Tetap Memberi Perhatian pada Masalah Keseharian
Pdt. Cucu Rustandi
Pendeta Jemaat GKI Banjar
Bacaan :Matius 17:22–27
Tujuan :
1. Peserta memahami hubungan antara ayat 22-23 dengan ayat 24-27
2. Peserta memahami makna perintah Yesus pada ayat 27
PENGANTAR
Kehidupan pada saat ini penuh harapan, di mana setiap orang dapat mencapai apa yang diinginkannya asal ia mau bekerja dengan baik dan tekun. Namun pada saat ini kita juga menghadapi persoalan-persoalan yang tidak kecil, sehingga banyak orang yang mencurahkan segala daya upayanya untuk mencapai yang diinginkannya dan dalam menghadapi tantangan-tantangannya. Kita menjalani kehidupan bersama orang-orang lain. Kita berbagi sumber-sumber kehidupan. Kita menerima dari orang lain atau melalui orang lain, dan kita memberi, langsung atau tidak langsung, kepada orang lain. Maka dalam pandangan tersebut kita menyadari tentang hak dan kewajiban. Hak-hak kita, kita perjuangkan untuk mendapatkannya, demikian juga kewajiban-kewajiban kita, kita wujudkan secara nyata dan jelas. Banyak dari hak dan kewajiban itu merupakan sesuatu yang sudah terjadi dengan biasanya atau sudah diatur dengan aturan-aturan yang jelas. Kewajiban itu misalnya: membayar pajak, membayar retribusi, menjaga lingkungan hidup, partisipasi kongkrit di tengah masyarakat, peran serta kita dalam memberi nilai tambah dan kualitas lebih baik pada kehidupan bersama. Jangan lupa pula untuk hal-hal mendasar bagi kehidupan keluarga, khususnya perhatian pada keluarga atau anak-anak. Bahwa suatu kali kita menghadapi hal besar atau fokus pada suatu masalah, tidak perlu sampai melupakan kewajiban dan tanggung jawab kita pada hal-hal keseharian kita.
Biasanya jika seseorang sedang fokus pada masalah yang sangat penting dan menentukan dari sesuatu yang hendak dicapainya atau ketika ia menghadapi persoalan penting yang harus dipecahkannya, maka seringkali orang itu mengabaikan atau melupakan hal-hal yang berkaitan dengan keseharian hidupnya. Yang terjadi dengan Yesus tidaklah demikian. Walaupun Ia menghadapi persoalan yang sangat penting dan menentukan, ketika hal-hal keseharian muncul dan harus diselesaikan, maka Yesus tetap memberi perhatian yang serius. Bahkan dalam perhatian pada masalah keseharian tersebut Yesus memberi arahan yang mendalam.
PENJELASAN
Matius 17:22–27 berisi tentang dua bagian yang kalau dilihat dari isinya bahkan dapat disebut sebagai dua bagian yang berbeda. Ayat 22–23 pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus, sedangkan ayat 24–27 tentang membayar bea untuk urusan Bait Allah.
Bagian pertama berisi hal yang sangat menentukan dan sangat penting bagi keseluruhan pelayanan Yesus Kristus. Berhasil atau tidak misi yang diemban-Nya sangat tergantung pada pemahaman dan kesediaan memikul beban tersebut, khususnya penderitaan yang akan dialami-Nya. Yesus sangat memahami peran-Nya di dunia dan penderitaan yang harus dipikul-Nya. Ia memberitahu murid-murid tentang hal itu. Bahwa Yesus memberitahukan tentang penderitaan yang akan dialami-Nya sampai tiga kali kepada murid-murid-Nya, menunjukkan betapa penting dan krusialnya hal tersebut.
Pada bagian kedua, yaitu ayat 24-27 disebutkan bahwa pada waktu itu Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ada di Kapernaum. Walaupun Kapernaum masih ada di Galilea tetapi mereka sedang menuju Yerusalem, dan di Yerusalemlah penderitaan itu akan terjadi. Namun sebelum masuk ke kota Yerusalem, Yesus tetap menjalani kehidupan dan pelayanannya seperti biasa. Demikian juga hal-hal keseharian, seperti soal membayar pajak bait Allah, juga diperhatikan-Nya.
Ayat 22-23
Yesus sangat memahami peran-Nya sebagai Mesias, terutama tentang penderitaan yang harus dijalani-Nya dan tentang kebangkitan-Nya. Sebelum hal tersebut terjadi, Yesus memberitahukannya kepada para murid-Nya. Tiga kali Yesus memberitahukan soal penderitaan dan kebangkitan-Nya kepada murid-murid-Nya. Matius 17:22-23 berisi pemberitahuan yang kedua kali tentang hal tersebut. Disebutkan dalam ayat 23 tentang reaksi para murid, yaitu bahwa mereka sangat sedih.
Dalam ayat 22 tertulis: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia…”. Arti dari ayat ini adalah Anak Manusia, yaitu Yesus Kristus, akan diserahkan dalam kekuasaan manusia. Salah seorang murid-Nya, yaitu Yudas Iskariot, menunjukkan Yesus kepada mereka yang akan menangkap-Nya, selanjutnya imam besar Kayafas memimpin pengadilan mahkamah agama Yahudi untuk mendakwa Yesus, dan Pontius Pilatus memutuskan penyaliban Yesus. Orang-orang yang berkuasa pada waktu itu bersekongkol terhadap Yesus.
Yesus dan murid-murid-Nya terus melakukan perjalanan ke Yerusalem. Di Yerusalem inilah apa yang disampaikan kepada murid-murid-Nya akan terjadi. Dengan kata lain, pada waktu itu Yesus dan para murid-Nya sedang fokus pada peristiwa besar, penting dan sangat menentukan.
Ayat 24-25a
Namun ketika mereka masih berada di Kapernaum, walaupun sedang menghadapi persoalan yang sangat serius tersebut, Yesus tetap menaruh perhatian pada hal-hal yang biasa, hal-hal keseharian. Disebutkan bahwa seorang pemungut bea Bait Allah bertanya kepada Petrus soal pembayaran bea dua dirham. Petrus menegaskan bahwa Yesus, seperti juga warga Yahudi lainnya, membayar bea dua dirham tersebut. Tentang bea dua dirham tersebut dipungut berdasarkan aturan dalam Keluaran 30:11–16 dan Nehemia 10:32–33, yaitu untuk pemeliharaan Bait Allah di Yerusalem dan kurban-kurban yang dipersembahkan di sana.
Ayat 25b-27
Yesus mengetahui apa yang dialami Petrus dengan petugas pemungut bea Bait Allah tersebut. Melalui peristiwa tersebut selanjutnya Yesus menyatakan beberapa hal:
Pertama, meminta pendapat Petrus tentang pemungutan pajak yang dilakukan oleh kerajaan pada waktu itu. Yesus memberi dua pilihan jawaban, yaitu dari rakyatnya atau dari orang asing. Sesuai dengan yang berlaku pada waktu itu Petrus menjawab bahwa pemungutan pajak dilakukan kepada orang asing. Maka Yesus memberi penegasan bahwa dengan demikian bebaslah rakyatnya.
Kedua, berdasarkan ketentuan tersebut maka Yesus mengaitkan tentang diri-Nya dan Bait Allah. Ia adalah Anak Allah, maka dalam lingkungan Bait Allah Ia bukan saja “rakyatnya” Bait Allah, tetapi pemilik Bait Allah. Dengan posisi tersebut seharusnya Yesus tidak perlu membayar bea Bait Allah.
Ketiga, walaupun sebenarnya Ia tidak usah membayar bea Bait Allah, tetapi Yesus memutuskan untuk tetap membayarnya. Hal ini dilakukan agar Ia dan murid-murid-Nya tidak menjadi batu sandungan. Dengan demikian Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah bagian dari masyarakat yang taat pada hukum dan peraturan yang berlaku pada waktu itu. Ketika bait Allah diruntuhkan pada tahun 70 M, pajak Bait Allah ini dialihkan untuk memelihara kuil Yupiter Capitolinus. Jemaat Kristen pada waktu itu tentu sangat bergumul apakah mereka harus membayar pajak untuk hal yang bertentangan dengan iman mereka (karena akan dipergunakan untuk pemeliharaan kuil Yupiter). Komunitas Kristen di mana Injil Matius ini dikirimkan kepada mereka, diajarkan bahwa waktu dulu walaupun Yesus tidak berkewajiban membayar bea Bait Allah toh Ia membayar juga agar tidak menjadi batu sandungan, maka mereka pun (komunitas Kristen Matius) boleh membayar pajak tersebut untuk menghindarkan kesukaran lebih besar di kemudian hari.
Keempat, Yesus menunjukkan kuasa-Nya. Uang untuk membayar bea Bait Allah tersebut didapatkan Petrus dari mulut ikan yang dipancingnya. Hal ini sesuai dengan arahan yang Yesus berikan kepadanya. Pada mulut ikan tersebut terdapat uang empat dirham, yang cukup untuk membayar bea Bait Allah bagi-Nya dan bagi Petrus juga.
PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI
1. Pernahkah kita sebagai pribadi atau keluarga atau pengurus gereja suatu kali sangat fokus pada suatu persoalan? Berikan contoh persoalannya!
2. Bagaimanakah sikap kita waktu menghadapi persoalan tersebut? Apakah kita merasa bahwa kita harus mengerahkan segala daya upaya untuk mengatasi persoalan tersebut, sehingga tidak mau diganggu oleh hal-hal lain, terutama hal-hal yang kita anggap kecil? Ataukah kita tetap bersedia menaruh perhatian dan tidak melupakan hal-hal kecil atau hal-hal keseharian kita dengan mengingat dan menghayati apa yang tertulis dalam Filipi 4:13 “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”?
3. Dari bacaan Matius 17:22–27, Yesus telah memberi teladan, walaupun menghadapi hal yang sangat penting (penderitaan dan kematian-Nya), tetapi Ia tidak melupakan hal-hal keseharian bahkan memberikan arahan yang mendalam. Bagaimana caranya agar kita juga dapat memakai hal-hal keseharian kita untuk dapat memberikan arahan yang lebih mendalam?
VARIASI METODE
- Awali diskusi dengan kisah berikut:
Seorang ibu yang sedang mencuci pakaian dan sedang mengerjakan pekerjaan di dapur didatangi oleh anaknya yang baru masuk TK kecil. Si anak membawa buku dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada ibunya. Si Ibu sedang mencuci baju dan dalam keadaan basah kuyup. Si ibu kemudian mengambil handuk mengeringkan wajahnya dan berganti baju. Selanjutnya sambil memangku anaknya dia menjawab dan menjelaskan apa yang ditanyakan anaknya. Tetangganya yang melihat hal ini menjadi sangat heran. Setelah si ibu itu selesai menjawab pertanyaan anaknya dan kembali mencuci baju, tetangganya bertanya mengapa dia melakukan hal tersebut, bukankah dia sedang sibuk, mengapa tidak memarahi saja anaknya? Si ibu itu menjawab, “Jika saya tidak menjawab sekarang pertanyaan-pertanyaan anak saya, saya tidak akan mempunyai kesempatan untuk menjawabnya.” “Tetapi, kamu bisa menjawab di waktu lain, bukan waktu sedang mencuci,” kata tetangganya. “Kalau di waktu lain, anak saya akan bertanya soal yang lain, belum tentu sama dengan yang ingin ditanyakannya sekarang.” Apa yang dilakukan si Ibu menggambarkan bahwa sekalipun ia sedang sibuk tetapi tetap memberi perhatian serius pada hal-hal lebih kecil.
- Minta pendapat peserta tentang cerita ini
- Lanjutkan diskusi dengan pertanyaan panduan
TEOLOGI