FORUMTEOLOGI |Gereja Kristen Indonesia
Just another Forumteologi.com weblog

September 3, 2008

SANG MESIAS MENYATAKAN KUASA-NYA

Filed under: Bahan PA Lentera Umat — Martin @ 3:11 am

Pdt. Rinta Kurniawati Gunawan
Pendeta Jemaat GKI Pekalongan
Bacaan: Matius 17:14–21

Tujuan:
1. Peserta memahami makna situasi yang digambarkan dialami oleh si penderita ayan dalam cerita Injil ini.
2. Peserta mengerti mengapa Yesus mau menyembuhkan si penderita tersebut.
3. Peserta mengerti mengapa para murid tidak bisa menyembuhkan si korban.
4. Peserta bisa menjelaskan apa yang dimaksudkan Yesus dengan iman sebesar biji sesawi.

Pengantar

Hidup kekristenan menuntut para pengikutnya untuk menyerahkan diri secara total kepada Kristus. Secara total berarti dalam situasi apapun, baik dalam suka maupun duka, dalam persoalan sekecil apapun hingga yang tersulit sekalipun. Inilah yang dinamakan iman, yaitu penyerahan diri dan pengharapan total kepada Kristus yang menyangkut keseluruhan aspek kehidupan, waktu, tempat dan kondisi.
Mengapa Tuhan Yesus menghendaki supaya kita beriman kepada-Nya? Sebab hanya Dialah Allah yang Mahakuasa. Kemahakuasaan ini menunjukkan suatu kuasa yang mutlak dan yang tidak tertandingi, segala sesuatu bisa dilakukan melalui kuasa tersebut. Yeremia 32:27 menyaksikan demikian, “Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?” Dan Lukas 1:37 menegaskan, “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kepada Allah yang seperti itulah, kita dapat memasrahkan segala persoalan hidup kita dan pengharapan kita tentu tidak akan mengecewakan (Roma 5:5).
Bicara memang mudah, namun prakteknya seringkali tidak semudah itu. Memasrahkan diri (beriman) sepenuhnya kepada Tuhan yang tidak kelihatan secara fisik seringkali sulit untuk dilakukan manusia. Bahkan para murid yang telah menjalani kehidupan bersama Yesus secara intensif pun, masih mengalami kegagalan ini. Dalam bacaan hari ini dikisahkan bagaimana kurang percayanya mereka terhadap kuasa Yesus sehingga mereka gagal mengusir roh jahat dari tubuh seorang anak. Dari kisah ini, Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid untuk sungguh-sungguh percaya kepada-Nya dan memiliki iman walau “hanya” sebesar biji sesawi. Iman yang kecil itu akan membawa dampak yang luar biasa bagi kita jika ditujukan kepada pribadi yang tepat, yaitu kepada Tuhan yang Mahakuasa (Matius 17:20).

Penjelasan

Peristiwa ini terjadi setelah Yesus bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes “turun gunung” (17:9). Ketiga murid tersebut baru saja menyaksikan bagaimana Yesus dimuliakan dan diperkenan oleh Bapa-Nya di surga. Suatu peristiwa yang menakjubkan dan sekaligus menjadi suatu pengokohan atas kesaksian iman Petrus sebelumnya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (16:16). Ironisnya, sementara ketiga murid ini menyaksikan kemuliaan Yesus, murid-murid yang lain justru “kehilangan” kemuliaan Yesus. Mereka gagal menyembuhkan seseorang yang kerasukan setan.

Ayat 14–15
Setelah serangkaian peristiwa “ajaib” yang dilakukan Yesus, popularitas Yesus semakin meningkat. Orang banyak telah mengenal-Nya sebagai seseorang yang ahli dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit, bahkan dalam hal pengusiran roh jahat. Oleh karena itu setiap kali Yesus tampil di depan publik, orang-orang yang memiliki masalah tersebut tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memohon belas kasihan Yesus.
Masalah sebenarnya yang dialami oleh seorang anak tersebut bukan sakit ayan itu sendiri, melainkan karena ia kerasukan setan (roh jahat). Setan itu telah membuat korbannya menjadi sangat menderita, dengan gejala seperti orang sakit ayan (band. Mrk 9:18, Luk 9:39).

Ayat 16,19
Mengapa orang tua dari anak itu meminta kepada para murid untuk menyembuhkannya? Mengapa ia tidak langsung datang kepada Yesus saja? Sebab sebenarnya Yesus sudah memberikan mandat dan kuasa kepada para murid untuk menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dsb (Mat 10:8). Memang tidak dijelaskan seberapa banyak orang yang telah disembuhkan melalui karya para murid. Tapi yang jelas, kali ini mereka gagal. Para murid pun heran dan tidak tahu penyebab dari kegagalan mereka (17:19).

Ayat 17
Yesus memberikan teguran yang keras terhadap para murid. Isi dari teguran itu merupakan inti dari penyebab kegagalan para murid, yaitu bahwa mereka tidak percaya akan kuasa Yesus. Kata yang digunakan adalah apistos yang berarti tidak percaya atau tidak setia, tapi juga bisa diartikan mustahil (band. Kis 26:8). Rupa-rupanya para murid meragukan apakah kuasa Yesus mampu mengusir roh jahat/setan yang kekuatannya mengerikan itu. Menurut mereka, hal itu mustahil untuk dilakukan, sehingga akibatnya mereka benar-benar tidak dapat melakukannya.
Kata apistos kemudian diikuti dengandiestrameno (sesat). Sesat menandakan sesuatu yang salah, yang tidak semestinya, yang sudah dibelokkan, atau sesuatu yang rusak. Sebagai pengikut Yesus (baca: orang-orang yang selalu berjalan dan berdampingan dengan Yesus), tidak semestinya para murid tidak percaya akan kuasa Yesus. Seharusnya mereka sadar betul bahwa Yesus berkuasa atas segala sesuatu di bumi dan di surga, termasuk atas roh-roh jahat.
Tidak banyak perkataan Yesus dengan nada marah yang dicatat oleh Injil. Tapi perkataan Yesus dalam ayat ini menggambarkan betapa tidak puasnya Yesus atas lambannya pertumbuhan iman dari para murid-Nya. Barangkali Yesus sudah “gregetan” dengan sikap mereka.

Ayat 18
Kegagalan para murid bukan berarti kegagalan Yesus juga. Meskipun para murid tersebut gagal menyatakan kuasa Yesus, namun Yesus masih berkuasa untuk mengusir setan dari tubuh anak itu dan menyembuhkannya. Yesus telah menunjukkan kebesaran kuasa-Nya, sekarang inipun Ia masih bekerja, dan akan terus bekerja untuk menyatakan kuasa-Nya atas segala sesuatu di bumi maupun di surga sampai selama-lamanya.

Ayat 20
Ayat ini merupakan penegasan dari teguran Yesus pada ayat 17 di atas. Letak inti persoalan dari kegagalan para murid adalah soal kepercayaan kepada Yesus. “Percaya” harus dilakukan dengan sepenuh hati (total), tidak bisa setengah-setengah. Kegagalan tidak hanya disebabkan karena “tidak” percaya, tapi juga karena “kurang” percaya (penyerahan diri yang tidak total; percaya tapi tidak sepenuhnya, masih ada keragu-raguan).
Iman yang diminta oleh Yesus diumpamakan dengan sebesar biji sesawi. Sesawi adalah jenis tumbuhan yang tingginya tidak lebih dari 1,3 m jika telah dewasa. Bijinya berukuran sangat kecil. Beberapa ahli berpendapat bahwa yang dimaksud adalah sesawi hitam (Sinapsis nigra) karena pada jaman PB, bijinya ditanam guna diambil minyaknya dan untuk keperluan masak-memasak. Namun ada ahli-ahli lain yang mengatakan sesawi putih (Sinapsis alba), yang sejenis dengan sesawi hitam.
Jadi rupanya dalam hal ini Yesus tidak hendak mempermasalahkan besar kecilnya iman yang kita miliki, namun Ia meminta ketulusan dan kebulatan kita untuk bersandar kepada-Nya. Iman yang sejati dapat memberikan hasil yang luar biasa: “memindahkan gunung”. Setiap orang tentu memiliki “gunung” masalah yang menjadi beban dalam hidupnya. Jika kita percaya total kepada Yesus, maka tidak akan ada yang mustahil untuk diselesaikan; tidak akan ada “gunung” yang tidak bisa dipindahkan. Dengan iman tersebut, para murid dan kita saat ini juga diajak oleh Yesus untuk turut serta dalam karya-Nya demi mendatangkan kebaikan bagi umat manusia. Iman yang sejati berarti kita mengenal persis siapa Yesus dan seberapa besar kuasa-Nya sehingga kita bisa sungguh-sungguh menggantungkan hidup kita kepada-Nya. Iman yang demikian tentu bukan hasil usaha kita, melainkan merupakan anugerah Allah (I Korintus 12:9). Dengan segala keterbatasan kita, tentu kita tidak bisa mengusahakan iman semacam itu dengan kekuatan diri sendiri. Oleh karena itu kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan, mohon supaya kita diberi karunia iman tersebut.

Pertanyaan Panduan Diskusi

1. Coba gambarkan kondisi (penderitaan) yang dialami oleh si penderita ayan dalam cerita Injil ini!
2. Menurut Saudara, apa yang menyebabkan para murid tidak dapat menyembuhkan orang yang kerasukan setan dan menderita sakit ayan tersebut?
3. Apakah yang dimaksud Yesus dengan mengatakan “… sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja…”? Apakah Yesus bermaksud supaya kita hanya cukup memiliki iman yang kecil saja?
4. Ketika Saudara merasa telah beriman, namun ternyata usaha Saudara tidak kunjung berhasil atau persoalan Saudara tidak kunjung berakhir, apa yang akan Saudara pikirkan dan lakukan? (Minta para peserta PA untuk saling berbagi pengalaman mengenai hal ini.)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress

Close
E-mail It