YESUS DITEGUHKAN
Pdt. Dahlia Vera
Pendeta Jemaat GKI Purwareja Klampok
Bacaan : Matius 17:1-13
Tujuan :
1. Peserta memahami makna kehadiran Musa dan Elia dalam kehidupan Yesus
2. Peserta bisa menjelaskan tanggungjawab yang menyertai pernyataan pada ayat 5
3. Peserta bisa berbagi pengalaman rohani dan menceritakan pengaruhnya terhadap kehidupan kerohanian dan keseharian mereka sebagai murid-murid Yesus.
PENGANTAR
Pengalaman rohani seringkali hanya dipahami sebagai pengalaman spiritual yang menghebohkan. Sukacita sekaligus kebanggaan dirasakan oleh orang yang mengalaminya bahkan dapat dijadikan asset yang menguntungkan karena banyak orang yang menyenangi kisah-kisah seperti ini.
Allah memang dapat memakai cara apapun untuk menyatakan kehendak-Nya. Tetapi kita tidak dapat mengatur atau mengukur keimanan seseorang melalui peristiwa tersebut. Di tengah fenomena pengajaran yang demikian perlulah kita memahami apa maksud Allah ketika manusia diijinkan melihat kemuliaan Allah melalui pengalaman rohaninya. Perlulah juga kita memahami apakah yang disebut sebagai pengalaman rohani semata-mata adalah pengalaman-pengalaman yang bersifat supranatural, mengherankan dan menghebohkan.
Kita perlu menyikapi dan memaknai setiap peristiwa dalam kehidupan kita sebagai sarana pembelajaran yang Allah berikan. Pembelajaran itu bertujuan agar kita semakin menghayati dan mengerti tanggung jawab kita sebagai murid Yesus di tengah dunia ini. Sama seperti para murid yang gagal memahami makna kemesiasan Yesus, dididik Allah melalui pengalamannya melihat kemuliaan Allah. Melalui pengalaman ini, para murid makin memahami jati diri Yesus dan apa yang akan Ia kerjakan di dunia ini dalam misi kemesiasan-Nya sehingga mereka pun dapat melakukan tugas tanggungjawab mereka sebagai murid Yesus.
PENJELASAN
Peristiwa pemuliaan Yesus di atas gunung, terjadi dalam bagian nubuatan kesengsaraan Yesus. Nubuatan ini diawali dengan peristiwa pengakuan Petrus tentang siapakah Yesus. Yang kemudian dilanjutkan peneguran Petrus kepada Yesus ketika Ia berbicara tentang penderitaan. Reaksi Petrus (para murid) menunjukkan ketidakpahaman mereka akan misi Yesus.
Ayat 1
Penunjukkan waktu: “enam hari kemudian”, menunjuk pada peristiwa enam hari setelah pengakuan Petrus dan pemberitaan pertama tentang penderitaan Yesus. Peristiwa pemuliaan ini terjadi pada saat Petrus (dan murid-murid-Nya yang lain) masih memiliki pemahaman yang kurang tepat tentang misi Yesus ke dunia. Yesus mengajak serta ketiga murid-Nya (Petrus, Yakobus dan Yohanes) untuk menyendiri di gunung. Hal ini rupanya menjadi kebiasaan Yesus, mengambil waktu untuk saat tenang. Gunung (sekalipun bukan semua gunung) dipahami sebagai tempat kehadiran Allah atau tempat perjumpaan Allah dengan manusia (lihat Keluaran 24:1). Pada saat Yesus tengah mempersiapkan para murid akan jalan salib, Yesus sendiri mencari kehendak Allah dalam hidup-Nya dengan mendekatkan diri kepada Sang Bapa dalam ketenangan dan keheningan.
Ayat 2-3
Perjumpaan itu menghadirkan suatu peristiwa luar biasa yang diceritakan dengan detil dalam ayat-ayat ini. Pertama diceritakan perubahan pada diri Yesus, wajah Yesus bercahaya seperti matahari dan pakaiannya putih bersinar terang. Kemudian dilanjutkan dengan penampakan Musa dan Elia. Inilah kemuliaan yang dinyatakan Allah kepada Yesus, disaksikan oleh ketiga murid-Nya. Kemuliaan Allah ini memantapkan hati Yesus untuk menjalani misi-Nya sebagai Mesias yang menderita. Sekaligus memberikan pemahaman baru bagi para murid-Nya yang melihat peristiwa tersebut.
Ayat 4
Menunjukkan reaksi Petrus yang menjadi saksi kemuliaan tersebut. Petrus yang masih menampilkan kepribadiaannya yang penuh spontanitas meminta ijin untuk mendirikan tiga kemah, masing-masing untuk Yesus, Elia dan Musa. Nampaknya Petrus berharap ketiganya tetap tinggal dalam keadaan kemuliaan sampai kerajaan datang. Ia berharap pengalamannya ini tidak berlalu dengan cepat. Petrus sangat menikmati saat-saat kemuliaan Allah dinyatakan. Bandingkan dengan sikap orang Kristen masa kini yang mengagungkan pengalaman spiritualnya. Bahkan seringkali diungkapkan (baik tersirat maupun tersurat) bahwa melalui pengalaman tersebut, ia menjadi lebih rohani, lebih dekat dengan Tuhan daripada mereka yang tidak mengalami pengalaman spiritual yang menghebohkan. Lihatlah bagaimana kesaksian-kesaksian model ini laris manis dijual baik dalam bentuk KKR, kaset dan media lainnya.
Ayat 5
Seketika itu juga terdengarlah penyataan Allah atas jati diri Yesus. Jika dilihat dari peristiwa sebelumnya, pernyataan Allah ini menunjukkan kepada para murid (terutama Petrus) siapakah Yesus (jati diri Yesus) sesungguhnya. Mungkin saja inilah yang menjadi alasan mengapa yang ikut bersama dengan Yesus adalah mereka. Pernyataan Allah ini, mengingatkan kita akan peristiwa pembaptisan yang diterima Yesus melalui baptisan Yohanes, yang membedakan adalah kata “dengarkanlah Dia”. Maksud perintah ini adalah untuk menasehati ketiga murid agar menerima dan tidak menolak misi Yesus sebagai Mesias, yaitu menjalani penderitaan dan mati di Yerusalem (lihat penolakan Petrus sebelumnya). Pengalaman ini dialami para murid agar sebagai murid Yesus mereka menunjukkan sikap ketaatan mereka terhadap perkataan dan pengajaran Yesus. Sekalipun pengajaran-Nya tidak sesuai dengan pemikiran mereka, tetapi mereka dapat menerimanya dengan hati yang taat.
Ayat 6-8
Yesus meneguhkan hati ketiga murid agar tidak menjadi takut setelah mengalami peristiwa istimewa tersebut. Setelah Yesus menenangkan mereka, mereka mendapati Musa dan Elia tidak ada lagi. Yesus bertindak sebagai penghibur dan mendorong para murid untuk tidak takut.
Ayat 9
Yesus melarang mereka untuk menceritakan pengalaman ini kepada para murid yang lain, sebab memang belum saatnya. Yesus menantikan saat yang tepat agar kemuliaan diri-Nya dipahami dengan benar oleh keseluruhan murid-Nya. Yang terkandung dalam perintah diam ini, yaitu: perintah ini memberitahukan para pembaca bahwa sebelum kebangkitan, para murid tidak mengerti kematian adalah hakikat pelayanan Yesus sebagai Anak Allah.
Ayat 10–13
Terjadi suatu dialog antara para murid dengan Yesus tentang peristiwa itu yang belum mampu mereka pahami secara utuh. Pertanyaan mereka tentang Elia, menunjukkan kepada tradisi berdasarkan Maleakhi 4:5-6 bahwa Nabi Elia akan kembali dari surga sebelum kedatangan Kerajaan Allah. Jawaban Yesus menunjukkan bahwa Ia menerima tradisi itu dan menambahkan bahwa Elia sudah datang dalam pribadi Yohanes Pembaptis. Pengalaman Yohanes Pembaptis sebagai nabi Allah yang tidak diakui dan mengalami penderitaan, juga yang akan terjadi dalam diri Yesus, tidak diterima dan dihukum mati. Supaya tidak ada keraguan lagi mengenai identifikasi Yohanes Pembaptis sebagai Elia, maka Matius menambahkan kalimat yang menyatakan para murid waktu itu menyadari bahwa Yesus berbicara mengenai Yohanes Pembaptis. Hal ini ingin mengokohkan pemahaman tradisi Yahudi bahwa Elia telah datang dalam diri Yohanes Pembaptis sebelum kedatangan Kerajaan Allah (yang nyata dalam diri Yesus Kristus).
PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI
1. Apakah yang dipikirkan dan dibayangkan oleh orang Yahudi tentang seorang Mesias? Mengapa demikian?
2. Apa yang Saudara lihat dalam misi kemesiasan yang dipikul oleh Yesus?
3. Apa yang Saudara pahami dengan peristiwa kemuliaan yang dinyatakan melalui kehadiran Musa dan Elia?
4. Bagaimana Saudara menyikapi kisah kesaksian orang yang mengalami pengalaman spiritual yang menghebohkan, contoh pengalaman dibawa ke sorga, pengalaman lihat wajah Yesus, Maria, dll.?
5. Menurut Saudara, apakah manfaat dan tujuan dari pengalaman rohani yang kita atau orang lain alami? (Bandingkan dengan pengalaman para murid)
6. Bagikan pengalaman rohani Saudara yang membuat Saudara semakin dimantapkan dan dikokohkan sebagai murid Yesus di tengah dunia ini!
TEOLOGI