjadi, maka perkara itu bisa disampaikan kepada jemaat (pewartaan). Proses ini bukan hanya sekedar untuk mengatur, tetapi juga untuk menegaskan bahwa tidak gampang untuk mengucilkan orang-orang yang dianggap berdosa.
- Ketiga, melalui penataan ini akan terhindar pola penghakiman sendiri-sendiri dan pengucilan tanpa upaya untuk menggembalakan terlebih dahulu.
Penyebutan istilah “sebagai seorang yang tidak mengenal Allah (kafir) atau seorang pemungut cukai” adalah sebutan-sebutan umum yang biasa dilontarkan oleh para pemimpin Yahudi dalam menghadapi orang yang berdosa. Jika Tuhan Yesus mengutip perkataan itu, pada dasarnya Ia mau mengkritik tindakan semena-mena yang biasa dilakukan oleh para pemimpin Yahudi.
Hal yang sangat indah, justru ditambahkan dalam pengajaran Yesus mengenai kepedulian Bapa atas dua atau tiga orang yang sepakat untuk memohon sesuatu dan kehadiran Tuhan Yesus dalam menopang kehidupan bersama (Mat. 18:19-20). Terkait dengan topik pembicaraan dalam perikop ini, maka sebenarnya tujuan dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku adalah untuk mendoakan supaya terjadi pertobatan terhadap sesama yang bersalah.

Ayat 21-35
Sedangkan perikop selanjutnya yakni Mat 18:21-35 seakan hendak menegaskan tentang sikap mengampuni. Perikop ini didahului dengan pertanyaan Petrus (sebagai simbol jemaat, bdk. Mat 16:13-20) mengenai “berapa kali kita harus mengampuni saudara yang berbuat salah?“ Tujuh kali merupakan kesempatan yang sudah banyak, seakan-akan pertanyaan Petrus itu merupakan sebuah sindiran untuk mengungkapkan batas kesabaran. Namun jawaban Yesus sangat mengejutkan, yakni tujuh puluh kali tujuh kali (490 kali). Tentu ini bukan angka matematis yang mau dinyatakan, melainkan simbol untuk mengungkapkan bahwa rahmat Allah, kemurahan hati dan kesabaran itu tidak ada batasnya. Pengampunan harus dilakukan terus menerus oleh kita kepada orang yang bersalah.
Namun demikian dalam perumpamaan mengenai pengampunan ini seakan-akan terdapat kontradiktif. Memang diungkapkan tentang seorang yang berhutang sangat besar, lantas dibebaskan oleh sang raja. Namun orang yang diampuni itu sendiri tidak mau mengampuni orang yang berhutang sedikit kepadanya. Terhadap sikap ini sang raja murka dan akhirnya mencabut kembali pengampunannya dan menyeret si orang berhutang itu ke penjara hingga ia bisa melunasi hutangnya. Pada bagian perikop ini seakan memperlihatkan bahwa sang raja itu juga memiliki keterbatasan pengampunan, bahkan bisa mencabut kembali pengampunan yang telah diberikan. Benarkah demikian?
Perumpamaan itu tidak bisa ditafsirkan secara alegoris, melainkan ingin menegaskan tentang inti berita bahwa jika kita yang juga melakukan dosa yang besar berharap akan pengampunan Tuhan, maka Tuhan berharap agar kita pun bersedia mengampuni dosa sesama kita. Dimensi horizontal ini sangat penting, bahkan sikap kita dalam mengampuni sesama, sebenarnya dilandasi atas perasaan syukur karena kita telah lebih dahulu mengalami pengampunan dari Tuhan.

PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI
1. Landasan apakah yang harus kita miliki ketika menghadapi sesama yang bersalah?
2. Sikap-sikap apa sajakah yang perlu dilakukan kepada seseorang yang bersalah, baik terhadap diri kita, maupun terhadap kehidupan bersama?
3. Apakah landasan bisa mendasari kita untuk dapat mengampuni sesama?
4. Ceritakanlah penatalayanan yang ada di jemaat Saudara dalam rangka menggembalakan anggota jemaat yang bersalah!
5. Bagaimanakah sikap pengampunan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan mengapa Tuhan Yesus menggunakan sebutan sebagai “pemungut cukai“ kepada orang yang bersalah?

VARIASI METODE
Usulan pendekatan pemahaman yang lebih mendalam namun praktis, yakni melakukan pembicaan khusus secara kelompok kecil. Jumlah anggota kelompok tidak lebih dari tiga orang saja, untuk membahas suatu persoalan penting mengenai anggota jemaat yang mungkin saat ini sedang bermasalah.
Diskusi atau sharing ini dilakukan setelah mendengarkan penjelasan/uraian dari pemimpin PA. Usahakan agar pendalaman praktek ini merupakan sebuah kesempatan yang sungguh dalam menyatakan sikap yang baik terhadap seseorang yang kita rindu untuk dapat digembalakan dengan baik, sehingga mengalami pertobatan. Pembagian menurut kelompok kecil ini dimaksudkan untuk tetap menjaga rasa saling percaya dan kerahasiaan dari seseorang yang kita kenal memang telah jatuh.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It